Kota New York hari ini berpesta setelah New York Knicks menjadi juara NBA seusai mengalahkan San Antonio Spurs pada gim kelima final.
14 Jun 2026 13:04 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko P
Ketika tiba di New York, Amerika Serikat, untuk meliput gelaran Piala Dunia 2026, Jumat (12/6/2026) pagi waktu setempat, saya mengharapkan euforia para pendukung Brasil dan Maroko yang akan bertanding pada laga pertama Grup C di Stadion MetLife, sehari setelahnya. Itu memang yang terjadi.
Times Square, kawasan wisata terkenal New York, pun sudah dikuasai kelompok suporter kedua tim. Akan tetapi, Sabtu (13/6/2026) malam waktu setempat hingga Minggu (14/6/2026) dini hari, kawasan seputar Times Square gantian dikuasai oleh lautan pendukung New York Knicks yang merayakan keberhasilan tin mereka menjadi juara NBA 2026.
Mereka juara setelah mengalahkan San Antonio Spurs pada gim kelima final NBA di San Antonio, 94-90. Knicks juara berkat keunggulan 4-1.
Puluhan ribu pendukung Knicks memadati kawasan wisata terkenal tersebut. Mereka meneriakkan yel yel juara. Banyak di antara mereka yang naik ke atap bus yang berjajar di sepanjang jalan seputar Times Square. Selain di kawasan Times Square, para pendukung juga berpawai mengarah ke Madison Square Garden, kandang Knicks.
”Saya percaya, saudara saya juga percaya kami akan juara, bahkan sejak awal musim. Lihat orang-orang ini, sungguh gila,” kata David, pendukung Knicks yang ikut merayakan pesta juara bersama saudaranya.
Pesta para pendukung Knicks itu pun menenggelamkan para penggemar sepak bola yang selama beberapa hari sebelumnya menguasai pusat wisata dan hiburan New York itu. Mereka mau tak mau berbaur atau untuk sementara menyingkir.
Aroma pesta itu sebenarnya sudah terjadi selama seri final NBA antara Knicks dan Spurs. Pesta itu tak kalah besarnya bagi warga lokal, para ”New Yorker”. Teriakan ”Let's go Knicks! dan ”Knicks in five!” dari sejumlah warga ketika menyusuri jalanan kota ”Big Apple” kerap terdengar. Itu adalah teriakan para pendukung New York Knicks yang tengah melawan Spurs di final NBA 2026.
Di Times Square, di tengah pesta para pendukung tim Piala Dunia, video papan reklame salah satunya adalah bentuk dukungan terhadap Jalen Brunson dan kawan-kawan. Foto Brunson, OG Anunoby, dan Karl Anthony Towns terpampang, disertai tulisan ”Lets Go Knicks!!”
Ya, New York dan New Jersey saat ini seakan sedang menyelenggarakan hajatan dua pesta besar. Satunya adalah pesta sepak bola Piala Dunia, satunya lagi keberhasilan Knicks menjadi juara NBA untuk pertama kalinya sejak 1973.
Seperti diketahui, New York-New Jersey merupakan salah satu pusat olahraga terbesar di AS, bahkan barangkali dunia. Di kota itu ada sejumlah klub olahraga besar dan legendaris. Selain Knicks dan Brooklyn Nets di basket, ada klub bisbol New York Yankees dan New York Mets, serta New York Giants dan New York Jets di sepak bola Amerika.
Di sepak bola, yang warga Amerika sebut sebagai ”soccer”, ada New York Red Bulls dan New York City FC. Knicks adalah klub pujaan kota, meskipun sudah lama terpuruk.
Sepak bola menempati peringkat ketiga dengan 10 persen warga menyebutnya sebagai olahraga favorit.
Kelolosan Knicks ke final NBA membuat dua ajang besar bertabrakan yang barangkali tidak terpikirkan sebelumnya di New York-New Jersey. Final NBA yang mempertemukan Knicks dengan San Antonio Spurs pada 2026 ini bersamaan dengan babak utama Piala Dunia 2026 di mana Stadion MetLife, kandang dua klub NFL Giants dan Jets, menjadi arena laga Piala Dunia.
Untuk kepentingan Piala Dunia, stadion ini sementara berganti nama menjadi Stadion New York New Jersey.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/8721c8f0605ea19f8c67f8f439ec391c-1000116582.jpg)
Keberhasilan Knicks melaju ke final NBA mewakili Wilayah Timur sebenarnya bisa dibilang bukan sepenuhnya kejutan. Meski klub ini bukan favorit juara, Knicks tetaplah tim papan atas. Hanya saja, harapan melihat Knicks tampil di final sebenarnya tidak terlalu tinggi bagi publik New Yorker mengingat kekecewaan mereka selama hampir tiga dekade terakhir.
Ternyata, Jalen Brunson dan kawan-kawan tampil luar biasa musim ini. Mereka menempati peringkat ketiga musim reguler dan tampil brilian sepanjang playoff. Pada babak pertama, mereka menumbangkan Atlanta Hawks, 4-2.
Dua babak berikutnya, Knicks tampil lebih dominan lagi dengan menyapu bersih semua laga melawan Philadelphia 76ers pada semifinal wilayah, kemudian Cleveland Cavaliers pada final wilayah.
Knicks pun melaju ke final NBA, untuk pertama kalinya sejak 1999 sehingga disambut euforia seluruh kota. Menurut sejumlah warga New York, kiprah Knicks di final NBA lebih bermakna secara budaya bagi warga setempat dibandingkan Piala Dunia.
Kesan itu setidaknya disampaikan Pedro M, seorang pemilik toko seluler di Union City, New Jersey. ”Itu mengobati kerinduan pendukung Knicks yang sudah lama haus gelar,” katanya.
Meskipun Piala Dunia merupakan ajang internasional yang jauh lebih besar, keberhasilan Knicks bermain demi gelar juara pertama mereka sejak 1973 juga ikut menyihir kota. Hal itu sebenarnya wajar mengingat ”soccer” bukanlah olahraga paling favorit atau terpopuler di New York ataupun di AS secara keseluruhan.
Meskipun popularitas sepak bola terus meningkat di AS, itu masih di bawah dua olahraga nasional negara tersebut, yaitu sepak bola Amerika dan bola basket. Menurut The Economist, sepak bola baru saja menggeser bisbol dari peringkat ketiga olahraga favorit warga ”Paman Sam”. Bagi New York, bisbol dengan Yankees juga sudah menjadi simbol budaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/b8a1bc9d664a3e58625d48290a326f6a-1000116520.jpg)
Sepak bola Amerika (american football) masih menjadi olahraga paling populer di Amerika Serikat. Sebanyak 37 persen warga menyebutnya sebagai olahraga favorit mereka. Bola basket menempati peringkat kedua dengan sekitar 17 persen. Sepak bola menempati peringkat ketiga dengan 10 persen warga menyebutnya sebagai olahraga favorit. Di bawah sepak bola dalam daftar popularitas itu terdapat baseball, hoki, dan MMA.
Pertumbuhan popularitas ”soccer” sangat terkait dengan evolusi liga sepak bola profesional AS, yaitu MLS (Major League Soccer). Dibentuk pada 1993 sebagai salah satu komitmen AS untuk menyelenggarakan Piala Dunia 1994, MLS diluncurkan pada 1996. Sejak itu, klub peserta meningkat dari awalnya 10 klub menjadi 30 klub yang tersebar di AS hingga Kanada.
Ekspansi sepak bola—dikombinasikan dengan kehadiran bintang global, meskipun biasanya datang ketika karier mereka mulai meredup—semakin meningkatkan popularitas olahraga ini. Kehadiran Lionel Messi, misalnya, menjadi salah satu berkah terbesar bagi sepak bola di AS. Ajang Piala Dunia 2026 pun dipastikan membuat sepak bola semakin besar di AS.
Hanya saja, penampilan Knicks di final NBA untuk pertama kalinya dalam 27 tahun ini untuk sementara membuat Piala Dunia harus sedikit ”minggir dulu”. Pada babak final NBA 2026 ini, Knicks berstatus underdog menghadapi Spurs yang pada musim reguler memiliki rekor lebih baik dibandingkan Knicks.
Akan tetapi, dengan berbekal momentum playoff, mereka membuat kejutan besar dengan merebut dua gim pertama di kandang Spurs di San Antonio. Sayangnya, peluang untuk menyapu bersih empat laga buyar karena Spurs mampu memenangi gim ketiga di New York.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/083637ea0c1d7a0be3e8bff9747836f4-1000116555.jpg)
Namun, Knicks akhirnya menjadi kampiun setelah berhasil merebut gim kelima sehingga unggul 4-1. Momen kemenangan Knicks itu kami saksikan bersama para jurnalis dari berbagai dunia dalam perjalanan naik media shuttle dari MetLife menuju New York. Saat dalam perjalanan dari MetLife menuju New York. ”Times Square bakal luar biasa malam ini, guys,” teriak seorang jurnalis.
Euforia Knicks itu sudah terlihat dari jumlah penonton pertandingan final NBA musim ini. Pertandingan gim ketiga, misalnya, berhasil menarik rata-rata 23,8 juta penonton.
Menurut ESPN, angka tersebut menjadi jumlah penonton gim ketiga final NBA terbesar sejak tahun 1998, yaitu ketika Chicago Bulls yang dipimpin Michael Jordan menggilas Utah Jazz dalam misinya memburu cincin juara keenam.
Melonjaknya harga tiket untuk laga final Knicks di Madison Square Garden juga tak membuat pendukung surut. Mengutip Forbes, harga tiket, misalnya pada gim ketiga, mencapai 3,300 dollar AS hingga 4.500 dollar AS untuk kursi tribune atas, sedangkan bagian bawah tribune mulai dari 7.600 dollar AS.
Adapun untuk kursi tepi lapangan, harga tiket lebih dari 30.000 dollar AS. Tiket Knicks di MSG pada musim reguler untuk tribune atas rata-rata sekitar 50 dollar AS hingga 350, tergantung tim lawan.
Hasil pertandingan di San Antonio sedikit mengurangi kekhawatiran terjadinya pelaksanaan dua ajang besar di New York-New Jersey secara bersamaan. Jika harus memainkan gim keenam, laga yang akan berlangsung pada 16 Juni itu akan bentrok dengan laga Piala Dunia, yaitu Perancis lawan Senegal yang akan menciptakan lonjakan aktivitas massa luar biasa.
Akibat pesta pendukung Knicks, jalanan menuju pusat kota pun macet parah. Bus yang kami tumpangi harus merayap menembus kemacetan.
Pesta yang terjadi setelah laga antara Brasil dan Maroko yang berakhir imbang 1-1 pun berlanjut hingga pagi. Untuk sementara, pendukung tim Piala Dunia harus minggir dulu…
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari New York, Amerika SerikatEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto