Myanmar Fokus pada Korban dan Warga yang Selamat

Di Myanmar, data korban gempa terakhir dirilis 3.300 korban tewas dan 4.501 korban luka.

05 Apr 2025 09:33 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Memasuki hari ke-7 gempa dengan magnitudo 7,7 yang melanda Myanmar pada Jumat (28/03/3035) pukul 12.50 waktu setempat, tim penyelamat mengubah prioritas dari penyelamatan korban direruntuhan, kini menjadi penanganan korban dan masyarakat terdampak. 

Dilaporkan sebanyak 4.500 korban luka saat ini masih mendapatkan perawatan di rumah sakit dan tempat-tempat darurat di Mandalay, Sagaing dan Naypyidaw. 

Ratusan dokter dari tim penyelamat internasional yang semula mengikuti evakuasi didaerah-daerah yang dilanda gempa, kini beralih ke barak-barak dan rumah sakit. Beberapa rumah sakit darurat dibangun untuk mempercepat penanganan. Selain itu bangunan-bangunan pemerintah yang masih utuh dijadikan tempat perawatan korban. 

Situasi perekonomian yang belum berjalan, juga berdampak pada masyarakat yang selamat. Mereka kekurangan makanan dan kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka yang kehilangan tempat tinggal, saat ini bertahan dipinggir-jalan dengan tenda dan kelambu. Antrean panjang terjadi saat pembagian bantuan makanan dari relawan dan pemerintah. 

Salah satu lokasi gempa di aparteman Sky Villa yang runtuh di Mandalay, Myanmar, Selasa, 1 April 2025.

Sayangnya, ribuan ton bantuan internasional ini hanya terdistribusikan di daerah yang dikuasai junta militer. Tim relawan internasional belum bisa menembus daerah yang dikuasai oposisi dan pemberontak. 

Sekitar 1.900 petugas penyelamat internasional dari 17 negara, termasuk negara-negara tetangga di Asia Tenggara dan Cina, India, dan Rusia yang tiba di Myanmar hanya diperbolehkan beroperasi di daerah yang menjadi “kekuasaan” junta militer. 

Konvoi 9 kendaraan Palang Mereh Cina Selasa 1 April 2025 lalu,  diberondong senapan mesin junta militer saat menuju negara bagian Shan yang dikuasai pemberontak. Serangan itu membuat kelompok penolong berbalik arah. Militer Myanmar beralasan mereka tidak bisa menjamin keselematan regu penolong jika memasuki daeran “lain”. 

Orang-orang mengantre untuk mendapatkan makanan yang didistribusikan di Sagaing pada 3 April 2025. Gempa bumi dangkal berkekuatan 7,7 pada tanggal 28 Maret meratakan bangunan di seluruh Myanmar, menewaskan lebih dari 3.000 orang dan membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Dunia internasional dan pengamat HAM menganggap hal ini adalah strategi milter untuk melemahkan musuh-musuhnya. Sejak kudeta yang dilakukan militer terhadap pemerintah sipil yang sah Aung San Suu Kyi di tahun 2021, Akses informasi tentang negara ini dibatasi secara ketat.  Banyak jurnalis ditangkap dan dihukum karena dianggap melanggar aturan berkaitan dengan penyebaran informasi. Saat terjadi gempa, junta militer militer berusaha memutus akses informasi dan bantuan didaerah yang diluar kendali mereka. 

Diperkirakan, lebih dari  70 persen  wilayah Myanmar saat ini telah dikuasai pemberontak, hanya beberapa kota besar yang berdekatan dengan ibukota saja yang masih berhasil dikuasai junta militer.

Warga beristirahat di bawah kelambu di tanah di Mandalay pada 4 April 2025, setelah gempa bumi 28 Maret.
Orang-orang tidur di tempat terbuka di Mandalay pada 4 April 2025, setelah gempa bumi 28 Maret. Gempa bumi dangkal berkekuatan 7,7 pada tanggal 28 Maret meratakan bangunan di seluruh Myanmar.
Penyintas Tin Maung Htwe mendapatkan perawatan tim medis di kompleks rumah sakit. Ia berhasil diselamatkan dari reruntuhan hotel di Sagaing pada 3 April 2025 setelah terkubur selama lima hari di puing-puing. Tin Maung Htwe selamat dari gempa bumi yang menghancurkan di Myanmar dengan minum urinnya sendiri.
Relawan medis Rusia memberikan perawatan kepada seorang pasien di tenda darurat pusat medis di Mandalay, Myanmar, Kamis, 3 April 2025.
Seorang pria di tempat penampungan sementara untuk korban gempa bumi di Naypyitaw, Myanmar, Kamis, 3 April 2025.

Sampai Jumat 4 Maret 2025, jumlah korban yang dirilis pemerintah telah mencapai 3.300 korban tewas, dan sekitar 4.501 korban luka didaerah yang notabene dikuasai junta. Jumlah ini diyakini akan membengkak jika akses ke daerah yang dikuasai pemberontak bisa ditembus. Dunia internasional menyerukan agar pihak-pihak yang bertikai melakukan genjatan senjata agar tim penolong bisa fokus menyelamatkan korban. 

Tiga kelompok perlawanan bersenjata yang menentang pemerintah menyatakan mereka akan meletakan senjata. Namum seruan itu direspon pihak junta dengan terus melakukan serangan udara ke willayah-wilayah yang dikuasai pemberontak. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari