Setelah dua tahun ditiadakan karena perang, Bethlehem kembali menjadi pusat perayaan Natal.
08 Des 2025 08:08 WIB · Internasional
AP/Mahmoud Illean
Ratusan warga Palestina yang berbaur dengan wisatawan dan penduduk Israel memadati lapangan di sebelah gereja yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem, di Tepi Barat, Sabtu (6/12/2025). Mereka bersama-sama menyaksikan penyalaan lampu natal di pohon natal yang dipasang di tengah kota itu.
Sebelumnya, selama dua tahun Bethlehem yang ibarat kota mati, tutup, dan kosong melompong, hari itu nampak sangat berbeda. Jalan-jalan dipenuhi keluarga dan diterangi rangkaian lampu merah, sebuah perubahan yang memberi harapan bagi kota Palestina yang telah sengsara sejak perang meletus di Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/07/615e6fa8-9335-4057-a490-729d9a6f052a_jpg.jpg)
Perayaan Natal perlahan-lahan kembali ke tempat kelahiran tradisional Yesus di Tepi Barat, sebuah wilayah di bawah otoritas Palestina yang kini diduduki Israel. Sementara gencatan senjata masih berlangsung di Gaza, warga Palestina berharap perayaan tersebut merupakan langkah menuju masa depan yang lebih damai di wilayah yang diguncang tragedi.
”Tidak seramai seperti sebelum perang. Namun, rasanya seperti hidup kembali,” kata Juka, warga Palestina yang menyaksikan acara itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/07/39f23123-2b12-437f-8677-f8c58810e8e7_jpg.jpg)
Pariwisata dan ziarah keagamaan telah lama menjadi penggerak ekonomi utama Bethlehem. Sekitar 8 persen penduduk kota yang mayoritas Muslim ini menggantungkan hidup dari sektor tersebut. Pendapatan tersebut mengalir ke masyarakat di seluruh Tepi Barat, wilayah yang telah lama ditandai ketidakstabilan ekonomi.
Nafkah ekonomi tersebut sirna ketika perang pecah di Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel. Otoritas Bethlehem membatalkan perayaan Natal selama serangan balasan Israel di Gaza, yang telah mengakibatkan korban jiwa lebih dari 70.000 warga Palestina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/07/abadcac4-dcca-4f68-9400-c45bdcb7be5b_jpg.jpg)
Pada saat yang sama, militer Israel meningkatkan operasi di Tepi Barat, termasuk komunitas dekat Bethlehem. Tingkat pengangguran dan kemiskinan di kota itu melonjak dan ribuan orang meninggalkan kota untuk mencari pekerjaan.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu mengatakan, Tepi Barat sedang mengalami kemerosotan ekonomi paling parah yang pernah tercatat. Ini berbarengan dengan operasi militer Israel yang sedang berlangsung.
Sekarang penduduk Bethlehem berusaha untuk kembali. ”Keputusan yang kami ambil adalah untuk menghidupkan kembali semangat Natal dan menyalakan kembali harapan,” kata Wali Kota Bethlehem Maher Nicola Canawati.
Dengan peresmian penyalaan lampu natal di Bethlehem, mereka mengirimkan pesan kepada seluruh dunia bahwa warga Palestina mencintai kehidupan. Mereka juga sangat menantikan solusi damai.
Pada hari Sabtu, kerumunan orang yang dikawal polisi bersenjata lengkap, bersorak mengikuti doa yang menyerukan perdamaian. Para ayah menggendong anak-anak mereka di pundak saat pohon natal yang menjulang tinggi menyala di Manger Square, dekat tempat umat Kristen percaya Yesus dilahirkan.
Bagi Juka, warga Palestina pemilik restoran di Bethlehem, kerumunan orang itu terasa seperti harapan setelah bertahun-tahun dalam ketidakpastian. Keluarga itu membuka restoran yang menyajikan makanan tradisional Palestina pada tahun 1979.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/07/78a48280-d900-4f70-b57a-19630f657685_jpg.jpg)
Pada Agustus, ketika negosiasi gencatan senjata mulai berjalan, Juka mengatakan, dirinya mulai melihat pengunjung berkeliaran di jalan-jalan, dan keluarganya memutuskan untuk membuka kembali restoran. Mereka berharap perdamaian akan abadi di masa depan.
Meskipun Bethlehem telah lama menjadi surga keagamaan yang relatif tenang, kekerasan dan serangan militer terus terjadi secara berkala di dekatnya. Militer Israel menyatakan sedang menindak militan di Tepi Barat dan merespons agresi.
Pos pemeriksaan militer telah mengubah perjalanan pulang pergi menjadi kegiatan yang terkadang memakan waktu seharian. Montas, yang bekerja sebagai pelukis rumahan di Jerusalem, mengatakan, dirinya menempuh perjalanan 6 jam dari rumahnya di Ramallah, kurang dari 32 kilometer, hanya untuk mencapai Bethlehem.
”(Perayaan) ini bukan hanya untuk kita. Ini untuk semua orang. Kristen, Yahudi, Muslim,” kata Montas. Natal ini untuk semua orang. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto