Format All-Star edisi 2026 sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya. Namun, mengapa kesuksesan dua ajang itu terpisah bagai bumi dan langit?
16 Feb 2026 16:31 WIB · Olahraga
AP
Pertandingan penentu pemenang NBA All-Star 2026 antara Tim Stars dan Tim Stripes berujung antiklimaks. Jarak skor kedua tim itu terpaut 26 poin. Lantas, apakah duel itu menggambarkan kisah ”perang bintang” yang membosankan seperti edisi-edisi belakangan ini? Sama sekali tidak.
Tim Stars yang berisi mayoritas bintang muda, antara lain Anthony Edwards dan Cade Cunningham, sukses mengangkat trofi All-Star di Stadion Intuit Dome, Inglewood, California, Senin (16/2/2026) WIB. Mereka menang telak 47-21 atas Tim Stripes yang dipimpin megabintang veteran LeBron James.
Laga final itu memang kurang menarik, terlihat dari skornya. Namun, itu hanyalah pemanis dari keseluruhan pesta, seperti konsep hidangan penutup dalam makan malam mewah. Para penonton telah disuguhi aksi-aksi ”bergizi” dari awal hingga menuju ke akhir acara, terutama di babak grup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/39361040743dcfe61f439be9ec8aaf2e-All_Star_Weekend_Basketball.jpg)
All-Star kali ini, di kandang Los Angeles Clippers, datang dengan format berbeda yang bertajuk ”Amerika Serikat Versus Dunia”. Tiga tim dibentuk, berisikan masing-masing delapan pemain. Tim Stars dan Tim Stripes mewakili AS, sementara Tim World berisi para pemain internasional.
Mereka menghadapi format round robin terlebih dulu, setiap tim saling bertemu di babak grup. Mereka hanya diberikan waktu satu kuarter atau 1x12 menit. Dua tim terbaik di babak grup lolos ke partai puncak. Para penonton disajikan empat laga, total 48 menit yang sama dengan waktu di laga biasa NBA.
”Ketiga tim mengeluarkan segalanya dan tampil bagus. Ini jelas peningkatan dari sisi kompetitif jika dibandingkan dengan sebelumnya. Rasanya menyenangkan berada di sana bersama para pemain hebat, baik yang baru, lama, maupun internasional,” kata Kevin Durant, pemain Tim Stripes yang sudah tampil 15 kali di All-Star.
Pertunjukan dibuka dengan brilian oleh Tim Stars dan Tim World. Duel berakhir dramatis. Tim World yang dipimpin center asal Perancis, Victor Wembanyama, sudah unggul 32-29 di 24 detik tersisa. Lalu, Edwards menyamakan kedudukan lewat tembakan tiga angka dan memaksa tambahan waktu.
Di perpanjangan waktu, tim dinyatakan menang jika mendapatkan lima poin lebih dulu. Edwards dan rekan-rekan membalikkan keadaan dan menang 37-35, unggul 5-3 di babak tambahan. Saking kompetitifnya laga, Wembanyama sampai terlihat sangat geram setelah tembakan kemenangan Scottie Barnes.
Duel antiklimaks Tim Stars versus Tim Stripes di final bisa dimaafkan karena pertemuan sebelumnya. Mereka sudah bersaing sangat ketat di laga grup. Tim Stripes berhasil menang lebih dulu berkat tembakan tiga angka De’Aaron Fox di ujung laga yang membalikkan skor jadi 42-40.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/739ccd231adf528666595a926297a92a-75th_NBA_All_Star_Game_1_.jpg)
Kompetitif. Satu kata itu memisahkan edisi All-Star ini dengan sebelum-sebelumnya. Para pemain berkomitmen dalam bertahan. Mereka, walaupun tidak semuanya, sepenuh tenaga berebut bola baik dalam upaya rebound maupun steal. Pelanggaran yang biasa sangat langka, jadi pemandangan wajar.
Klimaks tersaji dalam laga penentu tiket ke final antara Tim Stripes versus Tim World. Bintang tuan rumah, Kawhi Leonard, mengambil alih dengan mencetak 31 poin hanya dalam waktu satu kuarter. Tim Stripes juga menang 48-45 berkat tembakannya dari garis tiga angka di detik-detik akhir.
NBA sempat berjibaku memunculkan atmosfer kompetitif dalam beberapa tahun terakhir. Format seperti ”Barat Versus Timur” maupun duel kapten tidak bekerja dengan baik. Format itu terbilang standar, hanya melibatkan dua tim dan menggunakan satu pertandingan berisi empat kuarter.
Edwards, peraih Most Valuable Player All-Star 2026, berkata, format edisi kali ini adalah yang terbaik sejauh ini. ”Saya menyukai format ini. Itu membuat kami bersaing karena hanya 12 menit dan ada tiga tim berbeda yang memisahkan para peserta,” ujar guard Minnesota Timberwolves itu.
Kenyataannya, format edisi All-Star 2025 sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang terbaru. Ada empat tim yang bertarung dalam sistem gugur, masing-masing mewakili kelompok pemain muda, veteran, dan internasional. Tim-tim itu dipimpin pelatih yang merupakan sosok pebasket legendaris, salah satunya Shaquille O’Neal.
Bukan sukses, edisi itu malah menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah ”perang bintang”. Dua edisi terakhir pun membuktikan, format memang berpengaruh, tetapi tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan sosok pemain di lapangan. Mereka bertanggung jawab atas atmosfer kompetitif yang akan dirasakan para penonton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/960a48952f8f46bf04ca91ca74feb8e1-NBA_All_Star_Game_Basketball_2_.jpg)
Edisi 2026 bisa sukses berkat dorongan dari Edwards dan Wembanyama. Mereka mengobarkan bara kompetisi sejak laga pembuka. Kedua pemain muda itu tampil eksplosif sepanjang permainan, memperlakukan All-Star layaknya playoff. Keduanya tampak mengincar gelar MVP All-Star pertama.
Tim World memiliki dua pebasket megabintang, yaitu Luka Doncic dan Nikola Jokic. Namun, mereka tidak memberikan segalanya untuk acara hiburan itu. Berbeda dengan Wemby, sapaan Wembanyama, yang sudah berusaha melompat setinggi mungkin saat tip-off laga pertama.
Wemby total menghasilkan 33 poin dan 8 rebound dalam 20 menit bermain. Spesialnya, punggawa San Antonio Spurs itu menciptakan tiga blok. Jumlah blok memperlihatkan keseriusannya dalam bertahan. Walaupun tidak meraih MVP dan lolos ke final, Wemby dihujani pujian. ”Dia menciptakan suasana (kompetitif) itu, dan membuatku tersadar,” kata Edwards.
Jiwa pesaing Edwards tidak perlu diragukan. Dia adalah pemain kompetitif di NBA saat ini. Tak hanya dari permainan, peraih emas Olimpiade Paris 2024 itu juga andal memprovokasi lawan lewat kata-kata atau sering disebut ”trash talk”. Edwards disematkan gelar MVP karena membawa timnya juara dengan total sumbangan 32 poin dan 8 rebound.
Ketidakhadiran ikon NBA, Stephen Curry, Shai Gilgeous-Alexander, dan Giannis Antetokoumpo, yang sedang cedera menjadi tidak terasa. Berkat Wemby dan Edwards, para pemain lain terpancing menampilkan yang terbaik. Leonard, 34 tahun, tidak mau kalah di kandang sendiri. Dia terpantik dan menciptakan angka terbanyak dalam satu laga (31 poin).
NBA memiliki begitu banyak bintang lokal yang sebenarnya bisa menggenjot pamor All-Star agar kembali ke era 90-an hingga 2000-an. Siapa sangka, sosok yang mengambil tanggung jawab itu adalah pebasket 22 tahun asal Perancis, Wemby. ”Ini adalah permainan yang kami cintai. Tampil kompetitif adalah hal paling minimal yang bisa saya lakukan,” tegas Wemby. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto