PERANG

Negosiasi AS-Iran Dibayangi Proposal yang Bertentangan

Gencatan senjata menjadi jeda perang di Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Namun, AS dan Iran menawarkan proposal bertentangan untuk mengakhiri perang.

08 Apr 2026 13:30 WIB · Internasional

AFP/Dimitar DILKOFF

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON DC, RABU — Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata. Perwakilan kedua negara akan bernegosiasi di Islamabad, Pakistan, Jumat (10/4/2026). Negosiasi ini dibayangi proposal kedua negara yang bertentangan untuk mengakhiri perang.

AS dan Iran sama-sama mengklaim gencatan senjata itu sebagai kemenangan. Gencatan senjata yang diusulkan Pakistan ini disepakati hanya satu jam menjelang tenggat serangan AS ke Iran. Sebelumnya, AS mengancam akan menghancurkan Iran, termasuk menyasar fasilitas sipil.

”Kemenangan total dan lengkap. 100 persen. Tidak ada keraguan tentang itu,” ujar Presiden AS Donald Trump kepada AFP saat ditanya mengenai gencatan senjata, Rabu (8/4/2026).

President Donald Trump speaks in the Oval Office of the White House before signing an executive order Tuesday, March 31, 2026, in Washington. (AP Photo/Alex Brandon)

Trump yakin China telah membujuk Iran untuk bernegosiasi. Ia mengatakan, uranium yang diperkaya milik Iran akan ditangani dengan baik. Pengayaan uranium merupakan salah satu alasan utama AS dan Israel menyerang Iran sejak 28 Februari lalu.

”Kami memiliki kesepakatan 15 poin yang sebagian besar telah disepakati. Kita lihat saja apa yang terjadi. Kita lihat apakah kesepakatan itu tercapai,” ucapnya.

Salah satu syarat gencatan senjata adalah pembukaan sepenuhnya Selat Hormuz. Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. Dalam beberapa waktu terakhir, Iran telah mengizinkan tanker dari sejumlah negara melewati selat itu, tetapi tidak bagi kapal-kapal AS, Israel, dan sekutunya.

Sejumlah Kapal Tanker yang Bisa Melewati Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia. Seperlima minyak global dikirim melalui selat ini setiap harinya. Blokade yang dilakukan Iran telah mengganggu pasokan minyak dari negara-negara Teluk.

Peran China

Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada pertengahan Mei mendatang. Pertemuan ini awalnya dijadwalkan April. Namun, Trump menundanya karena harus mengawasi perang di Iran dari Washington.

Pertemuan tersebut bisa menentukan arah perang di Iran yang telah berlangsung lebih dari lima pekan. Sebab, China merupakan mitra dekat dan pembeli utama minyak Iran. Selain itu, Beijing memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan negara-negara Teluk yang terdampak oleh perang tersebut.

Quote

Trump yakin China telah membujuk Iran untuk bernegosiasi. Ia mengatakan, uranium yang diperkaya milik Iran akan ditangani dengan baik. Pengayaan uranium Teheran merupakan salah satu alasan utama AS dan Israel menyerang Iran sejak 28 Februari lalu.

AS menawarkan 15 poin untuk mengakhiri perang, sementara Iran menawarkan 10 poin. Proposal itu disampaikan melalui Pakistan yang akan menjembatani pertemuan perwakilan kedua negara. Namun, proposal kedua pihak berisi hal-hal yang bertentangan.

Beberapa poin AS meminta Iran untuk tidak mengejar pembuatan senjata nuklir, mengakhiri semua pengayaan uranium, dan membatasi program rudal. Selain itu, Iran diminta meninggalkan proksi di Timur Tengah, menggunakan pasukan militer hanya untuk pertahanan, membuka Selat Hormuz, dan memberi akses kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melakukan inspeksi tanpa batas.

Beberapa poin itu bertentangan dengan proposal yang diajukan Iran. Proposal Iran, antara lain, meminta AS menjamin komitmen non-agresi, hak pengayaan uranium Iran harus diterima, dan kendali Iran yang berkelanjutan di Selat Hormuz. Iran juga meminta AS menarik pasukannya dari sekitar Iran, kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang, serta menghentikan perang di semua front, termasuk di Lebanon.

”Dengan menerima syarat-syarat ini sebagai dasar negosiasi, Trump telah mundur dari ancaman dan gertakan putus asa yang dilakukannya,” tulis kantor berita Iran, Tasnim.

Respons Israel

Israel yang terlibat dalam serangan AS ke Iran merespons gencatan senjata tersebut. Israel menyatakan, gencatan senjata selama dua minggu tersebut tidak termasuk untuk wilayah Lebanon.

Hal itu bertentangan dengan pernyataan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Sharif menyampaikan AS dan Iran telah menyetujui gencatan senjata, termasuk di Lebanon. Lebanon ikut terseret dalam perang setelah Hizbullah terlibat konflik dengan menyerang Israel. Lebih dari satu juta warga di Lebanon selatan terpaksa mengungsi akibat serangan Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah pernyataan Sharif. Media Israel, The Jerusalem Post, melaporkan, Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi dan siap menyerang Hizbullah sebelum gencatan senjata diumumkan.

An ambulance is parked near a sweeping blaze following Israeli bombardment on a solar farm and electricity generation facility in Lebanon's southern coastal city of Tyre on March 4, 2026. Israeli forces on March 4 advanced into a number of towns and villages in south Lebanon, a source from the UN peacekeeping force in the country, UNIFIL, told AFP. (Photo by KAWANT HAJU / AFP)

Warga Lebanon di Tyre dan Shabriha, di Kota Al-Abbasiya, diminta mengungsi karena militer Israel bersiap menyerang Hizbullah di daerah tersebut. ”Aktivitas Hizbullah memaksa IDF (militer Israel) untuk bertindak melawannya. IDF tidak ingin membahayakan kalian. Demi keselamatan, kalian harus segera mengungsi dari rumah kalian,” ujar Juru Bicara IDF Letnan Kolonel Avichay Adraee.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyambut baik gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran. Ia mendesak semua pihak untuk bekerja sama menuju perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.

”Sekretaris Jenderal PBB menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik saat ini di Timur Tengah untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata guna membuka jalan menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan tersebut,” kata juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.

(AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji