”No Other Land”, Film Pemenang Oscar, dan Pesan Perdamaian Palestina-Israel

Untuk mencapai perdamaian, okupasi Israel di Palestina harus dihentikan dan solusi dua negara diterapkan. Ini salah satu pesan penting film ”No Other Land”.

03 Mar 2025 17:11 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Di tengah penutupan akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, film No Other Land yang tidak diedarkan di Amerika Serikat justru memenangi Piala Oscar untuk kategori Film Dokumenter Terbaik. Film kolaborasi sutradara dari Palestina dan Israel ini memberitahukan kepada publik bahwa generasi muda kedua bangsa sudah muak dengan berbagai pertikaian.

Hadir menerima penghargaan di kota Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada Minggu (2/3/2025) waktu setempat atau Senin (3/3/2025) waktu Indonesia adalah kedua sutradara, yaitu Basel Adra dari Palestina dan Yuval Abraham. Bersama mereka turut serta produsen Rachel Szor dan Hamdan Ballal.

No Other Land merekam kehidupan komunitas Palestina di Tepi Barat, tepatnya di wilayah bernama Masafer Yatta. Di sana, terjadi pendudukan ilegal oleh warga Israel.

Walhasil, warga Palestina sering terlibat konflik dengan aparat keamanan Israel, sehingga Masafer Yatta mengalami kerusakan. Film ini mengambil kejadian pada periode 2019-2023, tidak lama sebelum Hamas melancarkan serangan Operasi Badai al-Aqsa ke Israel selatan, 7 Oktober 2023.

”Dua bulan lalu, saya menjadi ayah. Saya berharap, anak perempuan saya tidak mengalami segregasi seperti yang saya alami. Segala ketakutan bahwa hidup selalu diawasi, ditekan, dan digusur,” kata Adra.

Basel Adra, left, and Yuval Abraham, winners of the award for best documentary feature film for "No Other Land," the Governors Ball after the Oscars on Sunday, March 2, 2025, in Los Angeles. (AP Photo/John Locher)

Bahkan, pada Februari 2025, militer Israel terus menggusur Masafer Yatta. Adra mengatakan, ada 74 warga yang kehilangan tempat tinggal. Militer Israel menggunakan alat berat untuk meratakan rumah mereka dengan tanah.

Abraham dalam sambutannya mengatakan, ia dan Adra bersahabat dan tumbuh di wilayah yang sama. Akan tetapi, mereka memiliki hak-hak yang berbeda.

”Setiap kali saya menatap Basel, saya menatap saudara saya, tetapi kami tidak setara. Kebebasan saya dijamin oleh hukum, sebaliknya hidup Basel dikendalikan oleh aturan darurat militer,” tutur Abraham.

Ia mengatakan, ada solusi di dalam permasalahan yang mereka rekam di film tersebut. Solusi tersebut adalah perdamaian dan kemauan politik tanpa ada supremasi kelompok etnis tertentu. Selain itu, juga pembangunan masyarakat dua negara berdaulat yang saling menghormati.

”Saya harus jujur, kebijakan luar negeri negara ini (AS) bermasalah. Tidakkah kalian lihat semua saling berhubungan? Jika kerabat Basel tidak aman, kerabat saya pun tidak aman. Ada cara lain mencapai solusi yang baik,” kata Abraham.

Awards Season

Dalam wawancara dengan media Deadline, Abraham mengungkapkan bahwa film kolaborasi dia dan Adra tidak diedarkan di AS. Menurut dia, ini murni karena alasan politik. Ia dan Adra pun memutuskan untuk secara mandiri memutar film tersebut di 100 bioskop independen di AS.

”Kami membuat film ini karena suara bersama orang Palestina dan Israel lebih nyaring dan kuat,” ujar Abraham.

Quote

Kami membuat film ini karena suara bersama orang Palestina dan Israel lebih nyaring dan kuat. (Yuval Abraham)

Sementara itu, dalam wawancara dengan NPR, Adra mengutarakan bahwa kamera adalah alat penunjuk fakta yang kuat apabila digunakan dengan benar. Ia mengkritik masih ada pihak-pihak yang bergeming melihat kehancuran di Gaza, meskipun berbagai pemberitaan menunjukkan bukti-bukti serangan melampaui pembelaan diri Israel.

”Terlepas fakta, masih banyak kekuatan global yang mendukung militer Israel,” kata Adra.

(Dari kiri ke kanan) Wartawan dan sutradara film Israel Yuval Abraham, produser asal AS Rachel Szor, sutradara film asal Uni Emirat Arab Hamdan Ballal, serta wartawan dan sutradara film Palestina Basel Adra berpose di ruang pers dengan trofi penghargaan Oscar untuk kategori Dokumenter Terbaik atas film "No Other Land" pada Penghargaan Tahunan Academy Awards Ke-97 di Dolby Theatre di Hollywood, California, AS, Minggu (2/3/2025).

Situasi rapuh

Keadaan gencatan senjata antara Hamas dengan Israel di Gaza masih rapuh. Gencatan senjata tahap pertama antara mereka telah berakhir, Minggu (2/3/2025). Sebelum fase pertama itu berakhir, Hamas dan Israel seharusnya sudah memulai perundingan membahas pelaksanaan gencatan senjata tahap kedua.

Israel memutus akses bantuan sosial ke Gaza dengan dalih Hamas harus berjanji dulu bahwa mereka akan memperpanjang gencatan senjata. Jika hal itu tidak dituruti oleh Hamas, Israel mengancam ada akibat serius. Mesir dan Qatar selaku mediator gencatan senjata mengkritik Israel berlaku kejam.

Semestinya, di dalam gencatan senjata tahap kedua, jika disepakati dalam perundingan lanjutan, Hamas mengembalikan 62 sandera Israel yang masih mereka tahan. Sebanyak 35 orang diperkirakan sudah meninggal. Sebagai balasan, Israel harus menarik semua pasukan mereka dari Gaza. Di tahap kedua itu pula seharusnya disepakati gencatan senjata permanen.

Dari segi anak-anak muda Palestina dan Israel, mengupayakan perdamaian yang berkeadilan dan berkelanjutan merupakan tantangan berat. Institut Perdamaian AS (USIP) menggelar jajak pendapat pada Januari 2023. Respondennya adalah para pemuda Palestina dan Israel usia 15-34 tahun.

Hasidic Jews wave a flag of Palestine as they protest against Israel in front of the United Nations headquarters during the 73rd session of the United Nations General Assembly on Thursday, Sept. 27, 2018, in New York. Dozens of Hasidic Jews protest against the existence of the state of Israel and demanding the end of what they consider is the occupation of Palestine. (AP Photo/Andres Kudacki)

Jajak pendapat itu menemukan, hanya 20 persen pemuda Israel berusia 18-34 tahun memercayai solusi dua negara. Solusi ini bisa diwujudkan dengan berdirinya negara Palestina dan Israel secara berdampingan. Sisa responden lainnya berpendapat, status nondemokratis yang membuat warga Palestina memiliki hak terbatas adalah pilihan yang lebih baik.

Hal serupa juga tecermin di kalangan pemuda Palestina. Visi mereka akan solusi dua negara semakin pudar. Menurut para responden Palestina, perjuangan harus dilakukan. Baik pihak Palestina maupun Israel sama-sama menolak argumen keterikatan nenek moyang dan agama satu sama lain dengan tanah tempat mereka berada.

Meskipun begitu, USIP menemukan secercah harapan. Responden dari kedua belah pihak mengatakan mereka menghormati agama dan kepercayaan satu sama lain. Israel menghormati agama Islam dan Palestina menghormati agama Yahudi.

Hal tersebut memberi optimisme. Selain itu, ada 30 persen pemuda Israel dan 29 persen pemuda Palestina yang memercayai dan melakukan berbagai kegiatan pengupayaan perdamaian.

97th Academy Awards - Show

Liputan majalah Positive News edisi 19 Oktober 2023 atau sepekan setelah peristiwa Badai Aqsa dan mulainya invasi Israel ke Gaza melaporkan, setidaknya ada 12 organisasi antaragama dan antaretnis di seluruh dunia yang memperjuangkan perdamaian di Palestina dan Israel. Sebanyak tujuh organisasi yang diliput beroperasi di Palestina, Israel, dan Jordania. Sisanya di AS dan Inggris.

Semua organisasi itu adalah gerakan akar rumput. Ada gerakan kerja sama antarperempuan, gerakan komunikasi para orangtua, dan komunitas para mantan tentara ataupun pejuang dari Palestina dan Israel.

Organisasi Kombatan untuk Perdamaian (Combatants for Peace) di dalam keterangan resmi mereka mengatakan, di tengah rapuhnya situasi, perjuangan untuk perdamaian tidak boleh surut, justru harus semakin gencar. ”Solusi satu-satunya ialah menghentikan okupasi. Kita harus menyatukan bangsa Palestina dan Israel untuk membangun perdamaian dengan cara-cara nirkekerasan,” tulis mereka.

Pada 2-5 Februari 2025, Scholas Occurentes di bawah Gereja Katolik Roma di Vatikan mewadahi pertemuan para pemuda Muslim, Yahudi, dan Kristen. Mereka bertemu dengan Paus Fransiskus dan mengutarakan komitmen untuk perdamaian.

”Selama bertahun-tahun, saya dibesarkan untuk tidak berbicara kepada mereka (umat Islam dan umat Kristen). Akhirnya, kami saling mendehumanisasi. Kini, setelah mengobrol, saya menyadari pentingnya untuk saling mendengar,” kata Abigail Szor dari Israel kepada Vatican News. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase