RAMADHAN

Olimpiade Menjadi Simbol Toleransi di Italia

Selama Olimpiade, masjid-masjid di kota Italia menyambut orang-orang dari agama lain yang ingin ikut serta berbuka puasa.

24 Feb 2026 04:15 WIB · Internasional

AP/María Teresa Hernández

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Milan dan Cortina di Italia menjadi tempat terbesar penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2026. Atlet ataupun pekerja yang terlibat datang dari berbagai negara dan agama. Bagi yang beragama Islam, penyelenggaraan kali ini bersamaan dengan Ramadhan, bulan suci dengan kewajiban berpuasa bagi umat Islam.

Italia adalah negara yang secara historis beragama Katolik. Namun, salah satu kota penyelenggara, Milan, adalah kota multikultural dan kosmopolitan. Di kota ini terdapat pusat-pusat Islam dan masjid-masjid yang tersebar di seluruh kota untuk berkumpul dan beribadah.

Imam Yahya Pallavicini, wakil presiden Komunitas Agama Islam Italia, berbicara di masjid Al-Wahid selama bulan Ramadhan di Milan, Italia, Jumat (20/2/2026).

Selama berlangsungnya Olimpiade, masjid-masjid di kota ini menyambut orang-orang dari agama lain yang ingin ikut serta dalam makan malam iftar, yaitu saat umat Muslim berbuka puasa. Salah satunya adalah Masjid Al-Wahid di Milan. Masjid ini membuka pintunya selama Ramadhan, mengundang tamu untuk berbuka puasa bersama, setelah shalat Magrib.

Terletak dekat Distrik Navigli di Milan, masjid ini telah diakui secara resmi sebagai tempat ibadah oleh pemerintah kota sejak tahun 2000. Buka puasa antaragama telah menjadi hal biasa di banyak bagian dunia, termasuk negara yang mayoritas penduduknya Muslim, seperti Indonesia dan Pakistan; atau Australia dan Amerika Serikat, yang umat Muslimnya merupakan minoritas.

Umat Muslim berbuka puasa di masjid Al-Wahid selama bulan Ramadhan di Milan, Italia, Jumat (20/2/2026) saat kota tersebut menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin.

”Olimpiade adalah momen simbolis,” kata Imam Yahya Pallavicini, Wakil Presiden Komunitas Agama Islam Italia yang dikenal dengan COREIS. Olahraga, budaya, dan seni dapat membantu mengurangi prasangka dan ketakutan terhadap budaya atau identitas keagamaan tertentu, ujarnya menambahkan.

Saat matahari terbenam pada Jumat (20/2/2026), beberapa orang anggota jemaah Muslim berdiri berdesakan di bawah deretan lampu gantung di Masjid Al-Wakhid. Mereka menunggu azan sebelum berbuka puasa dengan kurma yang disajikan di piring perak. Kemudian, mereka duduk di lantai untuk berbagi lentil, nasi, daging, dan air sebelum mengakhiri malam dengan shalat bersama.

Menu berbuka puasa di masjid Al-Wahid selama bulan Ramadhan di Milan, Italia, Jumat (20/2/2026).

Berbeda dengan di Milan, mereka yang berada di kota tuan rumah Olimpiade di Cortina, yang terletak di ketinggian sekitar 1.220 meter, kesulitan menemukan masjid atau tempat untuk shalat. Rabah Boubegtiten dari Qatar yang bekerja di Olimpiade sebagai pengemudi tim Qatar mengatakan, perjalanannya ke Brunico, lokasi masjid terdekat, memakan waktu lebih dari satu jam di jalan yang buruk. Ia menemukan tempat itu melalui media sosial, setelah gagal menemukannya menggunakan Google.

”Di sini ada banyak kebangsaan, banyak Muslim dari berbagai negara, seperti Aljazair, Tunisia, Afrika lainnya, dan banyak warga Qatar. Mereka kesulitan menemukan masjid,” kata Boubegtiten. Ruang doa antaragama tersedia di setiap perkampungan atlet di seluruh area pertandingan, tetapi ruang tersebut tidak dapat diakses oleh masyarakat umum.

Jamaah Muslim berdoa di masjid Al-Wahid selama bulan Ramadhan di Milan, Italia, Jumat (20/2/2026), saat kota tersebut menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin.

Di tempat lain di Dolomites, penduduk telah menciptakan ruang mereka sendiri. Mereka mengatakan, ada cukup tempat beribadah di sekitar Brunico. Di kota berpenduduk 17.000 jiwa ini banyak toko daging halal dan toko-toko untuk mengakomodasi populasi Muslim setempat.

Sekitar 120 orang menghadiri shalat Jumat di Brunico, duduk di lantai yang penuh sesak di sebuah ruangan yang dikelilingi tirai dan mendengarkan khotbah dalam bahasa Italia. Setelah itu, mereka diminta untuk memberikan sumbangan guna membantu menutupi biaya sewa tempat dan tagihan listrik.

”Di Italia, Ramadhan bukanlah hal yang mustahil. Kita bisa menjalankan Ramadhan dan beribadah,” kata Kreem Wardi. Ayah Wardi seorang Muslim dari Maroko, sedangkan ibunya berasal dari Italia dan beragama Katolik. ”Tidak mudah menemukan masjid di mana-mana di Italia. Namun, di daerah ini, untuk saat ini kami baik-baik saja, insya Allah.”

Jamaah Muslim berdoa di masjid Al-Wahid selama bulan Ramadhan di Milan, Italia, Jumat (20/2/2026) saat kota tersebut menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin.

Ketika azan akhirnya menggema di Masjid Al-Wahid menjelang pukul 19.00 waktu setempat, kaum pria dan wanita membungkuk serempak, dahi mereka menyentuh lantai. Seperti kata Imam Yahya Pallavicini, Olimpiade menjadi simbol toleransi agama di Italia.

(AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra