MUSCAT, SENIN— Oman meyakini solusi diplomasi masih terbuka di tengah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Sementara Arab Saudi disebut tak sepenuhnya mendukung solusi itu,
Pada Senin (2/3/2026), sudah tiga hari AS-Israel menyerang Iran. Meski demikian, Oman yakin solusi diplomasi tetap ada. Selama beberapa pekan terakhir, Oman menjadi fasilitator perundingan AS-Iran.
”Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas - pintu diplomasi tetap terbuka. Perundingan di Geneva telah mencapai kemajuan nyata menuju kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan Amerika Serikat, dan meskipun harapannya adalah untuk menghindari perang, perang tidak boleh berarti harapan perdamaian padam,” tulis Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi di media sosial.
” Saya masih percaya pada kekuatan diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini. Semakin cepat perundingan dilanjutkan, semakin baik bagi semua orang,” lanjutnya sebagaimana juga disiarkan Oman News Agency (ONA).
Sebelum mengumumkan itu, ia menelepon Menlu Iran Abbas Araghchi. Menurut ONA, Araghchi menyampaikan keterbukaan Iran terhadap setiap upaya serius yang berkontribusi pada de-eskalasi dan pemulihan stabilitas.
Menanggapi itu, Al-Busaidi menegaskan Oman terus mendukung dialog dan gencatan senjata. ”Negosiasi untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung melalui cara diplomatik, dengan cara yang memenuhi tuntutan sah semua pihak,” demikian Al-Busaidi seperti dikutip ONA.
AS-Israel menyerang Iran kala Al-Busaidi meninggalkan Washington DC, AS. Ia ke sana untuk bertemu Wakil Presiden AS JD Vance dan sejumlah pihak lain. Di AS, ia optimistis kesepakatan akan segera tercapai.
Namun, belum lagi ia sampai ke Oman, kerja kerasnya selama berminggu-minggu untuk memediasi AS-Iran ternyata rusak.
”Saya kecewa. Negosiasi yang aktif dan serius kembali dirusak. Baik kepentingan Amerika maupun perdamaian global tidak terlayani dengan baik oleh hal ini. Dan, saya berdoa bagi orang-orang tak berdosa yang akan menderita. Saya mendesak Amerika Serikat untuk tidak terjebak lebih jauh lagi,” tulisnya di media sosial.
Wajah ganda
Sementara media AS, The Washington Post, menuding Arab Saudi berwajah ganda. Di depan umum, Riyadh menyatakan mendukung solusi diplomatik.
Sementara di saluran tertutup, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), menurut media AS itu, terus mendesak Trump menyerang Iran.
Ia cemas dengan perundingan AS-Iran yang terus berlanjut dan kesediaan Iran berkompromi agar kesepakatan tercapai. Ia mengingatkan AS bahwa Iran akan semakin kuat kalau tak segera digempur.
Pada Januari 2026, ia mengutus saudaranya yang juga Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman ke AS. Dalam lawatan itu, Khalid disebut kembali mendesak AS segera menyerang Iran. Meski telah menormalisasi relasi dengan Iran, perseteruan lama Arab Saudi-Iran tak bisa dihilangkan begitu saja.
Juru Bicara Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington DC, Fahad Nazer, menyanggah tudingan itu. ”Kerajaan Arab Saudi selalu konsisten mendukung upaya diplomasi untuk mencapai kesepakatan kredibel dengan Iran. Sama sekali tak ada komunikasi dengan Presiden Trump atau kami melobi Presiden untuk mengambil kebijakan lain,” tulisnya di media sosial.
Presiden Saudi American Public Relation Affairs Committee (SAPRAC) Salman Al-Ansari menyebut tudingan The Washington Post penuh kepalsuan. ”Arab Saudi justru berusaha mencegah eskalasi,” tulisnya di media sosial.
Ia menyebut, setidaknya ada dua tujuan penyiaran tudingan itu. ”Menyeret Arab Saudi ke dalam perang dan menyalahkan pihak lain,” lanjutnya.
Tudingan itu, lanjutnya, berusaha mengalihkan perhatian dari pihak yang sebenarnya terus mendesak perang meletus. Dalam laporan The Washington Post memang disebut desakan Israel agar AS menyerang Iran. Para petinggi Israel, termasuk PM Benjamin Netanyahu, berulang kali mendesak Trump dan jajaran agar memerintahkan serangan ke Iran.
Sejak awal Januari 2026, Trump berulang kali batal memberikan perintah itu. Pada pertengahan pekan lalu, Trump akhirnya memutuskan serangan ke Iran. Serangan dilancarkan pada Sabtu pagi.
Bantahan klaim
Hampir sejam sejak rudal AS-Israel mulai meledak di Iran, Trump mengumumkan serangan itu. Ia berkilah, serangan dilancarkan karena Iran terus mengembangkan bom nuklir. Iran juga akan segera membuat rudal yang bisa menjangkau AS.
Klaim itu dilontarkan meski jajaran intelijen AS dan badan-badan internasional telah menyatakan sebaliknya. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga mengatakan, tak ada indikasi Iran memulai lagi program pengayaan nuklir setelah diserang AS-Israel pada Juni 2025.
Apalagi, Trump pada Juni 2025 juga telah menyatakan kemampuan nuklir Iran telah punah. Departemen Luar Negeri dan Gedung Putih kala itu menyatakan, adalah kebohongan jika Iran disebut masih mampu membuat nuklir setelah serangan Juni 2025.
Sementara Badan Intelijen Pertahanan (DIA) AS telah menyatakan, tak ada bukti Iran sedang membangun rudal balistik antarbenua (ICBM) yang bisa menjangkau AS dalam waktu dekat. Paling cepat Iran bisa melakukan itu 10 tahun lagi.
Direktur Intelijen Nasional (DNI) AS Tulsi Gabbard juga berulang kali menolak serangan ke Iran jika alasannya pengembangan ICBM dan bom nuklir. Seperti Vance, Gabbard tidak ikut ke sangraloka pribadi Trump, Mar-a-Lago, pada akhir pekan lalu. Dari sangraloka itu, Trump dan sejumlah pihak memantau serangan AS-Israel ke Iran.
Vance dan Gabbard ditemani Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Keuangan Scott Bessent di Gedung Putih kala memantau serangan AS-Israel ke Iran. Mereka adalah pejabat AS yang tak setuju AS menyerang Iran.
Israel mengklaim telah mengoordinasikan persiapan serangan sejak beberapa bulan lalu dengan AS. Sejumlah jenderal AS menyebut, kekuatan AS di kawasan tak cukup untuk serangan dan pertahanan panjang. Mereka terutama mempersoalkan cadangan amunisi penangkis serangan balasan Iran.
Sejak mulai dipakai, AS baru mendapatkan 650 unit rudal untuk sistem pertahanan udara ekstra tinggi, THAAD. Pada Juni 2025, setidaknya 150 rudal dipakai menangkis pembalasan Iran.
Dilaporkan The Wall Street Journal, Trump akhirnya memutuskan serangan ke Iran setelah mendengar hasil perundingan di Geneva yang difasilitasi Al-Busaidi pada Kamis pekan lalu.
Al-Busaidi telah menyatakan, kesepakatan bisa dicapai kalau isunya dibatasi soal bom nuklir. Iran telah menyatakan tak akan membuat bom nuklir.
Namun, AS menuntut lebih dari itu. Seperti disampaikan Utusan Khusus AS untuk Perdamaian, Steve Witkoff, Trump mau Iran menyerah total. Iran menolak itu.
AS menuntut Iran sama sekali mengabaikan program nuklir dan rudalnya. Di sisi lain, AS tak mau mencabut sanksi ekonomi yang dijatuhkan ke Iran sejak 1979, bahkan terus ditambah. (AP/AFP)
MUSCAT, SENIN— Oman meyakini solusi diplomasi masih terbuka di tengah serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Sementara Arab Saudi disebut tak sepenuhnya mendukung solusi itu,
Pada Senin (2/3/2026), sudah tiga hari AS-Israel menyerang Iran. Meski demikian, Oman yakin solusi diplomasi tetap ada. Selama beberapa pekan terakhir, Oman menjadi fasilitator perundingan AS-Iran.
Serial Artikel
Perundingan AS-Iran Cuma Pura-pura
Seperti pada Juni, serangan kali ini dilancarkan di tengah proses perundingan. Kamis lalu, delegasi AS-Iran berunding di Geneva, Swiss.
”Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas - pintu diplomasi tetap terbuka. Perundingan di Geneva telah mencapai kemajuan nyata menuju kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan Amerika Serikat, dan meskipun harapannya adalah untuk menghindari perang, perang tidak boleh berarti harapan perdamaian padam,” tulis Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi di media sosial.
” Saya masih percaya pada kekuatan diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini. Semakin cepat perundingan dilanjutkan, semakin baik bagi semua orang,” lanjutnya sebagaimana juga disiarkan Oman News Agency (ONA).
Sebelum mengumumkan itu, ia menelepon Menlu Iran Abbas Araghchi. Menurut ONA, Araghchi menyampaikan keterbukaan Iran terhadap setiap upaya serius yang berkontribusi pada de-eskalasi dan pemulihan stabilitas.
Menanggapi itu, Al-Busaidi menegaskan Oman terus mendukung dialog dan gencatan senjata. ”Negosiasi untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung melalui cara diplomatik, dengan cara yang memenuhi tuntutan sah semua pihak,” demikian Al-Busaidi seperti dikutip ONA.
Serial Artikel
Arab Saudi-Iran Gelar Perundingan Langsung
Pertemuan Iran-Arab Saudi yang semula rahasia kini terkonfirmasi secara resmi. Meski belum ada hasil yang jelas, pertemuan keduanya diharapkan bisa meredakan ketegangan di Teluk.
AS-Israel menyerang Iran kala Al-Busaidi meninggalkan Washington DC, AS. Ia ke sana untuk bertemu Wakil Presiden AS JD Vance dan sejumlah pihak lain. Di AS, ia optimistis kesepakatan akan segera tercapai.
Namun, belum lagi ia sampai ke Oman, kerja kerasnya selama berminggu-minggu untuk memediasi AS-Iran ternyata rusak.
”Saya kecewa. Negosiasi yang aktif dan serius kembali dirusak. Baik kepentingan Amerika maupun perdamaian global tidak terlayani dengan baik oleh hal ini. Dan, saya berdoa bagi orang-orang tak berdosa yang akan menderita. Saya mendesak Amerika Serikat untuk tidak terjebak lebih jauh lagi,” tulisnya di media sosial.
Wajah ganda
Sementara media AS, The Washington Post, menuding Arab Saudi berwajah ganda. Di depan umum, Riyadh menyatakan mendukung solusi diplomatik.
Sementara di saluran tertutup, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), menurut media AS itu, terus mendesak Trump menyerang Iran.
Ia cemas dengan perundingan AS-Iran yang terus berlanjut dan kesediaan Iran berkompromi agar kesepakatan tercapai. Ia mengingatkan AS bahwa Iran akan semakin kuat kalau tak segera digempur.
Pada Januari 2026, ia mengutus saudaranya yang juga Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman ke AS. Dalam lawatan itu, Khalid disebut kembali mendesak AS segera menyerang Iran. Meski telah menormalisasi relasi dengan Iran, perseteruan lama Arab Saudi-Iran tak bisa dihilangkan begitu saja.
Serial Artikel
AS-Israel Serang Iran, Mediasi Oman Sia-sia
AS-Israel menyerang Iran dua hari setelah Oman kembali memediasi perundingan AS-Iran. Menlu Oman sedang di AS kala serangan dilancarkan.
Juru Bicara Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington DC, Fahad Nazer, menyanggah tudingan itu. ”Kerajaan Arab Saudi selalu konsisten mendukung upaya diplomasi untuk mencapai kesepakatan kredibel dengan Iran. Sama sekali tak ada komunikasi dengan Presiden Trump atau kami melobi Presiden untuk mengambil kebijakan lain,” tulisnya di media sosial.
Presiden Saudi American Public Relation Affairs Committee (SAPRAC) Salman Al-Ansari menyebut tudingan The Washington Post penuh kepalsuan. ”Arab Saudi justru berusaha mencegah eskalasi,” tulisnya di media sosial.
Ia menyebut, setidaknya ada dua tujuan penyiaran tudingan itu. ”Menyeret Arab Saudi ke dalam perang dan menyalahkan pihak lain,” lanjutnya.
Tudingan itu, lanjutnya, berusaha mengalihkan perhatian dari pihak yang sebenarnya terus mendesak perang meletus. Dalam laporan The Washington Post memang disebut desakan Israel agar AS menyerang Iran. Para petinggi Israel, termasuk PM Benjamin Netanyahu, berulang kali mendesak Trump dan jajaran agar memerintahkan serangan ke Iran.
Sejak awal Januari 2026, Trump berulang kali batal memberikan perintah itu. Pada pertengahan pekan lalu, Trump akhirnya memutuskan serangan ke Iran. Serangan dilancarkan pada Sabtu pagi.
Bantahan klaim
Hampir sejam sejak rudal AS-Israel mulai meledak di Iran, Trump mengumumkan serangan itu. Ia berkilah, serangan dilancarkan karena Iran terus mengembangkan bom nuklir. Iran juga akan segera membuat rudal yang bisa menjangkau AS.
Klaim itu dilontarkan meski jajaran intelijen AS dan badan-badan internasional telah menyatakan sebaliknya. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga mengatakan, tak ada indikasi Iran memulai lagi program pengayaan nuklir setelah diserang AS-Israel pada Juni 2025.
Apalagi, Trump pada Juni 2025 juga telah menyatakan kemampuan nuklir Iran telah punah. Departemen Luar Negeri dan Gedung Putih kala itu menyatakan, adalah kebohongan jika Iran disebut masih mampu membuat nuklir setelah serangan Juni 2025.
Sementara Badan Intelijen Pertahanan (DIA) AS telah menyatakan, tak ada bukti Iran sedang membangun rudal balistik antarbenua (ICBM) yang bisa menjangkau AS dalam waktu dekat. Paling cepat Iran bisa melakukan itu 10 tahun lagi.
Direktur Intelijen Nasional (DNI) AS Tulsi Gabbard juga berulang kali menolak serangan ke Iran jika alasannya pengembangan ICBM dan bom nuklir. Seperti Vance, Gabbard tidak ikut ke sangraloka pribadi Trump, Mar-a-Lago, pada akhir pekan lalu. Dari sangraloka itu, Trump dan sejumlah pihak memantau serangan AS-Israel ke Iran.
Vance dan Gabbard ditemani Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Keuangan Scott Bessent di Gedung Putih kala memantau serangan AS-Israel ke Iran. Mereka adalah pejabat AS yang tak setuju AS menyerang Iran.
Israel mengklaim telah mengoordinasikan persiapan serangan sejak beberapa bulan lalu dengan AS. Sejumlah jenderal AS menyebut, kekuatan AS di kawasan tak cukup untuk serangan dan pertahanan panjang. Mereka terutama mempersoalkan cadangan amunisi penangkis serangan balasan Iran.
Sejak mulai dipakai, AS baru mendapatkan 650 unit rudal untuk sistem pertahanan udara ekstra tinggi, THAAD. Pada Juni 2025, setidaknya 150 rudal dipakai menangkis pembalasan Iran.
Serial Artikel
Kirim Panglima Perang ke Perundingan, Isyarat Trump Tetap Mau Serang Iran
Laksamana Brad Cooper hadir sebagai wujud tekad kuat Trump menggunakan militer jika perundingan gagal. AS sudah biasa mengutus jenderal ke meja perundingan.
Dilaporkan The Wall Street Journal, Trump akhirnya memutuskan serangan ke Iran setelah mendengar hasil perundingan di Geneva yang difasilitasi Al-Busaidi pada Kamis pekan lalu.
Al-Busaidi telah menyatakan, kesepakatan bisa dicapai kalau isunya dibatasi soal bom nuklir. Iran telah menyatakan tak akan membuat bom nuklir.
Namun, AS menuntut lebih dari itu. Seperti disampaikan Utusan Khusus AS untuk Perdamaian, Steve Witkoff, Trump mau Iran menyerah total. Iran menolak itu.
AS menuntut Iran sama sekali mengabaikan program nuklir dan rudalnya. Di sisi lain, AS tak mau mencabut sanksi ekonomi yang dijatuhkan ke Iran sejak 1979, bahkan terus ditambah. (AP/AFP)