Robi Syianturi dan Odekta Elvina Naibaho mengawinkan medali emas maraton putra dan putri SEA Games Thailand 2025. Berlomba pagi ataupun malam, mereka tetap dominan.
14 Des 2025 22:13 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
BANGKOK, KOMPAS — Pagi atau malam hari, pelari jarak jauh Indonesia, Odekta Elvina Naibaho dan Robi Syianturi, tidak tertandingi. Itu dibuktikan di SEA Games Thailand 2025. Walaupun menjalani pengalaman pertama berlomba maraton di malam hari, mereka mampu finis tangguh dan meraih emas untuk Indonesia.
Robi dan Odekta mengawinkan emas nomor maraton SEA Games di Happy & Healthy Bike Lane, Bangkok, Thailand, Minggu (14/12/2025). Keduanya sukses mendominasi lomba, meninggalkan jauh para pesaingnya. Dalam catatan waktu yang tidak resmi, Robi finis dengan 2 jam 27 menit 24 detik, sedangkan Odekta dengan 2 jam 43 menit 16 detik.
Sepekan sebelumnya, Robi mengatakan ia belum pernah mengikuti maraton di malam hari. Lomba di Thailand ini akan menjadi pengalaman pertama baginya. Lomba berlangsung pukul 17.00. Dimulai saat langit masih terang dan berakhir ketika sudah gelap. Robi sempat khawatir akan berebut oksigen dengan pohon-pohon dan kelembaban udara.
Namun, setelah melahap 42,195 km dalam kondisi gelap, Robi tampak tidak menemukan masalah berarti. Dia menyelesaikan lomba dengan tangguh, tanpa ada lawan yang menempel di belakangnya. Sebelum finis, pemegang rekor nasional maraton itu bahkan sempat berteriak dengan lantang, ”Indonesia!”
”Agak engap, sih. Kami tahu Thailand kelembabannya tinggi. Cukup perjuangan, sih. Ini pertama kali saya lari maraton di malam hari, jadi penyesuaiannya agak sulit. Empat hari terakhir makanya saya penyesuaian lari malam terus. Alhamdulillah bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” tutur Robi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/6794b95bdbab3ff8114d965deb3ec349-DSC02093.JPG)
Banyak sekali tuntutan, apalagi setelah latihan di Kenya, orang tentu menunggu hasilnya. Kalau tidak tercapai, itu menjadi beban mental bagi kami.
Robi kegirangan. Itu merupakan penampilan pertamanya di nomor maraton SEA Games. Ternyata, penampilan itu berbuah emas pertama dalam ajang multicabang tersebut. Setelah finis, dia langsung mengambil bendera Merah Putih. Dia meladeni permintaan foto orang-orang di sekitar tanpa terlihat kelelahan ataupun ngos-ngosan.
Tak lama berselang, rekannya, Ricky Martin Simbolon, masuk garis finis dengan tergopoh-gopoh. Robi langsung membantu Ricky yang sedang kesakitan. Kedua pelari itu sempat bersama-sama hingga Kilometer 38, tetapi Ricky kelelahan karena mengikuti ritme lari Robi. Alhasil, mereka terpisah sejak itu.
Odekta juga tampak tidak menemukan kesulitan berarti meski berlomba pada malam hari jadi pengalaman pertamanya. Berbeda dengan Robi, ini adalah medali emas ketiganya beruntun di SEA Games. Sebelumnya, Odekta meraih prestasi tertinggi di Kamboja 2023 dan Vietnam 2021.
Kata Odekta, tak mudah mempertahankan prestasi dua edisi. Odekta bahkan sempat merasa tertekan. ”Banyak sekali tuntutan, apalagi setelah latihan di Kenya, orang tentu menunggu hasilnya. Kalau tidak tercapai, itu menjadi beban mental bagi kami,” kata Odekta.
Namun, Odekta terbukti mampu mengatasi tekanan itu bahkan ketika berlomba dengan kondisi yang tidak biasa. Perlombaan yang digelar sore hingga malam hari itu membawa Odekta pada pengalaman pertama berlari di sepanjang jalan yang sepi, gelap, dan remang. Jarak antarlampu jalan jauh. Tidak ada pemandangan yang bisa dilihat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/d03b73994daa4197b056a38552d9a5a0-DSC02064.JPG)
Hingga Kilometer 21 sebenarnya lintasan masih diterangi lampu-lampu, tetapi setelah itu kondisi berubah. Dengan cahaya yang remang-remang, Odekta hanya bisa mengandalkan lampu dari mobil pengawal di depan dan belakang.
Hal yang Odekta takutkan adalah pikiran kosong dan tidak fokus. ”Akhirnya, saya nyanyi. Nyanyi lagu rohani, tapi kok tidak selesai-selesai sampai ujung. Tapi, yang penting pikiran saya sibuk saja,” ujarnya.
Ketika memasuki Kilometer 30, Odekta sudah merasa jenuh. Pikiran mulai buyar, kaki mulai pegal. Namun, pelari 34 tahun ini tidak mau menyerah. Terlebih, ia sudah unggul jauh atas pesaing-pesaingnya.
Pelatih tim maraton Indonesia, Dwi Janarto, mengatakan, strategi yang diterapkan untuk Robi dan Odekta memang langsung melaju setelah start agar bisa meninggalkan jauh para pesaing. Setelah memasuki Kilometer 25, jika lawan sudah tertinggal, baru Robi dan Odekta diminta untuk mengatur langkah.
Menurut Dwi, sebenarnya di atas kertas, Robi dan Odekta unggul atas para pesaingnya. Apalagi, keduanya merupakan pemegang rekor Asia Tenggara, Robi dengan waktu 2 jam 15 menit 4 detik, sedangkan Odekta dengan waktu 2 jam 31 menit 34 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/4ba21e08ffb5e97e8c754fb1e4304fd5-20251214RIAN14.JPG)
Meski begitu, catatan waktu itu diraih saat mereka berlomba pada waktu ”normal”, yakni pagi ke siang. Maka, tantangan mereka adalah perlombaan yang digelar di waktu yang tak biasa.
Untuk itu, salah satu strategi untuk menyiasatinya adalah beradaptasi selama sepekan di Thailand. Setiap hari, mereka berlatih menyesuaikan waktu perlombaan agar terbiasa dengan cuaca, terutama kelembaban yang tinggi dan kondisi berangin.
”Kami sempat ada latihan interval dan tempo. Malah enak ke mereka, mungkin efek dari Kenya,” ucap Dwi.
Seperti diketahui, selama kurang lebih tiga bulan, Robi dan Odekta dikirim menjalani pemusatan latihan ke luar negeri. Mereka berlatih di Complete Sports Athletics Training Centre, Eldoret, Kenya.
Eldoret dikenal sebagai pusat pelatihan daya tahan dan pelatihan atletik terbaik di Afrika yang berlokasi di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Selain lingkungan tenang, terdapat fasilitas rehabilitasi dan nutrisi yang terintegrasi untuk memaksimalkan performa pelari jarak jauh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/ef6b6face3b4832fdfe2412c7715668c-20251214RIAN20.JPG)
”Oleh-oleh utama dari Kenya adalah disiplin dan semangat berlatih. Kalau tidak bisa berprestasi tidak bisa menerapkan taraf hidup, itu kami contoh, etos berlatih mereka. Kami belajar bagaimana dengan fasilitas terbatas, bisa meningkatkan prestasi,” ujarnya.
Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa, dan Rian Septiandi dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar