Panen Zaitun di Bukit Getsemani

Di Bukit Getsemani, diyakini tempat Yesus berdoa sebelum disalib, para biarawati dan sukarelawan memanen buah zaitun.

25 Okt 2025 09:00 WIB · Internasional

AP/Oded Balilty

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sebuah kain putih usang dibentangkan di bawah pohon zaitun yang rimbun. Dua biarawati dibantu beberapa sukarelawan memulai aktivitas memanen buah zaitun di Bukit Getsemani, Yerusalem, Israel, Sabtu (18/10/2025). Bukit Getsemani dikenal juga sebagai bukit atau Gunung Zaitun.

Untuk buah yang masih terjangkau, mereka memetiknya dengan tangan. Sementara untuk yang berada jauh di pucuk dahan, beberapa sukarelawan memanjat pohon atau menggunakan tangga untuk meraih buahnya. Sebuah galah yang ujungnya dimodifikasi dengan besi juga digunakan untuk mempermudah panen buah zaitun.

Rutinitas ini sempat terhenti selama dua tahun ketika terjadi perang antara Israel-Hamas. Namun, seiring dicapainya gencatan senjata dan perdamaian di antara kedua pihak, warga mulai kembali ke ladang dan meneruskan tradisi panen buah zaitun.

Sebuah salib tergantung dari pohon zaitun di pertapaan Fransiskan di Gunung Zaitun dengan pemandangan Kubah Masjid di kompleks Masjid Al-Aqsa sebagai latar belakang, di Yerusalem, Jumat, (3/10/2025).

”Tanah ini adalah anugerah dan tanda kehadiran ilahi,” kata Pastur Diego Dalla Gassa, seorang Fransiskan yang bertanggung jawab atas panen di pertapaan di sebelah Getsemani. Bagi Dalla Gassa dan jemaat lain yang sebagian besar beragama Katolik di perbukitan, memanen zaitun untuk dijadikan selai dan minyak bukanlah bisnis semata. Bagi mereka, itu adalah bentuk doa dan penghormatan.

Pagi itu, matahari yang cerah bersinar di atas kubah emas Masjid Al-Aqsa. Kilau sinarnya terlihat di atas tembok yang mengelilingi Temple Mount, sebuah situs tersuci dalam agama Yahudi yang terletak di samping menara lonceng gereja-gereja Kristen.

Sukarelawan memanen buah zaitun di Biara Benediktin di atas Gunung Zaitun yang menghadap ke Kota Tua Jerusalem, Sabtu (18/10/2025).
Suster Marie Benedicte memanen buah zaitun di kebun biaranya di Gunung Zaitun, Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Biarawati Katolik, Suster Marie Benedicte (kanan) dan Suster Colomba, bersiap panen zaitun di kebun biara mereka di Gunung Zaitun, Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Sukarelawan Italia mengumpulkan buah zaitun yang baru saja mereka panen di pertapaan Fransiskan di Gunung Zaitun di Jerusalem, Jumat (3/10/2025).
Biarawati Katolik, Suster Marie Benedicte (kanan) dan Suster Colomba, berjalan di kebun biara mereka untuk memanen zaitun di Gunung Zaitun, di Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Suster Marie Benedicte menulis sebuah ikon di Biara Benediktin di atas Gunung Zaitun di Jerusalem, Jumat (17/10/2025).

Dalla Gassa dan beberapa sukarelawan, mulai dari warga Yahudi Israel hingga petugas penegak hukum Italia yang berkunjung, memetik buah zaitun hitam dan hijau dengan tangan dan garu kecil. Buah zaitun lalu dijatuhkan ke jaring di bawah pohon.

Proses selanjutnya, buah zaitun yang terkumpul dibawa dengan gerobak dorong menuju ruangan pengolahan, tak jauh dari perkebunan itu. Buah-buah yang terkumpul akan diperas dengan mesin pres modern untuk diambil minyaknya. 

Aroma minyak zaitun yang khas segera memenuhi udara. Untuk mendapatkan satu liter minyak zaitun, dibutuhkan kira-kira 10 kilogram buah zaitun. Selanjutnya minyak yang terkumpul akan dituang ke botol-botol kecil dan diberi label sebelum dijual.

Suster Marie Benedicte dan Suster Colomba, dua biarawati Katolik, berada di kebun biara mereka untuk memanen zaitun di Gunung Zaitun, di Yerusalem, Jumat, (17/10/2025).

Zaitun dan simbolisme keagamaan

Tanaman Zaitun dan Getsemani bermakna sangat dalam bagi umat Kristiani. Dalam Kitab Suci, perdamain sering digambarkan dengan ranting pohon zaitun. Ada pula kisah merpati yang membawa ranting zaitun kembali ke bahtera Nuh, menandai berakhirnya banjir. 

Adapun Getsemani adalah tempat Yesus menghabiskan malam terakhir sebelum dibawa ke seberang lembah di Jerusalem untuk disalibkan. Kata Getsemani berasal dari kata ”alat pemeras minyak” dalam bahasa Aram dan Ibrani kuno.

Mendaki bukit dari Biara Fransiskan, Suster Marie Benedicte berjalan di antara pohon-pohon zaitun sambil menggendong kucing yang diberi nama Petit Chat, kucing kecil dalam bahasa Perancis. Selama lebih dari dua dekade, biarawati Perancis ini telah berada di Biara Benediktin yang didirikan pada akhir abad ke-19 di puncak Bukit Zaitun. 

Suster Marie Benedicte dan Suster Colomba berjalan di taman untuk memanen buah zaitun di Gunung Zaitun,  Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Dua biarawati Katolik memanen buah zaitun di kebun biara mereka di Gunung Zaitun, Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Sukarelawan Italia bekerja saat panen zaitun di pertapaan Fransiskan di Gunung Zaitun, Jerusalem, Jumat (3/10/2025).
Sukarelawan memanen buah zaitun di biara Benediktin di atas Gunung Zaitun yang menghadap ke Kota Tua Jerusalem, Sabtu (18/10/2025).
Suster Marie Benedicte dan Suster Colomba memeriksa pengawet zaitun yang dibuat dalam beberapa tahun terakhir dari panen di kebun biara mereka di Gunung Zaitun, Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Sukarelawan Perancis memanen buah zaitun di Biara Benediktin di atas Gunung Zaitun di Jerusalem, Sabtu (18/10/2025).
Suster Marie Benedicte dan Suster Colomba memanen buah zaitun di kebun biara mereka di Gunung Zaitun,  Jerusalem, Jumat (17/10/2025).
Sukarelawan mengumpulkan buah zaitun yang baru saja mereka panen di pertapaan Fransiskan di Gunung Zaitun, Jerusalem, Jumat (3/10/2025).

Kini, hanya enam suster yang tinggal di sana, dengan ritme kerja 16 jam, jalan-jalan kontemplatif di taman, dan doa. Minyak zaitun digunakan di biara ini untuk menjaga lampu tabernakel, kotak penyimpanan ekaristi, tetap menyala. Bagi mereka, yang tinggal di antara pepohonan ini, rutinitas panen bersifat rohani dan penuh simbolisme. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul