Fleksibilitas yang diharapkan sejumlah pebisnis pada kebijakan baru Presiden Donald Trump tak terbukti. Industri Otomotif tertekan.
27 Mar 2025 21:30 WIB · Internasional
WASHINGTON, KAMIS — Bursa Amerika Serikat dan sejumlah negara kembali terkoreksi. Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal tarif bea masuk impor otomotif jadi penyebabnya.
Pada pembukaan perdagangan Kamis (27/3/2025), tiga indeks harga saham utama bursa New York langsung merah. Dow, S&P 500, dan Nasdaq turun. Indeks memerah juga terpantau di Eropa seperti tecermin pada FTSE 100, CAC 40, Euronext 100, Dax, hingga MSCI terpantau merosot.
Di AS, penurunan, antara lain, terpantau pada saham General Motors yang merupakan raksasa otomotif AS. Dalam pembukaan perdagangan, saham GM langsung rontok 7,8 persen.
Saham-saham pabrikan Jepang terkoreksi di bursa Tokyo. Saham Toyota Motor Corp turun 2 persen, diikuti Honda 2,5 persen, Nissan 1,7 persen, Mitsubishi turun 3 persen dan Mazda, serta Subaru turun masing-masing 6 persen dan 5 persen.
Di Eropa, saham Stellantis NV turun 4,1 persen, Porsche AG turun 4,3 persen, dan Mercedes-Benz Group AG merosot 3,5 persen. Indeks MSCI World Automobiles telah jatuh 22 persen sepanjang tahun ini.
Semua penurunan itu berpangkal pada hal sama, keputusan Trump yang diumumkan pada Rabu (26/3/2025). ”Tarif 25 persen pada semua mobil yang tidak diproduksi di AS,” kata Trump.
Mulai Kamis (3/4/2025), seluruh mobil penumpang dan truk ringan yang diekspor ke AS akan dikenai tambahan tarif itu. Suku cadang kedua jenis kendaraan itu juga akan kena.
Trump tak cuma mengumumkan BMI untuk kedua jenis kendaraan itu. Ia juga mengancam mengenakan BMI tambahan kalau mitra dagang AS balik mengenakan BMI pada produk AS.
Trump juga memutuskan, tarif akan diberlakukan tanpa pandang bulu. Mobil milik pabrikan AS, tetapi dibuat di luar AS, akan kena BMI. Hal itu berarti mobil-mobil GM, Ford, dan aneka jenama AS lainnya yang dibuat di luar AS akan terkena kebijakan itu.
Selama ini, Ford dan GM merakit sebagian produknya di Kanada dan Meksiko. Bahkan, Meksiko jadi sumber impor terbesar kendaraan ke AS. Selanjutnya ada Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan Jerman.
Seperti kebijakan lain soal tarif, Trump berkilah kebijakan itu untuk mendorong investor masuk AS. Kalau mau bebas BMI, buat pabrik di AS dan pekerjakan warga AS. ”Siapa pun yang memiliki pabrik di sini, itu akan menguntungkan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/18fcbe01405562133d15cad39d0043f6-063_2206699221.jpg)
Tidak ada penjelasan terinci seberapa lama kebijakan itu nantinya akan menghasilkan harapan yang diinginkan oleh Trump. Sejauh ini, baru satu pabrikan otomotif, Hyundai Grup asal Korea Selatan, yang memastikan akan hadir di Louisiana, AS. Total investasinya 21 miliar dollar AS.
Sebaliknya, industri otomotif global memungkinkan industri perakitan dan suku cadang tersebar di beberapa negara. Yang paling jelas adalah di wilayah Amerika Utara, seperti Meksiko dan Kanada, lokasi pabrik perakitan jenama-jenama AS yang kemudian disatukan oleh perjanjian perdagangan USMCA sejak tahun 1960-an.
Kementerian Perdagangan AS memerlukan waktu untuk meneliti komponen apa yang masuk dalam daftar dan dikecualikan. Hal ini tecermin dari pernyataan Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Harrison Fields.
”Suku cadang mobil yang mematuhi USMCA akan tetap bebas tarif hingga Menteri Perdagangan, setelah berkonsultasi dengan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP), menetapkan proses untuk menerapkan tarif pada konten non-AS,” kata Fields di platform X.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/18/dad4bb86-e921-477b-b2f6-7977588c92fa_jpg.jpg)
Brad Setser, mantan pejabat Departemen Keuangan AS yang sekarang aktif di Council on Foreign Relations, mengatakan, sekitar 4 juta unit mobil di AS yang berasal dari Kanada dan Meksiko juga berpotensi dijatuhi kenaikan tarif 25 persen atau lebih. Kebijakan ini diyakininya akan menaikkan harga setiap kendaraan yang masuk dan mengurangi penjualan di AS untuk jangka waktu yang tertentu.
Pusat Penelitian Otomotif mengatakan, kebijakan itu akan menambah beban bagi konsumen yang akan membeli mobil baru hingga ribuan dollar AS. Ini akan berdampak pada tingkat penjualan. Kondisi ini juga berpotensi mengakibatkan hilangnya lapangan pekerjaan karena ketergantungan AS pada suku cadang impor.
Jennifer Safavian, Presiden dan CEO Autos Drive America, kelompok dagang yang mewakili produsen mobil asing, menyatakan kini faktor biaya menjadi perhatian pembeli mobil AS. Faktor itu juga menjadi salah satu fokus produsen otomotif menyediakan kendaraan yang terjangkau dengan kualitas yang bagus.
”Tarif yang diberlakukan hari ini akan membuat produksi dan penjualan mobil di AS lebih mahal, yang pada akhirnya akan menyebabkan harga yang lebih tinggi, lebih sedikit pilihan bagi konsumen, dan lebih sedikit lapangan pekerjaan manufaktur di AS,” tambahnya.
Yang jelas, dalam perhitungan sementara, menurut Sekretaris Staf Gedung Putih Will Scharf, pemerintah memproyeksikan bahwa tarif tersebut akan menghasilkan pendapatan tahunan baru sebesar 100 miliar dollar bagi AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/7eff08680461afea70c847a09822e575-000_3833662.jpg)
Kegelisahan pasar diperparah oleh data Selasa yang menunjukkan sentimen konsumen telah jatuh ke level terendah sejak 2021. Konsumen khawatir harga terus meningkat.
Pabrikan Eropa, yakni Porsche dan Mercedes-Benz Group AG, menurut laporan Bloomberg, berpotensi sebagai produsen yang paling terpukul akibat kebijaan ini. Proyeksi awal, hingga 25 persen potensi laba mereka di 2026 akan hilang.
Mereka punya beberapa opsi untuk meredam penurunan laba. Opsinya adalah menaikkan harga, mencari pasar baru selain AS, atau membuka pabrik di AS.
Produsen mobil Jerman paling berisiko. Sebab, mereka mengirim lebih banyak kendaraan ke AS daripada ke negara lain. Kiriman Jerman termasuk banyak model mesin pembakaran bermargin tinggi seperti mobil sport Porsche 911 dan sedan Mercedes-Benz S-Class, tipe salon tertinggi di luar Maybach.
Peter Navarro, penasihat senior Trump untuk perdagangan dan manufaktur, menyebut industri otomotif asing telah mengubah sektor manufaktur AS menjadi operasi perakitan berupah rendah. Ia mengakui membidik Jerman dan Jepang karena mencadangkan pembangunan suku cadang bernilai tinggi di negara asal, bukan di AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/12/18/20211218HEI11_1639824166_jpg.jpg)
Keputusan Trump itu membuat potensi perang dagang terbuka lebar, terutama setelah Trump mengancam akan menambah besaran tarif jika negara-negara yang disasar memberlakukan kebijakan tarif terhadap produk AS.
Presiden Komisi Eripa Ursula von der Leyen memperingatkan, Uni Eropa akan mempertahankan kepentingan ekonominya sambil terus mengupayakan solusi diplomatik. ”Kami sekarang akan menilai pengumuman ini, bersama dengan langkah-langkah lain yang direncanakan AS dalam beberapa hari ke depan,” kata Von der Leyen.
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengatakan, Tokyo mempertimbangkan semua jenis tindakan balasan. Sementara Perdana Menteri Kanada yang baru, Mark Carney, kebijakan Trump itu sebagai ”serangan langsung” terhadap pekerja di negaranya.
Meski begitu, Carney mengatakan, dia perlu melihat secara terinci isi perintah eksekutif Trump itu sebelum mengambil tindakan balasan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/4433c876-3f9f-4f64-88b5-d76e060e9417_jpg.jpg)
Mobil merupakan ekspor terbesar kedua Kanada, dan Carney mencatat bahwa sektor ini mempekerjakan 125.000 warga Kanada secara langsung dan hampir 500.000 lainnya di industri terkait.
Pernyataan lebih tegas disampaikan Perdana Menteri Ontario, Doug Ford. Dia mengatakan akan menutup pabrik mobil di kedua sisi perbatasan jika tarif benar-benar diberlakukan. ”Presiden (Trump) menyebutnya Hari Pembebasan. Saya menyebutnya Hari Pemutusan Hubungan Kerja bagi pekerja Amerika,” kata Ford. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris Mada