KUNJUNGAN APOSTOLIK

Paus Leo XIV: ”Tiran” Tidak Ditujukan kepada Trump

Pidato Paus Leo XIV di Kamerun banyak ditafsirkan bahwa ia menyindir Presiden Donald Trump. Paus Leo menyatakan, penafsiran atas pidatonya tidak akurat.

19 Apr 2026 20:21 WIB · Internasional

AP / POOL / LUCA ZENNARO

Oleh Helena Fransisca Nababan

LAGOS, MINGGU — Paus Leo XIV menegaskan, ”para tiran” yang ia maksud dalam pidato pada Kamis (16/4/2026) di Kamerun tidak ia tujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kata-kata itu ia tujukan untuk mengkritik para pemimpin yang menghabiskan miliaran dolar untuk pembunuhan dan kehancuran.

Dalam wawancara dengan wartawan di atas pesawat kepausan, Sabtu (18/4/2026), saat menuju Angola, Paus pertama dari Amerika Serikat itu menegaskan, ia tidak bermaksud untuk berdebat dengan Trump saat mengungkapkan kritikan itu. Pernyataan itu, ujar Paus Leo, seperti dikutip BBC, sudah tertulis dalam pidato yang disusun dua minggu sebelum jadwal pidato.

Merujuk pidato Paus Leo di Bamenda, Kamerun, seperti diberitakan NPR, Paus Leo fokus untuk mempromosikan persatuan, perdamaian, dan hubungan antaragama yang lebih kuat. Ia mengecam para pemimpin global, yang menurutnya, ”merusak dunia” dengan menghabiskan miliaran dolar untuk perang.

Dalam pidatonya di Katedral St Joseph di kota Bamenda, Paus Leo mengkritik tajam mereka yang menggunakan agama untuk membenarkan tindakan militer. ”Para penguasa perang berpura-pura tidak tahu bahwa hanya butuh sesaat untuk menghancurkan. Namun, seringkali seumur hidup tidak cukup untuk membangun kembali,” katanya.

”Berbahagialah para pembawa damai! Namun, celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan itu sendiri untuk keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka sendiri, menyeret apa yang suci ke dalam kegelapan dan kekotoran,” demikian dinyatakan Paus Leo.

”Dunia sedang dihancurkan oleh segelintir tiran. Namun, dunia dipersatukan oleh banyak saudara dan saudari yang mendukung (perdamaian),” imbuh Paus Leo.

Beberapa pernyataan Paus Leo di Bamenda ditujukan pada konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris di Kamerun. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konflik di wilayah itu menyebabkan lebih dari 650.000 orang mengungsi dan menewaskan lebih dari 6.500 orang sejak 2017.

Hanya saja, kritikan Paus Leo di Bamenda itu terjadi di tengah meningkatnya perselisihan publik dengan Presiden Trump mengenai perang yang sedang berlangsung di Iran. Alhasil, pidato Paus Leo itu banyak disalahartikan lantaran ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai sindiran terhadap Trump.

Paus Leo XIV memimpin Misa Minggu, Minggu (19/4/2026) di Kilamba, sekitar 30 kilometer selatan Luanda, Angola, pada hari ketujuh dari perjalanan apostolik 11 hari ke Afrika.

Ketegangan

”Ketegangan” antara Trump dan Paus Leo diketahui terjadi setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sehari setelah dimulainya operasi militer, merujuk pada CBS edisi Sabtu (18/4/2026), Paus Leo menyatakan ”keprihatinan mendalam”.

Ia lantas mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk ”menghentikan spiral kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak dapat diperbaiki”.

Kata-kata Paus Leo semakin tajam seiring berlanjutnya perang. Leo mengecam ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran dengan kata-kata sebagai ”tidak dapat diterima” dan mendesak warga untuk ”menghubungi pihak berwenang, seperti para pemimpin politik, anggota kongres”.

Desakan Paus Leo agar perdamaian diwujudkan terus berlanjut seiring gencatan senjata AS-Iran selama dua minggu disepakati pada 7 April 2026. Menjelang keberangkatan Paus Leo ke Afrika untuk kunjungan apostolik, tepatnya pada 12 April 2026, Trump mengunggah unggahan panjang di Truth Social.

Di sana, Trump menyebut, ia ”bukan penggemar berat” Paus Leo. Trump kemudian menulis, Paus Leo ”lemah dalam menangani kejahatan dan buruk untuk kebijakan luar negeri”.

”Saya tidak menginginkan Paus yang berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir,” tulis Trump.

”Dan saya tidak menginginkan Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena saya melakukan persis apa yang saya pilih, dengan kemenangan telak, untuk dilakukan, menetapkan angka kejahatan terendah sepanjang sejarah, dan menciptakan pasar saham terbaik dalam sejarah,” demikian unggahan Trump.

Umat beriman menghadiri Misa Minggu yang dipimpin Paus Leo XIV, di Kilamba, sekitar 30 kilometer selatan Luanda, Angola, Minggu (19/4/2026). Misa hari Minggu digelar pada hari ketujuh dari perjalanan apostolik 11 hari Paus Leo ke Afrika.

Trump kemudian mengklaim kehadirannya kembali ke Gedung Putih berperan dalam terpilihnya Leo tahun lalu untuk memimpin sekitar 1,4 miliar umat Katolik di dunia. Tump menyebut hal itu sebagai ”kejutan yang mengejutkan”.

Trump lantas menyarankan agar Leo fokus pada masalah keagamaan saja dan tidak ikut campur dalam isu politik. Dalam sebuah unggahan, Trump memperlihatkan diri seperti ”Kristus”. Citra yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan itu kemudian dihapusnya.

Wakil Presiden AS JD Vance turut campur. Ia juga mengkritik Paus Leo dan menyuruhnya untuk ”menjauhi politik” dan hanya berkonsentrasi pada ”masalah moralitas”.

Pada Senin (13/4/2026), Paus Leo menyampaikan pesan tegas. ”Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, atau berbicara lantang tentang pesan Injil yang saya yakini adalah tujuan saya di sini, tujuan gereja di sini,” kata Leo.

”Hal-hal yang saya katakan tentu saja tidak dimaksudkan sebagai serangan terhadap siapa pun. Pesan Injil sangat jelas: ’Berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian,” kata Paus Leo. ”Kami bukan politisi. Kami tidak menangani kebijakan luar negeri dengan perspektif yang sama seperti yang mungkin dia pahami, tetapi saya percaya pada pesan Injil, sebagai pembawa perdamaian,” imbuh Paus.

Dalam perjalanan menuju Kamerun, Paus menyampaikan bahwa ia sama sekali tidak berminat untuk berdebat dengan Trump.

Paus Leo XIV menjawab pertanyaan wartawan selama penerbangannya dari Yaounde, Kamerun ke Luanda, Angola, Sabtu (18/4/2026).

Paus Leo mengatakan, beberapa pernyataannya sudah disiapkan beberapa minggu sebelum Trump pertama kali mengkritiknya. ”Sebagian besar yang telah ditulis sejak saat itu lebih merupakan komentar atas pernyataan, mencoba menafsirkan apa yang telah dikatakan,” kata Leo.

”Pidato yang saya sampaikan pada Pertemuan Doa untuk Perdamaian beberapa hari yang lalu telah disiapkan dua minggu sebelumnya, jauh sebelum presiden mengomentari diri saya dan pesan perdamaian yang saya promosikan.”

”Namun, kenyataannya, pidato itu dipandang seolah-olah saya mencoba berdebat lagi dengan presiden, yang sama sekali bukan kepentingan saya,” imbuh Leo.

Melawan korupsi

Di Kilamba, Angola, Minggu (19/4/2026), Paus Leo XIV memulai kunjungan apostoliknya dengan menyerukan kepada rakyat Angola untuk memerangi ”momok korupsi” dengan budaya keadilan. Seruan itu ia sampaikan dalam misa di hadapan 100.000 orang umat Katolik Angola.

Paus Leo berusaha untuk menyemangati rakyat Angola. Ia mengecam eksploitasi atas tanah Angola yang kaya mineral dan atas rakyat Angola yang masih menanggung luka akibat perang saudara pasca-kemerdekaan yang brutal.

”Kita ingin membangun negara di mana perpecahan lama diatasi sekali dan untuk selamanya, di mana kebencian dan kekerasan lenyap, dan di mana momok korupsi disembuhkan oleh budaya keadilan dan berbagi yang baru,” kata Leo di Kilamba.

Kunjungan ke Angola ini merupakan bagian dari kunjungan apostolik 11 hari ke Afrika. Kunjungan Paus Leo ke Afrika dijadwalkan selesai pada 23 April 2026 mendatang. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto