Setelah absen dua dekade dari Piala Dunia, Ceko yang pernah diperkuat bintang-bintang dunia kini kembali meskipun tanpa pemain bintang sekelas Pavel Nedved.
11 Jun 2026 12:16 WIB · Olahraga
AP Photo/Moises Castillo
GUADALAJARA, RABU — Ceko mengakhiri penantian sangat panjang, dua dekade, untuk kembali tampil di Piala Dunia. Langkah mereka tidak mulus, harus melewati dua adu penalti dalam babak playoff kualifikasi melawan Irlandia dan Denmark.
Ceko tidak lagi bertumpu pada kualitas individu generasi emas, seperti Pavel Nedved, Karel Poborsky, Jan Koller, Tomas Rosicky, dan kiper tangguh Petr Cech. Mereka kini mengutamakan kekompakan dan kedisiplinan taktik pragmatis. Kekuatan Ceko akan diuji oleh Korea Selatan dalam laga pertama mereka di Grup A Piala Dunia 2026, Jumat (12/6/2026) mulai pukul 09.00 WIB.
Laga di Stadion Guadalajara, Meksiko, ini menjadi langkah awal yang sangat krusial bagi Ceko untuk bisa melangkah lebih jauh dari fase grup. Ceko bukan lagi tim bertabur bintang seperti awal 2000-an, yaitu di mana keterampilan individu menjadi kekuatan utama tim.
Kali ini, Ceko membangun fondasi permainan kolektif, kompak, dan disiplin pada taktik. Di era Pavel Nedved dan kawan-kawan, jika ada satu pemain yang absen karena cedera, mereka sangat kesulitan menemukan jalan keluar.
Ketergantungan pada satu individu di posisi tertentu membuat Ceko kehilangan keseimbangan, seperti dalam semifinal Piala Eropa 2024, yaitu saat Nedved cedera lutut kanan pada menit ke-40 melawan Yunani. Kemudian, dalam Piala Dunia 2006, tim asuhan Karel Brueckner itu kehilangan mesin gol, Jan Koller, karena cedera hamstring dalam kemenangan 3-0 atas Amerika Serikat di laga pertama grup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/2bad7d12b67d09eb71734b3e1bdd3ae9-1000241718.jpg)
Hal itu jadi pukulan telak Ceko. Mereka tidak punya striker tajam lagi karena Milan Baros juga sudah cedera kaki menjelang Piala Dunia. Ceko pun tersingkir di fase grup setelah kalah 0-2, masing-masing, dari Ghana dan Italia. Setelah hasil mengecewakan itu, Ceko absen selama 20 tahun, hingga striker Patrik Schick mengantar Ceko ke Piala Dunia 2026.
Kini, Ceko menumpukan permainan pada kolektivitas, kekompakan, fisikalitas, serta kedisiplinan taktik pragmatis. Mereka juga mengeskplorasi peluang gol dari bola-bola mati yang menjadi penentu langkah mereka ke babak utama Piala Dunia tahun ini.
Berdasarkan data Opta, di sepanjang kualifikasi, Ceko mencetak 50 persen golnya dari bola-bola mati, termasuk penalti, yaitu 11 dari 22 gol. Bahkan, dalam dua laga playoff kualifikasi melawan Irlandia dan Denmark, keempat gol Ceko tercipta dari bola-bola mati. Ceko juga menjadi tim dengan gol dari tendangan sudut terbanyak di sepanjang kualifikasi, tujuh.
Ketajaman Ceko dalam eksekusi bola-bola mati ini menjadi antisipasi Pelatih Korea Selatan Hong Myung-bo. Dia melatih pola meredam bola-bola mati Ceko yang mengandalkan para pemain jangkung dengan tinggi badan 190 sentimeter dalam sesi latihan tertutup, Selasa waktu Guadalajara.
Kami sudah pasti perlu menjaga kedisiplinan pada strategi dalam pertandingan.
Pola antisipasi bola-bola mati ini belum pernah ditunjukkan oleh Korea Selatan dalam sejumlah laga persahabatan melawan Trinidad-Tobago serta El Salvador di Salt Lake City, Amerika Serikat.
”Kami sengaja menghindari menguak strategi bola mati kami selama laga-laga persahabatan. Kami akan menyempurnakan detailnya dan meningkatkan kelengkapannya di Guadalajara,” ungkap Myung-bo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/78ed37e0fce2c86e391473893ea7c0b2-1000241720.jpg)
Selain kuat dalam mencetak gol dari situasi bola mati, Ceko juga mengandalkan kekuatan fisik untuk bermain agresif dalam bertahan. Pelatih veteran, Miroslav Koubek, memiliki pola jelas 3-4-2-1 yang kemudian berubah menjadi lima bek dan empat gelandang saat menyerap serangan lawan. Mereka menutup ruang umpan lawan dengan agresif, kemudian menyerang balik dengan cepat.
Gelandang serang Pavel Sulc yang bersinar bersama Olympique Lyon menjadi simpul serangan balik. Musim ini, dia menjadi pemain kunci Lyon dengan rata-rata gol 0,63 setiap 90 menit. Sulc menjadi simpul transisi bertahan-menyerang Ceko untuk menyuplai bola matang kepada striker Schick.
Bomber klub Bundesliga Jerman, Bayer Leverkusen, itu kembali tajam setelah pulih dari cedera yang dia alami di akhir 2023. Dalam dua musim terakhir, Schick mencetak 37 gol, melampaui gol yang diharapkan sebesar 27,8 gol. Dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, dia mencetak lima gol.
Schick—yang masih berumur 10 tahun saat Ceko terakhir tampil di Piala Dunia 2006—ingin memberikan seluruh kemampuannya untuk membawa negaranya melangkah jauh. Di usia 30 tahun, 2026, kemungkinan menjadi Piala Dunia terakhirnya.
”Tentu saja, saya belum pernah mengalami ini dan semua pemain sepak bola bermimpi bermain di Piala Dunia, panggung terbesar dalam sepak bola. Ini mungkin pengalaman terakhir yang belum saya alami. Jadi, saya sangat menantikan ini,” ujar Schick kepada FIFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/11/5aefe03d3e52f75fe5a79c46d8f09567-20260611_DMS_Korsel_vs_Ceko_mumed.png)
”Ini mungkin satu-satunya kesempatan (bagi saya). Bagi sepak bola Ceko, lolos ke turnamen terbesar dalam sepak bola merupakan sesuatu yang besar. Saya berharap para penggemar bangga dengan apa yang telah kami raih. Meskipun jauh dari rumah, mereka akan datang untuk mendukung kami dan semua orang menjadikan ini pengalaman seumur hidup,” ujar Schick.
Schick dan Sulc akan menjadi target penjagaan bek andalan Korea Selatan, Kim Min-jae, dan kawan-kawan. Min-jae—yang menjadi pemain pelapis di Bayern Muenchen—sangat paham kekuatan Schick dalam eksekusi pola mati dengan tinggi 191 cm serta sepakan kaki kiri, baik dari dalam kotak penalti maupun tendangan jarak jauh.
Bagi Koubek, sang pelatih Ceko, laga melawan Korsel akan menjadi ujian krusial bagi anak-anak asuhannya untuk tetap disiplin menjalankan taktik. Dia juga menegaskan, laga pertama setelah absen 20 tahun, tidak akan membuat tim dan dirinya demam panggung.
”Saya sudah melakukan ini sangat lama, di mana hal-hal seperti ini tidak membuat saya grogi. Kami sudah pasti perlu menjaga kedisiplinan pada strategi dalam pertandingan,” ujar Koubek.
Kedisiplinan taktik, terutama dalam bertahan, menjadi pola permainan Ceko di sepanjang kualifikasi. Pendekatan pragmatis ini realistis karena mereka tidak memiliki pemain-pemain generasi emas lagi. Di lini belakang, bek Wolverhampton, Ladislav Krejci, menjadi andalan untuk mengorganisasi pertahanan, terutama untuk meredam Son Heung-min.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/4d3aa37e553ccd5c9610d5dc4f3da952-1000241542.jpg)
Striker andalan Korsel itu sudah tidak dalam era keemasannya, tetapi di usia 33 tahun, Heung-min masih berbahaya. Dalam kualifikasi dia mencetak 10 gol meskipun di level klub, Los Angeles FC, dia hanya mencetak dua gol pada musim ini. Di level internasional, Heung-min kembali menjawab kritik dengan mencetak dua gol dalam laga uji coba melawan Trinidad-Tobago pada 31 Mei lalu.
Heung-min, yang bermain di MLS, memiliki banyak penggemar dari Meksiko. Dia dijuluki ”Sonaldo” untuk menyetarakan dirinya dengan Cristiano Ronaldo dan Ronaldo Luis Nazario.
”Saya di LA sekarang dan banyak orang Meksiko. Saya bisa merasakan gairah mereka dan kecintaan pada sepak bola dan mereka sangat mendukung saya. Saya sangat berterima kasih dan bersyukur,” ujar Heung-min.
Kapten tim Korea Selatan itu akan menjalani Piala Dunia keempat setelah 2014, 2018, dan 2022. Heung-min telah mencetak 56 gol dalam 144 laga bersama Korsel. Meskipun sudah tidak muda lagi, dia menegaskan belum memikirkan pensiun setelah Piala Dunia ini.
”Apakah ini Piala Dunia pertama atau keempat, saya merasa seperti anak kecil lagi. Ini adalah panggung impian saya. Saya senang bisa kembali ke lapangan Piala Dunia,” ujar mantan striker Tottenham Hotspur itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/6230953bf4c3ad3403978d1c305c14e5-20260610_H01_ADI_Piala_Dunia_mumed.png)
”Saya tidak pernah mengatakan bahwa ini akan menjadi Piala Dunia terakhir saya. Bagaimana saya bermain dan tampil adalah hal yang paling penting,” ujar Heung-min kemudian.
Sebagai pemain paling berpengalaman di skuad Korsel, dia mengakui perannya untuk menjaga atmosfer tetap positif, juga menginspirasi para pemain untuk tetap tenang dalam situasi sulit.
”Terkadang saya harus menenangkan mereka. Saya harus mengatakan ’tenanglah’. Semoga kita mendapatkan hasil yang baik. Itu pantas kita dapatkan. Kami sudah siap,” ujar Heung-min.
(AP/Reuters)
Penulis:
Agung SetyahadiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan