INDUSTRI RITEL

Pengusaha Mal: Harga Barang Naik 30 Persen Jelang Akhir Tahun

Para penyewa memilih memperluas usahanya pada usaha berskala kecil, alih-alih merek mewah. Upaya ini mengikuti pergeseran tren konsumen membeli barang lebih murah.

28 Jun 2026 13:48 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/RIZA FATHONI

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS — Pelaku usaha memperkirakan harga barang di pusat perbelanjaan akan naik lebih dari 30 persen pada triwulan IV-2026. Kondisi ini merespons kenaikan harga barang dan jasa, peningkatan suku bunga, serta tekanan geopolitik.

Pengusaha pusat perbelanjaan menilai, daya beli yang masih rendah ditengarai mengubah pola belanja masyarakat, khususnya kalangan menengah-bawah. Hal ini terlihat dari tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan yang relatif stabil. Akan tetapi, barang yang dikonsumsi masyarakat berubah.

”Kecenderungan masyarakat kelas bawah tetap belanja, tetapi membeli produk-produk yang harga satuannya atau unit price-nya murah atau rendah. Itu yang mereka beli,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja saat dihubungi di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Saat ini, harga barang relatif belum mengalami kenaikan signifikan. Rata-rata kenaikannya kurang dari 20 persen karena barang-barang yang dijual merupakan stok yang sudah disiapkan, bahkan sejak beberapa bulan lalu.

Meski demikian, Alphonzus memperkirakan, harga barang akan naik signifikan pada triwulan IV-2026 bebarengan dengan stok barang-barang baru. Kenaikannya bisa di atas 30 persen karena kenaikan biaya barang saat ini, khususnya penyokong pusat perbelanjaan, sudah tergolong cukup tinggi.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja di sela-sela konferensi pers program Belanja di Indonesia Aja (BINA) di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Contohnya adalah kenaikan harga solar nonsubsidi, gas, dan bahan baku karena perang Timur Tengah. Belum lagi persoalan gangguan pemadaman listrik bergilir oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN yang membuat biaya produksi menjadi sangat tinggi. Penggunaan solar untuk genset guna mendukung operasionalisasi mal tetap berjalan. Ini menambah beban pusat perbelanjaan.

”Pemerintah juga menaikkan tingkat suku bunga sehingga tingkat suku bunga pinjaman meningkat. Pengusaha pasti sangat bergantung dari pinjaman. Suku bunga naik, ya,ini jadi menambah beban terhadap biaya produksi barang-barang karena barang yang beredar sekarang masih sisa stok dari harga sebelum kenaikan,” tuturnya.

Jika situasi ini terus berlangsung, maka kenaikan harga barang pada triwulan IV-2026 tidak terhindarkan. Periode tersebut merupakan musim puncak (peak season) kedua di Indonesia, Natal dan Tahun Baru. Para pengusaha akan menyiapkan inventaris barang untuk menghadapi musim tersebut, yang berlanjut dengan Imlek, Ramadhan, hingga Idul Fitri.

Harga barang di pusat perbelanjaan saat ini relatif masih terjaga karena stok barang yang dijajakan berasal dari periode peak season Ramadhan dan Idul Fitri pada awal 2026.

Dampak lain, daya beli masyarakat yang masih rendah membuat mereka menahan belanjanya. Hal ini diikuti dengan musim normal (low season) panjang.

Pengunjung antre membayar barang di kasir saat berlangsung bazar busana muslim di mal Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). Bazar ini diikuti oleh lebih dari 30 jenama Indonesia mulai dari hijab hingga asesoris dan tas jinjing. Bazar ini mengambil momentum kebutuhan belanja masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri. Pengunjung membayar tiket untuk berbelanja di bazar tersebut. Sejumlah promo potongan harga ditawarkan oleh jenama-jenama yang ikut serta. Bazar ini juga menjadi momentum bagi para penyedia jasa titip belanja di tengah animo belanja warga yang masih tinggi.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Di Indonesia, musim puncak pusat perbelanjaan terjadi pada Ramadhan hingga Idul Fitri serta Natal dan Tahun Baru. Namun, perayaan Idul Fitri tahun ini yang jatuh pada Maret 2026 mengakibatkan musim normal sesudahnya terasa lebih panjang karena musim puncak jatuh pada awal tahun.

”Jadi, saya kira sudah low season, ditambah dengan dampak-dampak biaya naik akibat perang Timur Tengah, sehingga biaya-biaya meningkat. Seperti biaya logistik dan energi, itu naik semua. Di satu sisi, tingkat penjualan tidak bisa didorong karena kami sedang di periode low season,” kata Alphonzus.

Secara lebih rinci, kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh lini. Aspek yang paling terasa adalah biaya energi, baik gas maupun solar nonsubsidi. Imbasnya, semua biaya logistik terkerek naik.

Meski demikian, masyarakat kelas menengah-atas cenderung memiliki daya beli lebih stabil dibandingkan kelas menengah-bawah. Hanya, ia menilai, mereka sangat sensitif dengan isu-isu global, seperti nilai tukar mata uang asing, harga emas, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

”Mereka sangat sensitif dengan hal-hal tersebut sehingga ada yang menahan belanja. Mereka pilih mau investasi atau belanja. Untuk kelas menengah-atas, daya belinya cenderung relatif enggak terlalu bermasalah,” ucapnya.

Infografik Pasokan Ritel (Pusat Perbelanjaan)

Perubahan tren ekspansi

Para penyewa (tenant) tetap berekspansi untuk membuka sejumlah toko baru. Namun, toko-toko tersebut cenderung menjual barang-barang dengan produk harga satuan yang murah.

Untuk Pulau Jawa, Alphonzus mengatakan, daya beli masyarakat kelas menengah-bawah lebih rendah ketimbang di luar Jawa. Sebab, banyak industri manufaktur terdampak kondisi ekonomi saat ini.

Sebaliknya, daya beli masyarakat luar Jawa masih lebih stabil karena masih bertumpu pada sektor sumber daya alam. Alhasil, para penyewa cenderung berekspansi di luar Jawa.

”Sebetulnya yang terdampak dari ekspansi-ekspansi itu adalah kota-kota besar di Jawa karena ada beberapa retailer atau penyewa yang wait and see menunggu situasi dan kondisi. Namun, peritel berkategori produk dengan harga satuan murah tetap ekspansi sampai sekarang,” katanya.

Ia berharap pemerintah menghindari gangguan yang sebetulnya dapat dihindari, seperti gangguan listrik yang membuat pembengkakan biaya. Berkaca dari pandemi Covid-19, perdagangan domestik perlu diutamakan dan menjadi prioritas pemerintah ketika tekanan eksternal menguat.

Para pemuda dari KieArt Cartoon School menjual tas lukis di Bazar Art Purbalingga di Klenteng Hok Tek Bio, Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (14/1/2022) malam.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Lisensi Indonesia (Asensi) Susanty Widjaya mengemukakan hal serupa. Restoran-restoran waralaba (franchise) juga mengalami penurunan ekspansi, baik jenama asing maupun lokal.

”Jadi, bukan hanya jumlah konsumennya saja (berkurang), tetapi dari kemitraan licensing franchising waralaba turun jauh. Yang meningkat (lisensi) gerobakan. Tiba-tiba mereka membangun sesuatu, tetapi yang murah, bukan merek branded. Dari pameran waralaba, brand enggak terkenal justru dilihat karena daya beli masyarakat lihat yang murah meriah, ya,” tutur Susan.

Daya beli masyarakat terhadap barang mewah itu tergolong terbatas untuk saat ini. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi pengusaha mal dan restoran.

”Grafik cenderung turun lebih dari 10 persen, paling rendah pada 2026 ini. Dampaknya ke penjualan dan jumlah konsumen,” lanjutnya.

Warga berbelanja kebutuhan sehari-hari di warung kelontong milik ibu Dessy di Pabelan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (27/11/2025). Sebagai Mitra Amartha, pada awalnya Dessy hanya mencari pinjaman modal untuk mengembangkan usaha toko kelontong. Pada Desember 2023 Dessy mulai menjadi agen AmarthaLink yang aktif melayani transaksi hingga Rp 20 juta per bulan

Persaingan makin berat

Menanggapi fenomena ini, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, memang ada pergeseran dalam konsumsi masyarakat. Pola konsumsi masyarakat, khususnya ritel, sudah mulai banyak preferensi ke ritel-ritel lebih kecil, termasuk toko kelontong yang menjamur di banyak tempat.

Jumlah ritel kecil lebih banyak sekaligus lebih dekat dengan permukiman penduduk. Harga dan jenis layanan yang ditawarkan juga makin beragam, menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Harga juga lebih kompetitif dibandingkan dengan pusat perbelanjaan besar sehingga ada pergeseran konsumsi dari sisi preferensi.

”Konsumen lebih suka dengan minimarket yang dekat dari sisi jarak. Harganya miring dengan servis yang ditawarkan banyak sehingga memenuhi kebutuhan dari sisi efisiensi biaya, efisiensi waktu, dan kemudahan,” ujar Faisal.

Sebaliknya, pusat-pusat perbelanjaan besar makin tersaingi, termasuk dari sisi kuantitas. Swalayan makin banyak, bahkan tidak lagi mengandalkan waralaba-waralaba perusahaan besar, tetapi juga tradisional berbasis paguyuban atau kerja sama komunitas tradisional, seperti warung madura.

”Ternyata dia (warung madura) bisa menemukan model bisnis yang cocok dengan pola kebutuhan masyarakat dan tetap bersaing dengan minimarket modern. Sementara yang besar-besar ini makin susah untuk bersaing dalam kondisi seperti itu,” ujar Faisal.

Tangkapan layar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal pada CORE Economic Forum 2020 bertajuk Potensi Pemulihan Ekonomi dan Urgensi Stimulus UMKM, 17 September 2020, beberapa waktu lalu.(KOMPAS/C Anto Saptowalyono)

Dalam kondisi seperti ini, peningkatan biaya produksi juga menjadi alasan pergeseran konsumsi. Ada imported inflation atau kenaikan harga barang/jasa karena peningkatan biaya impor, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan biaya logistik.

Akibatnya, pusat perbelanjaan besar mencatat biaya operasional tinggi. Jumlah konsumen yang menurun di tengah kenaikan biaya produksi juga memperberat kinerja pusat perbelanjaan.

”Pusat-pusat perbelanjaan besar butuh inovasi lebih untuk mereka bisa survive, seperti dari sisi hiburan yang ditawarkan. Sebab, tren sekarang, (masyarakat) ke pusat perbelanjaan besar bukan untuk belanja barang-barangnya, tetapi juga ada faktor hiburan di situ,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti