Penyakit Lama Spanyol di Atas Krisis Pertahanan Perancis

Spanyol bermasalah dengan penyakit sejak perempat final, sementara Perancis mengalami krisis pertahanan. Beruntung, problem Spanyol tidak lebih besar dari tim lawan.

06 Jun 2025 05:44 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

STUTTGART, KAMIS — Kehilangan tiga bek inti memberikan dampak terlalu besar bagi tim nasional Perancis. Spanyol memanfaatkan lubang besar itu untuk lolos tiga kali beruntun ke final Liga Nasional Eropa. ”Bocah ajaib” Spanyol, Lamine Yamal, sekaligus mempertegas namanya sebagai kandidat terkuat peraih Ballon d’Or.

Seolah percuma, percikan kebangkitan yang diinspirasi penyerang megabintang Perancis, Kylian Mbappe, pada setengah jam terakhir. Empat gol tim asuhan pelatih Didier Deschamps tidak cukup menambal kerusakan di pertahanan selama sejam pertama laga. Mereka pun kembali gagal lolos ke final setelah juara pada 2021.

Spanyol lolos dari drama intens semifinal dan melaju ke partai puncak setelah menang 5-4 atas Perancis di Stadion Mercedes-Benz Arena, Stuttgart, Jerman, Jumat (6/6/2025) dini hari WIB. Yamal dan rekan-rekan sebenarnya bisa menyudahi laga dengan mudah seusai unggul 4-0 lebih dulu, tetapi mereka kehilangan fokus.

”Perancis adalah tim hebat yang bisa membuat Anda menderita. Itu (kejutan dari mereka) normal. Terlepas dari itu, kami sangat senang dengan kemenangan ini. Saya berharap bisa membawa trofi kembali ke Spanyol (pada akhir pekan nanti),” kata Yamal yang menyumbang sepasang gol dan terpilih sebagai pemain terbaik.

Perancis begitu kesulitan tanpa tiga bek utama, yaitu Dayot Upamecano, Jules Kounde, dan William Saliba, yang absen akibat cedera. Mereka digantikan Clement Lenglet, Ibrahima Konate, dan Pierre Kalulu. Kualitas antara para pemain inti dan pelapis itu terbukti terlalu timpang dalam laga tadi. Spanyol mampu memanfaatkan itu.

France's Adrien Rabiot fouls Spain's Lamine Yamal inside the penalty box during the Nations League semifinal soccer match between Spain and France in Stuttgart, Germany, Thursday, June 5, 2025. (AP Photo/Matthias Schrader)

Spanyol sudah unggul dua gol pada menit ke-25. Mereka mencetak sepasang gol dalam rentang tiga menit. Pertahanan Perancis tidak belajar dari kesalahan. Kedua gol itu berawal dari aksi penyerang tim ”Matador”, Mikel Oyarzabal yang menjadi ”dinding” untuk memberikan asis kepada Nico Williams dan Mikel Merino.

Jarak di antara pemain bertahan Perancis sangat renggang. Bantuan dari lini tengah juga minim. Problem ”Si Biru” sangat terlihat ketika momen transisi serangan balik, terutama setelah mereka membuat kesalahan di separuh lapangan sendiri. Mereka kesulitan menahan serangan cepat Spanyol yang dipimpin Yamal.

Problem transisi itu terpampang jelas setelah turun minum. Mereka kecolongan tiga gol lagi dalam 22 menit awal babak kedua. Yamal menyumbang sepasang gol lewat dua aksi individu. Aksi pertama berujung penalti yang dieksekusi sendiri dan satu lagi langsung dari permainan terbuka. Pedri turut memperbesar keunggulan Spanyol.

Menurut Lenglet, perubahan besar di pertahanan membuat kekompakan pemain belum terbentuk. Mereka mudah kehilangan konsentrasi, terutama setelah kebobolan. ”Di level seperti ini, ketika tidak mampu konsentrasi dan mempertahankan penjagaan, mereka akan menghukum Anda,” ujar bek yang bermain untuk klub Spanyol Atletico Madrid tersebut.

Yamal, lewat dua gol, sekaligus menegaskan diri sebagai kandidat terkuat peraih penghargaan individu Ballon d’OR. Pesaing kuatnya, Ousmane Dembele, tidak mampu banyak berbicara sepanjang laga. Dembele menyudahi laga pada menit ke-76, digantikan Randal Kolo Muani, tanpa kontribusi gol ataupun asis.

France's Kylian Mbappe, left, scores his side's 3rd goal against Spain during the Nations League semifinal soccer match between Spain and France at the MHPArena, in Stuttgart, Germany, Monday, June 2, 2025. (AP Photo/Martin Meissner)

Perancis tampil dengan duet Paris Saint-Germain yang bersinar di final Liga Champions, pada akhir pekan lalu, yaitu Dembele dan Desire Doue. Namun, peran mereka berbeda dibandingkan di klub. Dembele tidak bermain di posisi terbaiknya, penyerang tengah, karena terdapat sosok Mbappe.

Di Liga Champions, Dembele dan Doue sering bertukar untuk berada di posisi sentral. Keduanya lebih banyak berada di posisi sayap hari ini, Dembele di kanan dan Doue di kiri. Alhasil, kombinasi duet PSG tersebut dan serangan Perancis lebih mudah terbaca. Tidak ada terlihat serangan ”cair”, seperti yang sukses membinasakan Inter Milan.

Spanyol membawa penyakit lama yang sudah muncul sejak perempat final versus Belanda. Mereka sering kehilangan konsentrasi setelah unggul lebih dulu. Adapun pada dua laga perempat final, tim asuhan Luis de la Fuente itu sempat kehilangan posisi unggul sebanyak empat kali dari Belanda.

Problem konsentrasi itu nyaris dibayar mahal oleh tim ”Matador”. Spanyol tampak baik-baik saja hingga memasuki 15 menit akhir, masih unggul 5-1. Satu-satunya kebobolan mereka dihasilkan lewat penalti Mbappe. Namun, Spanyol sempat pantik setelah gol pemain pengganti Perancis, Rayan Cherki, pada menit ke-79.

Penurunan Spanyol tidak terlepas dari pergantian masif yang dilakukan Fuente, termasuk menukar bek Robin Le Normand dengan Dani Vivian. Setelah gol Cherki, giliran Vivian yang mencetak gol bunuh diri. Muani menipiskan jarak jadi satu gol di injury time, tetapi waktu sudah sangat tipis untuk menyamakan kedudukan.

Spain's Dean Huijsen celebrates after a goal that ended up disallowed during the Nations League semifinal soccer match between Spain and France at the MHPArena, in Stuttgart, Germany, Thursday, June 5, 2025. (AP Photo/Martin Meissner)

Pedri berkata, mereka harus lebih baik dalam mengatasi ketegangan setelah unggul. Itu harus dilakukan jika ingin kembali pulang dengan trofi. ”Kami tidak pernah membayangkan pertandingan (dramatis) seperti ini. Kami tidak mendominasi laga seperti yang diinginkan, tetapi kami bermain efektif,” tuturnya.

Spanyol, juara bertahan Liga Nasional, akan berkesempatan mempertahankan gelar pada akhir pekan nanti. Mereka sudah dinanti Portugal yang lolos ke final dengan mengeliminasi tuan rumah Jerman. Partai puncak mempertemukan dua tim pemenang. Adapun Portugal merupakan juara pada edisi pertama Liga Nasional. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari