”Perampokan” Eze, Demi Kepingan Terakhir Arsenal

Arsenal ”merampok” Tottenham untuk mendapatkan jasa Eberechi Eze. Kehadiran sang pemain baru sangat krusial. Eze akan mengisi posisi paling lemah di Arsenal.

22 Agt 2025 06:45 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Terkadang, musibah dan berkah bisa datang bersamaan. Tanya saja para penggemar Arsenal. Mereka gamang usai penyerang Kai Havertz dikabarkan cedera lutut. Namun, tak lama berselang, musibah itu mulai dirayakan seiring perekrutan gelandang Eberechi Eze dan ”perampokan” terhadap Tottenham Hotspur.

Hanya beberapa jam setelah kabar buruk tentang Havertz, Arsenal langsung melemparkan tawaran untuk Eze ke Crystal Palace. Di sisi lain, Tottenham sudah memasuki finalisasi transfer Eze. Menurut The Athletic, keputusan akhir ditentukan sang pemain. Eze melewatkan Tottenham, lebih memilih Arsenal.

Sehari berselang, Jumat (22/8/2025), Eze tidak masuk dalam skuad Crystal Palace untuk menghadapi kualifikasi Liga Konferensi Eropa versus Fredrikstad FK. Dia dikabarkan akan menjalani tes medis bersama Arsenal setelah kesepakatan transfer total 68 juta pound sterling (Rp 1,49 triliun).

Proses transfer Arsenal secepat kilat. Mereka menyalip tim tetangga yang sudah melakukan negosiasi selama beberapa pekan terakhir. Wajar saja, ”Si Meriam” tidak punya banyak waktu. Mereka harus bergerak cepat untuk merespons kehilangan Havertz yang berpotensi absen cukup lama.

Apakah Eze akan diplot untuk menggantikan posisi Havertz sebagai ujung tombak? Jelas bukan. Walaupun cenderung mendadak, gelandang tim nasional Inggris itu sebenarnya sudah dilirik Arsenal sejak awal jendela transfer musim panas ini. Dia diplot untuk mengisi posisi penyerang sayap.

Transfer Eze terhambat karena Arsenal masih menunggu penjualan pemain sayap, salah satunya Leandro Trossard. Akibat Havertz cedera, Trossard yang bisa bermain di banyak posisi dibutuhkan sebagai pelapis penyerang tengah. Eze pun bisa masuk ke skuad Arsenal yang sudah sangat padat.

Quote

Eze adalah pembelian brilian untuk Arsenal. Dia sosok pengubah laga dan sangat cocok (untuk Arsenal).

Pemain Arsenal Raheem Sterling (kiri) berebut bola dengan pemain Crystal Palace Eberechi Eze pada laga Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Kamis (24/4/2025) dini hari WIB. Eze mencetak satu gol dan laga berakhir imbang 2-2.

Eze akan menjadi pemain ke-7 yang didatangkan Arsenal di bursa transfer kali ini. Kemungkinan, dia juga menjadi pembelian terakhir tim asuhan Manajer Mikel Arteta. Pertanyaannya, apakah pemain 27 tahun itu merupakan kepingan terakhir yang mampu menyempurnakan Si Meriam?

Paul Merson, mantan pemain Arsenal, meyakini hal tersebut. ”Eze adalah pembelian brilian untuk Arsenal. Dia sosok pengubah laga dan sangat cocok (untuk Arsenal). Jika Arsenal membiarkan dia pergi ke Tottenham, saya akan mempertanyakan keputusan mereka,” ujarnya kepada Sky Sports.

Dari sebelas posisi, titik paling lemah Arsenal terletak di posisi penyerang sayap kiri. Posisi itu diisi pemain timnas Brasil, Gabriel Martinelli. Beberapa musim terakhir, termasuk di laga pembuka musim ini versus Manchester United, Martinelli lebih diandalkan dalam kontribusi di sisi defensif.

Arsenal membutuhkan pemain sayap yang lebih eksplosif dan kreatif di sisi kiri. Mereka perlu keseimbangan agar tidak terlalu mengandalkan Bukayo Saka di sisi kanan. Eze yang berhasil menyumbang 14 gol dan 11 asis untuk Crystal Palace di musim lalu menjanjikan peningkatan kualitas.

Kelebihan terbesar Eze adalah kemampuan dribel. Menurut data FBref, dia tercatat masuk daftar lima besar pemain yang paling banyak melewati lawan di Liga Inggris musim lalu (67 kali). Sebagai pembanding, Martinelli yang bermain sekitar 300 menit lebih sedikit berada di urutan ke-49 (33 kali).

Kemampuan dribel itu digunakan untuk kreasi peluang, baik menembak ataupun mengumpan. Saat Martinelli cenderung monoton saat bersama bola, Eze sangat reaktif dan spekulatif. Itu tecermin dari jumlah tembakan yang mencapai 100 kali di musim lalu, terbanyak di skuad Palace maupun Arsenal.

Pemain PSG Joao Neves berebut bola dengan Gabriel Martinelli saat semifinal Liga Champions di Parc des Princes di Paris, Rabu, 7 Mei 2025.

”Arsenal sering kesulitan ketika menghadapi tim tamu yang bertahan dengan seluruh pemain. Tim-tim itu ingin membatasi ruang gerak Arsenal. Bagi saya, di momen itulah Eze akan berguna untuk Arsenal. Dia punya faktor-X untuk bermain di ruang sempit dan memecah blok rendah,” jelas Merson.

Tembakan jarak jauh menjadi senjata rahasia Eze. Mantan pemain dari akademi Arsenal itu sudah mencetak lima gol dari luar kotak penalti sejak awal musim lalu. Hanya ada tiga pemain di Liga Inggris yang mampu menyamai catatan tersebut, salah satunya gelandang MU, Bruno Fernandes.

Ada kemampuan spesial Eze yang tidak terlihat di statistik, yaitu pengambilan keputusan. Dia mengerti kapan waktu paling tepat untuk mengumpan ataupun bergerak ke kotak penalti. Hal tersebut yang juga tidak dimiliki Martinelli, seperti terlihat sepanjang laga pembuka.

Pengambilan keputusan yang efisien akan sangat berguna untuk sistem baru Arteta. Arsenal ingin bermain mengandalkan transisi serangan balik kilat untuk memfasilitasi penyerang Viktor Gyokeres. Adapun Eze sudah terbiasa dengan skema transisi tersebut selama bersama Palace.

Terlepas dari hal-hal positif, banyak orang yang masih mempertanyakan posisi Eze dalam formasi 4-3-3 ala Arteta. Seperti diketahui, dia bermain sebagai gelandang serang sisi kiri dalam formasi 3-4-2-1 ala Pelatih Oliver Glasner. Di Arsenal, Eze kemungkinan besar diplot sebagai sayap murni.

Seharusnya, posisi tidak akan menjadi masalah besar. Eze memang lebih bersinar di posisi sentral, tetapi dia juga sering ditugaskan sebagai pemain sayap ketika di Palace dan timnas. Belum lagi, pola pendekatan serangan Arsenal di sisi kiri juga sedikit berubah.

Pemain Crystal Palace Eberechi Eze mengontrol bola di tengah pengawasan bek Liverpool Jeremie Frimpong dalam pertandingan Community Shield di Stadion Wembley, London, Minggu (10/8/2025) malam WIB.

Di laga versus MU, Martinelli lebih sering menyerang di area halfspace yang lebih sentral. Sisi sayap lebih banyak diserahkan ke bek sayap Ricardo Calafiori. Hal itu memungkinkan Martinelli untuk memanfaatkan gravitasi Gyokeres terhadap para pemain bertahan lawan.

Musim lalu, Arsenal dikritik karena permainan terlalu monoton. Citra tersebut agaknya akan segera berubah dengan kehadiran Eze. Seperti yang pernah disampaikan dalam wawancara bersama BBC Sport pada awal 2025, dia selalu ingin memberikan pertunjukan spesial untuk para penonton.

”Mengapa saya berlari sambil membawa bola? Mengapa saya mencoba berbagai hal? Mengapa saya kreatif? Alasannya adalah untuk orang-orang yang menonton. Itulah yang Anda lakukan untuk orang-orang di tribune, bagaimana bisa membuat mereka berdiri. Itulah inti sepak bola,” tuturnya.

Bersama dengan kehadiran Eze, skuad Arsenal juga menjadi semakin dalam. Mereka bisa membuat dua tim sekaligus yang cukup seimbang dari segi kualitas dengan skuad saat ini. Tidak ada tim lain di Inggris yang punya skuad sedalam itu, termasuk Manchester City dan Liverpool sekalipun. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan