Setelah Sunderland, giliran Leeds United yang menang meyakinkan pada pekan pembuka. Tim-tim promosi itu seolah menegaskan, mereka tidak ingin turun kasta lagi.
19 Agt 2025 07:23 WIB · Olahraga
LEEDS, SENIN — Tim promosi Leeds United memulai perjalanan di Liga Inggris dengan kemenangan. Walaupun mencuri tiga poin lewat penalti kontroversial, tim asuhan Daniel Farke itu layak menang atas Everton karena tampil dominan. Mereka terlihat siap dari sisi fisik dan mental.
Kebahagiaan menyertai warga Leeds pada Selasa (19/8/2025) dini hari WIB. Tim kesayangan mereka kembali bermain di divisi tertinggi setelah turun kasta selama dua musim dan langsung menaklukkan Everton 1-0. Sekitar 36.000 penonton menjadi saksi langsung capaian itu di Stadion Elland Road.
”Untuk tim promosi seperti kami, (Elland Road) harus menjadi benteng. Senang sekali melihat kegembiraan dan kebanggaan di mata mereka. Senang sekali bisa memberi semangat bagi para pendukung yang begitu emosional dan peduli terhadap klub ini,” kata Farke soal para penggemar yang sukses menciptakan ”neraka” untuk Everton.
Lukas Nmecha, penyerang debutan yang didatangkan dengan status bebas transfer dari Wolfsburg, menjadi pahlawan kemenangan saat waktu normal tersisa enam menit. Masuk dari bangku cadangan, dia sukses mengeksekusi penalti yang didapatkan berkat handball bek lawan James Tarkowski.
Hadiah penalti itu mengundang perdebatan. Bola dari tembakan gelandang Leeds, Anton Stach, memang menyentuh lengan Tarkowski. Hanya saja, Tarkowski sudah berupaya merapatkan lengan dengan tubuhnya. Wasit Chris Kavanagh dan asisten wasit video (VAR) sepakat memberikan penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/19/6acb4e06274ce74cd157d8fe29dac6c5-wires_photo_2025_08_19T054949.493.jpg)
Manajer Everton David Moyes berkata, keputusan wasit keliru dan buruk. ”Lengannya condong ke tubuh. Bola juga sempat berbelok lebih dulu. Saya tidak tahu apakah lengan Tarky harus dipotong (agar tidak dinilai handball). Mungkin itu karena atmosfer stadion yang intimidatif,” ujarnya.
Moyes juga mengkritik keputusan VAR. Seharusnya, insiden itu bisa dilihat dengan lebih detail dan tenang di balik layar. Ternyata, hasilnya justru sama saja. Meskipun begitu, Moyes turut mengakui, Leeds dengan bantuan dukungan para penggemar bermain lebih baik dibandingkan timnya.
Fisik skuad Leeds terlihat sangat siap menghadapi permainan intens Liga Inggris. Mereka membuat Everton tidak berkembang dengan tekanan agresif setiap kehilangan bola, terutama di paruh pertama. Tim tuan rumah tidak ragu memainkan strategi berisiko man to man dengan blok pertahanan tinggi.
Saking dominan pada 45 menit awal laga, Leeds memaksa tim tamu ke ruang ganti dengan tanpa satu pun percobaan tembakan. Saat bersamaan, Leeds mampu menhujani pertahanan lawan dengan 12 tembakan. Pascal Struijk dan rekan-rekannya juga berhasil mencatat 62,7 persen penguasaan bola.
Serangan sayap, khususnya di sisi kiri, berhasil menjadi nyawa permainan ”Si Putih”. Kombinasi umpan-umpan pendek cepat dari penyerang sayap Wilfried Gnonto, Stach, dan bek sayap Gabriel Gudmundsson membuat formasi 4-3-3 Leeds tampak begitu hidup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/2bca6cee2620b95b830332116a4d1f47-Ireland_Soccer_Friendly_131758650.jpg)
Leeds juga mempertontonkan kesiapan mental. Mereka sangat tenang saat bertahan dengan blok rendah di pengujung laga. Berbagai upaya spekulatif Everton bisa diatasi. Tim tamu pun tidak mampu mencatat tembakan tepat sasaran sejak kemasukan sampai peluit panjang.
Everton memasukkan senjata rahasia dari bangku cadangan pada menit ke-71. Pemain pinjaman dari Manchester City, Jack Grealish, masuk menggantikan Tim Iroegbunam. Meskipun begitu, para pemain bertahan Leeds sama sekali tidak terintimidasi dengan kehadiran sang peraih treble winner.
Kemenangan Leeds menambah awal kisah manis bagi tim-tim promosi di musim ini. Sabtu lalu, Sunderland juga menang, yaitu 3-0, atas West Ham United. Hanya satu tim promosi yang gagal menang pada pekan pembuka, yaitu Burnley yang kalah dari Tottenham Hotspur 0-3.
Hasil itu sungguh menarik. Dua tim promosi berhasil menang di pekan pembuka atas tim-tim yang sudah langganan bermain di divisi tertinggi. Musim lalu, tiga tim promosi gagal menang dalam enam pekan pertama. Kemenangan pertama diraih Leicester City atas Bournemouth di pekan ke-7.
Menurut mantan bek tim nasional Inggris, Jamie Carragher, awal positif itu bisa menjadi momentum. ”Kita butuh tim-tim promosi lebih kompetitif dibandingkan dua musim terakhir. Untuk Leeds, atmosfer Elland Road adalah alasan mereka memiliki peluang untuk bertahan,” ujarnya dalam acara Sky Sports.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/19/3ea429f552f9d9e5cab56a2d4a82950d-Britain_Soccer_Premier_League_25_.jpeg)
Adapun tim-tim promosi selalu langsung terdegradasi dari Liga Inggris dalam dua musim terakhir. Hasil itu semakin memburuk pada musim lalu. Ipswich Town, Leicester, dan Southampton turun kasta dengan catatan rekor poin terburuk di era Liga Primer, yaitu 18,7 poin.
Kekurangan terbesar Leeds dalam laga pembuka adalah efisiensi. Mereka berhasil menciptakan 21 tembakan, tetapi hanya tiga kali menemui sasaran. Salah satu tembakan itu dari penalti. Tim asuhan Farke terlalu sering mengumpan silang dan melakukan tembakan spekulatif.
Leeds perlu lebih baik dari sisi efisiensi serangan jika ingin bertahan di akhir musim. Masalah utama dari tim-tim yang terdegradasi musim lalu adalah produktivitas gol. Adapun tiga tim di posisi terbawah tidak ada yang bisa mencetak lebih dari 36 gol dari 38 pertandingan. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus Harjono