Lewat ketajaman Haaland dan visi Cherki, Manchester City sukses menghukum Bournemouth yang terpancing di Stadion Etihad. Semua berawal dari ide Pep Guardiola.
03 Nov 2025 08:02 WIB · Olahraga
AP/IAN HODGSON
MANCHESTER, MINGGU — Telepati tingkat tinggi antara penyerang Erling Haaland dan gelandang Rayan Cherki menjadi tajuk kemenangan Manchester City atas Bournemouth. Di balik aksi brilian dua pemain itu, terdapat perangkap City yang sukses mengeksploitasi titik lemah tim tamu.
Keputusan Manajer City Pep Guardiola terbukti tepat untuk memasang Cherki sejak awal laga di Stadion Etihad, Manchester, Minggu (2/11/2025) malam WIB. Walaupun terakhir tampil sebagai starter di Liga Inggris pada akhir Agustus, sebelum cedera, Cherki menginspirasi kemenangan 3-1 City lewat dua asis.
Sepasang asis itu ditujukan untuk Haaland yang mencetak dua gol awal tuan rumah. “Kami semua tahu kualitasnya (Cherki). Tugas dia memang mengeluarkan kemampuan terbaik semua pemain. Hari ini dia memberi dua asis luar biasa untuk saya, semoga akan lebih banyak lagi,” kata Haaland kepada Sky Sports.
Dua gol itu cukup untuk membuat Bournemouth kehilangan momentum. Tim tamu sempat menyamakan kedudukan lewat gelandang Tyler Adams di paruh pertama seusai gol cepat Haaland. Namun, hanya berselang delapan menit, City unggul lagi berkat ketajaman sang striker andalan.
Sepasang gol persembahan Haaland dan Cherki memang memperlihatkan kualitas individu papan atas kedua pemain itu. Cherki mampu memberikan umpan terobosan yang memecah perangkap offside lawan, sementara Haaland dengan mudah mengeksekusi peluang satu lawan satu dengan kiper Djordje Petrovic.
Menariknya, skema itu bukan kebetulan atau insting semata, melainkan sudah dirancang oleh Guardiola sebelum pertandingan. Jika dilihat lebih dalam, dua gol itu tercipta karena City berhasil memanfaatkan agresivitas dan kesalahan posisi para pemain Bournemouth saat menekan tanpa penguasaan bola.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/03/dd4b1696-4218-420e-9e53-0c23a854e979_jpg.jpg)
Pernyataan pemain sayap Bournemouth David Brooks bisa sedikit menggambarkan penyebab gol. “Kami berupaya menekan City. Di paruh pertama, kami mendapat beberapa peluang lewat itu. Namun, beberapa kesalahan kecil merugikan kami. Haaland yang tinggi dan kuat juga selalu menjadi ancaman. Dia memanfaatkan peluang dengan baik,” ujarnya.
Sejak musim lalu sampai sebelum laga, Bournemouth yang diasuh pelatih Andoni Iraola merupakan tim terbaik saat tanpa penguasaan bola. Mereka memiliki sistem pertahanan yang kolektif dan agresif untuk menekan sangat tinggi. Alhasil, mereka sering merebut bola di separuh lapangan lawan.
Guardiola menyadari ancaman itu. Namun, dia tetap bersikeras untuk membangun serangan dari bawah. Bedanya, umpan di antara para pemain bertahan digunakan untuk memancing tekanan tim tamu. Setelah lubang tercipta di lini tengah lawan, mereka mengeksekusi serangan secepat kilat. “Kami harus sangat terkoordinasi untuk menghadapi tekanan itu,” ujarnya.
Pada gol pertama, serangan dimulai dari gelandang jangkar Nico Gonzales. Ketika itu, para pemain Bournemouth sudah mengaktifkan tekanan blok tinggi. Gonzales memecah tekanan dengan umpan lambung ke Cherki yang kosong di lini tengah. Cherki hanya perlu menyundul bola untuk membebaskan Haaland sendirian di separuh lapangan lawan.
Struktur pertahanan Bournemouth berbeda di gol kedua. Tim tamu sedang memainkan blok tengah, agak bertahan lebih dalam. Namun, City tetap bisa mencari celah itu. Gonzales kembali menjadi penyambung serangan. Kali ini, bola diberikan kepada gelandang Phil Foden yang menjemput bola.
Alih-alih menahan bola dan beraksi sendirian, Foden langsung mengumpan dengan satu sentuhan ke Cherki. Lagi-lagi, Cherki berhasil melihat lubang di lini belakang lawan dan mengeksekusi umpan terobosan ke Haaland. Haaland pun berlari bebas tanpa penjagaan menghadapi kiper lawan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/03/96f988b8-607d-4237-b5ef-f5eb3239809f_jpg.jpg)
Dari dua gol itu, City benar-benar memanfaatkan agresivitas skuad Bournemouth. Kelebihan utama tim asuhan Iraola dalam menekan adalah bantuan pemain lain dari arah tidak terlihat. Kelebihan itu jadi titik lemah karena City mampu mengeksekusi bola dengan cepat sebelum bantuan lawan datang.
Kesalahan besar dua kali berturut-turut dilakukan oleh bek tengah Bournemouth Marcos Senesi. Dia berupaya naik ke lini tengah untuk menekan Cherki (gol pertama) dan Foden (gol kedua), tetapi selalu terlambat. Senesi justru hanya menciptakan lubang besar di lini belakang. “Dia (Haaland) menghukum kami. Keputusan bek kami kurang tepat,” kata Iraola.
Kemenangan City dilengkapi lewat gol tambahan bek sayap 20 tahun Nico O’Reilly pada pertengahan paruh kedua. O’Reilly memanfaatkan kelengahan para pemain Bournemouth yang lebih fokus untuk menyerang. Seusai gol itu, Guardiola mulai menurunkan pemain cadangan, salah satunya Tijjani Reijnders.
“Bournemouth adalah salah satu tim yang paling sulit dihadapi, tetapi kami berhasil menemukan ritme dan kami jauh lebih baik di banyak aspek hari ini. Ini adalah kekalahan kedua mereka (di liga). Kekalahan kami lebih banyak yang memperlihatkan tim mereka sebagus itu,” tutur Guardiola.
Lewat hasil itu, City berhasil mengudeta Bournemouth dari peringkat kedua klasemen sementara. Haaland dan rekan-rekan juga berhasil kembali ke tren positif setelah kalah dari Aston Villa pada pekan lalu. Itu menjadi modal bagus sebelum menghadapi Liverpool di Etihad pada pekan depan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto