Perempat Final All England untuk Rehan/Gloria

Rehan/Gloria meneruskan perjalanan di Eropa. Mereka lolos ke perempat final turnamen bulu tangkis All England.

13 Mar 2025 21:57 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

BIRMINGHAM, KAMIS — Ada hal positif dari pebulu tangkis Indonesia yang tampil pada babak kedua turnamen All England. Salah satunya kemenangan yang mengantarkan Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja ke perempat final dalam All England pertama mereka.

Sempat ”tersandung” pada gim kedua, Rehan/Gloria mengalahkan Jesper Toft/Amelie Magelund pada pertandingan yang berlangsung di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Kamis (13/3/2025). Pasangan Indonesia yang baru berduet sejak akhir Januari ini menang dengan skor 21-16, 20-22, 21-12.

Hasil ini menjadi pembalasan kekalahan Rehan/Gloria dari ganda Denmark itu saat mereka bertemu pada final Orleans Masters, akhir pekan lalu. Turnamen tersebut menjadi salah satu ajang pemanasan All England selain Jerman Terbuka yang juga diikuti Rehan/Gloria.

Namun, melajunya Rehan/Gloria ke perempat final tak diikuti Jonatan Christie. Juara bertahan tunggal putra ini kalah dari Laksha Sen 13-21, 10-21 dalam pertandingan 35 menit. Jonatan kesulitan mengantisipasi serangan Sen pada sepanjang pertandingan.

Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja beraksi pada pertandingan babak kedua All England,  di Utilita Arena, Birmingham, Kamis (13/3/2025). Rehan/Gloria mengalahkan Jesper Toft/Amelie Magelund 21-16, 20-22, 21-12.

Tak seperti ketika berhadapan pada final Orleans Masters, ketika selalu ditekan Toft/Magelund sepanjang pertandingan, kali ini, Rehan/Gloria berbalik menekan lebih dulu sejak awal perebutan poin. Untuk menghindari smes tajam Toft, yang bertinggi badan sekitar 2 meter, Rehan/Gloria tak memberi kesempatan pada lawan untuk menyerang.

Satu-satunya wakil Indonesia pada nomor ganda campuran itu sebenarnya bisa menang dua gim saat mendapat tiga match point pada keunggulan 20-17, tetapi lawan justru merebut lima poin beruntun. Rehan/Gloria akhirnya bisa mengembalikan fokus pada gim penentuan dan unggul jauh dari lawan.

Situasi seperti pada gim kedua harus mereka hindari saat bertemu pasangan China unggulan kelima, Feng Yan Zhe/Wei Ya Xin, pada perempat final. Selain kemenangan dari Toft/Magelund, Rehan/Gloria memiliki bekal kemenangan atas unggulan kedua, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, pada babak pertama.

Hal positif lain datang dari dua debutan meskipun kalah pada babak kedua. Putri Kusuma Wardani dan Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi membawa pengalaman berharga dari All England untuk tantangan berikutnya. Apalagi, turnamen Super 1000 paling bergengsi ini menjadi yang pertama bagi mereka.

Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja beraksi pada pertandingan babak kedua All England,  di Utilita Arena, Birmingham, Kamis (13/3/2025). Rehan/Gloria mengalahkan Jesper Toft/Amelie Magelund 21-16, 20-22, 21-12.

Kedua wakil itu memperlihatkan semangat pantang menyerah yang cukup tinggi dan memaksa atlet-atlet top dunia bermain tiga gim. Putri menggagalkan match point Chen Yu Fei pada gim kedua meski akhirnya kalah 14-21, 24-22, 10-21. Adapun Febriana/Amalia kalah dari Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto dengan skor 12-21, 21-19, 16-21.

Meskipun posisi Chen, di urutan ke-13 dalam ranking dunia, berada di bawah Putri (peringkat ke-11), pemain China itu memiliki banyak prestasi dari ajang besar. Chen adalah peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, finalis Kejuaraan Dunia 2022, serta memiliki 15 gelar juara BWF World Tour, salah satunya dari All England 2019. Putri pun tak berdaya ketika bertemu atlet berusia 27 itu untuk pertama kalinya di Denmark Terbuka 2023 dan kalah 9-21, 9-21 pada babak pertama.

Dua tahun berselang setelah pertemuan itu, Putri menjadi sosok yang lebih baik, termasuk dalam faktor mental. Setelah tertinggal 17-19 pada gim kedua, dia berbalik unggul 20-19. Setelah itu, atlet berusia 20 tahun tersebut menggagalkan match point lawan ketika Chen unggul 22-21 dan membuat pertandingan berjalan hingga gim ketiga.

Putri akhirnya tertinggal jauh pada gim ketiga dan kalah. Namun, dia memperlihatkan perjuangan yang lebih baik dengan menahan Chen bermain selama satu jam lima menit, lebih lama dibandingkan pertemuan pertama mereka yang hanya berlangsung 31 menit.

Meski demikian, tunggal putri nomor dua Indonesia itu tahu bahwa dia tetap harus memperbaiki diri agar terus berkembang. Ketertinggalan Putri menjelang akhir gim kedua terjadi setelah dia unggul 15-11 pada awal gim. Dia, bahkan, mengawali gim ini dengan keunggulan 5-0. Setelah itu, Putri kesulitan menerapkan pola yang tepat pada gim ketiga.

Ekspresi Putri Kusuma Wardani setelah dikalahkan Chen Yu Fei, 14-21, 24-22, 10-21, pada pertandingan babak kedua All England,  di Arena Utilita, Birmingham, Kamis (13/3/2025).

”Setelah mati-matian pada gim kedua, saya melakukan banyak kesalahan pada gim ketiga. Saya juga tidak bisa bermain reli dengan sabar seperti gim kedua, malah terburu-buru untuk menyerang. Fokus saya menurun dan ini harus dibenahi,” komentar Putri.

Febriana/Amalia juga senang bisa memperlihatkan perjuangan mereka dalam kondisi tertinggal, yaitu dengan saling mendukung dan berkomunikasi tentang pola permainan yang harus diterapkan. Mereka kalah dari Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto 12-21, 21-19, 16-21.

Namun, seperti dikatakan Amalia, ada momen ketika mereka terburu-buru mematikan lawan yang menjadi bumerang dengan terjadinya kesalahan.

Tak punya jeda waktu lama, Putri dan Febriana/Amalia harus memperbaiki kekurangan mereka untuk bertanding di Swiss Terbuka, 18-23 Maret. Putri memiliki kemungkinan bisa bertemu lagi dengan Chen, kali ini pada semifinal.

Ganda putri Febriana Dwipuja Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi menghadapi Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto pada pertandingan babak kedua All England, Arena Utilita, Birmingham, Kamis (13/3/2025). Febriana/Amalia kalah 12-21, 21-19, 16-21.

Dalam turnamen Ruichang Masters Super 100 di China, Ester Nurumi Tri Wardoyo memenangi laga sesama pemain Indonesia saat berhadapan dengan Mutiara Ayu Puspitasari. Ester menang dengan skor 21-17, 23-21.

Atlet berusia 20 tahun itu menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke perempat final setelah tiga wakil lainnya tersingkir pada babak kedua. Kekalahan, salah satunya, dialami Rahmat Hidayat/Yeremia Erich Roche Yacob Rambitan yang menjadi unggulan teratas ganda putra. Pasangan ranking ke-47 dunia itu kalah dari pemain tuan rumah, Chen Yong Rui/Chen Zhe Han, 21-16, 14-21, 13-21.

Kekalahan juga dialami Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dari pemain China. Dhinda kalah dari Han Qian Xi 21-16, 12-21, 18-21. Sementara, tunggal putra, Mohammad Zaki Ubaidillah, disingkirkan Cheng Kai (Taiwan) 19-21, 14-21.

ESter Nurumi Tri Wardoyo memenangi babak pertama turnamen Ruichang Masters Super 100 di China, Rabu (12/3/2025).

Grup berat Piala Sudirman

Dari undian Piala Sudirman yang berlangsung Kamis, Indonesia berada di grup yang lebih berat dibandingkan grup lainnya. Ditempatkan sebagai unggulan kedua di bawah China, Indonesia berada di Grup D bersama Denmark, India, dan Inggris.

Piala Sudirman, yang merupakan kejuaran beregu campuran, akan digelar di Xiamen, China, 27 April-4 Mei. Pesertanya adalah 16 tim, termasuk China sebagai tuan rumah dan juara bertahan, dan tim lain yang lolos dari fase kualifikasi di zona masing-masing. Selain lolos berdasarkan kualifikasi, jalan lain untuk tampil di Piala Sudirman adalah berdasarkan posisi dalam ranking dunia beregu.

Ke-16 tim dibagi dalam empat grup untuk menjalani babak penyisihan yang menggunakan format round robin. Bagi Indonesia, babak ini bagaikan final karena memiliki materi pemain yang berimbang dengan Denmark dan India. Padahal, hanya dua tim berperingkat teratas di grup, setelah bersaing dalam format round robin, yang berhak lolos ke perempat final.

”Dengan undian yang ketat, fokus tim Indonesia harus berada pada persiapan tim yang maksimal. Peluang untuk lolos grup sangat terbuka, tetapi tentu persiapan tetap menjadi kunci utama,” komentar Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Eng Hian.

Berbeda dengan Grup D, peta persaingan grup lain lebih mengarah pada kekuatan dua tim. Di Grup A, misalnya, pesaing berat China adalah Thailand. Dua tim terkuat Grup B adalah Korea Selatan dan Taiwan, sementara, dua tim yang berpeluang besar lolos dari Grup C adalah Jepang dan Malaysia.

Sejak pertama kali diselenggarakan di Jakarta pada 1989, hanya ada tiga negara yang menjadi juara ajang dua tahunan ini. Indonesia hanya sekali juara, yaitu pada penyelenggaraan pertama. Korea Selatan empat kali juara, sementara China mendominasi dengan 13 gelar juara, termasuk dalam tiga penyelenggaraan terakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey