Skuad Indonesia datang ke All England 2025 dengan dua gelar dari 2024. Setelah bersiap cukup lama, tiba waktunya mereka berjuang dalam ketatnya persaingan.
10 Mar 2025 18:57 WIB · Olahraga
All England adalah turnamen bulu tangkis unik. Meski berlevel sama (Super 1000) dengan tiga turnamen lain dalam struktur BWF World Tour, yaitu Malaysia Terbuka, Indonesia Terbuka, dan China Terbuka, All England tetap berbeda di mata atlet.
Diselenggarakan sejak 1899 dan bertahan hingga sekarang, All England adalah turnamen bulu tangkis tertua di dunia. Dengan arena besar, yaitu Wembley Arena (berkapasitas 12.500 orang) sejak 1957 hingga 1993, lalu berpindah ke Arena Birmingham (berkapasitas 15.800 orang) sejak 1994, dan cahaya lampu yang hanya diarahkan ke lapangan saat pertandingan, atlet benar-benar jadi sorotan.
Dengan atmosfer itu, serta status turnamen besar dan tertua, setiap atlet bulu tangkis memimpikan bisa menjuarai All England. Kejuaraan ini bisa disetarakan dengan Wimbledon, turnamen klasik di arena tenis.
Seperti pernah dikatakan legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata, ada tiga ajang yang dia jadikan patokan untuk melihat kehebatan atlet, yaitu Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All England.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/17/a15aade7-7904-49ee-9a3c-c9508b28bc70_jpg.jpg)
Berdasarkan prestise itulah, All England tak akan dilewatkan pebulu tangkis terbaik dunia yang memenuhi syarat ranking untuk bermain di sana. Hanya 32 wakil dari setiap nomor yang akan bersaing, tanpa fase kualifikasi.
Untuk persaingan di Utilita Arena Birmingham, 11-16 Maret 2025, hampir semua juara bertahan akan bersaing kembali, kecuali Carolina Marin dan Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong. Marin, juara tunggal putri asal Spanyol, belum pulih dari cedera lutut. Adapun Zheng/Huang sebagai salah satu ganda campuran terbaik China tak lagi bertanding setelah Zheng pensiun.
Di antara para juara bertahan itu, ada pemain Indonesia, Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Mereka akan kembali diandalkan ”Merah Putih” untuk membawa gelar tunggal dan ganda putra.
Secara umum, persaingan di All England edisi ke-115 ini akan sama ketatnya seperti tahun sebelumnya dengan peserta yang sebagian besar sama. Namun, pada nomor ganda, kehadiran formasi baru akan menjadi warna berbeda. Perubahan formasi ini harus diwaspadai atlet Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/324c5588cef3459db31960e82141dc9e-Jonatan2_Latihan1_AllEngland2025_PBSI_20250309.jpg)
Berikut gambaran persaingan setiap nomor bagi skuad Indonesia:
Setiap atlet dari cabang olahraga apa pun akan membawa tekanan lebih besar saat tampil sebagai juara bertahan, yang diwakili dengan istilah ”mempertahankan gelar juara lebih berat daripada merebut”. Tantangan ini pula yang akan dihadapi Jonatan.
Setelah menjuarai All England 2024 dengan status non-unggulan, kali ini Jonatan menjadi unggulan ketiga di bawah Shi Yu Qi (1) dan Anders Antonsen (2). Jonatan bertekad melupakan status juara bertahan dan fokus pada setiap tantangan satu per satu.
Itu menjadi pola pikir yang tepat dalam persaingan berat. Apalagi, tunggal putra menjadi salah satu dari dua nomor, selain ganda putra, dengan persaingan paling merata.
Para juara All England, yaitu Viktor Axelsen, Lee Zii Jia, Li Shi Feng, dan Shi Yu Qi, akan tetap menjadi lawan berat. Di luar keempatnya yang menjadi bagian dari delapan unggulan, keberadaan pemain-pemain top dengan status non-unggulan akan membuka peluang persaingan ketat sejak babak awal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/08/978053c8c93bf623b39021927d5f3e9a-Jonatan_R32_MalaysiaOpen2025_PBSI_20240108.jpg)
Bayangkan saja jika para unggulan itu harus berhadapan dengan Chou Tien Chen, Loh Kean Yew, atau Lakshya Sen pada babak pertama. Alex Lanier, atlet Perancis berusia 20 tahun, juga bisa membahayakan meski baru menjalani debut di All England.
Semifinalis Kejuaraan Dunia Yunior 2023 itu sering membuat kejutan sejak 2024, salah satunya dengan menjuarai Jepang Terbuka Super 1000. Lanier akan bertanding dengan bekal juara Orleans Terbuka di negaranya pekan lalu.
Tantangan Indonesia mempertahankan gelar juara tunggal putra akan lebih berat dengan absennya Anthony Sinisuka Ginting karena belum pulih dari cedera lengan kanan. Selain Jonatan, Indonesia sebenarnya masih memiliki Chico Aura Dwi Wardoyo.
Akan tetapi, dengan level prestasi yang jauh di bawah dua seniornya dan dengan penampilan yang tak konsisten dalam setiap turnamen, tampaknya akan sulit melihat Chico melangkah jauh di All England. Babak kedua All England menjadi bagian dari kekalahan pada babak-babak awal pada hampir semua turnamen 2024. Hanya di Perancis Terbuka Super 750, Chico bisa mencapai semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/18/edfe49dcefdfd33679917fa9e1a6784e-WhatsApp_Image_2025_01_18_at_21.58.57.jpeg)
Sejak 2019, baru kali ini tunggal putri Indonesia akan diwakili kembali oleh dua pemain, yaitu Gregoria Mariska Tunjung dan Putri Kusuma Wardani. Setelah memasuki jajaran ranking 32 besar dunia, tepatnya ranking ke-12 pada saat ini, Putri bisa mendampingi Gregoria yang tampil ”seorang diri” sejak All England 2020 hingga 2024.
Performanya yang meningkat sejak September 2024, hasil dari evaluasi diri dan kerja keras selama 2,5 bulan sebelumnya, membuat Putri bisa menembus persaingan di All England. Pada tahun ini, Putri mencapai perempat final Malaysia Terbuka Super dan Indonesia Masters serta semifinal Thailand Masters yang bisa menjadi bekal tampil di All England. Pada babak pertama, Putri akan melawan unggulan kedelapan, Supanida Katethong.
”Aku sangat antusias tampil pertama kalinya di All England. Dibandingkan turnamen lain, untuk All England, aku lebih mengatur pola pikir supaya lebih bisa menikmati. Selain itu, menambah sedikit variasi pukulan,” ujar Putri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/16/d4410e589a2b7914a243fefe2c052bf9-WhatsApp_Image_2025_02_16_at_15.31.27.jpeg)
Dengan pola pikir yang sama, yaitu menikmati setiap momen dan berusaha menampilkan kemampuan terbaik pada setiap pertandingan, Gregoria akan berusaha melewati perempat final untuk pertama kalinya. Sejak debut di All England pada 2019, hasil terbaiknya adalah babak perempat final 2023 dan 2024.
Atlet yang baru saja menikah itu juga akan berusaha tak terganggu oleh kendala nonteknis seperti yang dialami tahun lalu. Saat itu, Gregoria terganggu keputusan wasit yang tidak sesuai harapannya.
Jika Gregoria bisa menjaga pola pikir dan tampil nyaman, All England 2025 menjadi peluang baik untuk melangkah lebih jauh. Hanya An Se-young yang bisa dibilang mendominasi persaingan tunggal putri saat ini. Namun, Gregoria tetap tidak boleh lengah karena All England selalu memunculkan motivasi lebih besar untuk semua peserta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/5032d13ff5a35386a5f815e69ac60c19-FajarRian_Latihan1_AllEngland2025_PBSI_20250309.jpg)
All England bagaikan arena yang nyaman bagi Fajar/Rian. Gelar juara diraih secara beruntun dalam dua tahun terakhir, termasuk ketika perjalanan pada turnamen lain tidak terlalu baik.
Gelar juara All England 2024, misalnya, didapat setelah mereka hanya lima kali melewati perempat final dari 19 turnamen sebelumnya. Dengan kata lain, tidak ada gelar juara di antara All England 2023 dan 2024.
Jika bisa mencetak hattrick juara, Fajar/Rian akan menjadi ganda putra pertama yang melakukannya setelah legenda Indonesia, Tjun Tjun/Johan Wahyudi, menjadi juara pada 1977-1980. Setelah itu, terdapat ganda putra lain yang bisa tiga kali juara, tetapi tak ada yang secara beruntun.
Sebelum Fajar/Rian, Indonesia memiliki Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon sebagai ganda putra terakhir yang mendapat peluang hattrick juara. Namun, setelah menjadi juara pada 2017 dan 2018, ganda berjulukan ”Minions” itu tersingkir pada babak pertama 2019.
Seperti pemain senior lainnya, yaitu Jonatan dan Gregoria, Fajar/Rian memiliki waktu sekitar lima pekan berlatih di pelatnas untuk tampil di All England. Setelah Indonesia Masters, mereka langsung tampil di All England. Ini seharusnya menjadi persiapan yang cukup untuk memenangi keras dan meratanya persaingan ganda putra.
”Persaingan pasti tidak mudah. Setelah Olimpiade Paris 2024, banyak pasangan baru dan muda yang naik daun dari China, Malaysia, dan Korea Selatan. Kami juga tidak muda lagi, tetapi kesempatan tetap ada. Semoga kami bisa juara untuk ketiga kalinya,” kata Fajar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/18/17d705a8-584c-44e5-9247-5737ab29b3f0_jpg.jpg)
Seperti dikatakan Fajar, formasi baru ganda putra mewarnai persaingan ganda putra kali ini, termasuk dari Indonesia dengan lolosnya Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin. Mereka berpengalaman tampil di All England sebelum bertukar partner. Fikri/Bagas bahkan menjuarai All England 2022.
Selain itu, ada Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani yang akan menjalani debut. Mereka didampingi Hendra Setiawan, yang pensiun pada Januari 2025, sebagai pelatih.
Di antara pasangan baru itu, pemain Korea Selatan menjadi yang paling berbahaya. Pecahan dari juara dunia 2023, Kang Min-hyuk/Seo Seung-jae, telah menjadi dua pasangan dengan performa yang solid. Kang/Ki Dong-ju menjuarai Orleans Masters, 4-9 Maret, dengan mengalahkan peraih perak Olimpiade Paris 2024, Liang Wei Keng/Wang Chang, di final.
Kang/Ki juga menang atas rekan mereka, Seo/Kim Won-ho, pada fase semifinal. Meski kalah dari Kang/Ki, Seo/Kim memperoleh dua gelar juara dari tiga final pada tahun ini. Mereka menjuarai Malaysia Terbuka yang berlevel sama seperti All England dan Jerman Terbuka Super 300. Selain itu, Seo/Kim juga mencapai final India Terbuka.
Pasangan Malaysia yang naik daun pada 2024, yaitu Goh Sze Fei/Nur Izuddin dan Man Wei Chong/Tee Kai Wun, juga, bisa menjadi kuda hitam. Adapun dari jajaran pasangan lama, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen dan Aaron Chia/Soh Wooi Yik, tak bisa dianggap remeh.
Dengan peta persaingan yang sangat merata, Fajar/Rian harus fokus pada tantangan di babak-babak awal sebelum berbicara lebih jauh tentang juara. Chen Bo Yang/Li Yi, pasangan China yang menjadi lawan pada babak pertama, menang atas Fajar/Rian pada pertemuan sebelumnya, yaitu di babak kedua China Masters 2023.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/30/1908bf75-e6d5-44c4-9642-c30e9895889c_jpg.jpg)
Bagi ganda putri Indonesia, yaitu Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Febriana Dwi Puji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, All England 2025 menjadi kesempatan mereka untuk mengukur diri dalam persaingan pada ajang besar.
Apriyani dan Fadia memang tak asing dengan All England. Mereka bermain bersama pada 2023 dan 2024, juga dengan partner sebelumnya. Apriyani tampil di All England sejak 2017 bersama Greysia Polii. Adapun Fadia berduet dengan Ribka Sugiarto di All England 2020.
Namun, All England 2025 akan bermakna berbeda. Ini hanya menjadi turnamen kedua Apriyani/Fadia setelah Olimpiade Paris 2024. Seusai ajang multicabang terbesar di dunia itu, Apriyani tak bertanding hingga dia berduet lagi dengan Fadia di Orleans Masters dan kalah pada babak kedua.
Dalam masa persiapan untuk tampil lagi pada tahun ini, Apriyani menyatakan tekadnya untuk memanfaat kesempatan yang diberikan pelatih dengan baik. Pelatih ganda putri, Nitya Krishinda Maheswari, memberi kesempatan untuk tampil di Orleans Masters, All England, dan Swiss Terbuka untuk kemudian menilai performa Apriyani.
”Saya dan Mba Titin (panggilan Nitya) sudah berbicara dari hati ke hati. Dia mendukung saya dan memberi kesempatan bertanding. Semoga saya bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik,” kata Apriyani.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/12/1d760a4432e9c28f213de8ee5a71009c-AnaTiwi7_D2_WTF2024_PBSI_20241212.jpg)
Rekan mereka, Febriana/Amalia, juga akan mengukur kemampuan. Mereka mendapat kesempatan membuktikan diri layak berada di ranking sepuluh besar dunia pada tahun ini.
Meski bermain bersama sejak yunior pada 2019, All England 2025 akan menjadi yang pertama bagi ganda putri ranking kedelapan dunia itu. Mereka pun akan merasakan tekanan berbeda.
”Pelatih mempersiapkan kami supaya dapat bertanding dengan kondisi yang sangat prima, dari fisik maupun mental. Kami sangat senang dan antusias akan tampil di All England,” kata Amalia.
Tanpa juara All England 2019 dan Olimpiade Paris 2024, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, persaingan bukan berarti akan mudah. Masih ada juara bertahan asal Korea Selatan, Lee So-hee/Baek Ha-na, serta pemain-pemain Jepang yang menjuarai All England 2020-2022.
Selain itu, China sudah mempunyai penerus Chen/Jia yang bisa bersaing di level atas, di antaranya Liu Sheng Shu/Tan Ning. Pemain berusia 20 dan 21 tahun ini sudah memiliki 11 gelar BWF World Tour dan meraih perak Paris 2024. ”Saat ini, Liu Tan menjadi patokan untuk pemain ganda putri,” kata Apriyani.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/da7b34825f6f56a73dd4c91081c94cbb-WhatsApp_Image_2025_03_09_at_19.04.53.jpeg)
Rehan Naufal/Gloria Emanuelle Widjaja akan menjadi satu-satunya wakil ganda campuran Indonesia. Meski Indonesia memiliki banyak pasangan lain di atas Rehan/Gloria berdasarkan ranking dunia, termasuk dua pasangan ranking 20 besar, duet lain tidak tampil karena telah berganti pasangan.
Dejan Ferdinansyah/Gloria di ranking kesepuluh telah berganti partner. Gloria bersama Rehan berlatih di PB Djarum sejak awal 2024, sedangkan Dejan diduetkan dengan Fadia di pelatnas. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari juga tidak tampil karena dipisahkan sejak awal tahun meski akhirnya akan bergabung lagi mulai dari Kejuaraan Asia pada April.
Rehan/Gloria memulai penampilan dengan hasil baik. Mereka mencapai final dalam dua turnamen terakhir di Eropa, yaitu Jerman Terbuka dan Orleans Masters. Seperti dikatakan Rehan seusai kalah dalam final Orleans Masters, hasil itu menumbuhkan rasa percaya diri untuk bersaing di All England bersama partner baru.
Tekanan yang muncul di All England akan berbeda karena level turnamen lebih tinggi. Mereka juga akan bertanding dengan kebugaran yang menurun setelah tampil di dua turnamen dalam dua pekan beruntun dan selalu tampil hingga hari terakhir. Namun, Rehan/Gloria bisa bermain tanpa beban karena mereka berstatus pasangan baru dan tidak diunggulkan.
Salah satu hal yang menarik dari persaingan ganda campuran adalah dua unggulan teratas yang ditempati pemain Malaysia, yaitu Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie dan Chen Tang Jie/Toh Ee Wei. Meski demikian, kompetitor kuat dari nomor ini akan tetap datang dari pemain China yang tiga di antaranya menjadi bagian dari delapan unggulan.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti