Untuk sementara, dunia menjauh dari bencana. Kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat-Iran adalah sumber kelegaan itu.
Kelegaan antara lain diungkap Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, Rabu (8/4/2026). ”Untuk saat ini dunia telah menjauh dari bencana. Tetapi tidak ada ruang untuk berpuas diri. Negosiasi serius sekarang diperlukan untuk perdamaian yang langgeng. Oman akan mendukung upaya ini untuk tujuan vital dan mendesak, yaitu keamanan regional yang kuat dan berkelanjutan,” tulisnya di media sosial.
Ia merujuk pada kesuksesan Pakistan-China membujuk AS-Iran menyepakati gencatan senjata. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Selasa (7/4/2026), mengumumkan kesepakatan gencatan senjata itu.
Pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, AS-Iran dijadwalkan akan bertemu. Menurut sejumlah sumber di AS, Wakil Presiden AS JD Vance akan terlibat dalam perundingan itu.
Fokusnya adalah 10 permintaan Iran dan 15 tuntutan AS. Inti permintaan Teheran adalah AS menjamin berhenti menyerang Iran, mencabut semua sanksi, menarik pasukan dari kawasan, dan membayar ganti rugi ke Iran.
Teheran juga meminta kendali atas Selat Hormuz, hak memperkaya uranium, pencabutan sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Selain itu, Iran meminta semua pertempuran di seluruh palagan dihentikan. Palagannya termasuk Lebanon yang tengah diserang Israel.
Sebaliknya, AS meminta Iran melanjutkan pelucutan total program nuklir, menyerahkan cadangan uranium, dan mengizinkan lagi pemeriksaan oleh IAEA. AS juga menuntut Iran melucuti program rudal balistik yang bisa menjangkau ke luar perbatasan Iran.
Teheran diminta berhenti mengirim uang dan senjata ke kelompok pejuang di kawasan. Selanjutnya, AS menuntut Iran membuka lagi Selat Hormuz dan mengakui Israel.
Untuk itu, AS dapat mencabut sanksi dan mendukung program nuklir sipil Iran. Washington akan mencabut pembekuan ratusan miliar dolar AS aset Iran di beberapa negara.
Upaya berbagai pihak
Selepas kegagalan mediasi Oman pada Februari 2026, berbagai pihak mencoba mempertemukan AS-Iran. Selasa (7/4/2026) siang, Duta Besar Iran di Islamabad Reza Amiri Moghadam mengungkap ada perkembangan positif atas upaya deeskalasi.
Namun, hampir bersamaan dengan pernyataan Moghadam, Pulau Kharq diserang. Pulau itu terminal utama ekspor minyak dan gas Iran. Sejumlah ledakan juga terdengar di Shahriar, kawasan di pinggiran Iran.
Kepada Axios, sejumlah sumber di militer dan Departemen Pertahanan AS menyatakan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, mereka tetap mengebom berbagai lokasi di Iran kala perundingan berlangsung.
Militer dan Departemen Pertahanan AS tengah mematangkan serbuan besar-besaran ke Iran. Serangan itu direncanakan pada Selasa malam waktu Washington DC sesuai ultimatum Presiden AS Donald Trump.
Ia memberi Iran waktu sampai Selasa pukul 20.00 waktu Washington DC untuk membuka lagi Selat Hormuz. Kalau tidak, ia akan menyerang berbagai fasilitas energi dan transportasi Iran. Ia tak peduli ancaman itu disebut potensial melanggar hukum internasional.
Apalagi, beberapa jam setelah pengumuman Moghadam, Trump mengumumkan ancaman baru pada Iran. ”Seluruh peradaban akan mati malam ini,” tulisnya di media sosial pada Selasa pagi waktu Washington DC atau Selasa malam WIB.
Sementara Trump tantrum di ibu kota AS, dari Hongaria Vance bolak-balik menelepon ke Islamabad dan Washington DC. Vance berkomunikasi terutama dengan PM Sharif dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir.
Jadi perwira sejak 1986, Munir menjalin hubungan dengan militer Iran maupun AS selama bertahun-tahun. Iran-Pakistan berbagi 909 kilometer perbatasan.
Teheran-Islamabad kerap bekerja sama memerangi pemberontak di perbatasan mereka. Munir berulang kali terlibat upaya bersama itu.
Munir pun bertahun-tahun menjaga relasi dengan jajaran pertahanan China. Pengembangan persenjataan dan pertahanan Pakistan dapat sokongan besar-besaran dari China.
Peneliti Asia Selatan pada Woodrow Wilson International Center for Scholars, Michael Kugelman, menyebut bahwa relasi kuat Pakistan dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan diplomasi.
Pakistan juga punya kepentingan sendiri untuk mendorong perdamaian AS-Iran. “Negara ini sangat rentan terhadap dampak konflik. Mereka tidak ingin terseret ke dalam konflik dan memiliki kepentingan strategis untuk menunjukkan perannya sebagai aktor regional yang berpengaruh,” ujarnya.
Ia menyebut, gencatan senjata AS-Iran salah satu kemenangan besar diplomasi Pakistan. “Negara ini juga menentang banyak skeptis dan penentang yang tidak berpikir bahwa mereka memiliki kapasitas untuk melakukan prestasi yang kompleks dan berisiko tinggi seperti itu,” katanya.
China berperan
Keberhasilan upaya itu, lanjut Kugelman, juga didukung China dan persetujuan Iran untuk terus berlanjut. Dilaporkan The New York Times, China mendesak Iran agar menyepakati gencatan senjata.
Seperti Pakistan, Iran juga dapat sokongan besar dari China. Iran mengirim energi untuk China. Sementara Beijing memberi Teheran aneka teknologi dan tentu saja uang.
Kombinasi faktor itu mendorong perundingan dan peredaan ketegangan berlanjut. Sementara di Washington DC, Trump dan sejumlah orang cenderung mau serangan berlanjut.
Utusan Khusus AS Steve Witkoff termasuk yang menolak 10 permintaan Iran. Kalau dipenuhi, menurut Witkoff, akan ada bencana besar. Ia marah-marah ke para penengah perundingan, yakni pejabat Pakistan dan Mesir.
Sementara Witkoff marah-marah, Vance berusaha terus mencari jalan meredakan keadaan. Di Teheran, Menlu Abbas Araghchi juga berusaha membujuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Langkah Araghchi mulus setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei setuju ada terobosan untuk meredakan ketegangan. Persetujuan itu diberikan secara tertulis dan dikirimkan oleh kurir.
Atas alasan keamanan, komunikasi dari dan ke Mojtaba tak menggunakan perangkat elektronika. Hal itu untuk memastikan posisinya tak terlacak AS-Israel. ”Tanpa persetujuannya (Mojtaba), tak mungkin ada kesepakatan,” kata sumber Axios.
Sementara Araghchi, Sharif, Munir, dan Vance mengupayakan peredaan ketegangan, PM Israel Benjamin Netanyahu terus mendesak Trump tak menghentikan serangan ke Iran. Bolak-balik ia dan timnya menelepon Trump dan para pejabat AS.
Sejak 15 usulan AS dikirimkan ke Iran lewat Pakistan, Netanyahu dan berbagai pejabat Israel tak setuju. Mereka mau serangan ke Iran dilanjutkan.
Sejumlah pejabat AS dan orang dekat Trump sepakat dengan Netanyahu. Mereka mengirim pesan singkat dan menelepon Trump untuk mendesak kelanjutan serangan.
Sampai Selasa sore waktu Washington DC, Trump masih menunjukkan tanda mau terus menyerang Iran. Walakin, akhirnya Trump menelepon Netanyahu. Ia mau memastikan, Israel mematuhi kesepakatan gencatan senjata AS-Iran.
Kepatuhan Israel memang penting. Sebab, Teheran mensyaratkan semua serangan ke Iran dihentikan. Kalau AS berhenti sementara Israel terus menyerang, kesepakatan tak bisa dicapai.
Setelah dapat kepatuhan Netanyahu, Trump menelepon Munir untuk memastikan kesepakatan. Selepas itu, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada Selasa pukul 18.32 waktu Washington DC. Menjelang pukul 19.00 waktu Washington DC, pasukan AS di sekitar Iran diminta menghentikan semua serangan. (AP/AFP/REUTERS)
Untuk sementara, dunia menjauh dari bencana. Kesepakatan gencatan senjata Amerika Serikat-Iran adalah sumber kelegaan itu.
Kelegaan antara lain diungkap Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, Rabu (8/4/2026). ”Untuk saat ini dunia telah menjauh dari bencana. Tetapi tidak ada ruang untuk berpuas diri. Negosiasi serius sekarang diperlukan untuk perdamaian yang langgeng. Oman akan mendukung upaya ini untuk tujuan vital dan mendesak, yaitu keamanan regional yang kuat dan berkelanjutan,” tulisnya di media sosial.
Serial Artikel
Iran dan Amerika Sepakat Gencatan Senjata Dua Minggu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui permintaan Pakistan untuk memperpanjang tenggat hingga dua minggu. Upaya itu untuk memberi ruang diplomasi.
Ia merujuk pada kesuksesan Pakistan-China membujuk AS-Iran menyepakati gencatan senjata. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Selasa (7/4/2026), mengumumkan kesepakatan gencatan senjata itu.
Pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, AS-Iran dijadwalkan akan bertemu. Menurut sejumlah sumber di AS, Wakil Presiden AS JD Vance akan terlibat dalam perundingan itu.
Fokusnya adalah 10 permintaan Iran dan 15 tuntutan AS. Inti permintaan Teheran adalah AS menjamin berhenti menyerang Iran, mencabut semua sanksi, menarik pasukan dari kawasan, dan membayar ganti rugi ke Iran.
Teheran juga meminta kendali atas Selat Hormuz, hak memperkaya uranium, pencabutan sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Selain itu, Iran meminta semua pertempuran di seluruh palagan dihentikan. Palagannya termasuk Lebanon yang tengah diserang Israel.
Sebaliknya, AS meminta Iran melanjutkan pelucutan total program nuklir, menyerahkan cadangan uranium, dan mengizinkan lagi pemeriksaan oleh IAEA. AS juga menuntut Iran melucuti program rudal balistik yang bisa menjangkau ke luar perbatasan Iran.
Teheran diminta berhenti mengirim uang dan senjata ke kelompok pejuang di kawasan. Selanjutnya, AS menuntut Iran membuka lagi Selat Hormuz dan mengakui Israel.
Untuk itu, AS dapat mencabut sanksi dan mendukung program nuklir sipil Iran. Washington akan mencabut pembekuan ratusan miliar dolar AS aset Iran di beberapa negara.
Serial Artikel
AS Mulai Menyerang Pulau Kharg dan Fasilitas Sipil di Iran
Serangan terjadi sebelum tenggat yang ditetapkan AS berlalu. Mereka menyerang jalur kereta, jalan tol, jembatan, hingga permukiman.
Selepas kegagalan mediasi Oman pada Februari 2026, berbagai pihak mencoba mempertemukan AS-Iran. Selasa (7/4/2026) siang, Duta Besar Iran di Islamabad Reza Amiri Moghadam mengungkap ada perkembangan positif atas upaya deeskalasi.
Namun, hampir bersamaan dengan pernyataan Moghadam, Pulau Kharq diserang. Pulau itu terminal utama ekspor minyak dan gas Iran. Sejumlah ledakan juga terdengar di Shahriar, kawasan di pinggiran Iran.
Kepada Axios, sejumlah sumber di militer dan Departemen Pertahanan AS menyatakan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, mereka tetap mengebom berbagai lokasi di Iran kala perundingan berlangsung.
Militer dan Departemen Pertahanan AS tengah mematangkan serbuan besar-besaran ke Iran. Serangan itu direncanakan pada Selasa malam waktu Washington DC sesuai ultimatum Presiden AS Donald Trump.
Ia memberi Iran waktu sampai Selasa pukul 20.00 waktu Washington DC untuk membuka lagi Selat Hormuz. Kalau tidak, ia akan menyerang berbagai fasilitas energi dan transportasi Iran. Ia tak peduli ancaman itu disebut potensial melanggar hukum internasional.
Apalagi, beberapa jam setelah pengumuman Moghadam, Trump mengumumkan ancaman baru pada Iran. ”Seluruh peradaban akan mati malam ini,” tulisnya di media sosial pada Selasa pagi waktu Washington DC atau Selasa malam WIB.
Serial Artikel
Lalu Lintas Selat Hormuz Melonjak
Makin banyak kapal boleh lewat seusai sukses berunding dengan Iran. Kapal Irak, India, China, Jepang, Thailand, Yunani, Turki, dan Pakistan mulai tinggalkan Hormuz.
Sementara Trump tantrum di ibu kota AS, dari Hongaria Vance bolak-balik menelepon ke Islamabad dan Washington DC. Vance berkomunikasi terutama dengan PM Sharif dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir.
Jadi perwira sejak 1986, Munir menjalin hubungan dengan militer Iran maupun AS selama bertahun-tahun. Iran-Pakistan berbagi 909 kilometer perbatasan.
Teheran-Islamabad kerap bekerja sama memerangi pemberontak di perbatasan mereka. Munir berulang kali terlibat upaya bersama itu.
Munir pun bertahun-tahun menjaga relasi dengan jajaran pertahanan China. Pengembangan persenjataan dan pertahanan Pakistan dapat sokongan besar-besaran dari China.
Peneliti Asia Selatan pada Woodrow Wilson International Center for Scholars, Michael Kugelman, menyebut bahwa relasi kuat Pakistan dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan diplomasi.
Pakistan juga punya kepentingan sendiri untuk mendorong perdamaian AS-Iran. “Negara ini sangat rentan terhadap dampak konflik. Mereka tidak ingin terseret ke dalam konflik dan memiliki kepentingan strategis untuk menunjukkan perannya sebagai aktor regional yang berpengaruh,” ujarnya.
Ia menyebut, gencatan senjata AS-Iran salah satu kemenangan besar diplomasi Pakistan. “Negara ini juga menentang banyak skeptis dan penentang yang tidak berpikir bahwa mereka memiliki kapasitas untuk melakukan prestasi yang kompleks dan berisiko tinggi seperti itu,” katanya.
Serial Artikel
AS-Israel Serang Iran, Mediasi Oman Sia-sia
AS-Israel menyerang Iran dua hari setelah Oman kembali memediasi perundingan AS-Iran. Menlu Oman sedang di AS kala serangan dilancarkan.
Keberhasilan upaya itu, lanjut Kugelman, juga didukung China dan persetujuan Iran untuk terus berlanjut. Dilaporkan The New York Times, China mendesak Iran agar menyepakati gencatan senjata.
Seperti Pakistan, Iran juga dapat sokongan besar dari China. Iran mengirim energi untuk China. Sementara Beijing memberi Teheran aneka teknologi dan tentu saja uang.
Kombinasi faktor itu mendorong perundingan dan peredaan ketegangan berlanjut. Sementara di Washington DC, Trump dan sejumlah orang cenderung mau serangan berlanjut.
Utusan Khusus AS Steve Witkoff termasuk yang menolak 10 permintaan Iran. Kalau dipenuhi, menurut Witkoff, akan ada bencana besar. Ia marah-marah ke para penengah perundingan, yakni pejabat Pakistan dan Mesir.
Sementara Witkoff marah-marah, Vance berusaha terus mencari jalan meredakan keadaan. Di Teheran, Menlu Abbas Araghchi juga berusaha membujuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Langkah Araghchi mulus setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei setuju ada terobosan untuk meredakan ketegangan. Persetujuan itu diberikan secara tertulis dan dikirimkan oleh kurir.
Atas alasan keamanan, komunikasi dari dan ke Mojtaba tak menggunakan perangkat elektronika. Hal itu untuk memastikan posisinya tak terlacak AS-Israel. ”Tanpa persetujuannya (Mojtaba), tak mungkin ada kesepakatan,” kata sumber Axios.
Sementara Araghchi, Sharif, Munir, dan Vance mengupayakan peredaan ketegangan, PM Israel Benjamin Netanyahu terus mendesak Trump tak menghentikan serangan ke Iran. Bolak-balik ia dan timnya menelepon Trump dan para pejabat AS.
Sejak 15 usulan AS dikirimkan ke Iran lewat Pakistan, Netanyahu dan berbagai pejabat Israel tak setuju. Mereka mau serangan ke Iran dilanjutkan.
Sejumlah pejabat AS dan orang dekat Trump sepakat dengan Netanyahu. Mereka mengirim pesan singkat dan menelepon Trump untuk mendesak kelanjutan serangan.
Sampai Selasa sore waktu Washington DC, Trump masih menunjukkan tanda mau terus menyerang Iran. Walakin, akhirnya Trump menelepon Netanyahu. Ia mau memastikan, Israel mematuhi kesepakatan gencatan senjata AS-Iran.
Kepatuhan Israel memang penting. Sebab, Teheran mensyaratkan semua serangan ke Iran dihentikan. Kalau AS berhenti sementara Israel terus menyerang, kesepakatan tak bisa dicapai.
Setelah dapat kepatuhan Netanyahu, Trump menelepon Munir untuk memastikan kesepakatan. Selepas itu, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada Selasa pukul 18.32 waktu Washington DC. Menjelang pukul 19.00 waktu Washington DC, pasukan AS di sekitar Iran diminta menghentikan semua serangan. (AP/AFP/REUTERS)