Datang sebagai finalis pada 2025, Leo/Bagas tersingkir pada babak pertama All England 2026. Mereka kalah dua gim dalam waktu 33 menit.
03 Mar 2026 20:29 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
BIRMINGHAM, SELASA — Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, ganda putra Indonesia, hanya tampil singkat dalam turnamen bulu tangkis All England 2026. Mereka tersingkir pada babak pertama dengan performa buruk.
Salah satu dari lima wakil ganda putra Indonesia itu hanya bermain selama 33 menit di Utilita Arena, Birmingham, Inggris, Selasa (3/3/2026). Mereka disingkirkan pasangan Taiwan yang selalu dikalahkan dalam tiga pertemuan sebelumnya, Lee Jhe Huei/Yang Po Hsuan, dengan skor 13-21, 19-21.
Perjalanan ini jauh lebih singkat dibandingkan ketika Leo/Bagas melangkah ke final pada 2025. Lee/Yang menjadi salah satu pasangan yang mereka kalahkan setahun lalu, yaitu pada babak perempat final.
Meski demikian, hasil ini bukanlah sebuah kejutan. Walaupun selalu menang dalam semua pertemuan dengan Lee/Yang, Leo/Bagas mendapatkannya dengan susah payah. Di Birmingham pada 2025, Leo/Bagas hampir kalah ketika Lee/Yang mendapat match point pada gim ketiga. Leo/Bagas membalikkan keadaan hingga menang 21-11, 20-22, 22-20.
Kemenangan pada pertemuan pertama juga didapat dengan tak mudah. Pada babak kedua Hong Kong Terbuka 2024, Leo/Bagas menang 21-18, 14-21, 22-20. Adapun kemenangan ketiga didapat di Kejuaraan Asia 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/a5aba5fd610f65bcb79c7d5297b89119-WhatsApp_Image_2026_03_03_at_18.13.12.jpeg)
Tiga kemenangan itu dihentikan Lee/Yang dalam dua gim. Sepanjang pertandingan, mereka mengontrol permainan melalui permainan cepat hingga Leo/Bagas kesulitan mendapat peluang untuk menyerang.
Lalu, saat diserang lawan, mereka kerap kesulitan mengembalikan. Begitu pula ketika lawan mengajak bermain adu drive, pukulan datar dalam kecepatan tinggi. Leo/Bagas pun bagai bermain tanpa pola.
Kekalahan pada babak pertama juga dialami Gloria Emanuelle Widjaja yang berpasangan dengan pemain Singapura, Hee Yong Kai Terry.
Leo mengatakan, lawannya bermain lebih agresif dengan pukulan lebih bertenaga dibandingkan tiga perteman sebelumnya. Bagas juga menuturkan bahwa lawan bertahan dengan baik sehingga bisa mengembalikan pukulan meskipun dalam posisi sulit.
”Kami sudah mempelajari permainan mereka lewat video, tapi ternyata tadi sangat berbeda di lapangan,” kata Bagas.
Komentar tersebut memperlihatkan bahwa ganda putra Indonesia ranking ke-13 dunia tersebut begitu terpaku dengan tiga pertemuan lain. Ketika lawan tampil dengan cara bermain yang berbeda, mereka kesulitan mengatasi.
Performa yang mereka perlihatkan di Birmingham tahun ini tak berbeda dengan penampilan pada hampir sepanjang 2025. Setelah menjadi finalis All England, performa mereka menurun. Dalam 10 dari 13 turnamen BWF, Leo/Bagas tersingkir pada babak pertama atau kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/20672a1976f5ed41b9a11de9c4605899-WhatsApp_Image_2026_03_03_at_18.13.13.jpeg)
Turnamen pertama pada tahun ini, yaitu Indonesia Masters Super 500, juga tak memberi hasil baik. Leo/Bagas kalah dari Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri pada babak kedua.
Leo/Bagas akhirnya meraih gelar lagi, yaitu di Thailand Masters Super 300, pada Februari, setelah menjuarai Korea Terbuka 2024 pada awal mereka berpasangan. Meskipun menjuarai turnamen level rendah, hasil tersebut seharusnya bisa berdampak positif, tetapi hal itu tidak juga terjadi.
Seusai penyelenggaraan turnamen Indonesia Masters di Jakarta, Januari, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Eng Hian menyampaikan berbagai evaluasi performa atlet Indonesia, termasuk Leo/Bagas. Eng Hian mengatakan, performa pada enam bulan terakhir 2025 menjadi catatan bagi PBSI untuk mengevaluasi kerja sama mereka.
Kekalahan pada babak pertama juga dialami Gloria Emanuelle Widjaja yang berpasangan dengan pemain Singapura, Hee Yong Kai Terry, pada ganda campuran. Namun, Hee/Gloria bisa memberikan perlawanan sangat baik pada pasangan nomor satu dunia, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping.
Hee/Gloria, yang berpasangan sejak awal tahun ini, memaksa lawan bermain tiga gim selama 1 jam 21 menit dengan skor 21-18, 18-21, 19-21. Hingga menjelang akhir gim ketiga, pemenang pertandingan ini sulit ditebak. Hee/Gloria sebenarnya unggul 14-9, tetapi Feng/Huang membuat perebutan poin kembali berjalan ketat dengan menciptakan skor 19-19 hingga akhirnya menang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/29ac19f9dae39cca5d4ecef2207fb1f2-WhatsApp_Image_2026_03_03_at_19.17.44.jpeg)
”Saat poin krusial, kami berpikir ada peluang untuk menang, tetapi ternyata tidak bisa mengontrol keinginan menang itu. Mainnya menjadi kurang tenang, kurang pas sentuhannya. Namun, secara keseluruhan, kami sudah mencoba yang terbaik. Penyesalannya ada pada poin-poin terakhir,” tutur Gloria.
Hee juga mengatakan bahwa dia kurang tenang pada momen kritis. ”Namun, kami sudah ’fight’ pada setiap poin. Saat undian keluar, kami tahu ini tidak akan mudah, tetapi kami berpikir masih ada peluang. Jadi, kami tidak mau menyerah sebelum tanding. Tadi mencoba menikmati setiap poin,” ujar Hee yang berterima kasih kepada pemain Malaysia, Goh Soon Huat, dan pelatihnya yang bersedia mendampingi saat pertandingan.
Melawan Feng/Huang, Hee/Gloria berhadapan dengan lawan tangguh yang sering kali jarang membuat kesalahan. Permainan cepat dan konsisten dari Feng/Huang, yang sering kali menyulitkan ganda campuran lainnya, bisa diredam Hee/Gloria melalui kecerdikan mereka dalam mengontrol ritme permainan.
Bermain dalam nomor ganda, yang terdiri atas dua orang di setiap sisi lapangan, adalah beradu cerdik melihat celah yang ditinggalkan lawan di lapangan. Hee/Gloria sering unggul dalam faktor ini.
Ketika Feng/Huang berdiri di dekat garis belakang lapangan dalam posisi bertahan, Gloria dengan cepat mengubah pukulan, dari smes menjadi sentuhan pelan hingga kok jatuh di bagian depan lapangan. Feng/Huang pun tak dapat menjangkaunya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/4a8eefcf08d2ad1e1b3d8e266aa807b4-WhatsApp_Image_2026_03_03_at_19.17.47.jpeg)
Hasil pertandingan akhirnya ditentukan pada momen akhir. Feng/Huang, yang memiliki 20 gelar juara BWF World Tour, bagaimanapun unggul dalam menghadapi tekanan di momen kritis.
”Empat turnamen bersama Terry menjadi pengalaman yang baru untuk saya dan mungkin juga untuk dia. Pola pikir saya, Terry, pelatih saya, dan pelatih Terry yang berbeda menjadi pelajaran baru bagi saya. Senang sih,” kata Gloria yang pernah tampil di All England bersama Edi Subaktiar, Hafiz Faizal, dan Dejan Ferdinansyah.
Sebelum tampil di All England 2026, Hee/Gloria bermain di Indonesia Masters, Thailand Masters, dan Jerman Terbuka. Mereka mendapatkan hasil terbaik ketika mencapai perempat final di Indonesia dan semifinal Jerman Terbuka.
Selain Leo/Bagas dan Gloria, atlet-atlet Indonesia lainnya yang tampil pada hari pertama turnamen yaitu Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Putri Kusuma Wardani, serta pemain debutan, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Debutan lainnya, yaitu Alwi Farhan, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, akan mengawali penampilan pada hari kedua turnamen, Rabu. Meilysa Trias Puspitasari juga akan mendapat pengalaman pertama bermain di All England bersama seniornya, Febriana Dwipuji Kusuma.
Perubahan dalam undian ganda campuran, yaitu karena mundurnya Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran (Thailand), membuat Jafar/Felisha akan menghadapi lawan berbeda dari undian sebelumnya. Semula, semifinalis China Terbuka 2025 itu akan berhadapan dengan Pakkapon Teeraratsakul/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), lalu berubah menjadi Gao Jia Xuan/Wu Meng Ying (China).
Pengunduran diri pemain juga ada di nomor tunggal putri, yaitu Kirsty Gilmour (Skotlandia) dan Pusarla V Sindhu (India). Sindhu tak jadi bermain karena dia bersama timnya terjebak di Bandara Dubai, Uni Emirat Arab, sejak Sabtu (28/2/2026). Pesawat yang ditumpangi Sindhu tak bisa melanjutkan penerbangan sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan