Potret tradisi mudik di Bangladesh. Mereka bertaruh nyawa untuk bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung.
20 Mar 2026 14:31 WIB · Internasional
AP
Ribuan warga Bangladesh menunggu di peron dan sekitar Stasiun Kamalapur, stasiun kereta api terbesar di Dhaka. Mereka menunggu datangnya kereta selama berjam-jam. Beberapa yang kelelahan, biasanya orang tua atau anak-anak, terlihat duduk dan menjauh dari peron yang dipenuhi penumpang dan barang bawaan.
Ketika peluit kereta terdengar dari kejauhan, sontak ribuan penumpang berdiri, berdesakan, dan mengerahkan tenaga dan segala cara untuk masuk gerbong. Rangkaian panjang gerbong kereta yang semula kosong dalam hitungan menit terisi oleh ribuan penumpang yang akan mudik menuju desa atau kampung. Barang bawaan berjejalan di gerbong menambah sempitnya ruang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/20/2b1b8743a66a80aa3ce162bb6311efe0-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/b299a740-70c0-42ec-b710-a92f2582d7d7.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/20/18e85988a1c0bc4802e48a4073574dd6-cropped_image.jpg)
Ribuan warga Bangladesh menunggu datangnya kereta di stasiun kereta api di Tongi pada Rabu (18/3/2026). (AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Berebut menaiki kereta api di sebuah stasiun kereta api di Tongi pada Rabu (18/2/2026). (AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Menunggu kereta di peron stasiun kereta api di Tongi pada tanggal Rabu (18/3/2026). (AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Beberapa yang tidak kebagian tempat di gerbong nekat memanjat ke atap gerbong dan bordes atau sambungan gerbong, demi bisa terangkut kereta. Ribuan penumpang lain yang tidak kebagian tempat baik di dalam gerbong maupun atap gerbong akan menunggu kereta selanjutnya. Pemandangan ini juga terjadi di stasiun-stasiun kereta yang ada di sekitar pusat kota Dhaka, seperti Stasiun Tongi dan Stasiun Chittagong.
Tak jauh berbeda, suasana di pelabuhan penyeberangan juga dipenuhi jutaan penumpang. Jejeran feri yang dihiasi lampu berwarna-warni juga kewalahan melayani penumpang yang akan menuju ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/cb50e45f-2dc4-4a21-bcbf-eeb1095903c4.jpg)
Seorang anak yang mengenakan pakaian berwarna merah muda dibantu penumpang lain melewati lautan penumpang yang juga berebut untuk segera naik ke feri. Kapal-kapal yang berlayar semalaman itu bersinar dengan papan nama terang yang bertuliskan nama-nama kota tujuan yang menjadi tempat tinggal para penumpang.
Menjelang Idul Fitri, hari raya umat Islam, ibu kota Bangladesh, Dhaka, yang dipenuhi dengan aktivitas dan kebisingan mendadak mulai sepi. Jutaan perantau bersiap untuk kembali ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri dan festival yang menandai berakhirnya Ramadhan di kampung masing-masing.
Untuk sesaat, Dhaka terdiam. Sebuah metropolis yang setiap hari dipenuhi oleh pekerja dan ambisi, akan kosong untuk ritual dan keluarga. Kota yang biasanya menarik jutaan warga di kampung-kampung dengan pekerjaan, sekolah, dan peluang akan ditinggalkan untuk kembali ke desa dan kota di seluruh Bangladesh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/3d9aacf7-7d7e-4ebe-bf0d-de2c6c7341cf.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/c4a7ffb5-7e00-4bd7-9677-b6c4f581dca2.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/9a4915e3-1c94-4cda-ac77-bedbf8d5b884.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/20/d42f7c52-b50a-4591-b80f-85712a2693b6.jpg)
Ribuan penumpang berebut dan saling berdesakan untuk naik feri di Terminal Sadarghat. (AP/MAHMUD HOSSAIN OPU)
Penumpang beristirahat setelah naik feri di Dhaka pada Selasa (17/3/2026). (AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Hiruk pikuk terminal feri di Dhaka pada Selasa (17/3/2026).
AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Penumpang saling membantu menaiki kapal feri.
(AP/MAHMUD HOSSAIN OPU)
Setiap perjalanan memiliki sisi biasa dan sisi luar biasa. Foto-foto ini tidak hanya menangkap kesibukan dan kegembiraan Idul Fitri, tetapi juga perjuangan untuk kembali, untuk berkumpul dengan keluarga tercinta. Mudik atau pulang ke kampung halaman adalah sebuah momen bagi jutaan orang yang rindu akan keluarga dan kampung di seluruh dunia. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto