Perjuangan Seniman Betawi, dari Alunan Gambang Beralih ke Klakson Jalanan

Tantangan zaman dan ekonomi memaksa sejumlah seniman Betawi meninggalkan dunia seni untuk mencari pekerjaan yang lebih stabil demi memenuhi kebutuhan hidup.

25 Jun 2025 07:15 WIB · Metropolitan

Oleh Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Rhama Purna Jati

Perkembangan zaman yang kian modern dan tantangan ekonomi yang semakin berat memaksa sejumlah seniman Betawi untuk beralih pekerjaan. Mereka terpaksa meninggalkan dunia seni demi mencari pekerjaan yang lebih stabil. Inilah kisah beberapa seniman Betawi yang berjuang agar dapur tetap mengepul.

Pakaian khas seorang seniman Betawi, seperti baju koko dan peci hitam, yang biasa dikenakan Dedi (42) saat memainkan gambang keromong kini telah digantikan dengan jas hijau khas pengemudi ojek daring. Sepeda motor bekas yang ia beli lima tahun lalu masih setia menemani perjalanannya mengantarkan penumpang.

Dedi adalah sosok yang pernah menghidupkan suasana kota dengan alunan musik gambang keromong. Namun, setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia seni, ia memutuskan beralih profesi menjadi pengemudi ojek daring demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

”Sudah sekitar lima tahun jadi ojek online. Sebelumnya saya juga sempat bekerja di pabrik,” kata Dedi, Senin (16/6/2025), mengenang perjalanan hidupnya.

Dulu, saat masih muda, Dedi sering tampil di berbagai acara seni dan memainkan alat musik seperti tanjidor dan gendang. Namun, sejak 10 tahun terakhir, ia memutuskan untuk keluar dari dunia seni dan mencari pekerjaan di luar.

”Uang dari seni tidak cukup untuk hidup. Paling banyak hanya dapat sampai Rp 300.000 untuk sekali tampil. Undangan juga paling banyak seminggu sekali,” ujar Dedi.

Warga yang beralih jadi pengemudi ojek daring dari seniman betawi, di Jakarta Pusat, pada Senin (16/6.2025).

Meskipun kini memilih bekerja sebagai pengemudi ojek daring, Dedi tidak sepenuhnya melupakan seni Betawi. Di waktu luangnya, ia masih sesekali memutar lagu-lagu Betawi di rumah, mengenang masa-masa ketika dirinya aktif terlibat dalam pelestarian budaya Betawi.

Pekerjaan sampingan

Di Jakarta Pusat, Sanggar Bintang Sartika yang didirikan pada 5 September 1991 tetap menjadi rumah bagi sejumlah seniman Betawi. Sanggar ini telah melahirkan banyak seniman yang berkarya dalam seni Betawi, seperti gambang keromong dan ondel-ondel.

Namun, keadaan ekonomi memaksa para anggota untuk mencari pekerjaan sampingan demi bertahan hidup.

Ketua sanggar, Sahrul (36), pun melakukan hal yang sama. Sejak 2017, Sahrul bekerja di layanan ekspedisi lapangan untuk menyeimbangkan kehidupan antara pekerjaan dan dunia seni.

Sebagai penerus yang melanjutkan warisan seni budaya Betawi dari orangtua dan kakeknya, Sahrul sejak kecil telah terlibat dalam dunia seni dan tumbuh besar di lingkungan sanggar yang mengajarkan seni tradisional Betawi.

Sejumlah anggota Sanggar Bintang Sartika di Jakarta Pusat.

Meskipun demikian, penghasilan dari seni tradisional Betawi tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. ”Kalau saya mengandalkan penghasilan dari undangan kesenian, itu tidak cukup karena sangat jarang. Kadang sebulan hanya ada satu atau tiga kali undangan. Jadi, seni bagi saya lebih sebagai hobi, bukan sumber utama penghasilan,” ujar Sahrul, Selasa (17/6/2025).

Di sanggar ini, para anggotanya juga memiliki pekerjaan lain yang beragam, seperti pengemudi ojek daring dan kurir. Meskipun demikian, mereka tetap menyempatkan waktu untuk berlatih dan belajar kesenian Betawi, terutama saat hendak tampil.

Namun, ada juga anggota yang bekerja serabutan dan tidak tetap. Terkadang, mereka terpaksa mengamen untuk menambah penghasilan.

Namun, melalui Sanggar Bintang Sartika, Sahrul dan anggotanya berharap bisa menjaga seni Betawi agar tetap hidup meskipun di tengah keterbatasan waktu dan sumber daya. Bagi mereka, melestarikan budaya Betawi adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan segala keterbatasan.

Infografik Pengenalan Warga Jakarta terhadap Kesenian Tradisional Betawi*

Di antara banyak seniman Betawi yang terpaksa beralih pekerjaan, ada yang bertahan untuk tetap bergelut di dunia seni. Faradlilah (24), asisten pelatih di Sanggar Seni Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan, yang tetap tekun pada profesinya sebagai penari Betawi. ”Karena bagi saya bergelut di bidang seni sudah cukup menjanjikan,” katanya.

Tidak hanya di sanggar, Faradlilah juga mengajar di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA). ”Tentu ini merupakan program dari pemerintah. Untuk bisa terlibat di dalamnya harus dikurasi terlebih dahulu,” ujarnya.

Faradlilah yang sudah bergelut di bidang tari Betawi sejak 12 tahun lalu ini pun mendapatkan penghasilan tambahan. Untuk sekali mengajar di RPTRA, Faradlilah bisa mendapatkan uang sekitar Rp 500.000. Adapun jatahnya untuk mengajar di sana sekitar 10 kali untuk tiga bulan. Artinya, ia bisa memperoleh uang tambahan sekitar Rp 5 juta per bulan.

Belum lagi jika ada panggilan mentas di sejumlah event baik pemerintah maupun swasta. Dalam sekali event, dia bisa memperoleh uang sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. ”Kalau di-kumpulin, uang dari menari bisa mencapai dua digit,” kata Faradlilah.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Kevin Wu, mendorong inisiatif progresif untuk pengembangan sanggar budaya Betawi di sejumlah wilayah Jakarta. Melalui kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat, tidak hanya budaya Betawi yang akan tetap hidup, tetapi juga akan mengangkat ekonomi daerah setempat.

Tangan seorang pengamen memegang ember berisi uang saat mengamen menggunakan ondel-ondel di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (1/6/2025). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong pembentukan regulasi atau undang-undang untuk melestarikan ondel-ondel sebagai bagian dari warisan budaya Betawi. Pramono meminta agar ondel-ondel tidak digunakan untuk mengamen di jalanan. Pelarangan ondel-ondel untuk mengamen demi menghargai budaya Betawi. tercatat ada 42 sanggar ondel-ondel di Jakarta yang sedang mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pramono mengajak para pemangku kepentingan untuk melibatkan pelaku seni ondel-ondel dalam berbagai kegiatan resmi dan budaya agar mereka tidak perlu turun ke jalan untuk mengamen.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
01-06-2025

Tidak akan punah

Walau bagi sebagian orang menjadi seniman Betawi tidak begitu menjanjikan, sejarawan JJ Rizal meyakini kebudayaan Betawi tidak akan redup atau punah.

Sebaliknya, kebudayaan Betawi justru akan semakin berkembang dan meluas seiring dengan perkembangan zaman. Contohnya, dalam hal bahasa, Betawi seakan semakin populer dibandingkan dengan bahasa lain yang mengalami krisis penutur.

Hanya saja, kurangnya strategi pemerintah dalam memelihara para seniman untuk tetap bertekun pada pekerjaannya menjadi alasan kenapa seni Betawi kurang begitu menjanjikan.

”Seniman seakan dibiarkan berkembang secara alamiah tanpa pendampingan serius dari pemerintah,” kata Rizal.

Walau demikian, Rizal yakin para seniman Betawi akan terus bertahan meskipun tidak setenar seniman Betawi pada generasi sebelumnya. Dari sejarahnya, kebudayaan Betawi berakar dari sebuah bandar Kalapa yang kemudian berkembang menjadi kota bandar Sunda Kalapa, yang akhirnya berubah menjadi Batavia.

Sejarawan sekaligus pendiri perusahaan penerbit Komunitas Bambu, JJ Rizal.

Perkembangan ini menegaskan bahwa kebudayaan Betawi tumbuh sebagai kawasan melting pot, sebuah gambaran masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, dan ras yang bercampur serta berasimilasi menjadi satu, membentuk budaya yang homogen.

Hal ini tecermin dalam sensus tahun 1930, ketika muncul etnis baru dengan jumlah yang paling besar, tetapi asal-usulnya tidak jelas. Mereka bukan Sunda, bukan Jawa, berbahasa Melayu, tetapi bukan Melayu, dan terdapat pula kelompok Bugis, Bali, China, Arab, serta Eropa.

Lalu, disebutlah ini Bataviaan dan kemudian mulai dianggap sebagai orang Betawi yang prosesnya sebagai buah kawin mawin, paling tidak sejak masa awal VOC.

Dari asimilasi inilah terbentuk kebudayaan Betawi. Dengan demikian, kebudayaan Betawi akan terus berkembang seiring dengan perkembangan kota Jakarta. Yang terpenting kini adalah bagaimana seniman terus didukung dalam mengembangkan karya-karya mereka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al Hamasy, Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto