Jika tak dipersiapkan dengan matang, penggunaan kecerdasan buatan dan coding hanya terkesan latah pada teknologi, bahkan bisa berdampak negatif pada anak.
24 Mei 2025 08:14 WIB · Dikbud
JAKARTA, KOMPAS - Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang ingin memasukkan mata pelajaran pilihan yakni coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlu disiapkan dengan matang. Jika belum siap, penggunaan teknologi ini justru akan berdampak negatif pada anak.
Peneliti transformasi digital dari Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada Iradat Wirid mengutarakan, pemerintah tak perlu terburu-buru menerapkan rencana ini. Jangan sampai hanya terkesan latah menanggapi adanya tren teknologi kecerdasan buatan atau Akal Imitasi (AI).
Kita perlu penyampaian materi berjenjang. Jangan sampai kita langsung mengajarkan aplikasi AI ke siswa SD, itu akan jadi bencana. Kita harus membekali anak dengan logika, etika, dan literasi digital lebih dulu.
Literasi digital dinilai lebih mendesak ditanamkan pada anak sebelum mengenal AI dan coding. "Kita perlu penyampaian materi berjenjang. Jangan sampai kita langsung mengajarkan aplikasi AI ke siswa SD, itu akan jadi bencana. Kita harus membekali anak dengan logika, etika, dan literasi digital lebih dulu," kata Iradat, pada Sabtu (24/5/2025).
Setidaknya ada tiga fondasi penting yang harus melekat dalam kurikulum AI untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Pertama adalah soal etika yang tak sekadar menonjolkan kecanggihan aplikasi, tapi mesti disertai pemahaman soal hak, dampak, dan batasan penggunaannya.
“Jangan sampai sebatas mengajarkan penggunaan aplikasinya. Apalagi mengajarkan cara pakai ChatGPT ke anak SD karena kita akan melahirkan generasi yang instan,” ucapnya.
Kalau tidak dibekali nilai, teknologi bisa jadi ancaman dehumanisasi.
Kedua, soal literasi pelajar yang perlu ditata ulang secara mendasar dengan mencakup kemampuan memilah informasi yang layak, memahami aturan, dan mengetahui mana yang etis serta legal dalam konteks penggunaan teknologi. Pendekatan mengajarnya harus berbasis kemanusiaan agar mereka tetap memiliki sisi humanis di era digital.
Ketiga, kemampuan berpikir kritis karena kehadiran teknologi baru harus menumbuhkan nalar kritis pelajar, bukan malah membuat mereka pasif.
“Kalau AI hanya jadi alat yang meninabobokan, itu akan sia-sia. Anak-anak harus diajak mempertanyakan, mengkritisi, dan memahami dampak teknologi," tutur Iradat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/15/e216f73a-82d5-4502-826c-27367f08faf6_jpg.jpg)
Sebagai contoh, beberapa negara seperti China membangun pendidikan AI terintegrasi dari bawah untuk mendukung industri teknologi mereka. Di India, sumber daya manusia dibentuk sejak tingkat menengah. Sementara di Brasil, pendidikan AI terapan baru dilakukan di level vokasi.
Indonesia harus belajar dari praktik baik di negara global, tetapi disesuaikan dengan konteks budaya dan kesiapan lokal. Hal Ini dinilai penting agar coder masa depan tetap memiliki kepekaan manusiawi, bukan cuma asal bisa memakai aplikasi.
Iradat optimistis bahwa guru-guru Indonesia mampu mengajarkan logika penerapan dan pemahaman dasar tentang AI, asalkan didukung kebijakan yang serius dan fasilitasi pemerintah pusat dan daerah berkelanjutan. “Asal jangan sampai tak diteruskan setelah lima tahun berlalu," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq menekankan bahwa penerapan mata pelajaran coding dan AI ini tetap akan diiringi nilai-nilai tanggung jawab, etika, dan rasa aman. Mata pelajaran yang nantinya bersifat pilihan ini akan diterapkan pada kurikulum dari tingkat SD-SMA mulai tahun ajaran 2025/2026 mendatang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/15/05c7e9f3-2c08-4a18-ab02-1790db5b2af4_jpg.jpg)
Mengutip laporan dari Stanford University, Fajar menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia tergolong paling optimistis terhadap perkembangan Kecerdasan Artifisial secara global. Namun, ia mengingatkan agar optimisme itu tidak membuat masyarakat lalai.
"Kalau tidak dibekali nilai, teknologi bisa menjadi ancaman dehumanisasi. Pengembangan kecerdasan artifisial harus berbasis manusia, jangan sampai manusia kehilangan kendali pada perkembangan teknologi," kata Fajar saat membuka pelatihan di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 Mei lalu.
Kemendikdasmen telah memulai pelatihan bagi pelatih atau calon pengajar coding dan AI sejak awal tahun 2025. Mereka dibekali keterampilan teknologi dan strategi kolaboratif agar menjadi fasilitator yang kompeten dan andal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/24/1d9bf355-b1c8-48d6-b02d-902f61e7d24b_jpg.jpg)
Pelatihan ini akan menjangkau 59.546 guru dari sekolah sasaran pada tahun 2025 yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemendikdasmen berkolaborasi dengan 90 Lembaga Penyelenggara Diklat yang telah diseleksi ketat untuk memastikan kualitas pelaksanaan pelatihan.
Peserta pelatihan berasal dari kalangan akademisi, guru, dan praktisi. Mereka tidak hanya menerima pelatihan teknis, tapi juga mengalami proses belajar aktif berbasis kebutuhan orang dewasa (andragogi).
Pembelajaran dalam pelatihan ini menerapkan metode problem-based learning, project-based learning, hingga simulasi mengajar. Peserta bukan hanya belajar teori, tapi langsung mempraktikkan strategi mengajar koding dan kecerdasan artifisial.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji