Cinta dipercaya sebagai sesuatu yang abadi melampaui ruang dan waktu. Seabadi kisah romansa berlatar etnis Tionghoa lintas zaman, Mei Hwa-Bhanu dan Salim-Tasya.
25 Feb 2025 15:00 WIB · Hiburan
Ini kisah si kupu-kupu bersayap merah dan si rembulan berpendar merah/Kupu-kupu menatap rembulan di malam yang senyap dan berangin/Ingin kugapai dirimu Rembulan/Hangatmu sampai ke hati/Rembulan pun membalas/Terbanglah ke mari hai cantik/Cepat terbang sebelum gemawan datang menunggang badai dan petir.
Di hari keempat kupu-kupu terbang/Tapi badai mulai datang/Kini bulan telah hilang/Yang sisa hanya pendaran merah/Kupu-kupu menangis dan berkata/Ke mana pun bulanku pergi, biarkan sayapku terbang kuat. (Lagu ”Koepoe-koepoe dan Remboelan” (Húdié yǔ yuèliàng))
Lirik lagu jatuh cinta sekaligus patah hati yang terdengar pilu itu menyeruak dari piringan hitam tua yang diputar di sebuah gramofon usang. Lagu klasik berbahasa Mandarin itu konon pernah sangat populer dinyanyikan Mei Hwa (Brigitta Cynthia), biduan wanita berdarah Tionghoa.
Gadis cantik itu diceritakan sangat tenar pada era tahun 1940-an, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Di balik ketenarannya, kisah tragis mengikuti kehidupan Mei Hwa.
Menjelang upacara pernikahannya, sepasukan serdadu Jepang beringas merangsek masuk ke lokasi upacara lalu membantai semua yang hadir. Tak terkecuali calon pengantin pria, Bhanu (Alam Setiawan), yang juga tewas dieksekusi. Mayatnya dibuang begitu saja tak diketahui rimbanya.
Tragedi mengerikan itu berlangsung begitu saja dengan cepat, bahkan ketika ikrar dan janji suci pernikahan belum terucap dari mulut Mei Hwa dan Bhanu. Darah sudah telanjur tertumpah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/26/4dc8de4f135000a25b508a5ea39971be-cropped_image.jpg)
Adegan kilas balik yang menyayat hati itu menjadi latar belakang film horor romansa Pernikahan Arwah (The Butterfly House) garapan sutradara Paul Agusta. Tak semata menyuguhkan kisah horor, dalam filmnya, sang sutradara juga memberikan sejumlah sentuhan menarik.
Lewat film garapannya, Paul mengangkat budaya etnis Tionghoa sebagai latar film bergenre horor romansa tersebut. Penggambaran latar belakang plot cerita seperti ini belum banyak dilakukan sineas Tanah Air.
Kami (lebih) ingin (adegan) horornya elegan dan lebih berfokus pada (upaya) membangun atmosfer seram dan ”creepy” ketimbang banyak (menghadirkan) ”jump scare”.
Paul pun menolak terjebak ke dalam hal-hal klise dari sebuah film horor. Umumnya, film horor terlalu mengandalkan adegan-adegan jump scare sebagai pemicu adrenalin penonton.
”Kami (lebih) ingin (adegan) horornya elegan dan lebih berfokus pada (upaya) membangun atmosfer seram dan creepy ketimbang banyak (menghadirkan) jump scare. Jadi lebih (untuk) menciptakan rasa tak nyaman, yang menumpuk di setiap adegan, untuk dirasakan para penonton,” ujar Paul, Kamis (20/2/2025), seusai press screening filmnya.
Tak heran jika adegan kemunculan roh penasaran Mei Hwa justru bisa terjadi pada siang hari bolong. Paul pun menampilkan penggambaran seram sosok arwah penasaran Mei Hwa dengan paduan busana cantik kostum pengantin perempuan Tionghoa yang serba merah menyala sekaligus elegan.
”Maka (hantunya) bisa (ditampilkan) mengenakan bridal outfit lengkap,” ujar Paul.
Sebagai tambahan, lagu ”Koepoe-koepoe dan Remboelan” menjadi original soundtrack film Pernikahan Arwah (The Butterfly House), yang dinyanyikan pemeran Mei Hwa, yaitu Brigitta. Brigitta alias Gigi pernah dikenal sebagai salah seorang anggota girlband tenar Tanah Air, Cherrybelle.
Cerita utama film ini kemudian berpusat pada kisah di masa kini, yaitu percintaan pasangan calon pengantin Salim (Morgan Oey) dan tunangannya, Tasya (Zulfa Maharani). Kedua sejoli dikisahkan tengah bersiap menggelar pesta pernikahan.
Dibantu ketiga sahabatnya, Febri (Jourdy Pranata), Arin (Puty Sjahrul), dan Harja (Ama Gerald), Salim dan Tasya bersiap menjalani proses pemotretan pranikah (prewedding). Saat tengah bersiap, sebuah kabar duka tiba-tiba datang.
Kabar duka yang nyaris membuat Salim menunda seluruh proses persiapan menuju pernikahannya.
Satu-satunya kerabat kandung yang masih ada, Engkin Fangfang, meninggal di rumah warisan keluarga besar Salim. Dalam budaya Tionghoa, Engkim adalah sebutan untuk istri dari adik ibu alias bibi.
Sebagai satu-satunya kerabat yang masih hidup, Salim merasa wajib mengurus pemakaman Engkimnya. Untuk itu dia harus pulang ke rumah warisan keluarga besarnya di kampung.
Semula, rumah besar berarsitektur abad ke-18 itu hanya ditunggui dan diurus sang bibi. Selain menjaga dan mengurus rumah, Engkim Fangfang punya satu tugas wajib, yaitu memasang dan menyalakan dupa untuk meja arwah mendiang Mei Hwa. Sang penyanyi primadona masa lalu itu ternyata leluhur dari Fangfang dan Salim.
Sepeninggalan Fangfang, tugas tersebut otomatis diwariskan kepada Salim selain kompleks rumah besar serta seluruh harta peninggalan yang ada di dalamnya.
Lantaran tak ingin mengganggu proses persiapan menuju pernikahan, Tasya berinisiatif memboyong ketiga rekannya untuk menyusul Salim. Proses pemotretan pranikah dipindah ke lokasi tersebut, yang pada awalnya dinilai justru jauh lebih menarik dan eksotis dengan arsitektur masa lalu.
Awalnya, keadaan berjalan normal walau pada saat pertama tiba Tasya sudah mengalami beberapa kejadian mistis menyeramkan. Hal itu dimulai dari kemunculan sosok perempuan misterius yang mengenakan pakaian pengantin tradisional Tionghoa bernuansa serba merah.
Keanehan lain juga terus bermunculan kemudian. Mulai dari mimisan yang dialami Salim berkali-kali, juga hasil foto prewedding kedua calon pengantin dengan bayangan aneh yang muncul di belakang mereka.
Semua kejadian aneh itu kemudian berpuncak pada penemuan jasad yang diketahui milik Mei Hwa. Jasad berpakaian pengantin itu disemayamkan di dalam sebuah kamar rahasia yang ditemukan Tasya dan Salim lewat petunjuk gaib.
Atas bantuan seorang rohaniawan Tionghoa setempat, Koh Chung Chung (Verdi Solaiman), pasangan itu mencoba berkomunikasi dengan Mei Hwa. Kunjungan Tasya ke alam arwah dimungkinkan lewat medium tusuk rambut berbentuk kupu-kupu.
Aksesoris rambut itu dulu diserahkan Bhanu saat keduanya masih hidup dan akan menikah. Tusuk rambut kupu-kupu tersebut sekaligus merupakan simbol rasa cinta mendalam Bhanu terhadap Mei Hwa dan begitu pun sebaliknya. Dari sana tabir kisah masa lalu mereka, yang juga sempat menghantui di masa kini, mulai tersingkap dan terang benderang.
Menurut pemeran Tasya, Zulfa Maharani, film Pernikahan Arwah (The Butterfly House) menyoroti makna sekaligus perjuangan cinta. ”Bagaimanapun cinta itu satu. Jika terpisahkan oleh sesuatu, akan selalu ada cara untuk (mereka) kembali (bersatu),” ujar Zulfa.
Bagaimanapun cinta itu satu. Jika terpisahkan oleh sesuatu, akan selalu ada cara untuk (mereka) kembali (bersatu).
Selain tentang keabadian cinta, film ini juga memberi pesan berharga lain. Dari cerita tergambarkan apabila manusia justru jauh lebih mengerikan dan berbahaya ketimbang hantu, arwah penasaran, ataupun makhluk gaib lain, bahkan ketika hantu, arwah penasaran, dan makhluk gaib itu tampil dalam bentuk menyeramkan.
Hal itu tersirat dalam adegan kilas balik masa lalu yang menggambarkan betapa brutal dan kejamnya manusia dalam peperangan. Saat pembantaian terjadi di acara pernikahan Mei Hwa dan Bhanu.
Film ini juga menggambarkan bagaimana sebuah pengkhianatan, yang nyaris memakan korban jiwa, bisa terjadi dan dilakukan bahkan oleh orang kepercayaan. Dari film ini kita belajar, hantu atau arwah penasaran bisa jadi menyeramkan, tetappi manusia, dengan segala rupa ambisinya, kerap kali menjadi sosok yang paling menakutkan.
Penulis:
Wisnu DewabrataEditor:
Dwi As SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari