Persimpangan Paham Stoikisme ala ”Sang Dewi” Atalanta

Atalanta memang berhasil meraih prestasi terbaik dengan pendekatan sama seperti musim-musim sebelumnya. Namun, siklus berulang itu sedang berada di persimpangan.

24 Mei 2025 10:00 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Di pekan pamungkas Liga Italia, sorotan tertuju kepada Napoli yang baru saja menjadi juara dan Inter Milan yang gagal memertahankan gelar juaranya. Terlepas dari persaingan klimaks itu, ada hal yang tidak kalah menarik di papan atas. Tepatnya di peringkat ketiga, tim ”kuda hitam” Atalanta sudah berhasil mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan.

”Sang Dewi”, julukan Atalanta, berhasil finis di atas tim-tim besar lain. Mulai dari Juventus, Roma, hingga AC Milan. Prestasi tim asuhan Pelatih Gian Piero Gasperini itu terbilang memukau. Mereka mampu konsisten walaupun kehilangan banyak pemain utama, termasuk pencetak gol terbanyak tim di liga, yaitu Teun Koopmeiners.

Musim ini, Atalanta diselamatkan dengan pembelian penyerang Mateo Retegui dari Genoa. Investasi mereka terbayar lunas. Sang striker masih menjadi pemain tersubur di Liga Italia hingga saat ini dengan koleksi 25 gol. Adapun biaya transfer Retegui, 20,9 juta euro (Rp 385 miliar) hanya sekitar sepertiga dari hasil penjualan Koopmeiners.

Retegui bahkan telah melampaui rekor klub milik Filippo Inzaghi di liga (24 gol), saat Atalanta masih menyisakan satu laga. ”Retegui menjalani musim yang luar biasa. Dia mencetak gol dengan kaki kanan, kiri, dan kepala. (Setelah memecahkan rekor) dia harus mentraktir saya dan rekan-rekan setimnya,” ujar Gasperini.

Jalan cerita musim ini merupakan cerminan Atalanta di era Gasperini. Dari musim ke musim, mereka sudah terbiasa kehilangan pemain terbaik. Setidaknya, tren itu terjadi dalam tiga musim beruntun. Sebelum Koopmeiners, penyerang Rasmus Hojlund (2023) dan bek sayap Robin Gosens (2022) sudah hengkang lebih dulu.

Atalanta's Mateo Retegui celebrates after scoring during the Italian Serie A soccer match between Parma and Atalanta at the Ennio Tardini Stadium in Parma, Italy, Saturday Nov. 23, 2024. (Massimo Paolone/LaPresse via AP)

Atalanta memang terlihat bagai batu loncatan para pemain untuk naik kelas. Namun, realitas itu tidak bisa dimungkiri. Kekuatan finansial dan ambisi klub memang belum bisa menandingi tim-tim raksasa. Mereka harus merelakan pemain bintang pergi, apalagi ketika ada tawaran uang besar dari klub lain.

Bahkan, saat musim ini belum rampung, Atalanta sudah digosipkan akan kehilangan penyerang Ademola Lookman dan gelandang Ederson pada jendela transfer berikutnya. Kehilangan seperti sudah menjadi suatu hal lumrah dan harus dihadapi dengan biasa. Mereka justru melihat itu sebagai peluang baru.

”Sang Dewi” seolah menjalani stoikisme yang sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Paham itu mengajarkan, akan lebih baik jika bisa menerima hal-hal yang tidak bisa diubah, lalu fokus ditujukan ke sesuatu yang bisa dikendalikan. Atalanta tidak bisa mencegah pemain pergi, tetapi bisa mendatangkan pemain pengganti.

Atalanta bisa sangat konsisten di tengah perubahan berkat sosok Gasperini. Mereka berpegang pada sistem yang telah dibentuk sang pelatih selama hampir sembilan tahun terakhir. Sistem permainan ofensif itu menjadi pedoman tim, lebih penting dari pemain. Atalanta seperti pabrik dengan prosedur standar operasi yang saklek.

Fondasi sistem ala Gasperini tidak tertandingi di Italia. Musim panas ini, dia akan sembilan tahun sebagai pelatih Atalanta. Hanya Pelatih Kepala Inter Milan Simone Inzaghi yang mendekati masa baktinya (3 tahun dan 10 bulan). Adapun para pelatih lain bahkan belum genap setahun menukangi tim masing-masing.

Persimpangan Atalanta

Masalahnya, Atalanta berpotensi kehilangan sistem tersebut pada musim depan. Gasperini masih belum memastikan masa depan bersama Atalanta. Kontraknya akan segera habis pada akhir Juni nanti. Saat bersamaan, klub-klub besar seperti Juventus mulai melirik pelatih berusia 67 tahun itu.

”Kami akan mendiskusikan itu bersama klub. Tahun lalu, saya menandatangani kontrak pada Agustus setelah musim dimulai. Ada keharmonisan antara saya dan Atalanta sehingga tidak akan pernah ada masalah, tetapi sekali lagi, sepak bola tidak dapat diprediksi,” ucap Gasperini kepada Sky Sport Italia.

Atalanta's Italian coach Gian Piero Gasperini (C) and Atalanta's players celebrate with the trophy on the podium after winning the UEFA Europa League final football match between Atalanta and Bayer Leverkusen at the Dublin Arena stadium, in Dublin, on May 22, 2024. (Photo by Adrian DENNIS / AFP)

Pelatih yang mendobrak filosofi bertahan di Italia itu mulai khawatir. Dia takut Atalanta akan segera memasuki fase jenuh jika terus berada dalam siklus yang sama. ”Sejujurnya, tidak seperti musim-musim sebelumnya, saya merasa tidak akan mudah mengulang pencapaian ini pada musim depan,” katanya.

Kekhawatiran datang dari potensi eksodus besar-besaran pada musim panas nanti. Lookman, salah satunya, sudah menjadi bagian tim dalam tiga musim terakhir. Perannya semakin penting di setiap musim. Namun, tidak setiap saat Atalanta bisa mendapatkan pemain yang langsung berpengaruh besar seperti Retegui.

Mungkin juga, Gasperini yang terjebak dalam rasa jenuh karena berada dalam siklus berulang. Dia bisa membawa timnya ke papan atas, tetapi tidak pernah naik status sebagai tim juara. Sang pelatih sangat pantas untuk menukangi tim dengan ambisi lebih besar. Satu-satunya tim besar yang pernah dilatih Gasperini adalah Inter (2011).

Kejenuhan Gasperini terkonfirmasi lewat informasi dari wartawan Sportitalia, Alfredo Pedulla. Menurut dia, sang pelatih akan bertahan di Atalanta tergantung dari pendekatan transfer musim depan. Gasperini ingin timnya naik kelas ke tingkat selanjutnya dengan menjaga para pemain terbaik.

Jika Gasperini benar-benar pergi, era kegelapan sudah menanti ”Sang Dewi”. Sebelum pelatih berkarisma itu hadir, Atalanta terjebak di peringkat belasan selama lima musim beruntun. Gasperini mengubah segalanya. Atalanta tidak pernah finis di bawah peringkat delapan dan menjadi langganan masuk empat besar. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji