Pertahanan City Konsisten Amburadul, Masih Yakin Guardiola?

Lubang di pertahanan City kembali terekspos saat versus Brighton. Masalahnya, lubang itu agaknya tidak hanya disebabkan kehilangan pemain kunci akibat cedera.

16 Mar 2025 04:47 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Kisah yang sering dialami Manchester City sepanjang musim ini, kembali terulang saat berhadapan dengan Brighton and Hove Albion. Setelah unggul lebih dulu, bahkan memimpin dua kali, City lagi-lagi kehilangan poin penuh akibat organisasi pertahanan yang sangat buruk.

City ditahan tim tamu Brighton 2-2 di Stadion Etihad, Manchester, pada Sabtu (15/3/2025) malam WIB. Hasil itu terlihat buruk jika berkaca dari skor saat turun minum, tuan rumah unggul 2-1. Namun, City justru tampak beruntung pada akhir laga setelah bisa mengamankan satu poin.

Tim asunan manajer Josep Guardiola menyia-nyiakan “percikan” gelandang Omar Marmoush pada paruh pertama. Marmoush memenangkan penalti pada menit ke-11 yang dieksekusi oleh Erling Haaland. City unggul 1-0. Brighton sempat menyamakan skor lewat tendangan bebas Pervis Estupinan.

Jelang turun minum, Marmoush kembali beraksi lewat tembakan jarak jauh dari luar kotak penalti. Dia membuat City unggul lagi pada jeda pertandingan. Tuan rumah tampak baik-baik saja. Mereka bisa melimitasi ancaman Brighton. Satu-satunya gol kemasukan berasal dari bola mati.

Manchester City's Egyptian striker #07 Omar Marmoush (L) shoots and scores his team second goal during the English Premier League football match between Manchester City and Brighton and Hove Albion at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on March 15, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Namun, pelajaran khusus musim ini, jangan pernah menonton City hanya satu babak. Hal itu langsung terbukti hanya setelah tiga menit paruh kedua dimulai. Bek 21 tahun Abdukodir Khusanov salah mengantisipasi bola dalam skema tendangan sudut dan berujung gol bunuh diri.

Sejak itu, City semakin tidak terlihat seperti tim juara bertahan. “Setelah kemasukan gol kedua, itu terasa seakan kami kehilangan percaya diri dan keyakinan. Performa menurun, kami mulai memberikan peluang mudah. Sangat penting untuk tetap tenang,” kata gelandang Ilkay Gundogan.

Tiga kali, setidaknya, Brighton punya kesempatan bisa membalikkan keadaan dengan peluang emas di kotak penalti. Namun, bek Jack Hinshelwood, gelandang Carlos Baleba, dan penyerang sayap Yankuba Minteh kurang klinis. Mereka gagal mengarahkan bola ke gawang yang dikawal Stefan Ortega.

Pada musim-musim terdahulu, tim tamu sudah sangat bersyukur jika pulang dengan satu poin dari Stadion Etihad. Banyak yang datang tanpa mengincar kemenangan. Situasi batin itu tidak terasa kali ini walaupun Brighton selalu gagal pulang dengan mengantongi poin dari stadion tersebut sejak 1982.

Manchester City's Spanish manager Pep Guardiola looks at the players fighting for the ball during the English Premier League football match between Manchester City and Brighton and Hove Albion at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on March 15, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Pelatih Kepala Brighton Fabian Hurzeler bahkan mengutarakan kekecewaannya terhadap hasil akhir. “Kami pantas menang. Kami memiliki beberapa peluang besar, terutama pada paruh kedua. Saya senang dengan performa tim, tetapi kecewa dengan hasil,” ujar pelatih termuda di Liga Inggris tersebut.

Kehilangan City

Guardiola agaknya mulai bisa berdamai dengan musim ini yang begitu buruk. Dia tidak lagi menggaruk wajah di tepi lapangan atau terlihat frustrasi saat konferensi pers. Sang manajer menjalani prinsip, bahkan seorang koki terbaik pun punya hari buruk. Musim ini adalah hari buruk itu.

Guardiola tidak menyalahkan para pemain setelah gagal menang lagi. Dia justru memberikan pujian kepada para pemain muda, termasuk Khusanov yang membuat gol bunuh diri. “Inilah sepak bola. Kami harus menerima itu. Kami kemasukan terlalu banyak pada musim ini,” ujarnya.

Seperti dijelaskan Guardiola, masalah terbesar City pada musim ini adalah jumlah kemasukan yang tidak biasa. Pertahanan mereka sangat berlubang. City sudah kemasukan 40 gol di liga. Jumlah itu sama dengan Manchester United yang berada di peringkat ke-15.

City sudah memecahkan rekor kemasukan terbanyak sepanjang era Guardiola, sejak 2016, walaupun masih pekan ke-29. Mereka tidak pernah kemasukan lebih dari 39 gol dalam semusim penuh. Bahkan hanya pada musim pertama Guardiola, City kemasukan lebih dari 35 gol.

Brighton's Japanese midfielder #22 Kaoru Mitoma controls the ball during the English Premier League football match between Manchester City and Brighton and Hove Albion at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on March 15, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Pondasi dan struktur pertahanan yang dibentuk bertahun-tahun itu runtuh pada musim ini. Problem tersebut merupakan alasan utama City terjebak di peringkat kelima klasemen sementara. Saat ditanya penyebab masalah di lini belakang, Guardiola menjawab, “Ada sesuatu yang hilang.”

City memang banyak kehilangan pada musim ini, terutama akibat cedera. Mereka tidak bisa memainkan peraih Ballon d’Or terakhir, Rodri, nyaris sejak awal musim. Para pemain di lini belakang, seperti Manuel Akanji dan John Stones, juga tidak bisa tampil dalam laga tadi.

Penjaga gawang City juga terus berganti-ganti. Kiper utama Ederson baru bermain 19 kali di liga karena cedera minor berkali-kali. Dia sering digantikan oleh Ortega, termasuk ketika versus Brighton. Adapun kualitas kedua kiper itu berjarak cukup jauh.

Meskipun begitu, sepertinya tidak adil dengan tim-tim lain jika hanya melihat dari pemain yang cedera. Tanpa banyak pemain itu pun, skuad City masih sangat solid. Total nilai pasar empat bek sejajar City di laga versus Brighton saja mencapai 200 juta euro lebih. Nilai itu masih melebihi seluruh pemain bertahan yang dimiliki Brighton (156,8 juta euro).

Britain Soccer Premier League

Kehilangan pemain merupakan satu faktor. Akan tetapi, faktor terbesar yang membebani City adalah kepercayaan diri. Mereka kehilangan mentalitas juara seiring tren buruk dan performa inkonsisten yang berulang. Masalahnya, Haaland dan rekan-rekan jatuh dari titik tertinggi. Rasanya pasti lebih sakit.

Tim asuhan Guardiola memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Masalahnya, kapan mereka bisa pulih jika terus diterpa hasil buruk? Mereka harus segera bangkit jika tidak ingin kehilangan kans lolos ke Liga Champions musim depan.

Tanda tanya besar mengarah ke Guardiola, sang nahkoda dari kapal City yang terseok-seok. Saat ditanya tentang keyakinkan lolos ke empat besar, dia menjawab dengan tegas, “Saya selalu percaya diri. Saya ahli dalam itu. Saya kadang ragu, tetapi selalu bisa menemukan hal positif untuk dibawa.” (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .