Iran-AS berunding soal program nuklir Iran. Taruhannya tinggi karena Trump mengancam akan menyerang Iran jika tak ada kesepakatan.
12 Apr 2025 20:45 WIB · Internasional
MUSCAT, SABTU — Iran dan Amerika Serikat mulai berunding tentang program nuklir Iran di Muscat, Oman, Sabtu (12/4/2025). Pembicaraannya difokuskan pada penurunan ketegangan regional, pertukaran tahanan, dan perjanjian terbatas untuk meringankan sanksi sebagai imbalan atas pengendalian program nuklir Iran. Kementerian Luar Negeri Iran memperkirakan perundingan tidak akan berlangsung lama.
Juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baqaei, menggambarkan perundingan itu baru permulaan. Iran tidak yakin akan ada kesepakatan yang bisa segera tercapai meski taruhannya sangat tinggi bagi kedua negara yang sudah bermusuhan selama setengah abad ini.
Perundingan juga berisiko tinggi karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran dari udara jika tidak tercapai kesepakatan. Ini perundingan tingkat tertinggi di antara kedua negara sejak perjanjian internasional tentang program nuklir Iran runtuh setelah Trump menarik diri pada 2018.
“Saya ingin Iran menjadi negara yang luar biasa, hebat, dan bahagia. Tetapi mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/12/079d0ac3cc6fe044f2b233e4381d4d1e-wires_photo_49.jpg)
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Shamkhani, menegaskan, Iran menginginkan kesepakatan yang nyata dan adil. Iran sudah menyiapkan usulan-usulan penting dan siap dijalankan. Jika AS berniat baik, Iran yakin tidak akan ada masalah di masa depan.
Jika tidak, Iran memperingatkan mereka dapat mengembangkan senjata nuklir karena memiliki persediaan uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata. ”AS mengancam akan melakukan kejahatan, tetapi kami tidak yakin itu akan terjadi. Namun, jika itu terjadi, kami pasti akan membalas sama kuatnya,” kata Ali Khamenei.
Kantor berita Iran, IRNA, menyebutkan, saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menlu Oman Badr al-Busaidi, ia menyampaikan sikap dan poin-poin penting Iran agar dapat disampaikan kepada AS.
Iran menghendaki perundingan yang dilakukan secara tidak langsung atau memakai perantara Utusan Timur Tengah AS Steve Witkoff. Masalah teknis perundingan juga menjadi perselisihan kedua pihak. Iran mau memakai perantara, sementara Trump bersikeras mau perundingan secara langsung.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak perundingan langsung dengan AS. Bukannya tidak mau berunding, melainkan selama ini Iran bermasalah dengan AS yang kerap melanggar janji-janjinya. ”Mereka (AS) harus membuktikan bahwa mereka dapat membangun kepercayaan,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/12/6082f2d22de62e0b6792ebd255e183f7-Iran_US_Timeline.jpg)
Perbedaan antara perundingan langsung dan tidak langsung mungkin tampak sepele, tetapi penting. Perundingan secara tidak langsung selama ini terbukti tidak menghasilkan kemajuan berarti sejak Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran pada masa jabatan pertamanya (2017-2021).
Trump dan Witkoff sama-sama berangkat dari posisi mau membongkar program nuklir Iran. Iran selalu mempertahankan posisi bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan sipil semata. Namun, negara-negara Barat yakin Iran ingin membuat bom atom.
Belum jelas seberapa banyak Iran mau mengalah meski AS dapat menawarkan keringanan sanksi bagi Iran. Berdasarkan kesepakatan nuklir 2015, Iran hanya dapat mempertahankan persediaan uranium yang diperkaya hingga 3,67 persen. Saat ini, persediaan Iran dapat memungkinkannya untuk membangun beberapa senjata nuklir jika diinginkan.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat, Iran diperkirakan memiliki 274,8 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Ini mendekati kadar senjata 90 persen. Dilihat dari negosiasi sebelumnya, Iran kemungkinan meminta untuk terus memperkaya uranium hingga setidaknya 20 persen lagi.
Satu hal yang tidak akan mau dilakukan Iran adalah menghentikan program nuklir sepenuhnya. Khamenei kerap menyinggung pada apa yang terjadi dengan mendiang diktator Libya Moammar Gadhafi yang dibunuh dengan senjatanya sendiri oleh pemberontak dalam Musim Semi Arab pada 2011. Itu menjadi peringatan bagi Iran apa yang dapat terjadi ketika terlalu percaya pada AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/04/18/20210415-H10-NSW-SPKLU-dan-SPBKLU-mumed_1618756418_png.png)
Ali Vaez dari lembaga pemikir International Crisis Group mengatakan, cakupan pembicaraan akan menjadi ”salah satu isu pertama dan paling penting” dalam perundingan Iran-AS. Iran dikatakannya tidak menginginkan agenda yang lain pada tahap awal ini.
Vaez juga tidak yakin akan ada kesepakatan yang bisa tercapai kecuali jika menjadi lebih komprehensif. Iran mungkin mau menghentikan program nuklirnya, tetapi tidak akan mau membongkarnya sepenuhnya. Mereka berharap itu akan mendapat imbalan keringanan sanksi.
Karim Bitar, pengamat dari Studi Timur Tengah di Universitas Sciences Po di Paris, yakin Iran akan memprioritaskan kelangsungan hidup rezim dan mendapatkan keringanan sanksi untuk menghidupkan kembali perekonomian. Pasalnya, rezim di Iran sudah menjadi tidak populer.
”Bisa jadi perundingan itu tidak akan hanya berbicara soal nuklir Iran, tetapi akan mencakup Iran yang menghentikan dukungan pada sekutu regionalnya, yakni Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza,” ujarnya.
Pengaruh Iran di seluruh Timur Tengah telah sangat dibatasi, dengan sekutu regionalnya—yang dikenal sebagai ”Poros Perlawanan”—telah dibubarkan atau terluka parah sejak dimulainya konflik Hamas-Israel di Gaza dan jatuhnya Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024. Poros tersebut tidak hanya mencakup Hamas dan Hizbullah, tetapi juga Houthi di Yaman dan berbagai kelompok bersenjata Syiah di Irak dan Suriah.
Perundingan Iran-AS digelar di Oman, salah satu kesultanan terakhir di dunia di tepi timur Jazirah Arab. Oman yang punya jumlah penduduk 5,2 juta jiwa menonjol di antara negara-negara Teluk Arab. Kekayaan minyak dan gasnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara-negara Teluk Arab lainnya.
Mayoritas penduduknya Muslim Ibadi, cabang Islam yang lebih liberal. Oman menempati lokasi strategis di sepanjang Selat Hormuz, muara sempit Teluk Persia. Oman juga bekas kekaisaran yang wilayah pelayarannya pernah membentang hingga ke Pulau Zanzibar di lepas pantai Afrika.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/13/afcd6d7d34ba32aa0d7a17f7acb268db-IRAN_POLITICS_127085942.jpg)
Guru Besar Sejarah di Universitas Heidelberg Marc J O’Reilly mengatakan, sejarah Oman meluas hingga ke cara mereka berurusan dengan dunia yang lebih luas. Oman selama ini dikenal sebagai ahli diplomasi yang tenang. AS selama bertahun-tahun mengandalkan Oman untuk berunding dengan Iran, termasuk pembicaraan rahasia semasa mantan Presiden AS Barack Obama yang menghasilkan kesepakatan nuklir 2015.
Hubungan Oman dengan Iran telah terjalin sejak Revolusi Islam pada 1979. Hubungan mereka menguat ketika Shah Mohammad Reza Pahlavi mengirimkan pasukan pada 1970-an untuk membantu meredakan Pemberontakan Dhofar.
CEO dan pendiri perusahaan analisis risiko Gulf State Analytics, Giorgio Cafiero, mengatakan, orang Oman punya banyak pengalaman dalam memainkan peran sebagai saluran rahasia. ”Saya pikir di era Trump 2.0 ini, taruhannya sangat tinggi. Penting bagi kita untuk memahami nilai Oman sebagai jembatan diplomatik,” ujarnya.
Berbeda dengan negara-negara tetangganya, yakni Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, Oman cenderung lebih tertutup. Oman tidak suka terlalu banyak mengumbar informasi mengenai proses perundingan yang sedang berjalan.
Oman tak seperti Qatar yang memediasi perundingan dengan Taliban di Afghanistan, Arab Saudi yang jadi tuan rumah perundingan AS-Rusia, dan Uni Emirat Arab yang menjadi penengah dalam pertukaran tahanan AS-Rusia. ”Oman biasanya lebih suka tidak menjadi sorotan. Mereka lebih suka diplomasi yang tidak jadi berita utama, tetapi tetap efektif,” kata Cafiero. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto