Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Airlangga Optimistis Pulih di Triwulan Berikutnya

Ekonomi Indonesia tumbuh 4,87 persen secara tahunan di triwulan I-2025, melambat jika dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2024 sebesar 5,11 persen.

05 Mei 2025 16:56 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 tercatat tumbuh 4,87 persen secara tahunan, melambat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,11 persen. Meski demikian, pemerintah menilai pertumbuhan tersebut tergolong kuat di tengah tantangan global dan tetap berada di atas sejumlah negara lain.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta, Senin (5/5/2025), mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 Indonesia menjadi yang tertinggi kedua di kelompok G20, di bawah China yang tumbuh 5,4 persen pada periode yang sama.

”Kita masih berada di atas Malaysia yang mencatatkan pertumbuhan 4,4 persen, Singapura 3,8 persen, dan Spanyol 2,9 persen. Khusus di kawasan ASEAN, kita sedikit di bawah Vietnam yang tumbuh 6,9 persen pada kuartal I-2025,” ujarnya.

Pemerintah juga mencermati perkembangan ekspor yang menjadi salah satu komponen penunjang pertumbuhan ekonomi. Airlangga mengupayakan agar kinerja ekspor tak terdampak melambatnya permintaan global, khususnya dari China, serta ketidakpastian arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Perkembangan Ekonomi Indonesia secara triwulanan.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor dan konsumsi rumah tangga merupakan dua komponen yang memberikan kontribusi besar terhadap proporsi produk domestik bruto (PDB). Masing-masing sebesar 28,03 persen dan 54,53 persen.

Pada triwulan I-2025, ekspor tumbuh 6,78 persen secara tahunan. Sementara, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89 persen secara tahunan.

Airlangga menambahkan, pemerintah akan terus memantau dinamika ekonomi global dan domestik. Ia optimistis pertumbuhan ekonomi akan menguat pada triwulan berikutnya di sepanjang 2025 seiring dengan mulai bergeraknya belanja anggaran pemerintah yang diharapkan menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi.

”Ke depan, kita akan lihat bagaimana perkembangan di kuartal berikutnya. Diharapkan realisasi anggaran pemerintah sudah mulai berjalan sehingga momentum pertumbuhan bisa terus dijaga,” ujarnya.

Perkembangan dan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan sejumlah negara yang dirilis UNCTAD pada 16 April 2025.

Merujuk data BPS, stagnasi pertumbuhan konsumsi masyarakat sedikit banyak dipengaruhi oleh belanja pemerintah. Secara tahunan, realisasinya pada triwulan I-2025 tumbuh minus 1,38 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan belanja pemerintah pada triwulan I-2024 yang tumbuh 20,44 persen secara tahunan.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai kontraksi belanja pemerintah tersebut tecermin dalam realisasi APBN hingga Maret 2025 yang mencapai 17,1 persen dari pagu belanja tahunan.

”Masih relatif rendahnya penyerapan belanja negara ini turut menjadi faktor pelemahan agregat permintaan dan aktivitas sektor publik meskipun pemerintah mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp 17,5 triliun,” ujarnya.

Distribusi komponen penopang produk domestik bruto (PDB) triwulan I-2025.

Sementara itu, senior Chief Economist SSI Research, Fithra Faisal Hastiadi, memandang terdapat risiko penurunan terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi di sepanjang 2025 ke level 4,8 persen. ”Proyeksi ini muncul seiring dengan masih berlanjutnya hambatan struktural dan siklikal yang akan membebani ekonomi dalam beberapa triwulan mendatang,” ujarnya.

Meskipun pemerintah tetap optimistis dengan target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada 2025, Fithra menilai sejumlah indikator menunjukkan bahwa pencapaian angka tersebut akan membutuhkan pemulihan yang jauh lebih kuat di paruh kedua 2025.

Pemulihan diperlukan untuk sektor investasi, konsumsi rumah tangga, dan produksi industri.

Adapun beberapa faktor pendukung mungkin datang dari percepatan belanja modal pemerintah pada triwulan III dan IV, terutama untuk infrastruktur dan hilirisasi industri.

”Kejelasan arah negosiasi perdagangan dan tarif dengan AS juga dapat membantu meningkatkan sentimen investor,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan