Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa tanda-tanda ekonomi Indonesia semakin melemah akhir-akhir ini?
- Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat di bawah 5 persen?
- Berapa tingkat pertumbuhan yang harus dicapai untuk jadi negara maju pada 2045?
- Apakah Indonesia masih bisa menjadi negara maju pada 2045?
Senin (5/5/2025) ini, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan I tahun 2025. Akan tetapi, perkiraan yang muncul sejauh ini cukup pesimistis.
Konsensus ekonom Bloomberg memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di bawah 5 persen pada triwulan I-2025. Nilai tengah pertumbuhan ekonomi yang dihimpun dari total 19 lembaga adalah 4,9 persen secara tahunan.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan angka serupa. Ekonomi RI diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 4,93-4,95 persen pada triwulan I-2025 dan 4,9-5,0 persen sepanjang 2025.
Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini juga memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,65 persen pada 2025. Senada, Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5 persen menjadi 4,7 persen pada 2025.
Berbagai perkiraan itu lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi RI yang selama 10 tahun terakhir cenderung stabil di kisaran 5 persen, kecuali saat pandemi Covid-19.
1. Apa tanda-tanda ekonomi Indonesia semakin melemah akhir-akhir ini?
Menurut Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, performa ekonomi Indonesia pada 2024 mengindikasikan sinyal bahwa perekonomian Indonesia kesulitan untuk tetap mencapai pertumbuhan 5 persen.
Dalam beberapa tahun terakhir, mesin pertumbuhan struktural ekonomi Indonesia cenderung melemah, yang ditunjukkan oleh penurunan daya beli, menyusutnya jumlah populasi kelas menengah, dan melemahnya produktivitas sektoral secara persisten.
Pada 2024, ekonomi RI memang masih tumbuh di atas 5 persen, antara lain ditopang oleh faktor musiman, seperti momentum Ramadhan dan Idul Fitri, serta libur akhir tahun. Namun, terjadi indikasi perubahan pola pengeluaran konsumen untuk aktivitas rekreasi selama periode libur akhir tahun lalu.
Biasanya, kenaikan aktivitas ekonomi secara musiman pada triwulan terakhir setiap tahunnya memiliki karakteristik berupa kenaikan pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makanan minuman.
”Akan tetapi, pada 2024, kedua sektor tersebut justru mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan-IV 2024. Fenomena ini mengindikasikan semakin kuatnya tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat,” ujar Riefky, Sabtu (3/5/2025).

Indonesia harus tumbuh pada level 5,4 persen secara tahunan selama 20 tahun ke depan jika ingin menjadi negara berpenghasilan tinggi.
Tren itu turut diperkuat oleh hasil survei Mandiri Spending Index yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung melakukan perjalanan dengan jarak yang lebih dekat untuk berlibur pada akhir 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
BPS mencatat, pada triwulan IV-2024, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 7,64 persen secara tahunan atau melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (8,64 persen). Sektor akomodasi dan penyediaan makanan minuman ikut tumbuh melambat, dari 8,3 persen pada triwulan-III 2024 menjadi 6,6 persen pada triwulan-IV 2024.
Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh sebesar 4,98 persen secara tahunan pada triwulan-IV 2024. Meski sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan itu masih berada di bawah pertumbuhan PDB secara keseluruhan.
2. Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat di bawah 5 persen?
Perlambatan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh faktor global maupun domestik. Tekanan dari eksternal terutama datang dari eskalasi perang dagang yang dipicu oleh pengenaan tarif bea masuk impor yang tinggi dari Amerika Serikat akhir-akhir ini.
Perkembangan ini berisiko negatif bagi Indonesia, khususnya terhadap arus investasi, perdagangan, inflasi impor, depresiasi nilai tukar, tekanan fiskal, serta perlambatan ekonomi secara menyeluruh.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menjelaskan, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI itu mencerminkan ancaman nyata dari gejolak ekonomi global. Ia yakin, tarif Trump akan mengganggu perdagangan global, arus keuangan, hingga memicu ketidakpastian kebijakan.
”Kondisi tersebut dapat melemahkan sentimen pasar dan prospek investasi di seluruh dunia semakin melemah,” ujarnya.
Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI juga berkaitan dengan potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Kenaikan tarif diyakini akan membuat inflasi AS tetap tinggi. Akibatnya, lanjut Andry, kemungkinan besar bank sentral AS, Federal Reserve alias The Fed, baru akan memangkas suku bunganya pada akhir 2025.
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik RI juga menunjukkan tanda-tanda penurunan produktivitas yang semakin nyata di berbagai sektor ekonomi utama. Hal itu membuat pertumbuhan ekonomi RI lebih banyak bergantung pada faktor musiman dan temporer, seperti momentum hari raya, libur sekolah, atau tahun politik.
3. Berapa tingkat pertumbuhan yang harus dipenuhi untuk jadi negara maju pada 2045?
Berdasarkan laporan McKinsey Global Institute bertajuk ”The Enterprising Archipelago: Propelling Indonesia’s Productivity”, Indonesia perlu membangun iklim kondusif yang mendorong pertumbuhan produktivitas. Iklim yang mendukung juga dapat membantu perusahaan besar untuk maju sekaligus berkembang melalui pendalaman modal.
Menurut Senior Fellow McKinsey Global Institute Kevin Russell, produk domestik bruto (PDB) Indonesia harus tumbuh pada level 5,4 persen secara tahunan selama 20 tahun ke depan jika ingin menjadi negara berpenghasilan tinggi dengan pendapatan per kapita 14.000 dollar AS pada 2045.
Produktivitas juga memakinkan peran penting sehingga perlu didorong agar tumbuh 1,6 kali lipat. Sebagai perbandingan, dalam sedekade ini, pertumbuhan ekonomi RI rata-rata hanya 4,29 persen per tahun, sedangkan dalam 20 tahun terakhir tumbuh 4,97 persen.
”Negara lain dengan PDB per kapita yang dapat dibandingkan mencapai status berpendapatan tinggi mereka dalam 15-30 tahun,” kata Russell di Jakarta, Rabu (30/4/2025).
4. Apakah Indonesia masih bisa menjadi negara maju pada 2045?
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai, melihat proyeksi bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,7 persen (atau lebih rendah) pada 2025 dan 2026, mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 merupakan pekerjaan yang sangat menantang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, peluang mencapai ambisi Indonesia Emas 2045 tetap ada walau relatif kecil. Saat ini belum ada tanda-tanda ekonomi Indonesia akan melejit. Entah itu dilihat dari bauran program pemerintah, kualitas kabinet, kualitas pemerintah daerah, kapasitas fiskal, ataupun kondusivitas iklim usaha. Situasi global yang serba tidak menentu membuat keadaan lebih menantang.
Demi memenuhi ambisi Indonesia Emas 2045, pekerjaan rumah yang mendesak dan utama dilakukan adalah memberikan kepastian hukum. Saat ini, Indonesia belum memenuhi aspek ini, bahkan menunjukkan tren pemburukan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, peluang mencapai ambisi Indonesia Emas 2045 tetap ada walau relatif kecil.
”Sisanya memperbaiki kualitas kebijakan, kapasitas dan soliditas kabinet, sustainabilitas fiskal, dan memastikan Indonesia menjadi bagian dari supply chain ekonomi global,” kata Wijayanto.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute of Development for Economics and Finance M Rizal Taufikurahman menilai, setidaknya ada tiga hal yang dapat ditempuh pemerintah untuk mengejar target negara maju pada 2045.
Pertama, reformasi struktural untuk mengatasi isu penghambat pertumbuhan ekonomi, seperti kurangnya investasi di sektor produktif dan minimnya lapangan kerja formal, yang membuat produktivitas ekonomi RI rendah dan daya beli masyarakat menurun.
Kedua, memprioritaskan arah kebijakan untuk membangkitkan lagi sektor manufaktur, pangan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebagai mesin utama ekonomi dan penyedia lapangan kerja terbesar. Ketiga, menyehatkan fiskal sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa tanda-tanda ekonomi Indonesia semakin melemah akhir-akhir ini?
- Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat di bawah 5 persen?
- Berapa tingkat pertumbuhan yang harus dicapai untuk jadi negara maju pada 2045?
- Apakah Indonesia masih bisa menjadi negara maju pada 2045?
Senin (5/5/2025) ini, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan I tahun 2025. Akan tetapi, perkiraan yang muncul sejauh ini cukup pesimistis.
Konsensus ekonom Bloomberg memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di bawah 5 persen pada triwulan I-2025. Nilai tengah pertumbuhan ekonomi yang dihimpun dari total 19 lembaga adalah 4,9 persen secara tahunan.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan angka serupa. Ekonomi RI diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 4,93-4,95 persen pada triwulan I-2025 dan 4,9-5,0 persen sepanjang 2025.
Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini juga memproyeksikan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,65 persen pada 2025. Senada, Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5 persen menjadi 4,7 persen pada 2025.
Berbagai perkiraan itu lebih lambat dari pertumbuhan ekonomi RI yang selama 10 tahun terakhir cenderung stabil di kisaran 5 persen, kecuali saat pandemi Covid-19.
1. Apa tanda-tanda ekonomi Indonesia semakin melemah akhir-akhir ini?
Menurut Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, performa ekonomi Indonesia pada 2024 mengindikasikan sinyal bahwa perekonomian Indonesia kesulitan untuk tetap mencapai pertumbuhan 5 persen.
Dalam beberapa tahun terakhir, mesin pertumbuhan struktural ekonomi Indonesia cenderung melemah, yang ditunjukkan oleh penurunan daya beli, menyusutnya jumlah populasi kelas menengah, dan melemahnya produktivitas sektoral secara persisten.
Pada 2024, ekonomi RI memang masih tumbuh di atas 5 persen, antara lain ditopang oleh faktor musiman, seperti momentum Ramadhan dan Idul Fitri, serta libur akhir tahun. Namun, terjadi indikasi perubahan pola pengeluaran konsumen untuk aktivitas rekreasi selama periode libur akhir tahun lalu.
Biasanya, kenaikan aktivitas ekonomi secara musiman pada triwulan terakhir setiap tahunnya memiliki karakteristik berupa kenaikan pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makanan minuman.
”Akan tetapi, pada 2024, kedua sektor tersebut justru mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan-IV 2024. Fenomena ini mengindikasikan semakin kuatnya tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat,” ujar Riefky, Sabtu (3/5/2025).

Indonesia harus tumbuh pada level 5,4 persen secara tahunan selama 20 tahun ke depan jika ingin menjadi negara berpenghasilan tinggi.
Tren itu turut diperkuat oleh hasil survei Mandiri Spending Index yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung melakukan perjalanan dengan jarak yang lebih dekat untuk berlibur pada akhir 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
BPS mencatat, pada triwulan IV-2024, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 7,64 persen secara tahunan atau melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (8,64 persen). Sektor akomodasi dan penyediaan makanan minuman ikut tumbuh melambat, dari 8,3 persen pada triwulan-III 2024 menjadi 6,6 persen pada triwulan-IV 2024.
Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh sebesar 4,98 persen secara tahunan pada triwulan-IV 2024. Meski sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan itu masih berada di bawah pertumbuhan PDB secara keseluruhan.
2. Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat di bawah 5 persen?
Perlambatan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh faktor global maupun domestik. Tekanan dari eksternal terutama datang dari eskalasi perang dagang yang dipicu oleh pengenaan tarif bea masuk impor yang tinggi dari Amerika Serikat akhir-akhir ini.
Perkembangan ini berisiko negatif bagi Indonesia, khususnya terhadap arus investasi, perdagangan, inflasi impor, depresiasi nilai tukar, tekanan fiskal, serta perlambatan ekonomi secara menyeluruh.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menjelaskan, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI itu mencerminkan ancaman nyata dari gejolak ekonomi global. Ia yakin, tarif Trump akan mengganggu perdagangan global, arus keuangan, hingga memicu ketidakpastian kebijakan.
”Kondisi tersebut dapat melemahkan sentimen pasar dan prospek investasi di seluruh dunia semakin melemah,” ujarnya.
Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI juga berkaitan dengan potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Kenaikan tarif diyakini akan membuat inflasi AS tetap tinggi. Akibatnya, lanjut Andry, kemungkinan besar bank sentral AS, Federal Reserve alias The Fed, baru akan memangkas suku bunganya pada akhir 2025.
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik RI juga menunjukkan tanda-tanda penurunan produktivitas yang semakin nyata di berbagai sektor ekonomi utama. Hal itu membuat pertumbuhan ekonomi RI lebih banyak bergantung pada faktor musiman dan temporer, seperti momentum hari raya, libur sekolah, atau tahun politik.
3. Berapa tingkat pertumbuhan yang harus dipenuhi untuk jadi negara maju pada 2045?
Berdasarkan laporan McKinsey Global Institute bertajuk ”The Enterprising Archipelago: Propelling Indonesia’s Productivity”, Indonesia perlu membangun iklim kondusif yang mendorong pertumbuhan produktivitas. Iklim yang mendukung juga dapat membantu perusahaan besar untuk maju sekaligus berkembang melalui pendalaman modal.
Menurut Senior Fellow McKinsey Global Institute Kevin Russell, produk domestik bruto (PDB) Indonesia harus tumbuh pada level 5,4 persen secara tahunan selama 20 tahun ke depan jika ingin menjadi negara berpenghasilan tinggi dengan pendapatan per kapita 14.000 dollar AS pada 2045.
Produktivitas juga memakinkan peran penting sehingga perlu didorong agar tumbuh 1,6 kali lipat. Sebagai perbandingan, dalam sedekade ini, pertumbuhan ekonomi RI rata-rata hanya 4,29 persen per tahun, sedangkan dalam 20 tahun terakhir tumbuh 4,97 persen.
”Negara lain dengan PDB per kapita yang dapat dibandingkan mencapai status berpendapatan tinggi mereka dalam 15-30 tahun,” kata Russell di Jakarta, Rabu (30/4/2025).
4. Apakah Indonesia masih bisa menjadi negara maju pada 2045?
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai, melihat proyeksi bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,7 persen (atau lebih rendah) pada 2025 dan 2026, mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 merupakan pekerjaan yang sangat menantang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, peluang mencapai ambisi Indonesia Emas 2045 tetap ada walau relatif kecil. Saat ini belum ada tanda-tanda ekonomi Indonesia akan melejit. Entah itu dilihat dari bauran program pemerintah, kualitas kabinet, kualitas pemerintah daerah, kapasitas fiskal, ataupun kondusivitas iklim usaha. Situasi global yang serba tidak menentu membuat keadaan lebih menantang.
Demi memenuhi ambisi Indonesia Emas 2045, pekerjaan rumah yang mendesak dan utama dilakukan adalah memberikan kepastian hukum. Saat ini, Indonesia belum memenuhi aspek ini, bahkan menunjukkan tren pemburukan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, peluang mencapai ambisi Indonesia Emas 2045 tetap ada walau relatif kecil.
”Sisanya memperbaiki kualitas kebijakan, kapasitas dan soliditas kabinet, sustainabilitas fiskal, dan memastikan Indonesia menjadi bagian dari supply chain ekonomi global,” kata Wijayanto.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute of Development for Economics and Finance M Rizal Taufikurahman menilai, setidaknya ada tiga hal yang dapat ditempuh pemerintah untuk mengejar target negara maju pada 2045.
Pertama, reformasi struktural untuk mengatasi isu penghambat pertumbuhan ekonomi, seperti kurangnya investasi di sektor produktif dan minimnya lapangan kerja formal, yang membuat produktivitas ekonomi RI rendah dan daya beli masyarakat menurun.
Kedua, memprioritaskan arah kebijakan untuk membangkitkan lagi sektor manufaktur, pangan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebagai mesin utama ekonomi dan penyedia lapangan kerja terbesar. Ketiga, menyehatkan fiskal sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi.