Iran menuding delegasi AS, yang dipimpin Wapres JD Vance, meminta tuntutan-tuntutan tak masuk akal. Vance menyebut Iran tak mau menerima persyaratan-persyaratan AS.
12 Apr 2026 09:22 WIB · Internasional
AP/Anjum Naveed
Catatan Editor:
Artikel ini telah diperbarui dari versi awal, berdasarkan perkembangan laporan dari Islamabad, Pakistan.
________
ISLAMABAD, MINGGU — Perundingan bersejarah antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Delegasi AS, yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance, meninggalkan Pakistan, Minggu (12/4/2026) pagi.
Perundingan berlangsung sekitar 21 jam. Televisi Pemerintah Iran, IRIB, menyebut kebuntuan mencapai kesepakatan dalam perundingan disebabkan ”tuntutan-tuntutan yang tidak masuk akal” oleh AS untuk menggagalkan kesepakatan mengakhiri perang di Timur Tengah.
”Delegasi Iran berunding terus-menerus dan intensif selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran; meski sudah ada berbagai inisiatif dari delegasi Iran, tuntutan-tuntutan yang tidak masuk akal dari kubu Amerika (Serikat) menghambat kemajuan perundingan. Perundingan telah berakhir,” sebut IRIB melalui Telegram.
Adapun Vance menyebut hal-hal yang tidak memuaskan dalam perundingan. Ia mengatakan, Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan-persyaratan yang diminta AS, termasuk persyaratan agar Iran tidak membangun senjata nuklir.
”Fakta sederhananya, kami butuh memperoleh komitmen afirmatif bahwa mereka tidak mengupayakan (pembuatan) senjata nuklir, dan mereka tidak akan membangun peralatan-peralatan yang memungkinan mereka memperoleh senjata nuklir dalam waktu cepat,” kata Vance dalam konferensi pers.
”Itu target inti Presiden Amerika Serikat. Dan itulah yang ingin kami capai melalui perundingan ini,” lanjut Vance.
”Kabar buruk bahwa kita tidak bisa mencapai kesepakatan, dan saya pikir, kabar ini lebih buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat,” kata Vance. ”Jadi, kami pulang ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami sudah memperjelas garis-garis merah kami.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/2eb9bac656677b8d499f1192dda9e156-PAKISTAN_US_WAR_IRAN_ISRAEL_137463910.jpg)
Vance mengaku, selama perundingan berlangsung, ia berbicara setidaknya enam kali dengan Trump serta mengontak Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Laksamana Brad Cooper, Panglima Komando Tengah (Centcom) AS.
Aneka isu menjadi ganjalan perundingan langsung AS-Iran yang digelar pertama kali sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979, antara lain soal Selat Hormuz dan serangan Israel di Lebanon. Saat para perunding utama mengambil jeda sejenak, tim teknis dari kedua negara masih terus berunding.
Menurut Iran, keberhasilan perundingan perdamaian itu akan bergantung pada kesediaan AS menghindari ”tuntutan berlebihan” dan ”permintaan yang melanggar hukum”.
”Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, menahan diri dari tuntutan berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum, dan penerimaan hak dan kepentingan sah Iran,” tulis Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei di X.
Ia menambahkan, delegasi Iran-AS telah membahas berbagai isu, termasuk Selat Hormuz, program nuklir Iran, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, dan akhir sepenuhnya dari agresi terhadap Iran. ”Iran bertekad menggunakan segala cara, termasuk diplomasi, untuk mengamankan kepentingan nasional dan melindungi kepentingan negara,” lanjut Baqaei.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/ad4fd791c49f2184a72050af67900cf9-wires_photo_2026_04_12T080149.727.jpg)
Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf bersama Menteri Luar Negeri Abbas Aragchi. Selain Vance, delegasi AS mencakup Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Khusner. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersama Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Asim Munir menjadi penengah dan hadir dalam ruang perundingan.
Tuntutan utama Iran adalah penghentian serangan secara permanen, termasuk di Lebanon; pencairan aset Iran yang dibekukan AS; ganti rugi korban perang (war reparation); serta pengaturan lalu lintas Selat Hormuz di bawah kendali Iran dan Oman.
Sebelum sepakat hadir dalam perundingan di Islamabad, AS mengajukan 15 tuntutan kepada Iran. AS meminta Iran melanjutkan pelucutan total program nuklir, menyerahkan cadangan uranium, dan mengizinkan lagi pemeriksaan oleh IAEA tanpa batas. AS turut menuntut Iran melucuti program rudal balistik yang bisa menjangkau ke luar perbatasan Iran.
Di samping itu, Washington menghendaki Teheran berhenti mengirim uang dan senjata kepada kelompok pejuang di kawasan, mengakui Israel, serta membuka lagi Selat Hormuz. Sebagai balasan, Washington dapat mencabut sanksi dan mendukung program nuklir sipil Iran. Pembekuan aset Iran senilai ratusan miliar dolar AS di beberapa negara akan dibatalkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/28dff66f6abd8fd766e9062c07529e52-wires_photo_2026_04_12T080112.400.jpg)
The Guardian melaporkan, putaran pertama perundingan berupa penyampaian tuntutan para pihak yang berlangsung selama dua jam. Pertemuan putaran kedua membahas masalah teknis. Sesudah itu diadakan jeda makan malam.
Kantor berita Reuters mengutip media Iran melaporkan, AS bersedia mencairkan dana Iran yang dibekukan karena embargo ekonomi AS dan Barat terhadap Iran. Namun, belum ada keterangan resmi disampaikan AS atas kabar tersebut.
Di Washington, Trump menyatakan tidak peduli apa pun hasil perundingan yang sedang berlangsung. Trump mengklaim AS menang mutlak dalam agresi yang dilancarkan bersama Israel dan membunuh banyak warga sipil serta ratusan anak-anak di Iran.
Sejak Revolusi Islam di Iran pada 1979, kontak langsung AS-Iran yang paling erat terjadi pada 2013 ketika Presiden Barack Obama menghubungi Presiden terpilih Hassan Rouhani untuk membahas program nuklir Iran. Kala itu Menlu AS John Kerry dan Menlu Mohammad Javad Zarif kemudian bertemu selama negosiasi menuju kesepakatan nuklir Iran tahun 2015. Proses itu berlangsung lebih dari setahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/6717bf78351533840ed24f3f6b1eb250-Pakistan_US_Iran.jpeg)
Iran sudah dua kali diserang AS-Israel saat mengadakan perundingan terkait program nuklir. Pada Juni 2025, Iran diserang mendadak ketika perundingan dengan AS sedang berlangsung. Tahun ini, seusai perundingan di Oman, tiba-tiba AS-Israel menyerang Iran.
Perang di Iran telah menewaskan sedikitnya 3.000 orang di Iran, 2.020 orang di Lebanon, 23 orang di Israel, dan lebih dari puluhan orang di negara-negara Teluk Arab. Kerusakan infrastruktur juga melanda negara-negara itu. Blokade Iran atas Selat Hormuz sebagian besar telah memutus akses Teluk Persia serta ekspor minyak dan gas dari ekonomi global sehingga harga energi melonjak.
Pertaruhan dalam perundingan langsung AS-Iran di Pakistan sangat tinggi. Mencerminkan situasi itu, sejumlah pejabat kawasan yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan, para pejabat China, Mesir, Arab Saudi, dan Qatar turut berada di Islamabad untuk memfasilitasi perundingan secara tidak langsung.
Di Teheran, warga menuturkan, mereka skeptis, tetapi tetap berharap terhadap perundingan di Pakistan. ”Perdamaian saja tidak cukup untuk negara kami karena kami telah dihantam sangat keras, ada kerugian besar,” kata Amir Razzai Far (62), warga Teheran.
Di Vatikan, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV, Sabtu, melontarkan pernyataan paling keras sejauh ini. Ia mengecam ”khayalan kemahakuasaan” yang memicu perang AS-Israel terhadap Iran. Paus menuntut para pemimpin politik menghentikan perang dan bernegosiasi untuk perdamaian.
”Cukup sudah penyembahan diri dan uang! Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang!” kata Paus. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik W, Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji