Pesta Bayern Muenchen, Panggung Resiliensi Auckland City

Auckland City, tim amatir di Piala Dunia Antarklub, jadi sorotan di tengah pesta 10 gol Bayern Muenchen. Timnya kelas pekerja berdiri tegak meski kalah telak.

16 Jun 2025 08:27 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Bayern Muenchen dan Auckland City ibarat bumi dan langit. Dari beragam aspek, mereka terpisah jarak yang jauh. Status, kemampuan, dan nilai skuad menandai disparitas itu. Maka, ketika Bayern menang atas Auckland City hingga dua digit, 10-0, itu seperti sesuatu yang tak terhindarkan.

Bermain di laga pembuka Grup C Piala Dunia Antarklub 2025, di Stadion TQL, Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, Minggu (15/6/2025), Bayern menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Lewat berondongan gol, Harry Kane dan kawan-kawan memegang rekor kemenangan terbesar dalam sejarah ajang tersebut. Mereka seolah tanpa ampun.

Maklum, Bayern datang ke AS dengan target utama meraih gelar. Setiap kemenangan akan mendekatkan ”Die Roten”, julukan Bayern, kepada tujuan yang bakal memberi mereka kucuran dana sampai 125 juta dollar AS.

Thomas Muller, yang menyumbang dua gol (45’, 89’) untuk menciptakan rekor 250 gol bersama Bayern, mengatakan, timnya terus mengejar setiap lesakan ke gawang Auckland City. Ketika berhasil mencetak gol, mereka langsung menginginkan gol berikutnya.

CWC Bayern Munich Auckland City Soccer

Selain Muller, Kingsley Coman (6’, 21’) dan Michel Olise (20’, 45+3’) juga mencetak dwigol. Sacha Boey (18’) menyumbang satu gol dan Jamal Musiala mencetak hattrick (67’, 73’-penalti, 84’).

”Kami tidak mengambil risiko bahwa sesuatu bisa terjadi,” ujar Muller, dikutip dari laman resmi klub.

”Kami bermain bagus, bermain serius, bermain dengan intensitas,” ucapnya lagi.

Bayern tidak mengendurkan serangan sedetik pun hingga laga berakhir. Memang tidak ada banyak ekspektasi untuk Auckland City, tetapi pertemuan itu terasa kejam.

Kedua tim seharusnya tidak bertanding satu sama lain. Apalagi, pertemuan terjadi di turnamen yang disebut-sebut sebagai ajang pertemuan tim-tim terbaik dunia.

APTOPIX CWC Bayern Munich Auckland City Soccer

Yang terjadi di lapangan kemudian seperti mempertajam disparitas kedua tim. Dalam pertemuan kompetitif pertama dengan Auckland City, atau klub mana pun dari Selandia Baru ini, Bayern adalah tim raksasa yang berpesta. Mereka menunjukkan dominasi yang tak tertandingi sebagaimana sebuah tim besar.

Adapun Auckland City adalah tim ”kecil” yang menjadi satu-satunya tim amatir di Piala Dunia Antarklub 2025, menunjukkan apa yang selama ini selalu mereka lakukan: resiliensi. Klub ini, para pemainnya, adalah orang-orang yang terbiasa dengan beragam situasi tidak menyenangkan, tetapi selalu bisa bertahan dan melewatinya.

Auckland City merupakan klubnya kelas pekerja. Semua pemain yang memperkuat klub kontra Bayern memiliki pekerjaan penuh waktu dan harus mengambil cuti tahunan hanya untuk melakukan perjalanan ini.

Beberapa pemain bahkan mengambil cuti tanpa gaji. Sementara itu, beberapa pemain inti tidak bisa mendapatkan waktu libur sama sekali, yang berarti mereka tidak berangkat ke AS.

Angus Kilkolly, misalnya. Penyerang tengah Auckland City yang pekerja keras dan intuitif ini adalah juga seorang manajer regional untuk sebuah perusahaan perkakas. Semua cuti tahunannya digunakan untuk perjalanan sepak bola.

Gelandang Bayern Muenchen, Michael Olise (tengah), berebut bola dengan bek Auckland City, Nathan Lobo (kanan), pada laga penyisihan grup Piala Dunia Antarklub di Cincinnati, Minggu (15/6/2025).

Tahun ini, Kilkolly telah bermain di Kepulauan Solomon, dan harus mengambil cuti tanpa gaji untuk menutupi biaya tinggal mereka di AS. Namun, itulah kehidupan Kilkolly dengan sepak bola telah menjadi bagian tak terpisahkan.

Menghadapi Bayern, Kilkolly dan kawan-kawan menolak menyerah, seperti halnya pada kehidupan yang sering kali terkesan brutal. Dia, yang masuk pada menit ke-71 menggantikan Dylan Manickum, bahkan mampu menciptakan serangan balik yang menjanjikan hanya dalam 9 menit setelah bermain.

Kilkolly berlari di sayap kiri tanpa ada dukungan dari pemain lain dan dengan para pemain bertahan Bayern yang mengepungnya dari segala penjuru. Tendangannya tak berbuah gol, tetapi memaksa kiper Manuel Neuer melakukan penyelamatan dengan cara menjatuhkan diri.

Kepada The Athletic, Kilkolly bercerita, tiga tahun lalu sedang berada di tengah sesi latihan ketika menerima telepon yang memberi tahu bahwa saudaranya telah bunuh diri. Tahun lalu, ayahnya meninggal pada April setelah didiagnosis menderita kanker dua bulan sebelumnya.

Di tengah keterkejutan dan kesedihan yang berkepanjangan, sepak bola telah menyediakan tempat berlindung bagi pemain berusia 29 tahun ini. ”Saya berasal dari daerah yang mengharuskan Anda tangguh, dan Anda diajarkan sejak dini bahwa hidup tidak selalu mudah,” ucap Kilkolly yang menciptakan satu-satunya tendangan tepat sasaran Auckland City melawan Bayern.

APTOPIX CWC Bayern Munich Auckland City Soccer

”Namun, ada kalanya hidup terasa sulit dan sepak bola menjadi penyelamat. Mampu berlatih dan bermain begitu banyak telah memberi saya tempat yang menyenangkan, dan selama dua atau tiga jam, sepak bola telah memberi saya tempat di mana saya bisa melupakan segalanya,” ujarnya.

Selain Kilkolly, kiper Conor Tracey juga menunjukkan resiliensi itu. Tracey, meski kebobolan hingga dua digit gol, melakukan berkali-kali penyelamatan gemilang. Dia tampak hilang fokus menjelang akhir laga dengan mengoper bola ke arah Jamal Musiala yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencetak gol ketiganya.

Bagi Tracey yang bekerja lebih dari 40 jam seminggu di gudang farmasi hewan, bermain di Piala Dunia Antarklub menjadi puncak kariernya. ”Ada beberapa kali saya berpikir untuk berhenti bermain sepak bola, dan banyak pemain yang melakukannya selama bertahun-tahun karena terlalu sibuk dengan keluarga dan karier. Namun, Piala Dunia Antarklub adalah tujuan yang layak diperjuangkan dengan kerja keras,” katanya kepada ABC.

Di sisi lain, Tracey adalah gambaran nyata jauhnya perbedaan antara Auckland City dan Bayern. Pemain Auckland City bukanlah pesepak bola profesional, tidak seperti pemain Bayern.

APTOPIX CWC Bayern Munich Auckland City Soccer

Tracey menghabiskan gaji dari sepak bolanya, yang dibatasi hingga 150 dollar AS seminggu untuk pengeluaran, untuk bensin perjalanan dari tempat kerja ke tempat latihan sering kali memakan waktu hingga dua jam. Sementara itu, Manuel Neuer dilaporkan mendapatkan 700.000  dollar seminggu di Bayern.

Bukan itu saja perbedaan mencolok antara Bayern dan Auckland City. Menurut Transfermrkt, Auckland City memiliki total nilai skuad sebesar 4,58 juta euro. Jumlah itu hanya sekitar 0,5 persen dari nilai skuad Bayern yang mencapai 903,50 juta euro.

Perbedaan nilai skuad yang hampir mencapai 900 juta euro itu tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan tim lain di Grup C. Benfica memiliki nilai skuad 363,5 juta euro dan Boca Junior punya nilai skuad 86,43 juta euro.

Bayern memang unggul segala-galanya. Namun, ”The Navy Blues”, julukan Auckland City, juga tidak datang ke AS untuk wisata.

Piala Dunia Antarklub 2025 adalah kali ke-13 mereka lolos pada ajang tersebut dan kali ke-12 mereka ikut serta (mereka tidak dapat hadir selama pandemi). Mereka bisa tampil pada turnamen ini karena menjadi juara Liga Champions Osenia.

Kendati menjadi tim yang selalu menjadi kurang diperhitungkan di Piala Dunia Antarklub, Auckland City mampu meraih medali perunggu pada edisi 2014. Mereka mengalahkan Cruz Azul dari LigaMX Meksiko melalui adu penalti dalam perebutan tempat ketiga.

CWC Bayern Munich Auckland City Soccer

Auckland City, tim tersukses dalam sejarah sepak bola Selandia Baru dan juga membanggakan rekor 13 gelar Liga Champions Oseania, datang ke turnamen dengan momentum yang baik dari empat kemenangan berturut-turut dalam aksi domestik.

Meskipun akhirnya mengalami kekalahan telak dari Bayen, Pelatih Auckland Ivan Vicelich juga mengaku bangga dengan usaha para pemainnya. ”Kami bangga dengan para pemain. Merupakan mimpi bagi pemain amatir bermain di lingkungan seperti ini,” katanya.

”Anda tidak bisa bersembunyi di lapangan. (Saya) sangat bangga, banyak pemain yang memberikan usaha yang baik dan bekerja sangat keras,” tutur Vicelich.

Di tengah pesta gol Bayern, Auckland City menjadi sorotan karena berdiri tegak dan tampak menikmati pertandingan. Mereka mewakili semangat yang tak bisa dibeli dan resiliensi yang tak bisa diukur angka. Impian mereka tetap hidup, bahkan ketika kehidupan sendiri kerap brutal dan penuh ketimpangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari