Tim putra dan putri Indonesia meraih hasil semifinal dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Asia Beregu. Banyak hal harus dibenahi untuk Kejuaraan Piala Thomas dan Uber.
08 Feb 2026 21:11 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
Indonesia tampaknya harus berpikir realistis dalam membuat target untuk kejuaraan Piala Thomas dan Uber 2026. Performa atlet dalam Kejuaraan Bulu Tangkis Asia Beregu di Qingdao, China, memperlihatkan banyak celah yang harus ditutup dari tim ”Merah Putih”.
Dari Kejuaraan Asia yang belangsung 3-8 Februari 2026, tim putra dan putri Indonesia tersisih di semifinal, sama seperti tim putra Korea Selatan dan tim putri Taiwan. Gelar juara beregu putri didapat Korea Selatan setelah mengalahkan China 3-0 dalam final yang digelar Minggu (8/2/2026). China juga kalah dalam final beregu putra. Tuan rumah dikalahkan Jepang 0-3.
Hasil dari kejuaraan ini meloloskan tim putri Indonesia, Korea Selatan, dan Taiwan serta Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan (putra) ke Piala Thomas dan Uber yang akan berlangsung di Horsens, Denmark, 24 April-3 Mei. Tim-tim tersebut lolos melalui jalur empat tim terbaik.
China juga menjadi bagian dari empat tim terbaik Asia, tetapi mereka lolos dengan status juara bertahan di Piala Thomas dan Piala Uber. Ditambah dengan tim yang lolos dari kualifikasi di zona Eropa, Afrika, Pan-Amerika, dan Oseania, tuan rumah, serta tim-tim dengan peringkat dunia terbaik, persaingan Piala Thomas dan Uber akan diikuti 16 tim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/08/1bb4dddb10a3dd4afeec4816ac0541ed-WhatsApp_Image_2026_02_08_at_14.52.03.jpeg)
Indonesia memang tak menurunkan kekuatan penuh di Qingdao dengan tujuan memberi pengalaman pada atlet muda sekaligus sebagai ajang penilaian bagi mereka untuk Piala Thomas dan Uber yang lebih prestisius. Hal serupa dilakukan hampir semua tim.
Hanya tim putri Korea Selatan yang bisa dikatakan menurunkan kekuatan penuh dengan adanya pemain nomor satu dunia, An Se-young, serta ganda putri ranking ketiga dan kelima dunia. Namun, mereka pun kerap mengubah formasi ganda dari pasangan sebenarnya.
Di tim Indonesia, barisan pemain putri tak diperkuat dua tunggal terbaik, Putri Kusuma Wardani dan Gregoria Mariska Tunjung. Empat nama yang dibawa ke Qingdao adalah ”adik-adik” Putri dan Gregoria, yaitu Thalita Ramadhani Wiryawan, Mutiara Ayu Puspitasari, Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, dan Ester Nurumi Tri Wardoyo.
Dari penampilan selama di Qingdao, PP PBSI harus memilih di antara empat pemain tersebut untuk melengkapi kekuatan tunggal putri meski rentang performa dan prestasi mereka jauh di bawah Putri dan Gregoria.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/fd96b0677ab9762e404160017311286a-WhatsApp_Image_2026_02_07_at_11.50.47.jpeg)
Menghadapi sesama pemain pelapis negara lain di Kejuaraan Asia, Thalita dan kawan-kawan pada umumnya kesulitan untuk menang meski bisa memberi perlawanan ketat pada pertandingan tertentu.
Saat melawan tunggal putri nomor tiga Korea Selatan, Kim Ga-eun, pada semifinal, Thalita hanya bisa mendapat sembilan poin dengan skor 5-21, 4-21. Mutiara juga kesulitan ketika berhadapan dengan Hina Akechi (Jepang) hingga kalah 2-21 9-21.
Catatan positif dengan indikator hasil ada pada Dhinda dan Ester. Dhinda selalu menang dalam tiga pertandingan, sementara Ester dalam dua pertandingan. Kejuaraan Asia ini pun menjadi ”comeback” Ester sejak Mei 2025 karena cedera kaki kanan.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Eng Hian menyebut, performa baik Dhinda dan Ester bisa menjadi pertimbangan memilih atlet untuk Piala Uber.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/06/ba692d60d176391a06db95cebb5c5334-WhatsApp_Image_2026_02_06_at_14.41.18.jpeg)
Berbeda dengan tunggal putri, ganda putri diperkuat pasangan-pasangan terbaik meski mereka belum setahun berpasangan. Berduet sejak September 2025, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum meraih hasil terbaik gelar juara di Australia Terbuka, November 2025.
Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari menjadi finalis Australia Terbuka, meraih medali perak SEA Games Thailand 2025, dan perempat finalis Malaysia Terbuka Super 1000 2026. Adapun Sifi Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi, yang berpasangan sejak Januari 2026, menjuarai Thailand Masters, sepekan sebelum Kejuaraan Asia.
Ketiga pasangan itu menyumbangkan lima kemenangan dari delapan pertandingan sejak babak pertama hingga semifinal. Ini bisa menjadi bekal untuk Piala Uber dengan lawan yang lebih sulit.
Tim putra memiliki pekerjaan rumah yang tak kalah banyak. Eng Hian pun menyebut bahwa hasil semifinal di bawah target yang ditetapkan, yaitu final. ”Penampilan beberapa pemain belum sesuai harapan. Tentunya ini akan menjadi evaluasi untuk mendongkrak performa beregu putra jelang Piala Thomas,” kata Eng Hian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/df45aaa6c69fc77d4a798b147afa6c3f-WhatsApp_Image_2026_02_07_at_18.58.20.jpeg)
Meski demikian, apresiasi pantas disampaikan pada tiga tunggal putra muda, yaitu Mohammad Zaki Ubaidillah, Prahdiska Bagas Shujiwo, dan Richie Duta Ricardo. Mereka menjadi tulang punggung sektor tunggal meskipun Anthony Sinisuka Ginting turut tampil dan menjadi kapten tim putra. Adapun dua tunggal putra terbaik Indonesia, Jonatan Christie dan Alwi Farhan, tidak diikutsertakan dalam ajang dua tahunan pada tahun genap ini.
Melalui Kejuaraan Asia, Zaki, Prahdiska, dan Richie mendapat pengalaman dalam persaingan beregu di kategor senior. Ini bisa menjadi modal seandainya di antara mereka mendapat kesempatan menjad anggota Tim Piala Thomas.
Untuk alasan strategi, Anthony, yang turut mengantarkan Indonesia menjuarai Piala Thomas 2020, bisa saja menjadi pilihan lain, apalagi dia akan memiliki peran sebagai tunggal ketiga. Namun, Anthony masih kesulitan untuk kembali ke performa terbaik seperti sebelum didera cedera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/06/68d0b4cf51031be6b707990113ee1463-WhatsApp_Image_2026_02_06_at_17.40.30.jpeg)
Pada 2025, Anthony absen dari turnamen selama enam bulan karena cedera bahu kanan. Januari 2026, dia mengalami cedera pinggang hingga harus mundur sebelum menjalani babak kedua Indonesia Masters.
Ketika tunggal putra punya beberapa pilihan, situasi pelik ada pada ganda putra, nomor yang biasanya menjadi ”garansi” poin bagi Indonesia di Piala Thomas. Selain Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, pasangan lain kesulitan menembus persaingan level atas, termasuk Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana yang seangkatan dengan Fikri dan berpasangan sejak Agustus 2024.
Situasi dalam turnamen BWF World Tour itu terlihat pula di Qingdao. Ganda putra hanya memenangi tiga dari delapan pertandingan sejak babak penyisihan grup hingga semifinal. Dua ganda putra bahkan selalu kalah pada perempat final dan semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/06/ff4c9fd2674869393dae8a4df211ee10-WhatsApp_Image_2026_02_06_at_21.34.54.jpeg)
Leo/Bagas tak punya pola main yang jelas sehingga sering kali terlihat kebingungan saat berhadapan dengan Malaysia di perempat final. Leo pun dipasangkan dengan Muhammad Rian Ardianto melawan Jepang di semifinal, tetapi tetap kalah. Semangat pasangan muda, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, yang selalu diperlihatkan dengan penampilan ekspresif pun belum cukup untuk menyumbang kemenangan bagi tim. Mereka menang sekali dari tiga pertandingan.
Jika kondisi ini tak berubah, ganda putra Indonesia hanya bisa mengandalkan Fajar/Fikri dan Sabar/Reza untuk mengamankan dua poin dari ganda putra. Nomor ini tak punya cadangan yang mumpuni untuk bersaing di Piala Thomas.
Maka, Indonesia pun harus realistis menetapkan target untuk Piala Thomas dan Uber. Tentu saja, sambil berusaha menutup celah yang terlihat dari Kejuaraan Asia.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar Alexey