Setelah berencana melipatgandakan populasi permukiman, Israel memperluas wilayah pendudukan hingga zona demilitarisasi di Dataran Tinggi Golan.
19 Des 2024 06:30 WIB · Internasional
Sejak didirikan pada 1948, Israel tidak pernah memiliki batas wilayah yang diakui sepenuhnya. Di sepanjang sejarah, batas wilayah Israel dengan negara-negara Arab tetangga terus bergeser. Penyebab pergeseran batas wilayah Israel itu bisa karena perang, aneksasi, gencatan senjata, dan perjanjian damai.
Kini, tergulingnya Presiden Suriah Bashar al-Assad telah menciptakan situasi baru bagi Israel untuk menetapkan sendiri batas wilayahnya.
Hanya dalam hitungan menit setelah tersiar kabar pemerintahan Assad tumbang oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata di bawah Hayat Tahrir al-Sham, 8 Desember 2024, Israel mengerahkan tank-tanknya ke wilayah Suriah. Angkatan bersenjata Israel awalnya berkilah mengamankan zona penyangga di antara Israel dan Suriah.
Kemudian, Tel Aviv menyatakan, mereka hanya menempatkan pasukan sementara di zona tersebut. Kini, mereka menegaskan akan tetap berada di wilayah itu tanpa batas waktu. Tindakan Israel ini semakin mengaburkan batas wilayah dengan negara-negara tetangganya di utara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasuki Gunung Hermon, puncak tertinggi Dataran Tinggi Golan di wilayah Suriah yang dianeksasi Israel, Selasa (17/12/2024). Ia didampingi Menteri Pertahanan Israel Katz, Panglima Angkatan Bersenjata Herzi Halevi (R), dan Direktur Mossad David Barnea.
Dalam kesempatan itu, Netanyahu menyatakan, Israel akan tetap berada di lokasi strategis Gunung Hermon hingga ditemukan kesepakatan lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/fc25addc510c55c656070a075c334e04-dd367eb1a6e14c4791406fe3698a864a_1_44497e387a9e49f3b1d9d0a413a4d6c3.jpg)
Pasukan Israel menduduki Gunung Hermon saat mereka bergerak menguasai zona demiliterisasi antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Di zona demiliterisasi itu seharusnya tidak boleh dimasuki pasukan Israel maupun Suriah.
Hanya pasukan penjaga perdamaian PBB di bawah UNDOF yang boleh beroperasi di zona tersebut. Di puncak Gunung Hermon terdapat pos UNDOF, tempat pasukan penjaga perdamaian PBB memonitor situasi.
Dengan dikuasainya Gunung Hermon oleh pasukan Israel hingga tanpa batas waktu, bisa diperkirakan garis batas wilayah Israel semakin menjorok ke wilayah Suriah. Pekan lalu, Menteri Pertahanan Israel Katz memerintahkan pasukan Israel untuk bersiap tetap berada di Gunung Hermon selama musim dingin.
Dengan dikuasainya Gunung Hermon oleh pasukan Israel hingga tanpa batas waktu, bisa diperkirakan garis batas wilayah Israel semakin menjorok ke wilayah Suriah.
Pada Minggu (15/12/2024), Netanyahu mengumumkan akan melipatgandakan jumlah warganya di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan. Kantor Netanyahu mengungkapkan telah mengalokasikan anggaran lebih dari 40 juta shekel atau 11 juta dollar AS.
Netanyahu mendatangi lokasi tersebut untuk memberi pengarahan operasional dengan komandan militer dan pejabat keamanan.
”Kami mengadakan penilaian ini untuk memutuskan penempatan Pasukan Pertahanan Israel di tempat penting ini hingga ditemukan kesepakatan lain yang menjamin keamanan Israel," kata Netanyahu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/49c9fd2a06bf3f8ef30df52ba60194d8-AFP_36QL9BN.jpg)
Langkah Israel menduduki zona penyangga itu telah dikritik sebagai pelanggaran perjanjian internasional oleh sejumlah negara. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan agar pasukan ditarik. Namun, Israel bertahan di sana.
Apa pun kata dunia, Israel tutup mata dan telinga. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah mendesak semua negara yang berkepentingan di Suriah untuk memastikan tidak memicu konflik tambahan.
Pemerintah transisi Suriah juga telah mengajukan keluhan kepada Dewan Keamanan PBB tentang Israel yang maju ke wilayah Suriah.
Pemimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Ahmad al-Sharaa telah secara terbuka mengecam operasi Israel. Tetapi, lanjut dia, Suriah tidak ingin mencari konflik militer dengan Israel karena ingin fokus membangun setelah perang.
Pakar Suriah di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Carmit Valensi mengatakan, Israel tidak akan mendapatkan banyak keuntungan dengan memprovokasi Sharaa, yang juga dikenal sebagai Abu Mohammed al-Golani.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/18/20c8496e-da53-4ee2-a298-258061ad3cce_png.png)
Batas wilayah Israel terus berubah sejak didirikan pada 1948. Pada 1947, PBB menyetujui rencana untuk membagi Mandat Palestina yang dikuasai Inggris menjadi negara-negara Yahudi dan Arab. Kota Jerusalem yang diperebutkan akan dikelola oleh PBB.
Namun, rencana ini tidak pernah dilaksanakan. Israel mendeklarasikan kemerdekaan pada Mei 1948. Negara-negara Arab tetangga menyatakan perang.
Perang itu berakhir dengan Israel menguasai sekitar 77 persen wilayah tersebut. Jordania menguasai Tepi Barat dan Jerusalem timur, sedangkan Mesir menguasai Jalur Gaza.
Pada perang enam hari tahun 1967, Israel merebut Tepi Barat dan Jerusalem timur dari Jordania serta Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir. Israel juga menduduki Dataran Tinggi Golan dari Suriah.
Kemenangan kilat yang awalnya dirayakan oleh Israel itu kemudian menjadi awal dari konflik selama puluhan tahun yang hingga terus menjadi bara konflik di Timur Tengah hingga hari ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/05/23/20210523-HKT-Israel-Palestina-mumed-01_1621777124_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/df080512c8c3f24a9311f97a9034bd94-Israel_Shifting_Borders_126241690.jpg)
Dengan cepat, Israel pun mencaplok Jerusalem timur. Meskipun Israel tidak pernah secara resmi mencaplok Tepi Barat, secara informal Israel telah menggabungkan sebagian besar wilayah tersebut dengan membangun permukiman yang sekarang dihuni lebih dari 500.000 orang Yahudi Israel.
Komunitas internasional menyatakan Jerusalem timur dan Tepi Barat sebagai wilayah pendudukan. Israel juga membangun permukiman di Sinai, Golan, dan Jalur Gaza.
Pada 1979, perjanjian damai pertama disepakati antara negara Arab, yakni Mesir, dan Israel. Israel mengembalikan Semenanjung Sinai kepada Mesir dan membongkar semua permukiman di sana.
Batas kembali berubah saat Israel mencaplok Dataran Tinggi Golan di 1981. Wilayah pegunungan di perbatasan empat negara (Suriah, Lebanon, Jordania, dan Israel) itu sangat strategis.
Pada 2019, Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengakui kedaulatan Israel di Golan. Padahal, saat itu, seluruh dunia masih menganggap wilayah yang diduduki itu sebagai wilayah Suriah.
Pada 1978, Israel menginvasi Lebanon. Invasi saat itu hanya sebentar. Tetapi pada 1982, Israel kembali memasuki negara tetangganya itu dalam operasi yang berubah menjadi pendudukan selama 18 tahun di Lebanon selatan.
Israel mundur pada 2000 setelah diserang Hizbullah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/8119a4119c52fe93d815c247d81ec138-Israel_Shifting_Borders_126241685.jpg)
Di Gaza, Israel terus berusaha mengukuhkan pendudukannya. Pada 1993, Israel dan Palestina mencapai kesepakatan damai sementara. Kesepakatan itu memberikan otonomi kepada Palestina di Gaza dan sebagian Tepi Barat. Sementara permukiman Israel dibiarkan tetap utuh.
Perjanjian tersebut dimaksudkan untuk membuka jalan bagi solusi dua negara. Tetapi, perundingan damai yang berulang itu berakhir gagal.
Pada 2005, Perdana Menteri Israel saat itu, Ariel Sharon, memimpin penarikan pasukan sepihak dari Gaza. Ia juga mencabut semua pasukan dan 21 permukiman dari wilayah tersebut.
Dua tahun kemudian, Hamas menyerbu Gaza dan menggulingkan pemerintahan Otoritas Palestina di sana.
Israel menginvasi Gaza setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan ganas Israel itu masih terus berlangsung di Gaza hingga sekarang.
Para pemimpin Israel belum menetapkan rencana pascaperang. Namun, Israel telah menunjukkan gelagat akan mencaplok zona penyangga di sepanjang perbatasan Gaza dengan kehadiran militernya dalam jangka panjang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/a2253a4a6c70b531135ea8c5b20c0b58-ac09733cb6fa41ec9748dfbc828b160b_0_a104a2dd06334af29df45b8a81b8528e.jpg)
Beberapa kelompok garis keras dalam koalisi pemerintahan Netanyahu telah menyerukan pembangunan kembali permukiman Yahudi di Gaza.
Pada Oktober 2024, pasukan darat Israel menyerbu Lebanon selatan. Hingga sekarang Israel masih bertahan di sana. Berdasarkan gencatan senjata, Israel berjanji untuk menarik diri dari Lebanon pada akhir Januari 2025.
Israel bergerak cepat mengambil keuntungan saat pasukan pemberontak yang dipimpin HTS menggulingkan Assad pada tanggal 8 Desember 2024. Mereka mengirim pasukan ke sisi Suriah dari zona penyangga demiliterisasi.
Israel sekarang mengendalikan zona demiliterisasi tersebut dan menargetkan lebih dalam ke wilayah Suriah.
Menurut pakar Suriah di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Carmit Valensi, pendudukan jangka panjang akan merugikan secara ekonomi bagi tentara Israel yang sudah lelah perang. ”Mungkin butuh waktu bagi Israel untuk menarik diri. Itu tergantung bagaimana keadaan di Suriah,” katanya.
Menurut Valensi, jika Israel melihat munculnya rezim moderat di Suriah seperti yang telah diindikasikan Golani, Israel tak punya alasan mempertahankan pasukan di wilayah tersebut dalam jangka panjang.
Akan tetapi, mana mungkin Israel mendengar pandangan seperti itu. Dikecam komunitas internasional, mereka tutup mata dan telinga.
Sejarah akan mencatat, pencaplokan lebih luas wilayah Dataran Tinggi Golan ini menambah panjang rekam jejak hitam Israel dalam menentukan batas-batas wilayahnya sendiri.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase