Potret kehidupan warga Aghanistan.
01 Jul 2025 13:01 WIB · Internasional
Seorang pria paruh baya menyemburkan air dari mulutnya ke arah ayam jago yang dipegangnya. Itu dilakukan untuk mendinginkan seklaigus menyegarkan jagoannya sebelum diturunkan di arena sabung ayam ilegal di pinggiran Kabul, Afghanistan. Si ayam terlihat pasrah menerima semburan air itu.
Di seberangnya, dengan menggunakan jarum suntik, pria lain menyuapi ayamnya dengan makanan yang telah dicampur suplemen dan makanan tambahan lain. Mereka melakukan persiapan sambil menunggu aba-aba dimulainya pertandingan adu jago atau yang dikenal di Indonesia dengan sebutan sabung ayam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/01/3c70b838-cb0d-485f-a2eb-98b6c77e69b8_jpg.jpg)
Tak lama berselang, teriakan terdengar dari wasit yang mengabarkan akan segera dimulainya pertandingan. Puluhan pria dan anak laki-laki segera mendekati lokasi pertandingan, membentuk lingkaran sambil mencari tempat terbaik untuk melihat tontonan sabung ayam.
Dua pemilik ayam mengambil tempat berseberangan, membawa ayam jago yang telah dipasang taji buatan, dan besi runcing disalah satu jari ayam. Keduanya berbarengan melepaskan ayam disambut riuh sorak penonton.
Teriakan ”pukul” dan ”bunuh” terdengar di antara penonton, bercampur dengan suara tubuh ayam yang beradu, berusaha saling melukai lawannya dengan taji dan besi yang terpasang. Bulu-bulu dan debu beterbangan saat kedua ayam bertarung.
Di Afghanistan, sabung ayam dikenal sejak zaman dulu kala. Dahulu, kegiatan ini merupakan hal yang umum di musim dingin, tetapi kini berlangsung sepanjang tahun, di ibu kota Afghanistan ataupun pelosok-pelosok.
Taliban pernah melarang kegiatan ini ketika berkuasa tahun 2001, tetapi adu ayam ilegal ini terus berlangsung secara sembunyi-sembunyi. Di sela-sela pertarungan, tampak beberapa para pria dengan uang di tangan. Mereka bertaruh untuk ayam yang menjadi jagoannya.
Teriakan sedikit mereda kala jeda pertandingan. Saat itu, kedua ayam akan dirawat dan dibersihkan oleh pemilik. Beberapa bagian yang terluka akan diobati untuk persiapan ronde selanjutnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/01/5732fbc1-14b6-4cbd-a419-944e51a9fd9b_jpg.jpg)
Menyemprotkan air dari mulut atau mengelap ayam dengan kain basah dilakukan untuk mendinginkan dan menyegarkan ayam aduannya. Sorak penonton kembali terdengar saat ayam kembali ke arena pertempuran.
Teriakan kekecewaan diselingi sumpah serapah terdengar saat salah satu ayam meninggalkan arena atau tidak bisa melanjutkan pertandingan karena luka yang dideritanya. Penonton meninggalkan kerumunan untuk sekedar merokok atau mengamati ayam yang selanjutnya akan bertarung.
Bagi sebagian warga Afghanistan, sabung ayam bukan sekadar permainan. Ini adalah mata pencaharian, pertaruhan, dan sebuah obsesi. Taruhan dapat membuat keluarga jatuh miskin atau tiba-tiba menjadi kaya. Ibaratnya, orang miskin dapat membeli rumah dengan uang kemenangan mereka dan orang kaya bisa kehilangan segalanya di arena sabung ayam.
Beberapa pemilik memperlakukan ayam mereka lebih baik daripada keluarga mereka sendiri. Mereka rela menghabiskan uang untuk membeli makanan dan obat-obatan khusus untuk ayam aduannya. Bahkan, mereka memberi nama ayam jantan dengan nama pahlawan dan memperlakukan ayamnya dengan penuh kasih sayang.
Terkadang, serunya sabung ayam memicu terjadinya kekerasan di antara penonton ataupun pemilik. Perselisihan ini biasanya terjadi karena unsur uang taruhan. Jika terjadi perselisihan dan tindak kekerasan, para tetua yang dikenal sebagai ”jenggot putih” segera turun tangan meredakan ketegangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/01/640ffa14-6354-46e1-8887-682394112d7e_jpg.jpg)
Di Afghanistan, sebuah negara yang diwarnai konflik, adu ayam tetap menjadi pelarian yang brutal dan menjadi kebanggaan penduduknya karena didorong bukan hanya oleh tradisi, tetapi juga karena kemiskinan, pengangguran, dan keputusasaan.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto