Kata Max Allegri, AC Milan tertidur setelah unggul dua gol. Satu poin kontra Milan modal penting Parma menjauhi zona degradasi.
09 Nov 2025 07:12 WIB · Olahraga
AFP
PARMA, MINGGU — Hanya dalam waktu 25 menit AC Milan sudah unggul dua gol dari Parma pada laga pekan ke-11 Liga Italia, Minggu (9/11/2025) dini hari WIB, di Stadion Ennio Tardini. Namun, tiga poin dan kenyamanan menguasai puncak klasemen pupus akibat dwigol tim tuan rumah.
Milan hanya membawa pulang satu poin dari markas Parma karena laga berakhir dengan skor seri 2-2. Dua poin menguap yang sejatinya bisa membantu Milan memegang kendali perburuan gelar juara.
Satu poin itu memang membantu ”I Rossoneri” berada di peringkat pertama. Namun, anak asuhan Massimiliano Allegri hanya unggul produktivitas gol dari Napoli. Kedua tim memiliki 22 poin.
Kami membuang dua poin. Saya tidak tahu akhir laga seperti apa, tetapi seandainya kami bisa menjaga skor 2-0 pada babak pertama, tentu hasilnya akan lebih baik untuk kami.
Posisi Milan amat mudah tergusur pada Minggu ini. Pasalnya, tiga pesaing, yaitu Napoli (vs Bologna), AS Roma (vs Udinese), serta Inter Milan (vs Lazio), akan menjalani pertandingan pada hari Minggu waktu setempat. Bagi Napoli dan Inter cukup bermain imbang untuk mengembalikan Milan ke peringkat ketiga.
Kondisi itu membuat para pemain Milan kecewa gagal membawa pulang tiga poin dari Ennio Tardini. Rafael Leao, penyerang Milan, sampai menutup wajah dengan jerseinya setelah peluit akhir ditiupkan wasit Marco Di Bello. Gestur serupa ditunjukkan Leao ketika menyaksikan Parma mencetak gol penyama kedudukan lewat sundulan bek Enrico Del Prato pada menit ke-62.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/09/3bb35a419c9262a3de2e90245037bb76-AFP_83H692Z.jpg)
”Kami membuang dua poin. Saya tidak tahu akhir laga seperti apa, tetapi seandainya kami bisa menjaga skor 2-0 pada babak pertama, tentu hasilnya akan lebih baik untuk kami,” ujar Allegri kepada Sky Sport Italia.
Di awal laga, Milan tampil sangat efektif. I Rossoneri ditopang aksi individu gemilang gelandang sayap Alexis Saelemaekers. Pemain berpaspor Belgia itu membawa Milan unggul ketika laga baru berjalan 11 menit.
Melalui skema transisi positif, Saelemaekers mengakhiri periode serangan itu dengan tendangan mendatar ke arah pojok kanan gawang Parma kawalan Zion Suzuki. Sekitar 10 menit berselang, aksi meliuk-liuk Saelemaekers berujung pelanggaran bek Parma, Abdoulaye N’Diaye.
Tanpa ragu wasit menunjuk titik putih, meski penalti untuk Milan itu perlu dikonfirmasi melalui asisten wasit video (VAR). Leao mengeksekusi penalti dengan tenang untuk memperlebar keunggulan Milan di menit ke-25.
Parma seakan tiba dari tempat yang tidak diduga-duga berkat gol memperkecil ketertinggalan dari tembakan melengkung gelandang Adrian Bernabe. Gol itu menumbuhkan kepercayaan diri Parma pada awal babak kedua.
Sebelum mencetak gol penyama skor, Parma mendapatkan peluang terbaik dari sundulan penyerang Mateo Pellegrino. Sayang, sundulan itu membentur mistar gawang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/09/4933ea14a8f43de88851fe84e1d7aaf5-AFP_83H38FH.jpg)
Mendapat entakan peluang terbaik Parma itu belum membuat Milan terbangun. Berawal situasi lemparan ke dalam, bek sayap Parma, Sacha Britschgi, mengirimkan umpan untuk Del Prato yang membuat angka di papan skor menjadi 2-2.
”Terlepas dari gol, kami memasuki babak kedua dengan lambat. Kami membiarkan mereka mendapatkan dua atau tiga peluang besar sebelum mencetak gol penyama kedudukan. Kami seperti setengah tertidur,” ucap Allegri.
Setelah kemasukan gol kedua, Milan berusaha membenahi performa ofensif. Allegri memasukkan Christian Pulisic yang baru pulih dari cedera.
Kapten tim nasional Amerika Serikat itu gagal memenuhi ekspektasi Allegri dan suporter Milan yang hadir di tribune tim tamu Ennio Tardini. Ia mendapatkan kesempatan emas pada menit ke-76 ketika hanya berhadapan satu lawan satu dengan Suzuki. Namun, tembakan Pulisic melenceng ke luar sisi kiri gawang Parma.
Padahal, itu adalah peluang terbaik Milan di babak kedua. Probabiltas gol dari kans milik Pulisic itu mencapai 40 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/09/58e1ca28b79dd70f4453d48c27d541ce-e1cc525aeded4bf8bccf82f916ffa7eb_0_a0ef4ad31a0a4df48db03dc78df62bac.jpg)
”Kami memiliki setidaknya tiga kesempatan mencetak gol, tetapi gagal memanfaatkannya. Ini masalah psikologis karena ada ketakutan setelah kami kemasukan. Kami kehilangan poin berharga menghadapi Parma, Pisa, dan Cremonese,” tutur Allegri, pemilik enam scudetto.
Sementara itu, Parma mengakhiri rentetan dua laga selalu kalah. Tim berjuluk ”I Gialloblu” itu sebelumnya tumbang dari Roma dan Bologna.
Parma duduk di peringkat ke-17 dengan koleksi delapan poin. Tambahan satu poin kontra Milan membantu Parma berjarak dua poin dari zona degradasi.
Pelatih Parma Calos Cuesta menyatakan, kebangkitan Parma lebih dari sekadar pendekatan taktik. Menurut juru taktik asal Spanyol itu, semangat juang adalah ramuan utama bagi Parma mampu menahan Milan.
”Pada turun minum kami mencoba membenahi rencana permainan yang tidak berjalan. Di luar itu, anak-anak bermain dengan hati dan spirit tinggi untuk lebih agresif menekan serta berusaha bermain lebih dominan,” kata Cuesta.
Uniknya, Parma tertinggal dua gol ketika mendominasi permainan dengan 53 persen penguasaan bola. Di babak kedua, mereka hanya mencatatkan 43 persen penguasaan bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/09/99bfbe138f0858e8f0b3200d1f17a1a7-AFP_83H48BM.jpg)
Meski demikian, I Gialloblu mengkreasikan lebih banyak tembakan. Perbandingannya ialah 14 tembakan kreasi Parma, lalu Milan hanya menciptakan sembilan tembakan.
”Kami harus mengambil sisi positif hasil ini. Saya juga masih beradaptasi di Liga Italia. Saya berusaha untuk membantu pemain-pemain muda kami bisa mencapai potensi maksimal mereka,” ucapnya.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto