IHSG Membaik, Saham-saham Ini Jadi Perhatian Investor

IHSG naik 1 persen ke level 7.800 pada sesi pembukaan pada Selasa (2/9/2025).

02 Sep 2025 10:44 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham dalam negeri pada Selasa (2/9/2025) kembali positif dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang dibuka naik 1 persen ke level 7.800 dari penutupan perdagangan sebelumnya. Selain memperhatikan sentimen umum, kenaikan ini dinilai analis didukung investor yang jeli membaca kondisi bisnis secara sektoral.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membaik karena kenaikan harga di hampir semua sektor saham. Indeks saham berkapitalisasi besar dan lukuid yang kerap dibeli investor asing, LQ45, juga tumbuh sejalan dengan IHSG.

Kenaikan ini melawan pergerakan IHSG pada hari pertama perdagangan pada September yang melemah 1,2 persen menjadi 7.736,1, Senin (1/9/2025). Arus modal asing pun keluar cukup besar, mencapai Rp 2,15 triliun.

Kemarin, investor asing kembali melakukan aksi jual terhadap saham berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1,6 triliun dan PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI) senilai Rp 734 miliar.

Pergerakan IHSG sepekan terakhir hingga Selasa (2/9/2025). Gejolak politik dan sosial di Indonesia belakangan memicu kekhawatiran investor di pasar saham.

Peneliti pasar Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, dalam analisisnya, menilai, kondisi pasar tengah menghadapi sentimen beragam. Dari dalam negeri, beberapa terakhir ada sentimen gejolak sosial-politik yang memicu ketidakpastian sehingga arus keluar modal asing cukup kuat.

”Sentimen ini bisa saja bertahan cukup lama seiring eskalasi ketidakstabilan politik,” kata Prasetya hari ini.

Meski gejolak politik mulai mereda, saham perbankan menjadi sektor yang paling terekspos. Hal ini mengingat bobot indeksnya yang besar dan potensi menurunnya likuiditas jika penarikan dana terus terjadi di tengah ketidakpastian situasi.

Saham perbankan seperti BBCA pada pembukaan pasar hari ini mengalami kenaikan harga hampir 1 persen ke Rp 8.000. Secara mingguan, harga ini masih terbilang turun 5 persen dari pekan lalu di kisaran Rp 8.500 per saham. Pola sama juga terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI) yang dibanding pekan lalu masih melemah 4 persen.

Emiten operator jalan tol, seperti PT Jasa Marga Persero Tbk (JSMR), menurut Prasetya, juga berpotensi mendapat tekanan akibat turunnya volume lalu lintas. Sektor ritel yang juga menghadapi risiko penurunan harga dari penutupan toko dapat membebani SSSG (same store sales growth atau pertumbuhan rata-rata tiap toko).

Saham yang memproduksi barang consumer staples atau kebutuhan primer sehari-hari dan telekomunikasi kemungkinan tidak akan terlalu terdampak. ”Ini ditopang permintaan yang tangguh dan performa laba yang stabil,” ucapnya.

Sektor lain yang perlu jadi perhatian selanjutnya, menurut Prasetya, adalah bahan baku, khususnya perusahaan tambang dan pengolahan emas. Saham di bidang ini terdongkrak kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.

Harga emas dunia di pasar spot pagi ini menembus rekor baru di 3.509 dollar AS per troy ons. Harga tersebut menyaingi rekor harga di perdagangan intraday pada April 2025 yang juga di level 3.500 dollar AS per troy ons.

Pedagang menunjukkan koleksi emas batangannya di salah satu toko emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa(22/4/2025). Harga emas Antam pada Selasa mencetak rekor tertinggi dan tembus di atas Rp 2 juta per gram, yaitu tepatnya Rp 2.016.000 atau naik Rp 36.000 dari hari sebelumnya.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan, saham emiten emas, khususnya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), menguat 5,3 persen pada Senin (1/9/2025). Pada awal perdagangan hari ini, saham ANTM juga kembali naik 4 persen ke harga hampir Rp 3.400. Kenaikan harga saham anggota grup holding tambang BUMN Mind ID tersebut menjadi pendorong kenaikan IHSG.

”Kenaikan harga saham ANTM, menurut kami, turut terbantu oleh penguatan harga emas dalam dua hari terakhir seiring tingginya ekspektasi penurunan FFR (suku bunga Bank Sentral AS The Fed) bulan ini,” ujar Rully dalam laporan analisisnya.

Berdasarkan CME FedWatch kemarin, probabilitas penurunan FFR sebesar 25 basis poin pada 17 September sebesar 89,7 persen.

Sementara itu, tren positif di pasar saham juga didukung rilis data ekonomi Indonesia yang menunjukkan perkembangan positif, seperti S&P PMI manufaktur yang mengindikasikan terjadinya ekspansi pertama kalinya sejak April. Sementara itu, inflasi Indonesia pada Agustus cukup terkendali dan neraca perdagangan mencatatkan surplus yang lebih besar dari ekspektasi.

Indonesia juga kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan yang sangat tinggi pada Juli 2025, yakni 4,2 miliar dollar AS. Angka ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,1 miliar dollar AS. Surplus neraca perdagangan telah tiga bulan berturut-turut berada di atas 4 miliar dollar AS.

”Kami melihat bahwa perkembangan positif ekspor disebabkan oleh adanya gencatan sesaat dalam perang dagang antara Tiongkok dan AS, serta penundaan penerapan tarif 19 persen terhadap barang-barang impor AS dari Indonesia,” kata Rully.

Sementara itu, dengan diberlakukannya tarif AS 19 persen kepada produk Indonesia pada 7 Agustus 2025, neraca perdagangan Agustus akan negatif. Ia membaca, kemungkinan sektor yang paling terdampak adalah mesin dan perlengkapan elektronik, pakaian dan aksesorisnya, serta alas kaki.

Di sisi lain, Rully mengatakan, mereka melihat tren di dalam negeri sepanjang semester dua akan lebih baik, dipengaruhi oleh suku bunga yang rendah, realisasi investasi yang meningkat, serta konsekuensi dari kesepakatan dagang antara AS dan Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto