Banjir di Kabupaten Bandung kerap membawa sampah yang dibuang ke sungai. Meski bukan satu-satunya penyebab banjir, masalah ini butuh solusi segera.
10 Mar 2025 12:16 WIB · Nusantara
Kantong plastik hitam itu tiba-tiba melintas di depan wajah Nani (52), warga Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, saat menembus banjir, Minggu (9/3/2025). Ketinggian air saat itu sekitar 1,2 meter, hanya sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
”Ieu runtah meni ka hareupeun panon,” kata Nani dalam bahasa Sunda, dia mengeluhkan sampah yang ada di depan matanya.
Nani lantas menyingkirkan sampah rumah tangga itu dari wajahnya. Namun, tidak lama ada satu bungkus lagi mengambang mendekati dirinya yang kedinginan direndam banjir.
”Tah ieu nu matak nyieun ateul,” katanya kesal sembari menyalahkan sampah-sampah itu ikut bikin banjir dan gatal warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/09/f91227c9-6225-4354-987b-68a7ac30cb74_jpg.jpg)
Mutia (26), warga Citeureup lainnya, mengatakan, sampah dan banjir seperti pasangan sehati. Apabila Sungai Cigede, sekitar 200 meter dari kediamannya meluap, sampah pasti banyak melintas di depan rumah.
Sungai Cigede mengalir dari Kota Bandung. Di sekitar Dayeuhkolot, sungai lantas bermuara di aliran Sungai Citarum. ”Saya tidak mau menuduh sampahnya datang dari mana. Kenyataannya, sampahnya banyak menumpuk di sana,” katanya.
Minggu Siang, Sungai Cigede memang digenangi sampah. Salah satu titik tumpukannya tersangkut di Jembatan Cipurut. Di jembatan sepanjang 20 meter itu, sampahnya beragam, mulai dari plastik, potongan kayu, styrofoam, hingga sofa.
Yusuf (40), warga Citeureup, menyatakan, kondisi sampah di Cigede biasanya lebih parah di awal banjir dan terlihat lebih banyak setelah banjir surut. Pada Sabtu (8/3/2025), misalnya, bantal, guling hingga pohon pisang ikut mengalir di Sungai Cigede.
Kondisi ini juga mematikan usaha warga. ”Waktu pertama meluap, air sungai datang bersama sampah plastik. Bengkel saya juga dipenuhi sampah. Ini sekarang tinggal sisa lumpur hitam,” kata Yusuf sembari membersihkan bengkel las miliknya, 100 meter dari sungai.
Tanpa label asal-usulnya, sulit menelusuri sampah-sampah di Sungai Cigede datang dari mana. Namun, apabila melihat fakta Kota Bandung masih kewalahan mengatasi sampah, dugaan warga korban banjir di Kabupaten Bandung bisa jadi benar.
Saat ini, Kota Bandung memang masih berjibaku menangani sampah. Dengan perkiraaan produksi sampah sekitar 1.700 ton per hari, hanya sedikitnya 1.000 ton diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Jadi, umur TPA Sarimukti kurang lebih 3,5 tahun lagi.
Sekitar 300 ton sampah diolah dengan berbagai cara. Namun, lebih kurang 400 ton masih rawan dibuang sembarangan dan belum terangkut.
Tidak tertutup kemungkinan sebagian sampah tanpa pengolahan atau belum terangkut itu lantas berakhir dibuang ke sungai-sungai. Selain minimnya kesadaran mengurangi dan memilah sampah sejak dini, kondisi itu tidak lepas dari ketergantungan Kota Bandung pada TPA Sarimukti.
Padahal, TPA Sarimukti disebut mendekati kapasitas maksimalnya. Kapasitas penampungan sampah di TPA Sarimukti diperkirakan telah melebihi 90 persen. Saat ini, luas TPA Sarimukti sekitar 43 hektar persegi.
Seperti manusia yang kelelahan menanggung beban, TPA Sarimukti beberapa kali memberi sinyal. TPA ini kebakaran pada tahun September 2023.
Dalam proses pemadaman api dan pemulihan selama tiga bulan, lalu lintas angkutan sampah terganjal. Akibatnya, tumpukan sampah muncul di berbagai kawasan perkotaan periode Oktober 2023.
Akan tetapi, selepas TPA Sarimukti beroperasi lagi, manusia tidak belajar. Produksi sampah masih tinggi. Imbauan mengolah sampah sejak dari rumah tidak terlalu didengarkan.
Pemilahan sampah juga masih setengah hati. Pada tahun 2024, ritase pembuangan sampah dari Kota Bandung pernah titik tertinggi mencapai 170 ritase atau sekitar 1.100 ton per hari.
Tak ingin segera kelebihan beban, Pemerintah Provinsi Jabar, sebagai pengelola kawasan, lantas menguranginya di tahun 2025. Dari awalnya 170 ritase menjadi 140 ritase per hari sekitar 900-1.000 ton per hari.
Lagi-lagi itu ternyata belum cukup. TPA Sarimukti ”mengamuk” lagi. Gunungan sampah selebar 20 meter dan tinggi 10 meter di Zona 3, longsor, Sabtu (8/3/2025) pukul 11.58 WIB.
Longsor dipicu hujan berkepanjangan yang terjadi selama sepekan terakhir. Air menyebabkan massa di tumpukan atas sampah menjadi berat lalu runtuh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/e4c592353f1d37f1b5dc4112df063d5b-TPA_Sarimukti.jpeg)
Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman mengatakan, dari empat zona di TPA Sarimukti, dua di antaranya sudah penuh, yaitu Zona 1 dan Zona 4. Tersisa Zona 2 yang sudah terisi 90 persen dan Zona 3 yang terisi 80 persen.
Saat ini, Zona 5 seluas 6,3 hektar saat ini sedang dalam tahap pemasangan membran dan diharapkan rampung sebulan lagi. Herman mengklaim, bila Zona 5 rampung, masa pakai TPA Sarimukti bisa diperpanjang sampai Juni 2028.
”Jadi, umur TPA Sarimukti kurang lebih 3,5 tahun lagi. Mudah-mudahan awal tahun 2028 TPPAS Legok Nangka sudah bisa beroperasi ketika TPA Sarimukti tidak bisa digunakan lagi,” kata Herman.
Sementara itu, Pemkot Bandung mengklaim sudah mulai intens menangani sampah. Wali Kota Bandung yang baru, Muhammad Farhan, menegaskan, sampah menjadi salah fokus utamanya.
Selain meneruskan program sebelumnya, seperti maggotisasi, bank sampah, hingga pengolahan sampah di tempat pembuangan sampah sementara (TPST) hingga mesin olah runtah (motah), pemetaan masalah melibatkan perguruan tinggi juga dilakukan.
Farhan mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran merumuskan langkah nyata guna mengatasi permasalahan sampah di Kota Bandung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/3987c9dd3218c94d309859804457ed02-IMG_3288.JPG)
Sejauh ini, tim sudah melakukan monitoring di Mesin Motah Patrakomala di Kecamatan Sumur Bandung dan TPST Tegalega di Kecamatan Regol hingga Rumah Maggot TPS Rancabolang.
Rektor ITB Tatacipta Dirgantara mengungkapkan komitmen kampusnya dalam mendukung program Pemkot Bandung. Dia menyebut mendukung Pemkot Bandung mengatasi masalah sampah.
”Nantinya, bakal ada masukan terkait perencanaan aksi, baik untuk solusi darurat, jangka menengah, maupun jangka panjang untuk menekan dampak sampah,” ujarnya.
Banjir Kabupaten Bandung sejatinya berkaitan dengan kondisi sampah di Kota Bandung dan gunung sampah di Sarimukti. Butuh penanganan sirkular dan berkaitan untuk menyelesaikan semuanya.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .