… Sampai Affan Menutup Mata

Lagu-lagu banyak ditulis menatahkan luka bangsa. Dengan begini, pengorbanan martir, termasuk Affan Kurniawan terus bergaung.

30 Agt 2025 07:16 WIB · Musik

Oleh Herlambang Jaluardi

”Di sana tempat lahir beta,

Dibuai dibesarkan Bunda,

Tempat berlindung di hari tua,

Sampai akhir menutup mata.”

 

Lagu ”Indonesia Pusaka” itu bergema dari kawasan Atrium Senen, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025) menjelang pagi. Warga berkumpul di sana sejak Sabtu malam menuntut keadilan atas kematian pengojek Affan Kurniawan (21). Affan, pemuda tulang punggung hidup keluarga yang amat sederhana itu meregang nyawa dilindas kendaraan baja Korps Brigade Mobil Polda Metro Jaya.

Api masih menyala dari pos polisi di bawah jembatan layang persimpangan Senen. Asap membubung dari kejauhan, di sekitar Markas Komando Brimob Polda Metro Jaya kawasan Kwitang. Di depan kantor itu, tak kurang dari sembilan mobil dan sejumlah sepeda motor dibakar. Amarah tak terbendung.

Dini hari itu, warga belum puas melampiaskan murkanya; pada pemerintah, pada polisi, pada legislatif, pada koruptor yang beberapa pekan terahir menjadi perbincangan. Perwakilan mereka di Gedung DPR kehilangan empatinya. Mereka girang dapat tambahan tunjangan sehingga gajinya ditaksir mencapai Rp 230 juta saban bulan (Kompas.id, 27/8/2025).

Rakyat jelata tersentak melihat kesenjangan dan kedegilan itu. Gelombang PHK sedang naik tinggi. Harga bahan pokok sukar dibeli. Malahan, warga yang mendesak pembubaran DPR dikatai ”orang tolol” oleh Anggota DPR Ahmad Sahroni.

Atas alasan itu semua, kawasan perdagangan Senen jadi ruang kumpul warga yang resah. Sesama pengojek bersua, saling menguatkan. Warga lainnya merekam dan menyiarkannya langsung dari ponsel berlensa bura—sumber informasi penting ketika media arus utama dibungkam. Warga datang membagikan air minum, air basuh, dan makanan serelanya. Samar-samar terdengar seruan ”Revolusi!”

Kumpulan ini terasa organik, tulus, tanpa komando. Peristiwa kematian anak muda Affan yang menyatukan mereka. Permintaan maaf dari Kepala Polri Jenderal (Pol) Sigit Listyo Prabowo dari RS Cipto Mangunkusumo, tempat Affan disemayamkan, seperti tak berbunyi. Kesetaraan sebagai warga kota, warga negara, justru terlihat dari nyanyian melankolia ”Indonesia Pusaka” itu, bukan dari seragam coklat kepangkatan.

Tragedi yang menimpa Affan tentu tak pernah diperkirakan Ismail Marzuki, sang pencipta lagu ”Indonesia Pusaka”. Lagu itu ditulis tahun 1949, ketika Republik sedang mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan kembali Belanda dan sekutunya. Lagu itu menggambarkan betapa eloknya Indonesia, dan bisa menjadi pelindung warganya.

Sayangnya, itu tak terjadi pada Affan. Polisi menggilasnya dengan mobil baja antipeluru. Padahal, dari berbagai pemberitaan, Affan hanya sedang melintas di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat, pada malam naas itu, setelah mengantar makanan untuk pelanggannya. Affan sedang berbuat semestinya, melayani pelanggannya dengan penuh kerelaan. Dia pemuda tangan kosong yang jadi korban kesewenangan kuasa seragam dan senjata.

Massa aksi yang berasal dari pengemudi ojek daring dan masyarakat sipil melakukan aksi di depan Mako Brimob Polda Metro Jaya, Kwitang, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Peserta aksi menuntut keadilan atas tewasnya pengemudi ojek daring Affan Kurniawan oleh Brimob.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

Daftar panjang

Affan Kurniawan menambah panjang daftar kaum muda yang mati di tangan polisi. Pada November 2024, pelajar SMKN 4 Kota Semarang, Jateng, Gamma Rizkynata Oktafandy meregang nyawa setelah ditembak anggota Satresnarkoba Polrestabes Semarang, Aipda Robig Zaenudin. Tak terbukti Gamma pemakai, apalagi penjual narkotika. Dia hanya melintas di jalanan kota tengah malam. Dalam konferensi pers, Gamma malah dituduh sedang tawuran.

Pada 9 Juni 2024, remaja Afif Maulana ditemukan tewas di Sungai Kuranji di sekitar jembatan Jalan Bypass Kilometer 9, Kota Padang. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mengatakan Afif dan teman-temannya dituduh akan tawuran hingga ”diamankan” oleh anggota Sabhara Polda Sumbar yang sedang berpatroli.

Polisi menyatakan kematian Afif karena lompat dari jembatan menghindari patroli. Tapi keluarga dan LBH menemukan kejanggalan pada tubuhnya. Menilik luka-lukanya, keluarga meyakini Afif disiksa. Kasus ini menggantung. Penyelidikan dihentikan. Sebanyak 18 anggota Polda Sumbar dihukum atas dugaan melanggar disiplin (Kompas, 3/1/2025).

Represi brutal polisi terjadi pula pada 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan, Malang saat tim Arema FC menjamu Persebaya Surabaya pada laga Liga 1 Indonesia. Kericuhan terjadi. Polisi menembakkan gas air mata bertubi-tubi ke lapangan dan tribune. Penonton di tribune kocar-kacir menyelamatkan diri. Naas, pintu nomor 13 tak bisa dibuka. Dalam kepanikan, penonton terimpit, dan menghirup zat berbahaya dari gas air mata. Tak kurang dari 135 orang meregang nyawa.

Peserta aksi menyalakan lilin dalam peringatan 1000 hari Tragedi Kanjuruhan di depan Museum Polri, Jakarta, Jumat (27/6/2025). Peringatan tragedi yang menewaskan 135 orang ini diisi dengan tahlilan dan doa bersama.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
27-06-2025

Penyelesaian kasus ini pun tak memuaskan. Polisi yang bertugas divonis ringan. Tiupan angin ”dituduh” melipatgandakan kekuatan gas air mata itu. ”Mereka (polisi) masuk ke lapangan membawa gas air mata, kan, sudah melanggar statuta organisasi sepak bola dunia FIFA,” kata Imam Hidayat, kuasa hukum pelapor dari Tim Advokasi Tragedi Kanjuruhan seperti dikutip dari Kompas.id pada 8 September 2023.

Mundur hampir enam tahun ke belakang, dua mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara, Randi dan Yusuf tewas ditembak polisi. Pada 29 September 2019 itu, Randi dan Yusuf, beserta teman-teman mahasiswa lainnya berunjuk rasa menolak RUU KUHP, RUU KPK dan hal janggal lainnya.

Randi meninggal terkena tembakan di ketiak kiri yang tembus ke dada kanan. Sementara kepala Yusuf cedera berat. Dari temuan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Yusuf juga kena tembak di kepala. Dia tersungkur di depan Kantor Disnakertrans Sultra, lalu dipukul oleh terduga aparat. Yusuf meninggal di RS Bahteramas Kendari (Kompas.id, 29/8/2025).

Diabadikan

Jangan lupakan pula Sondang Hutagalung, mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta. Dia meninggal membakar diri dalam sebuah aksi protes di depan Istana Negara, Rabu menjelang petang 7 Desember 2011. Sebelum meninggal, Sondang menuliskan kekecewaannya pada pemerintah yang kala itu dijabat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sondang, Randi, Yusuf, Afif, Gamma, Affan, dan 135 lebih korban tewas Kanjuruhan adalah martir. Belum lagi nama-nama yang tewas karena konflik lahan seperti Salim Kancil di Lumajang yang menolak tambang pasir di desanya.

Kisah Salim Kancil yang dibunuh preman pada 26 September 2015 dituliskan dengan elok oleh musisi Iksan Skuter dalam lagu ”Kisah Kakek dan Cucu”. Sementara kengerian bakar diri Sondang diabadikan dalam komposisi bunyi ”Sondang” oleh Morgue Vanguard dan disjoki Still pada album Fateh.

Peserta dalam Aksi Kamisan di seberang Istana Merdeka, Jakarta, mengenakan kaus bertuliskan nama warga salah tangkap yang disiksa polisi hingga tewas, Kamis (26/6/2025). Aksi Kamisan ke-866 ini mengangkat tema Hari Anti Penyiksaan Sedunia yang jatuh pada tanggal tersebut. Dalam aksi ini mengevaluasi sikap negara yang masih melakukan pembiaran perilaku penyiksaan dan kekerasan oleh aparat terhadap warga sipil. Beberapa peristiwa kekerasan aparat yang mencerminkan perilaku penyiksaan menjadi potret pelanggaran HAM yang masih terjadi. Beberapa kasus kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan oleh aparat hingga saat ini juga tak kunjung tertuntaskan, mulai pelanggaran HAM berat masa lalu hingga beberapa kasus baru seperti kasus Kanjuruhan, pembubaran aksi mahasiswa di sejumlah wilayah, dan juga pembunuhan wartawan di Sumatera Utara. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
26-6-2025Iringan kendaraan polisi melintasi masyarakat berkumpul bersama dalam Aksi Kamisan di ssberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (26/6/2025). Aksi Kamisan ke-866 ini mengangkat tema Hari Anti Penyiksaan Sedunia yang jatuh pada tanggal tersebut. Dalam aksi ini mengevaluasi sikap negara yang masih melakukan pembiaran perilaku penyiksaan dan kekerasan oleh aparat terhadap warga sipil. Beberapa peristiwa kekerasan aparat yang mencerminkan perilaku penyiksaan menjadi potret pelanggaran HAM yang masih terjadi. Beberapa kasus kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan oleh aparat hingga saat ini juga tak kunjung tertuntaskan, mulai pelanggaran HAM berat masa lalu hingga beberapa kasus baru seperti kasus Kanjuruhan, pembubaran aksi mahasiswa di sejumlah wilayah, dan juga pembunuhan wartawan di Sumatera Utara. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
26-6-2025

Grup hiphop dari Bandung, Bars of Death memasang besar-besar tulisan ”Randi dan Yusuf Dibunuh Polisi” pada kaus keluaran mereka. Band Seringai dalam konser tunggalnya di Jakarta pada akhir 2024 lalu memasang tulisan besar “Gamma Dibunuh Polisi”. Sementara nama Affan Kurniawan ditulis dalam unggahan Orkes Silampukau, bersama dengan seratusan martir lainnya.

”Ingat nama mereka, Kawan. Ingat juga bahwa nasib kita sebenarnya sama dengan mereka. Di mata mereka, kita cuma angka; korban kolateral agenda penguasa,” tulis Silampukau dalam takarir yang diunggah ulang oleh lebih dari 15.000 akun itu.

Orkes asal Surabaya itu belum lama ini melepas mini album Stambul Arkipelagia Vol 1 yang salah satunya memuat lagu ”In Memoriam … (Halimun Rahasia)”. Ujung lagu itu berbunyi, ”Nirpusara, Aay Jelita. Beta nirnyawa, nirderita, nirbinasa.” Begitulah, para martir itu tak lagi bernyawa, tapi namanya jangan binasa.

Lagu-lagu itu ”hanya” sebagian kecil yang menatahkan kemarahan warga. Kaum muda yang ada di garda depan juga akrab dengan lagu-lagu dari band .Feast seperti ”Gugatan Rakyat Semesta”, dan ”Bintang Massa Aksi”. Ini sama kudusnya dengan lagu ”Darah Juang” ciptaan John Tobing pada era Reformasi 1998.

Akankah pada akhirnya sejarah mencatat lagu-lagu kekecewaan dan kemarahan rakyat tercipta lebih banyak daripada lagu-lagu pujian untuk Tanah Air?


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi
 | 

Editor:

Sarie Febriane
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase