Sepatu Warna-warni di Lintasan Lari

Kini sepatu berwarna-warni jamak ditemui dalam ajang lari. Soal keamanan hingga keinginan tampil beda mendasarinya. Konsumsi simbolik terjadi pula di baliknya.

06 Des 2024 07:29 WIB · Olahraga

Oleh Nino Citra Anugrahanto

Kehadiran sepatu lari yang berwarna-warni menambah semarak ajang lari. Bahkan, tak sedikit pelari yang justru menggandrungi sepatu berwarna mencolok guna melaju di lintasan. Serangkaian alasan melatari kemunculan fenomena ini, mulai dari sekadar ingin tampil beda hingga masalah keamanan.

Christina Tri Cahyani (39), pehobi lari asal Magelang, Jawa Tengah, termasuk salah seorang yang menyukai sepatu-sepatu berwarna “cetar” itu. Hanya saja, kesukaannya itu tidak muncul begitu saja. Mula-mula ia tetap memilih sepatu yang warnanya cenderung netral seperti hitam, putih, hingga biru. 

“Waktu itu belum tahu kalau sepatu yang ngejreng itu banyak dipakai. Biar cocok pakai outfit apa saja jadinya pakai warna-warna yang netral,” kata Tece, sapaan karib Christina, saat dihubungi, Rabu (4/12/2024) sore.

Sebagian peserta yang datang berkelompok dengan gaya sepatu mereka saat mengikuti ajang lari Tilik pada Borobudur Marathon 2022 Powered by Bank Jateng di Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (13/11/2022). Ajang lari Tilik Candi yang diikuti 4.500 peserta lari dengan jarak 21 kilometer ini penutup rangkaian Borobudur Marathon yang diadakan selama dua hari dengan kategori Elite Race, Young Talent dan Tilik Candi. Pada setiap penyelenggaran salah satu acara lari marathon terbesar di Indonesia selalu membawa tema yang berbeda untuk mengangkat potensi olahraga, wisata dan ekonomi lokal. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 12-11-2022
Quote

Jadi, pengennya waktu lomba itu difoto bagus. Makanya cari warna-warna kontras.

Seleranya mengenakan sepatu lari yang warna-warni tumbuh melalui keikutsertaannya pada berbagai lomba. Dari satu lomba ke lomba lain, ia baru sadar jika warna-warna mencolok cukup lazim bagi rekan-rekannya sesama pelari. Untuk itu, mulailah ia memberanikan diri mengenakan warna-warna yang sedemikian rupa. 

Di sisi lain, Tece juga menyadari statusnya selaku pelari “hore-hore” alias rekreasional. Lomba-lomba diiikutinya bukan karena ingin naik ke podium. Tetapi, sekadar menjaga kesehatan agar fisiknya selalu bugar.

“Jadi, pengennya waktu lomba itu difoto bagus. Makanya cari warna-warna kontras. Kayaknya bagus begitu kalau difoto pakai warna-warna ngejreng. He-he-he,” ujar Tece seraya terkekeh. 

Para pelari berlari dalam ajang BNI-UI Half Marathon 2024 di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Minggu (8/9/2024). Lomba lari yang digelar Ikatan Alumni Universitas Indonesia ini diikuti sekitar 10.000 pelari, sebanyak 6.500 berlari di Kampus UI dan 4.000 berlari secara virtual dari berbagai tempat. Selain sebagai ajang reuni para alumni UI, lomba lari ini juga diikuti peserta umum dan komunitas lari. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 8-9-2024

Hingga kini, Tece mengoleksi 10 pasang sepatu lari dari berbagai jenama. Jumlahnya lumayan banyak karena itu dikoleksi bersama suaminya, Tri Puji Widodo (39). Kebetulan ukuran sepatu sepasang suami istri itu sama. Alhasil, mereka saling berganti-gantian memakai koleksinya.

Tentu saja, Tece memilih warna-warna sepatu yang mentereng untuk sepatunya. Warna-warna itu antara lain hijau, biru, hitam, abu-abu, merah, putih, dan pink. Itu semua demi tampil berbeda dan menyita perhatian pelari lainnya sewaktu lomba. 

“Malah saya dan suami berencana beli sepatu couple (pasangan). Nanti waktu race (lomba) bisa gantian begitu sama suami,” ujar Tece. 

Dari seluruh koleksinya, sebut Tece, masing-masing sepatu mempunyai fungsinya sendiri. Ada yang berguna untuk menjamin daya tahan pelari. Ada juga sepatu lain yang bermanfaat untuk meningkatkan laju seperti yang terdapat pada sepatu-sepatu berbahan karbon.

“Kalau ikut lomba, saya tetap mengutamakan fungsi sepatu dulu. Mau sekadar lari, atau mengejar kecepatan. Tetapi, kalau bisa warnanya yang berbeda. Senang aja tampil beda begitu. Jadi lebih semangat,” kata Tece. 

Dalam foto ini, tampak sejumlah pelari elite nasional, seperti Rikki Martin Simbolon, Betmen Manurung, Odekta Naibaho, dan lain-lain, meninggalkan start kategori marathon dalam ajang Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024).

Kebiasaan mengenakan sepatu lari berwarna mencolok juga dimiliki pelari asal Semarang, Jawa Tengah, Aditya (38). Bukan sekadar faktor penampilan yang mendorongnya. Terdapat pula alasan keamanan berolahraga di balik keputusannya mengenakan warna-warna semacam itu. 

“Permulaannya itu dari ikut komunitas. Biasanya, kami berlatih lari malam hari. Memang, untuk faktor keselamatan, warna-warna terang ini lebih aman,” kata Aditya.

Di sisi lain, lomba-lomba lari juga kerap kali dimulai pagi buta. Kegelapan lebih sering menyertai ajang olahraga tersebut. Dalam keadaan seperti itu, sepatu-sepatu berwarna terang akan memancarkan warna jika terkena kilatan sinar kendaraan. Dengan demikian, keberadaan pelari bisa diketahui walau pencahayaan minimal.

Peserta lomba lari Pertamina Eco Run Festival 2022 adu cepat sesaat setelah bendera start dikibarkan di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (27/11/2022). Sekitar 8.000 peserta mengikuti lomba lari yang digelar dalam rangkaian menyambut ulang tahun ke-65 Pertamina pada Desember mendatang. Selain lomba lari, kegiatan ini juga dipadukan dengan hiburan musik dari sejumlah artis dan grup band. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 27-11-2022

Lambat laun, kesukaan Aditya mengenakan warna-warna mencolok bertumbuh. Tak lagi semata-mata untuk alasan keamanan. Berbagai sepatu dengan warna terang dikoleksinya atas dasar kesukaan. Lebih-lebih banyak jenama sepatu mahal mengeluarkan seri-seri sepatu anyar dengan corak warna menyerupai neon. 

“Semakin ke sini, olahraga lari semakin populer. Alasannya berubah biar sepatunya eye catching dan dilihat orang. Ini jadi prestise juga karena merek-merek sepatu mahal mengeluarkan sepatu yang warnanya lebih mencolok,” kata Aditya. 

Sewaktu berlari, lanjut Aditya, ia akan menyesuaikan warna antara pakaian dan sepatunya. Untuk itu, ia masih mengoleksi beberapa sepatu berwarna netral seperti hitam dan putih.

“Tetapi, kalau ditanya suka yang mana? Lebih suka yang mencolok. Memang, dulu kesannya aneh. Tetapi, sekarang sudah semakin populer, jadi rasa-rasanya biasa saja. Malah cenderung bisa ekspresif,” kata Aditya, yang menggeluti olahraga lari sejak 2014 silam.

Sepatu yang digunakan atlet Indonesia Atjong Tio Purwanto yang dilepas seusai berlaga dalam nomor lari halang rintang 3000 meter putra cabang atletik dalam SEA Games Vietnam 2021 di Stadion My Dinh, Hanoi, Vietnam, Senin (16/5/2022). Atjong Tio Purwanto meraih medali perunggu dalam nomor ini. Medali emas dan perak diraih atlet tuan rumah Vietnam Le Tien Long dan Do Quoc Luat. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 16-5-2022

Ihwal koleksi, saat ini, Aditya mempunyai sejumlah sepatu lari bermerek kondang seperti Nike, Adidas, Asics, hingga Hoka. Harganya terentang dari sekitar Rp 2 juta hingga Rp 4 juta. Itu semua bergantung bahan baku sepatu. Adapun oranye menjadi warna paling mencolok dari salah satu sepatu koleksinya.

Kendati menyukai warna-warna mencolok, Aditya selalu mempertimbangkan jenis dan target lomba yang diikutinya ketika akan memilih sebuah sepatu. Urusan fesyen baru dipikirkan belakangan walaupun termasuk bagian penting bagi pelari rekreasional seperti dirinya. 

“Pertama selalu tentukan dulu jenis larinya apa. Mau cari sekadar jauh atau juga ingin cari kecepatan? Fungsi sepatu itu utamanya,” kata Aditya. 

Sepatu-sepatu lari yang dipakai anggota komunitas lari 'Obler' saat berlatih di atap sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Semanggi, Jakarta, Kamis (31/8). Lari kini menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat urban. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 31-08-2017 Untuk Urban
Quote

Warna sepatu itu lebih pada seseorang yang ingin menampilkan citra diri.

Dihubungi terpisah, pakar psikologi olahraga, Woro Aryati Prawoto menjelaskan, warna-warni sepatu berkaitan dengan pelari selaku penggunanya. Boleh jadi pilihan warna itu diambil seseorang untuk menggambarkan jati dirinya. Itu terkait ajang lari sekarang ini yang diposisikan bukan semata-mata kegiatan olahraga. Tetapi, juga arena sosial yang mempertemukan berbagai macam individu.

Soal pilihan warna sepatu, Woro menduga, terdapat unsur keinginan seorang pelari untuk menarik perhatian orang–orang di sekitarnya. Terlebih bagi para pelari rekreasional atau pehobi lari yang menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup mereka.

“Warna sepatu itu lebih pada seseorang yang ingin menampilkan citra diri. Apalagi kalau harganya mahal dan bermerek. Semakin dilihat orang, kan? Ini ada unsur pride-nya juga,” kata Woro. 

Artis Gisella Anastasia atau Gisel melambaikan tangan saat hendak mencapai garis finish lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon kategori 10K, Minggu (1/12/2024), di Magelang, Jawa Tengah.

Hal serupa diutarakan sosiolog dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Drajat Tri Kartono. Pilihan pada warna mencolok didasari keinginan seseorang agar terlihat berbeda dibandingkan orang-orang kebanyakan. Itu dipengaruhi gempuran kapitalisme yang seolah ingin menyeragamkan selera pasar. 

Fenomena semacam itu, jelas Drajat, juga sangat relevan dengan karakteristik masyarakat perkotaan yang begitu heterogen. Tingginya kemajemukan itu turut serta mendorong warga kota mempunyai selera yang unik dan khas. Dalam konteks pelari, seolah mengenakan sepatu berbeda membuat mereka hadir di lingkungan sosialnya. 

“Jadi, sekarang orang punya selera untuk menjadi berbeda daripada yang lain. Dengan demikian, mereka hadir. Seseorang hadir karena memiliki kekhasan. Itu bagian dari konsumsi simbolik. Yang dikonsumsi bukan sepatunya, tetapi sepatu itu sebagai suatu penanda,” kata Drajat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata