Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Seperti apa kembalinya kekuatan lama Barcelona di Camp Nou?
- Mengapa peran Mohamed Salah masih sangat krusial untuk Liverpool?
- Seperti apa peluang Arsenal meraih quadruple, termasuk gelar Liga Champions?
- Seperti apa kisah pilu perjalanan duta Italia di Liga Champions musim ini?
- Mengapa Bodo/Glimt gagal mewujudkan dongeng Cinderella yang sempurna?
- Mengapa Tottenham Hotspur seolah di titik nadir setelah disingkirkan Atletico Madrid?
Delapan tim terbaik Eropa telah memastikan diri lolos ke perempat final Liga Champions Eropa musim 2025-2026. Mayoritas tim-tim yang lolos itu adalah barisan klub ”klasik” alias jagoan lama di Liga Champions, seperti Real Madrid, Liverpool, Barcelona, Bayern Muenchen, dan Atletico Madrid. Kelima klub itu merupakan langganan final dalam 26 tahun terakhir.
Empat klub di antaranya, yaitu Real, Liverpool, Barca, dan Bayern, bahkan masuk jajaran enam tim tersukses sepanjang sejarah Liga Champions dengan gabungan 32 trofi. Hadirnya format baru Liga Champions—yang meniadakan fase grup dan menggantinya dengan fase liga agar lebih sengit—tak mampu membendung mereka.
Real yang sempat tertatih-tatih di fase liga, misalnya, mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai ”Raja Eropa” dengan menyingkirkan salah satu unggulan, Manchester City, dengan agregat telak, 5-1, di babak 16 besar. Padahal, sebelum babak itu digelar, City lebih dijagokan superkomputer Opta untuk lolos. Alasannya, Real berganti pelatih pada tahun ini dan belum terlihat meyakinkan.
Adapun Barcelona mulai menancapkan kembali ”DNA” mereka di Eropa dengan menyingkirkan tim kuda hitam, Newcastle United. Sempat ditahan 1-1 di Inggris, Barca mengamuk dan memukul Newcastle, 7-2, di rumah lamanya, Stadion Camp Nou, Spanyol, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB.
Spanyol pun kian menegaskan sebagai negara penghasil klub-klub terbaik Eropa dengan lolosnya Atletico seusai menyingkirkan wakil Inggris lainnya, Tottenham Hotspur, dengan agregat 7-5.
Dominasi barisan klub tradisional itu akan berupa didobrak tiga tim lainnya yang turut meraih tiket ke perempat final, yaitu Arsenal, Paris Saint-Germain, dan Sporting Lisbon. Arsenal merupakan tim yang paling difavoritkan Opta untuk menjadi juara.
Pemuncak klasemen Liga Inggris sekaligus tim teratas di fase liga Liga Champions musim 2025-2026 itu menunjukkan konsistensinya dengan menyingkirkan Bayer Leverkusen, 3-1.
Adapun PSG memperlihatkan mereka masih layak diperhitungkan untuk juara. Meskipun sempat terpuruk di peringkat ke-11 fase liga sehingga harus melewati playoff untuk lolos ke fase gugur, PSG mampu menyingkirkan Chelsea di fase 16 besar. Sempat tak diunggulkan, sang juara bertahan Liga Champions unggul mutlak, baik kandang maupun tandang, dengan agregat 8-2.
Kehadiran Arsenal dan PSG di delapan besar kian mempersengit persaingan. Sejumlah laga besar bakal tersaji, salah satunya PSG versus Liverpool. Lalu, ada pula laga klasik di Eropa, yaitu Real Madrid versus Bayern Muenchen dan ”perang saudara” Barcelona versus Aletico. Adapun Arsenal relatif menghadapi lawan yang lebih mudah, yaitu melawan Sporting.
Selain Arsenal, nyaris tak ada tim lainnya yang lebih djagokan untuk lolos. Real, misalnya, punya kekuatan sepadan Bayern, tim yang menghancurkan wakil Italia tersisa, Atalanta, 10-2. Rekor pertemuan kedua raksasa itu pun nyaris berimbang. Dari 28 pertemuan, Bayern 11 kali menang, 4 kali imbang, dan 13 kali kalah.
Hal serupa terjadi di laga PSG versus Liverpool. Rekor pertemuan mereka di Eropa sangat berimbang. Dari enam kali pertemuan, PSG tiga kali menang dan tiga kali kalah. Gol yang dibuat pun nyaris identik, yaitu 8 gol PSG berbanding 7 gol Liverpool.
Maka, bisa dipastikan, laga-laga babak perempat final nanti sangatlah sengit dan sulit diprediksi.
Seperti apa kembalinya kekuatan lama Barcelona di Camp Nou?
Barcelona mengingatkan, Stadion Camp Nou dan fase gugur Liga Champions Eropa merupakan kombinasi maut untuk menghancurkan tim tamu. Hampir tujuh tahun tidak terdengar di fase itu pada turnamen tersebut, keangkeran Camp Nou akhirnya kembali diakui. Giliran Newcastle United yang merasakan pengalaman traumatis itu.
Terakhir kali Barca tampil di Camp Nou dalam fase gugur Liga Champions, bintang mereka, Lamine Yamal, masih berusia 11 tahun. Momen itu terjadi pada Mei 2019 saat Barca menumbangkan wakil Inggris, Liverpool, 3-0, dalam laga semifinal pertama. Mereka tidak pernah kembali sejak itu.
Banyak hal terjadi, mulai dari pandemi Covid-19, terpeleset ke Liga Europa, hingga renovasi Camp Nou. Kerinduan itu terangkum saat Barca kembali ke rumah sendiri saat menjamu Newcastle dalam laga kedua babak 16 besar, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB.
Dibantu gairah membara penggemar tuan rumah, Barca melumat tim tamu, 7-2. Setelah renovasi sejak 2023, Camp Nou sebenarnya sudah bisa digunakan lagi pada akhir November 2025. Namun, belakangan ini, kapasitas penonton masih dibatasi 45.000 kursi karena renovasi yang masih berjalan. Khusus di dua laga terakhir, termasuk pada laga Kamis dini hari, kapasitas sudah diizinkan naik menjadi 62.000 kursi.
Penambahan kapasitas signifikan dan gengsi besar turnamen membuat atmosfer Camp Nou terasa semakin ”liar”. Stadion bersejarah itu pun selalu membawa tuah bagi tuan rumah. Adapun sebelum laga terakhir versus Liverpool, Barca mencatat tidak terkalahkan di kandang selama enam musim beruntun dalam kompetisi Eropa (32 laga).
Barca pun melaju ke perempat final dengan keunggulan agregat 8-3. Mereka akan bertemu sesama tim Spanyol, Atletico Madrid, yang lolos dengan keunggulan agregat 7-5 atas Tottenham Hotspur. Adapun Barca dan Atletico sama-sama mengandaskan wakil Inggris dalam perjalanan menuju delapan besar.
Mengapa peran Mohamed Salah masih sangat krusial untuk Liverpool?
Keluhan Manajer Liverpool Arne Slot terhadap efektivitas skuadnya dalam memanfaatkan peluang mungkin lebih rutin terdengar dibandingkan dengan kemenangan yang dikoleksi ”Si Merah” pada musim ini. Namun, Slot sudah menemukan titik terang untuk solusi masalah ketajaman itu, yakni mendekatkan Mohamed Salah ke kotak penalti lawan.
Salah mungkin akan mencatatkan kontribusi terendah dalam kariernya berseragam Liverpool pada musim kompetisi 2025-2026. Pemain berjuluk ”Raja Mesir” itu baru mengoleksi 10 gol dan 9 asis dalam 34 laga.
Angka itu termasuk satu gol dan satu asis pada laga kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa kontra Galatasaray di Stadion Anfield, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB. Laga itu dimenangi Liverpool 4-0 sehingga unggul agregat 4-1. Si Merah akan menantang juara bertahan, Paris Saint-Germain, di perempat final.
Gol tersebut cukup membawa Salah mencetak sejarah. Ia adalah pemain asal Afrika pertama yang mencetak 50 gol di Liga Champions, kompetisi sepak bola antarklub paling bergengsi di dunia.
”Gol itu mengungkapkan kualitasnya setelah gagal penalti sebelum turun minum. Dia memberikan asis untuk Hugo (Ekitike) dan mencetak gol ciri khasnya. Itu menjelaskan kepada kita semua tentang kekuatan mentalnya,” ujar Slot seusai pertandingan.
Pada laga itu, Liverpool mencatatkan 5,02 xG dari 32 tembakan yang dihasilkan. Selain penalti yang tidak berbuah gol, Liverpool juga memiliki dua gol yang dianulir oleh wasit.
Salah bermain selama 74 menit. Cedera menjadi penyebab dirinya harus menyelesaikan laga lebih dini. Setelah digantikan oleh Cody Gakpo, Salah langsung menuju ruang ganti untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Terlepas dari cedera itu, Salah menyajikan penampilan yang berbeda dibandingkan dengan 33 laga yang sudah dijalaninya untuk Si Merah musim ini. Berdasarkan heat map, Salah lebih dominan berkeliaran di sisi half-space kanan zona pertahanan Galatasaray. Zona pergerakan itu sangat kontras dengan laga-laga Salah sebelumnya.
Seperti apa peluang Arsenal meraih ”quadruple”, termasuk gelar Liga Champions?
Laga kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa yang tersaji pada Rabu (18/3/2026) dini hari WIB memastikan Arsenal sebagai satu-satunya tim di Eropa yang berpeluang meraih empat trofi mayor alias quadruple pada musim 2025-2026. Hal itu dipastikan ”Si Meriam” berkat kemenangan 2-0 atas Bayer Leverkusen, sedangkan rival mereka, Manchester City, tumbang 1-2 dari Real Madrid.
Arsenal mengukuhkan kemenangan berkat sumbangan gol dari tembakan keras terarah duo pemain tim nasional Inggris, yaitu Eberechi Eze (menit ke-36) dan Declan Rice (63’). Raihan hasil positif di Stadion Emirates, London, itu memastikan Arsenal menyingkirkan Leverkusen dengan agregat 3-1.
Capaian itu adalah kemenangan kesembilan Arsenal di Liga Champions pada musim ini. Dari 10 laga yang sudah dijalani, tim Mikel Arteta itu hanya sekali gagal menang ketika ditahan Leverkusen 1-1 pada laga pertama perdelapan final pekan lalu.
Tak ayal, Arsenal merupakan satu-satunya tim yang belum terkalahkan di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu. Arsenal selanjutnya akan menantang wakil Portugal, Sporting Lisbon, pada babak perempat final. Mereka lebih dulu menjalani laga tandang di Lisabon, Portugal, 8 April, lalu disusul duel penentuan di London sepekan berselang atau 15 April.
Hasil penting kontra Leverkusen menjaga kans Si Meriam untuk tetap bersaing di empat ajang, yaitu Liga Inggris, Liga Champions, Piala Liga, dan Piala FA. Eze menyebut tantangan Arsenal akan semakin sulit di babak perempat final.
Namun, ia menganggap laga-laga penuh tekanan di sisa musim ini patut dijalani demi memburu gelar juara. ”Siapa pun lawan yang kami hadapi selalu menyajikan laga yang tangguh dan sulit. Laga ini (kontra Leverkusen) adalah persiapan yang penting untuk menghadapi duel menentukan pada hari Minggu,” ujar Eze.
Lebih lanjut, Eze mengungkapkan, ambisi utama skuad Arsenal adalah memburu seluruh trofi yang tersedia. Si Meriam sudah unggul sembilan poin atas City dalam perburuan gelar Liga Inggris.
Seperti apa kisah pilu perjalanan duta Italia di Liga Champions musim ini?
Liga Champions edisi 2025-2026 terasa amat kejam bagi sepak bola Italia alias calcio. Atalanta benar-benar tidak berdaya di hadapan raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Pada laga kedua babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB, di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Jerman, Atalanta harus bertekuk lutut dengan kekalahan 1-4.
”Si Dewi” tidak berdaya untuk menghentikan trisula lini serang Bayern. Mereka adalah Harry Kane yang mencetak dua gol pada menit ke-25 dan ke-54, lalu Lennart Karl dan Luis Diaz yang masing-masing menambah derita Atalanta pada menit ke-56 dan ke-70. Sebuah gol hiburan tim asal Bergamo itu dihasilkan melalui sundulan pemain pengganti, Lazar Samardzic.
Meskipun mendapat dukungan sekitar 4.000 suporter setia yang rela datang dari Italia, Atalanta benar-benar tidak mampu mengimbangi performa dan kualitas superior skuad Bayern. Hasilnya, mereka gugur dari kompetisi antarklub terbaik Eropa itu karena kalah agregat, 2-10.
Tak ayal, Atalanta menjadi tim Italia pertama yang mencatat kekalahan agregat terburuk di fase gugur Liga Champions. Sebelumnya, tidak ada tim Italia yang pernah kalah agregat dengan selisih lebih dari lima gol.
Catatan Atalanta itu lebih menyakitkan dibandingkan dengan kekalahan AC Milan 2-7 dari Manchester United di babak 16 besar 2009-2010, AS Roma 3-8 juga dari MU pada perempat final edisi 2006-2007, dan Juventus 3-8 dari Wiener Sport-Club pada babak playoff babak utama musim 1958–1959.
Kekalahan telak yang dialami Atalanta dari Bayern merangkum sinyal penurunan kualitas tim-tim Italia di ranah kontinental. Dua klub Italia dengan skuad termahal—merujuk nilai pasar Transfermarkt—Inter Milan (Rp 483,9 miliar) dan Juventus (Rp 389,5 miliar) tersingkir pada playoff babak 16 besar oleh tim yang berasal dari negara medioker di Eropa, yaitu Bodo/Glimt (Norwegia) dan Galatasaray (Turki).
Napoli, juara bertahan Liga Italia, bernasib lebih tragis. Mereka tak mampu menembus zona 24 besar agar tidak tersingkir sejak dini atau di fase liga.
Mengapa Bodo/Glimt gagal mewujudkan dongeng Cinderella yang sempurna?
Perjalanan bagai kisah Cinderella yang berakhir indah ternyata bukan milik Bodo/Glimt. Semua keajaiban yang Bodo/Glimt pertontonkan hilang bukan saat tengah malam, melainkan ketika mereka tak mampu menahan gempuran lawan.
Bodo/Glimt menjelma tim yang berbeda ketika bertandang ke markas Sporting Lisbon untuk melakoni partai pertemuan kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa. Di hadapan para pendukung tuan rumah di Stadion Jose Alvalade, Lisabon, Portugal, Rabu (18/3/2026), tim asal kota kecil Norwegia yang dekat Lingkaran Arktik tersebut justru ”membeku”.
Bodo/Glimt seperti bukan tim yang menaruh satu kakinya di perempat final setelah kemenangan 3-0 di kandang pada laga pertama. Patrick Berg dan kawan-kawan hanya bisa menyaksikan Sporting mengukir kisah kebangkitan luar biasa dengan mencetak lima gol dan melenggang ke perempat final lewat kemenangan agregat 5-3.
”Kami telah menjalani perjalanan yang fantastis lalu memasuki pertandingan di mana menurut saya kami tidak bermain dalam pertandingan. Kami bermain dalam peluang,” kata Pelatih Bodo/Glimt Kjetil Knutsen.
Bodo/Glimt memang mengukir kisah yang menakjubkan di Liga Champions. Kisah debutan ini bahkan seperti dongeng Cinderella yang diawali dengan kesengsaraan lalu perlahan menuju kebahagiaan.
Di fase liga, tim ini kalah dalam enam pertandingan. Langkah menuju babak gugur pun terasa mustahil karena mereka harus mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid. Bodo/Glimt, di luar dugaan, mampu mewujudkan kemenangan itu.
Kesengsaran pada enam laga sebelumnya disulap jadi kekuatan. Kemenangan 3-1 atas Manchester City dan hasil positif 2-1 melawan Atletico Madrid bahkan berlanjut di fase gugur. Mereka juga menyingkirkan Inter Milan pada playoff babak 16 besar dengan agregat 5-2.
Namun, kisah itu telah berakhir di babak 16 besar setelah disingkirkan Sporting.
Mengapa Tottenham Hotspur seolah di titik nadir setelah disingkirkan Atletico Madrid?
Meskipun kalah 2-3 dari Tottenham Hotspur, Atletico Madrid menjadi salah satu dari delapan tim terbaik di Liga Champions Eropa 2025-2026. Mereka lolos ke perempat final setelah mengukir kemenangan agregat 7-5 sekaligus mengirim Spurs ke titik nadir, yakni tersingkir dari Eropa yang menjadi harapan mereka di tengah kondisi babak belur di dalam negeri.
Pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions pada Kamis (19/3/2026) itu menyimpulkan musim traumatis Tottenham Hotspur. Di Stadion Tottenham Hotspur, taun rumah menang. Namun, kemenangan saja tidak cukup.
Atletico Madrid punya bekal lebih berharga dengan skor 5-2 saat bermain di markas mereka. Tak cuma itu, tim tamu mampu meredam Spurs yang sebenarnya mulai menemukan jalan kebangkitan.
”Ini saatnya untuk berbahagia. Sebagai klub, tim, dengan kegembiraan kami lolos ke perempat final. Kami harus berjuang seperti yang telah kami lakukan,” kata Pelatih Atletico Madrid Diego Simeone kepada AS.
Bagi Spurs, hasil tersebut seperti antiklimaks dari upaya kebangkitan mereka. Di Liga Inggris, Spurs perlahan bangkit dengan meraih hasil imbang 1-1 melawan Liverpool setelah enam kekalahan beruntun.
Atletico mengirim Spurs ke titik nadir mereka, yakni tersingkir dari Liga Champions. Kini, satu-satunya harapan mereka adalah berjuang dari tubir degragasi di Liga Inggris.
"Perasaannya campur aduk. Anda tidak suka kalah, tetapi itu adalah penampilan yang sangat bagus. Itu adalah sensasi yang indah di lapangan bersama para penggemar yang benar-benar ada bersama skuad dan tim sejak saat pertama,” kata Manajer Spurs Igor Tudor kepada BBC.
Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Seperti apa kembalinya kekuatan lama Barcelona di Camp Nou?
- Mengapa peran Mohamed Salah masih sangat krusial untuk Liverpool?
- Seperti apa peluang Arsenal meraih quadruple, termasuk gelar Liga Champions?
- Seperti apa kisah pilu perjalanan duta Italia di Liga Champions musim ini?
- Mengapa Bodo/Glimt gagal mewujudkan dongeng Cinderella yang sempurna?
- Mengapa Tottenham Hotspur seolah di titik nadir setelah disingkirkan Atletico Madrid?
Delapan tim terbaik Eropa telah memastikan diri lolos ke perempat final Liga Champions Eropa musim 2025-2026. Mayoritas tim-tim yang lolos itu adalah barisan klub ”klasik” alias jagoan lama di Liga Champions, seperti Real Madrid, Liverpool, Barcelona, Bayern Muenchen, dan Atletico Madrid. Kelima klub itu merupakan langganan final dalam 26 tahun terakhir.
Empat klub di antaranya, yaitu Real, Liverpool, Barca, dan Bayern, bahkan masuk jajaran enam tim tersukses sepanjang sejarah Liga Champions dengan gabungan 32 trofi. Hadirnya format baru Liga Champions—yang meniadakan fase grup dan menggantinya dengan fase liga agar lebih sengit—tak mampu membendung mereka.
Real yang sempat tertatih-tatih di fase liga, misalnya, mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai ”Raja Eropa” dengan menyingkirkan salah satu unggulan, Manchester City, dengan agregat telak, 5-1, di babak 16 besar. Padahal, sebelum babak itu digelar, City lebih dijagokan superkomputer Opta untuk lolos. Alasannya, Real berganti pelatih pada tahun ini dan belum terlihat meyakinkan.
Adapun Barcelona mulai menancapkan kembali ”DNA” mereka di Eropa dengan menyingkirkan tim kuda hitam, Newcastle United. Sempat ditahan 1-1 di Inggris, Barca mengamuk dan memukul Newcastle, 7-2, di rumah lamanya, Stadion Camp Nou, Spanyol, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB.
Spanyol pun kian menegaskan sebagai negara penghasil klub-klub terbaik Eropa dengan lolosnya Atletico seusai menyingkirkan wakil Inggris lainnya, Tottenham Hotspur, dengan agregat 7-5.
Dominasi barisan klub tradisional itu akan berupa didobrak tiga tim lainnya yang turut meraih tiket ke perempat final, yaitu Arsenal, Paris Saint-Germain, dan Sporting Lisbon. Arsenal merupakan tim yang paling difavoritkan Opta untuk menjadi juara.
Pemuncak klasemen Liga Inggris sekaligus tim teratas di fase liga Liga Champions musim 2025-2026 itu menunjukkan konsistensinya dengan menyingkirkan Bayer Leverkusen, 3-1.
Adapun PSG memperlihatkan mereka masih layak diperhitungkan untuk juara. Meskipun sempat terpuruk di peringkat ke-11 fase liga sehingga harus melewati playoff untuk lolos ke fase gugur, PSG mampu menyingkirkan Chelsea di fase 16 besar. Sempat tak diunggulkan, sang juara bertahan Liga Champions unggul mutlak, baik kandang maupun tandang, dengan agregat 8-2.
Kehadiran Arsenal dan PSG di delapan besar kian mempersengit persaingan. Sejumlah laga besar bakal tersaji, salah satunya PSG versus Liverpool. Lalu, ada pula laga klasik di Eropa, yaitu Real Madrid versus Bayern Muenchen dan ”perang saudara” Barcelona versus Aletico. Adapun Arsenal relatif menghadapi lawan yang lebih mudah, yaitu melawan Sporting.
Selain Arsenal, nyaris tak ada tim lainnya yang lebih djagokan untuk lolos. Real, misalnya, punya kekuatan sepadan Bayern, tim yang menghancurkan wakil Italia tersisa, Atalanta, 10-2. Rekor pertemuan kedua raksasa itu pun nyaris berimbang. Dari 28 pertemuan, Bayern 11 kali menang, 4 kali imbang, dan 13 kali kalah.
Hal serupa terjadi di laga PSG versus Liverpool. Rekor pertemuan mereka di Eropa sangat berimbang. Dari enam kali pertemuan, PSG tiga kali menang dan tiga kali kalah. Gol yang dibuat pun nyaris identik, yaitu 8 gol PSG berbanding 7 gol Liverpool.
Maka, bisa dipastikan, laga-laga babak perempat final nanti sangatlah sengit dan sulit diprediksi.
Seperti apa kembalinya kekuatan lama Barcelona di Camp Nou?
Barcelona mengingatkan, Stadion Camp Nou dan fase gugur Liga Champions Eropa merupakan kombinasi maut untuk menghancurkan tim tamu. Hampir tujuh tahun tidak terdengar di fase itu pada turnamen tersebut, keangkeran Camp Nou akhirnya kembali diakui. Giliran Newcastle United yang merasakan pengalaman traumatis itu.
Terakhir kali Barca tampil di Camp Nou dalam fase gugur Liga Champions, bintang mereka, Lamine Yamal, masih berusia 11 tahun. Momen itu terjadi pada Mei 2019 saat Barca menumbangkan wakil Inggris, Liverpool, 3-0, dalam laga semifinal pertama. Mereka tidak pernah kembali sejak itu.
Banyak hal terjadi, mulai dari pandemi Covid-19, terpeleset ke Liga Europa, hingga renovasi Camp Nou. Kerinduan itu terangkum saat Barca kembali ke rumah sendiri saat menjamu Newcastle dalam laga kedua babak 16 besar, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB.
Dibantu gairah membara penggemar tuan rumah, Barca melumat tim tamu, 7-2. Setelah renovasi sejak 2023, Camp Nou sebenarnya sudah bisa digunakan lagi pada akhir November 2025. Namun, belakangan ini, kapasitas penonton masih dibatasi 45.000 kursi karena renovasi yang masih berjalan. Khusus di dua laga terakhir, termasuk pada laga Kamis dini hari, kapasitas sudah diizinkan naik menjadi 62.000 kursi.
Penambahan kapasitas signifikan dan gengsi besar turnamen membuat atmosfer Camp Nou terasa semakin ”liar”. Stadion bersejarah itu pun selalu membawa tuah bagi tuan rumah. Adapun sebelum laga terakhir versus Liverpool, Barca mencatat tidak terkalahkan di kandang selama enam musim beruntun dalam kompetisi Eropa (32 laga).
Barca pun melaju ke perempat final dengan keunggulan agregat 8-3. Mereka akan bertemu sesama tim Spanyol, Atletico Madrid, yang lolos dengan keunggulan agregat 7-5 atas Tottenham Hotspur. Adapun Barca dan Atletico sama-sama mengandaskan wakil Inggris dalam perjalanan menuju delapan besar.
Mengapa peran Mohamed Salah masih sangat krusial untuk Liverpool?
Keluhan Manajer Liverpool Arne Slot terhadap efektivitas skuadnya dalam memanfaatkan peluang mungkin lebih rutin terdengar dibandingkan dengan kemenangan yang dikoleksi ”Si Merah” pada musim ini. Namun, Slot sudah menemukan titik terang untuk solusi masalah ketajaman itu, yakni mendekatkan Mohamed Salah ke kotak penalti lawan.
Salah mungkin akan mencatatkan kontribusi terendah dalam kariernya berseragam Liverpool pada musim kompetisi 2025-2026. Pemain berjuluk ”Raja Mesir” itu baru mengoleksi 10 gol dan 9 asis dalam 34 laga.
Angka itu termasuk satu gol dan satu asis pada laga kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa kontra Galatasaray di Stadion Anfield, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB. Laga itu dimenangi Liverpool 4-0 sehingga unggul agregat 4-1. Si Merah akan menantang juara bertahan, Paris Saint-Germain, di perempat final.
Gol tersebut cukup membawa Salah mencetak sejarah. Ia adalah pemain asal Afrika pertama yang mencetak 50 gol di Liga Champions, kompetisi sepak bola antarklub paling bergengsi di dunia.
”Gol itu mengungkapkan kualitasnya setelah gagal penalti sebelum turun minum. Dia memberikan asis untuk Hugo (Ekitike) dan mencetak gol ciri khasnya. Itu menjelaskan kepada kita semua tentang kekuatan mentalnya,” ujar Slot seusai pertandingan.
Pada laga itu, Liverpool mencatatkan 5,02 xG dari 32 tembakan yang dihasilkan. Selain penalti yang tidak berbuah gol, Liverpool juga memiliki dua gol yang dianulir oleh wasit.
Salah bermain selama 74 menit. Cedera menjadi penyebab dirinya harus menyelesaikan laga lebih dini. Setelah digantikan oleh Cody Gakpo, Salah langsung menuju ruang ganti untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Terlepas dari cedera itu, Salah menyajikan penampilan yang berbeda dibandingkan dengan 33 laga yang sudah dijalaninya untuk Si Merah musim ini. Berdasarkan heat map, Salah lebih dominan berkeliaran di sisi half-space kanan zona pertahanan Galatasaray. Zona pergerakan itu sangat kontras dengan laga-laga Salah sebelumnya.
Seperti apa peluang Arsenal meraih ”quadruple”, termasuk gelar Liga Champions?
Laga kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa yang tersaji pada Rabu (18/3/2026) dini hari WIB memastikan Arsenal sebagai satu-satunya tim di Eropa yang berpeluang meraih empat trofi mayor alias quadruple pada musim 2025-2026. Hal itu dipastikan ”Si Meriam” berkat kemenangan 2-0 atas Bayer Leverkusen, sedangkan rival mereka, Manchester City, tumbang 1-2 dari Real Madrid.
Arsenal mengukuhkan kemenangan berkat sumbangan gol dari tembakan keras terarah duo pemain tim nasional Inggris, yaitu Eberechi Eze (menit ke-36) dan Declan Rice (63’). Raihan hasil positif di Stadion Emirates, London, itu memastikan Arsenal menyingkirkan Leverkusen dengan agregat 3-1.
Capaian itu adalah kemenangan kesembilan Arsenal di Liga Champions pada musim ini. Dari 10 laga yang sudah dijalani, tim Mikel Arteta itu hanya sekali gagal menang ketika ditahan Leverkusen 1-1 pada laga pertama perdelapan final pekan lalu.
Tak ayal, Arsenal merupakan satu-satunya tim yang belum terkalahkan di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu. Arsenal selanjutnya akan menantang wakil Portugal, Sporting Lisbon, pada babak perempat final. Mereka lebih dulu menjalani laga tandang di Lisabon, Portugal, 8 April, lalu disusul duel penentuan di London sepekan berselang atau 15 April.
Hasil penting kontra Leverkusen menjaga kans Si Meriam untuk tetap bersaing di empat ajang, yaitu Liga Inggris, Liga Champions, Piala Liga, dan Piala FA. Eze menyebut tantangan Arsenal akan semakin sulit di babak perempat final.
Namun, ia menganggap laga-laga penuh tekanan di sisa musim ini patut dijalani demi memburu gelar juara. ”Siapa pun lawan yang kami hadapi selalu menyajikan laga yang tangguh dan sulit. Laga ini (kontra Leverkusen) adalah persiapan yang penting untuk menghadapi duel menentukan pada hari Minggu,” ujar Eze.
Lebih lanjut, Eze mengungkapkan, ambisi utama skuad Arsenal adalah memburu seluruh trofi yang tersedia. Si Meriam sudah unggul sembilan poin atas City dalam perburuan gelar Liga Inggris.
Seperti apa kisah pilu perjalanan duta Italia di Liga Champions musim ini?
Liga Champions edisi 2025-2026 terasa amat kejam bagi sepak bola Italia alias calcio. Atalanta benar-benar tidak berdaya di hadapan raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Pada laga kedua babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/3/2026) dini hari WIB, di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Jerman, Atalanta harus bertekuk lutut dengan kekalahan 1-4.
”Si Dewi” tidak berdaya untuk menghentikan trisula lini serang Bayern. Mereka adalah Harry Kane yang mencetak dua gol pada menit ke-25 dan ke-54, lalu Lennart Karl dan Luis Diaz yang masing-masing menambah derita Atalanta pada menit ke-56 dan ke-70. Sebuah gol hiburan tim asal Bergamo itu dihasilkan melalui sundulan pemain pengganti, Lazar Samardzic.
Meskipun mendapat dukungan sekitar 4.000 suporter setia yang rela datang dari Italia, Atalanta benar-benar tidak mampu mengimbangi performa dan kualitas superior skuad Bayern. Hasilnya, mereka gugur dari kompetisi antarklub terbaik Eropa itu karena kalah agregat, 2-10.
Tak ayal, Atalanta menjadi tim Italia pertama yang mencatat kekalahan agregat terburuk di fase gugur Liga Champions. Sebelumnya, tidak ada tim Italia yang pernah kalah agregat dengan selisih lebih dari lima gol.
Catatan Atalanta itu lebih menyakitkan dibandingkan dengan kekalahan AC Milan 2-7 dari Manchester United di babak 16 besar 2009-2010, AS Roma 3-8 juga dari MU pada perempat final edisi 2006-2007, dan Juventus 3-8 dari Wiener Sport-Club pada babak playoff babak utama musim 1958–1959.
Kekalahan telak yang dialami Atalanta dari Bayern merangkum sinyal penurunan kualitas tim-tim Italia di ranah kontinental. Dua klub Italia dengan skuad termahal—merujuk nilai pasar Transfermarkt—Inter Milan (Rp 483,9 miliar) dan Juventus (Rp 389,5 miliar) tersingkir pada playoff babak 16 besar oleh tim yang berasal dari negara medioker di Eropa, yaitu Bodo/Glimt (Norwegia) dan Galatasaray (Turki).
Napoli, juara bertahan Liga Italia, bernasib lebih tragis. Mereka tak mampu menembus zona 24 besar agar tidak tersingkir sejak dini atau di fase liga.
Mengapa Bodo/Glimt gagal mewujudkan dongeng Cinderella yang sempurna?
Perjalanan bagai kisah Cinderella yang berakhir indah ternyata bukan milik Bodo/Glimt. Semua keajaiban yang Bodo/Glimt pertontonkan hilang bukan saat tengah malam, melainkan ketika mereka tak mampu menahan gempuran lawan.
Bodo/Glimt menjelma tim yang berbeda ketika bertandang ke markas Sporting Lisbon untuk melakoni partai pertemuan kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa. Di hadapan para pendukung tuan rumah di Stadion Jose Alvalade, Lisabon, Portugal, Rabu (18/3/2026), tim asal kota kecil Norwegia yang dekat Lingkaran Arktik tersebut justru ”membeku”.
Bodo/Glimt seperti bukan tim yang menaruh satu kakinya di perempat final setelah kemenangan 3-0 di kandang pada laga pertama. Patrick Berg dan kawan-kawan hanya bisa menyaksikan Sporting mengukir kisah kebangkitan luar biasa dengan mencetak lima gol dan melenggang ke perempat final lewat kemenangan agregat 5-3.
”Kami telah menjalani perjalanan yang fantastis lalu memasuki pertandingan di mana menurut saya kami tidak bermain dalam pertandingan. Kami bermain dalam peluang,” kata Pelatih Bodo/Glimt Kjetil Knutsen.
Bodo/Glimt memang mengukir kisah yang menakjubkan di Liga Champions. Kisah debutan ini bahkan seperti dongeng Cinderella yang diawali dengan kesengsaraan lalu perlahan menuju kebahagiaan.
Di fase liga, tim ini kalah dalam enam pertandingan. Langkah menuju babak gugur pun terasa mustahil karena mereka harus mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid. Bodo/Glimt, di luar dugaan, mampu mewujudkan kemenangan itu.
Kesengsaran pada enam laga sebelumnya disulap jadi kekuatan. Kemenangan 3-1 atas Manchester City dan hasil positif 2-1 melawan Atletico Madrid bahkan berlanjut di fase gugur. Mereka juga menyingkirkan Inter Milan pada playoff babak 16 besar dengan agregat 5-2.
Namun, kisah itu telah berakhir di babak 16 besar setelah disingkirkan Sporting.
Mengapa Tottenham Hotspur seolah di titik nadir setelah disingkirkan Atletico Madrid?
Meskipun kalah 2-3 dari Tottenham Hotspur, Atletico Madrid menjadi salah satu dari delapan tim terbaik di Liga Champions Eropa 2025-2026. Mereka lolos ke perempat final setelah mengukir kemenangan agregat 7-5 sekaligus mengirim Spurs ke titik nadir, yakni tersingkir dari Eropa yang menjadi harapan mereka di tengah kondisi babak belur di dalam negeri.
Pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions pada Kamis (19/3/2026) itu menyimpulkan musim traumatis Tottenham Hotspur. Di Stadion Tottenham Hotspur, taun rumah menang. Namun, kemenangan saja tidak cukup.
Atletico Madrid punya bekal lebih berharga dengan skor 5-2 saat bermain di markas mereka. Tak cuma itu, tim tamu mampu meredam Spurs yang sebenarnya mulai menemukan jalan kebangkitan.
”Ini saatnya untuk berbahagia. Sebagai klub, tim, dengan kegembiraan kami lolos ke perempat final. Kami harus berjuang seperti yang telah kami lakukan,” kata Pelatih Atletico Madrid Diego Simeone kepada AS.
Bagi Spurs, hasil tersebut seperti antiklimaks dari upaya kebangkitan mereka. Di Liga Inggris, Spurs perlahan bangkit dengan meraih hasil imbang 1-1 melawan Liverpool setelah enam kekalahan beruntun.
Atletico mengirim Spurs ke titik nadir mereka, yakni tersingkir dari Liga Champions. Kini, satu-satunya harapan mereka adalah berjuang dari tubir degragasi di Liga Inggris.
"Perasaannya campur aduk. Anda tidak suka kalah, tetapi itu adalah penampilan yang sangat bagus. Itu adalah sensasi yang indah di lapangan bersama para penggemar yang benar-benar ada bersama skuad dan tim sejak saat pertama,” kata Manajer Spurs Igor Tudor kepada BBC.