Setelah relatif damai sejak 2020, perang kembali pecah di Suriah. Dari Idlib, serangan kilat pasukan Hayat Tahrir al-Sham menyapu Aleppo, Hama, hingga Homs.
07 Des 2024 15:29 WIB · Internasional
Perang Suriah kembali bergejolak sejak 27 November 2024 setelah empat tahun gencatan senjata yang diprakarsai Turki, Rusia, dan Iran. Perang Suriah adalah sengkarut persoalan dalam negeri, pertarungan antara kekuatan-kekuatan di kawasan, dan antara kekuatan-kekuatan global yang membelah Suriah menjadi tiga bagian: satu bagian dikuasai pemerintah, bagian lain dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi, dan satu bagian lainnya dikontrol kelompok Kurdi.
Sebelum serangan kilat pasukan oposisi bersenjata yang dipimpin Hayat Tahrir al-Sham merebut kota Aleppo pada 29 November 2024, Suriah terbagi atas wilayah kekuasaan pemerintah sekitar 60 persen di kota Damaskus di wilayah selatan, kota Homs di tengah dan sebagian wilayah barat Provinsi Latakia. Pemerintah Suriah dan militernya mendapat dukungan Rusia, Iran, dan Hizbullah di Lebanon.
Wilayah timur laut Suriah atau wilayah hampir seluas 30 persen negeri Suriah, tepatnya di sebelah utara Sungai Eufrat, dikuasai kelompok Kurdi melalui Pasukan Demokratik Suriah (SDF) didukung Amerika Serikat. AS juga menguasai kantong wilayah timur Suriah yang berbatasan dengan Irak.
Adapun kelompok oposisi yang berhubungan dengan Turki berada di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, dan wilayah Suriah utara yang berbatasan dengan Turki. Kelompok oposisi terkuat adalah Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan Tentara Nasional Suriah (Syrian National Army).
HTS merupakan sempalan dari kelompok Al-Qaeda dan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Dalam wawancara dengan televisi CNN, Pemimpin HTS, Abu Mohammed al-Golani atau Abu Mohammed al-Jawlani, Jumat (6/12/2024), saat ditanya soal status organisasi teroris yang disematkan kepada HTS oleh PBB, AS, Turki, dan beberapa negara, dia mengatakan, pihaknya sudah memutus hubungan dan berseberangan dengan NIIS.
”Apa yang dulu saya lakukan dan terjadi di Irak (kekerasan NIIS) tidak akan terjadi di Suriah. Kita berubah seiring perjalanan waktu. Sasaran kami adalah mengalahkan rezim Assad,” kata Golani.
Dari kelompok HTS diketahui ada anggotanya yang berasal dari berbagai penjuru dunia, seperti dari Chechnya di Pegunungan Kaukasus, Rusia, hingga Xinjiang, China. HTS juga menguasai perdagangan antarnegara di wilayah Idlib dan Turki.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/251c437693887dfec34704e38fbe7c2a-000_36NF8PL.jpg)
Berbagai media Ukraina, seperti Kyiv Post, dalam laporan sejak awal Desember 2024 mengungkapkan dugaan keterlibatan personel intelijen Ukraina dalam serangan kilat HTS dan kelompok-kelompok oposisi lain ke kota Aleppo dan kota Hama di Suriah utara.
Ukraina menyangkal tuduhan itu. ”Ukraina dengan tegas menolak tuduhan apa pun tentang dugaan keterlibatan kami dalam situasi keamanan yang memburuk di Suriah,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina Heorhii Tykhyi, Kamis (5/12/2024).
Sementara kelompok Tentara Nasional Suriah (SNA) kerap dianggap sebagai perpanjangan tangan militer Turki. SNA juga terlibat dalam perang di Libya dan perang Azerbaijan melawan Armenia.
Media Perancis, Le Monde, pada 7 Desember 2024 melaporkan, SNA diperkirakan berkekuatan 30.000-70.000 orang yang berasal dari Damaskus, Homs, dan Deraa. Beberapa unit SNA yang berhubungan erat dengan Turki adalah Brigade Sultan Suleiman Sah (SSSB), Divisi Al-Hamzah (HD), dan Brigade Sultan Murad.
Pakar Suriah, Orwa Ajjoub, yang sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Malmo, Swedia, mengatakan, faksi selain SNA, seperti Front Levant (LF), Jaysh al-Islam, dan Ahrar al-Sham, berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan Turki sambil melawan Pemerintah Suriah.
Kelompok-kelompok tersebut dikenal anti-Kurdi, musuh utama Pemerintah Turki, dan beranggotakan para petempur Arab dan Turki. Mereka terlibat dalam berbagai pertempuran melawan pasukan Kurdi, yang tergabung dalam SDF dukungan Amerika Serikat dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang bersekutu dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Turki dan sejumlah negara dan entitas, termasuk Uni Eropa, memasukkan PKK dalam daftar kelompok teroris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/03/00e666bf-f178-4b50-9a70-60cefb435366.jpg)
Kekuatan yang menguasai sebagian besar wilayah Suriah, yakni pemerintah dan militer Suriah, sebagai kekuatan utama hingga pecah perang Ukraina (2022-sekarang) dan perang Hamas-Israel (2023-sekarang). Militer Suriah melalui Divisi 25 Pasukan Khusus atau Pasukan Harimau adalah ujung tombak kemenangan tentara Assad dalam merebut kota Aleppo dari pasukan oposisi bersenjata pada Desember 2016.
Pasukan elite Suriah itu bergerak dengan dukungan Angkatan Udara Rusia yang berpangkalan di Khemeimim di Provinsi Latakia.
Setelah Rusia mengobarkan perang lewat invasi ke Ukraina sejak Februari 2022, sementara Hizbullah-Iran juga terlibat dalam Perang Hamas-Israel sejak Oktober 2023, perimbangan kekuatan di Suriah berubah. Situasi pun mulai berbalik. Perlahan-lahan, satu demi satu wilayah yang semula dikuasai tentara Pemerintah Suriah direbut dan jatuh ke tangan pasukan oposisi pimpinan HTS.
Pada Jumat (6/12/2024) waktu setempat, pasukan oposisi Suriah telah bergerak maju mencapai pusat kota Homs. Sebelumnya mereka merebut kota terbesar kedua, Aleppo, dan kota terbesar keempat, Hama. Kota Daraa di wilayah selatan dan Deir el-Zor di wilayah timur juga jatuh ke tangan pasukan anti-pemerintah pada Sabtu (7/12/2024).
Berkurangnya kekuatan Rusia serta Iran dan Hizbullah di Suriah, bertumbuhnya kekuatan HTS, SNA, dan SDF, serta buntunya perundingan Turki-Suriah menjadi faktor yang memengaruhi perang Suriah yang kembali meletus sejak 27 November 2024.
Setelah merebut Aleppo dan Hama, pasukan HTS dan aliansi pro-Turki merebut kota Homs, Jumat (6/12/2024). Kota Homs dan Jalan Raya M5 adalah penghubung wilayah selatan-utara dan persimpangan barat-timur Suriah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/06/22a23223-06db-4d69-9923-3debe5c624ff_png.png)
Jika Homs jatuh ke tangan oposisi, terputuslah hubungan darat antara kota Damaskus, jantung kekuasaan Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan Provinsi Latakia, tempat pangkalan Angkatan Laut dan pangkalan udara Rusia. Pangkalan Angkatan Laut Tartus di Latakia menjadi satu-satunya Pangkalan Angkatan Laut Rusia di perairan hangat di Laut Tengah.
Di Latakia juga terdapat komunitas Alawi, salah satu sekte Syiah yang merupakan bagian dari pendukung utama pemerintahan Assad.
Di sisi timur laut Suriah, pasukan SDF hingga Jumat (6/12/2024) telah merebut kota Deir al-Zour di selatan Sungai Eufrat yang sebelumnya dikuasai pasukan Pemerintah Suriah. Kota tersebut berbatasan dengan Irak di sisi timur Suriah.
Kota Deir Al Zour terletak di bagian persimpangan Jalan Raya M 20 yang membentang dari Damaskus ke jurusan timur dan timur laut Suriah menuju Irak dan Turki.
Omar Abu Layla dari media Deir Ezzor 24 mengatakan kepada Reuters, pasukan Suriah dan sukarelawan Irak dukungan Iran mundur dari Deir al-Zour. Pasukan SDF melanjutkan gerakan ke kota Albukamal yang persis berbatasan dengan Irak.
Saleh Muslim, Pemimpin Partai Persatuan Demokratik (PYD) Kurdi, salah satu kekuatan dominan di wilayah kekuasaan SDF, dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Arabiya menyampaikan ucapan selamat kepada HTS yang meraih rangkaian kemenangan. Meski demikian, dia juga mengingatkan agar HTS bisa hidup berdampingan dengan warga Suriah yang berbeda pandangan.
Aghiad Ghanem, akademisi dari Institut Ilmu Politik Paris, dalam wawancara dengan media France 24, Kamis (5/12/2024), menceritakan pengalamannya berkunjung ke Latakia. ”Masyarakat di sana pendukung Pemerintah Suriah. Mereka mengatakan sudah lelah dengan perang,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/07/cc387cfb35b7e0efc594a4215895dad4-Syria_Opposition_125983386.jpg)
Turki berkepentingan menahan laju kelompok Kurdi di Suriah utara dan timur, seraya membendung rezim Suriah yang didukung Iran dan Hizbullah, pesaing kekuatan di kawasan. Terlebih berbagai pasokan senjata Iran mengalir dari Iran melalui jaringan di Irak-Suriah-Lebanon dan jaringan perlawanan Palestina.
Di sisi lain, Turki juga menampung 3,5 juta pengungsi Suriah. Sepanjang perang Suriah sejak tahun 2011, sudah ada 13 juta penduduk Suriah mengungsi ke sejumlah negara.
Joshua Landis dari Pusat Timur Tengah Universitas Oklahoma, AS, mengatakan, masyarakat di wilayah Pemerintah Suriah menderita akibat kesulitan hidup akibat sanksi ekonomi Barat. Sementara di wilayah oposisi, seperti di wilayah kontrol HTS, dilakukan pendekatan terhadap minoritas Kristen dan Druze dan mengupayakan tidak terjadi penganiayaan, seperti pada era NIIS.
Suriah adalah satu-satunya negeri tempat komunitas Kristiani zaman Yesus Kristus yang tersisa. Mereka masih menggunakan bahasa Aramaik yang digunakan pada zaman Yesus Kristus. Bahasa itu kini tidak lagi digunakan di negara-negara lain di Timur Tengah.
Di pihak lain ada kepentingan AS dan Israel di kawasan. Keberadaan wilayah SDF di Suriah utara berbatasan langsung dengan Kurdistan Irak di Irak utara yang stabil dan memiliki pertumbuhan ekonomi. Israel berkepentingan memutus jalur logistik Hizbullah-Hamas yang melalui Suriah. Israel juga menduduki Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah, sejak Perang Arab-Israel tahun 1967.
Pertarungan lebih dari tiga kubu kekuatan ini masih terus berlangsung. Gonul Tol, Direktur Kajian Turki di Institut Timur Tengah, mengatakan bahwa saat ini negara besar, seperti AS dan Rusia, dianggap gagal mengedepankan penyelesaikan diplomatik dalam mengatasi kebuntuan perang saudara Suriah.
(Reuters/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Muhammad Samsul Hadi