BULU TANGKIS

Setengah Abad PB Jaya Raya, Terus Lahirkan Generasi Emas

PB Jaya Raya merayakan 50 tahun perjalanan membina bulu tangkis. Salah satu klub besar di Tanah Air ini berkomitmen untuk terus melahirkan atlet berprestasi.

10 Agt 2026 19:07 WIB · Olahraga

Erly Bahtiar/untuk Kompas

Oleh Yulia Sapthiani

TANGERANG SELATAN, KOMPAS — Lima puluh tahun Jaya Raya berdiri dan selama itu pula klub bulu tangkis ini berupaya menghasilkan generasi emas. Waktu yang telah dilalui dijadikan landasan 50 tahun berikutnya untuk terus berprestasi. 

PB Jaya Raya berusia 50 tahun pada 26 Juli 2026 dan perayaannya diselenggarakan di GOR Ciputra Jaya Raya, Bintaro, Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026). Mantan atlet yang menjadi bagian dari berdirinya klub, Rudy Hartono dan Retno Kustiyah, hadir bersama pengurus dari generasi berikutnya, seperti Susy Susanti dan Rosiana Tendean. 

Hadir pula atlet dan mantan atlet nasional binaan Jaya Raya seperti Muhammad Rian Ardianto, Apriyani Rahayu, Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan, Greysia Polii, dan Nitya Krishinda Maheswari. Mereka bergabung dengan pemain-pemain muda klub di gedung yang terdiri atas 16 lapangan. 

Ketua Umum PB Jaya Raya, Susy Susanti, menerima potongan tumpeng dari putra pemilik PB Jaya Raya, Candra Ciputra, pada perayaan ulang tahun klub tersebut di Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026).

Perayaan ulang tahun ditandai pemotongan tumpeng oleh beberapa pengurus Jaya Raya yang diberikan kepada Susy, Rosiana, serta atlet yunior Jaya Raya yang diwakili Muhammad Zilazik Artando Zakaria dan Affizah Rahmadhani.

Acara lain yang menandai perayaan adalah peresmian pergantian nama gedung dari GOR PB Jaya Raya Bintaro Jaya menjadi GOR Ciputra PB Jaya Raya Bintaro Jaya. Ciputra adalah pengusaha pendiri PB Jaya Raya.

Ada pula pemberian penghargaan kepada keluarga mantan atlet, yaitu keluarga Minarni Soedaryanto dan Markis Kido, juga kepada Zilazik/Affizah. Mereka meraih lima gelar juara turnamen nasional dan internasional pada 2026 hingga menjadi ganda campuran peringkat teratas nasional dan peringkat ketiga untuk kategori U-19. 

Istri Markis Kido (alm), Richa (kanan), menerima tali asih dari Ketua Harian PB Jaya Raya, Rosiana Tendean. Ini menjadi salah satu rangkaian acara perayaan ulang tahun ke-50 PB Jaya Raya di Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026).
Quote

Lima puluh tahun ini bukan perayaan, melainkan fondasi untuk melanjutkan perjuangan, membangun masa depan bulu tangkis Indonesia karena prestasi tidak bisa lahir secara instan.

Mewakili rekan-rekannya, atlet pelatnas berusia 19 tahun, Salma Mufida, menyampaikan bahwa Jaya Raya bukannya tempatnya berlatih, melainkan telah menjadi rumah yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. ”Saya belajar bahwa menjadi atlet bukan hanya mencari kemenangan, melainkan belajar disiplin dan tangguh menghadapi tantangan. Terima kasih telah membimbing saya sehingga bisa tumbuh sebagai atlet dan remaja,” ujar Salma.

Susy, yang bergabung dengan Jaya Raya pada 1984 dan saat ini menjadi Ketua Umum PB Jaya Raya, menuturkan, 50 tahun bukan perjalanan singkat bagi Jaya Raya untuk konsisten membina atlet hingga melahirkan para juara di tingkat dunia. Susy adalah salah satu atlet Jaya Raya peraih medali emas Olimpiade, yaitu di Barcelona 1992.

Mengikuti jejak Susy ada Candra Wijaya/Tony Gunawan (Olimpiade Sydney 1996), Kido/Hendra (Beijing 2008), dan Greysia/Apriyani (Tokyo 2020). Atlet-atlet Jaya Raya juga meraih sembilan gelar juara dunia sejak Rudy Hartono dan Imelda Wigoeno (berpasangan dengan Christian Hadinata) pada 1980 hingga Hendra (bersama Mohammad Ahsan) pada 2019.

Rudy Hartono menunjukkan tanda penghargaan dari PB Jaya Raya setelah 50 tahun menjadi ketua umum klub tersebut di Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026). Rudy adalah delapan kali juara All England dan juara dunia 1980.

”Lima puluh tahun ini bukan perayaan, melainkan fondasi untuk melanjutkan perjuangan, membangun masa depan bulu tangkis Indonesia karena prestasi tidak bisa lahir secara instan. Seorang atlet tidak hanya harus terus belajar, tetapi juga disiplin hingga bisa menjadi atlet berkarakter,” kata Susy yang menggantikan Rudy sebagai Ketua Umum PB Jaya Raya sejak 1976 hingga 2026.

PB Jaya Raya lahir sebagai salah satu bentuk kepedulian Yayasan Jaya Raya yang berdiri pada 1970 atas prakarsa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan ditindaklanjuti oleh sejumlah pengusaha, salah satunya Ciputra. Setelah mendirikan Persatuan Sepak Bola (PS) Jayakarta pada 1970 dan Persatuan Atletik Jaya Raya (1971), Yayasan Jaya Raya memberi perhatian pada bulu tangkis karena cabang ini bisa membawa nama Indonesia ke pentas dunia. PB Jaya Raya pun lahir pada 1976. Lima tokoh yang berperan dalam berdirinya dan penggerak PB Jaya Raya adalah Rudy Hartono, Retno Kustiyah, Atik Djauhari, Ridwan, dan Utami Dewi.

Seperti disebutkan dalam buku 50 Tahun Jaya Raya, Tak Henti Membangun Generasi Emas yang ditulis Broto Happy Wondomisnowo, pencarian atlet pada awalnya dilakukan melalui pertandingan ekshibisi dalam rangka peresmian dan pembukaan PB Jaya Raya pada 17 Oktober 1976.

Pasangan pebulutangkis ganda putra Indonesia Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan bersama medali emas yang diraihnya tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, seusai menjuarai Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Swiss, Selasa (27/8/2019). Dua pasangan ganda lainnya yaitu pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriani Rahayu dan pasangan ganda putra Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto juga meraih medali perunggu dalam kejuaraan tersebut.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO (RON)
27-08-2019

Selain itu, untuk memenuhi kriteria bahwa atlet Jaya Raya haruslah pemain yang memiliki potensi berprestasi di tingkat nasional dan internasional, didatangkanlah pemain dari Suryanaga Surabaya, klub yang didirikan Zulkarnain Kurniawan, ayah dari Rudy Hartono. Atlet-atlet tersebut di antaranya Kurniahu (ayah dari Marcus), Djunianto, dan Thomas Pranoto.

Seiring waktu, ketika Jaya Raya semakin dikenal, atlet pun berdatangan untuk bergabung dengan klub ini. Pencarian atlet juga dilakukan melalui pemantauan pada turnamen nasional. Salah satu yang terjaring dengan cara ini adalah Susy.

”Setelah beberapa kali juara turnamen pada 1982, saya ditawari Mbak Kus (Retno Kustiyah) untuk masuk Jaya Raya. Klub lain, yaitu Djarum dan Tangkas, juga memberi tawaran. Pertimbangan saya dan orangtua memilih Jaya Raya saat itu adalah adanya fasilitas yang lengkap. Tempat latihan dekat dengan sekolah,” kata Susy yang pindah dari Tasikmalaya, Jawa Barat, ke Jakarta dalam usia 13 tahun.

<p>Gold medalists Greysia Polii and Apriyani Rahayu of Indonesia celebrate on the podium during the medal ceremony for the women’s doubles badminton at the 2020 Summer Olympics, Monday, Aug. 2, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Dita Alangkara)</p>

Sejak 2013, cara lain mencari bibit baru digunakan, yaitu menggaet klub satelit yang berafiliasi dengan Jaya Raya. Susy mengatakan, cara tersebut cukup efektif untuk mendapat atlet potensial dari berbagai daerah.

Satu hal lain yang menjadi kelebihan Jaya Raya dalam membina atlet adalah dengan tetap memberi perhatian dalam bidang pendidikan. Setiap atlet yang dibina di GOR Jaya Raya Bintaro diwajibkan sekolah. Ciputra, yang merupakan pengusaha, memandang pentingnya ilmu kewirausahaan bagi atlet. Ini menjadi bekal bagi mereka ketika pada suatu saat tak lagi menjadi atlet.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar