Kompas.id Brief
LIGA ITALIA

Siapa Bisa Membendung Inter Milan?

Inter Milan sulit terbendung di puncak klasemen Liga Italia. Mereka paling dijagokan menjadi juara Liga Italia akhir musim ini.

16 Feb 2026 16:01 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Yulvianus Harjono

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa Juventus marah dan merasa dirugikan wasit seusai dikalahkan Inter?
  2. Mengapa peran Luka Modric masih sentral untuk AC Milan?
  3. Seperti apa persaingan empat besar yang lebih semarak ketimbang persaingan juara di Liga Italia?
  4. Mengapa ”pinjam dulu” menjadi tren strategi klub-klub Liga Italia di jendela transfer musim dingin 2026?

Inter Milan kian nyaman di puncak klasemen Liga Italia setelah mengalahkan Juventus, 3-2, pada laga derbi Italia di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Italia, Minggu (15/2/2025) dini hari WIB. Capaian itu menjadi kemenangan keempat beruntun ”I Nerazzurri” di Liga Italia dan keenam beruntun di berbagai ajang.

Inter—yang mengemas 61 poin dari 25 laga—kini unggul jauh, yaitu delapan poin, atas AC Milan, tim peringkat kedua, yang memainkan 24 laga. Inter juga unggul 11 poin atas juara bertahan, Napoli, yang ditahan AS Roma, 2-2, pada Senin (16/2/2025) dini hari WIB.

Opta pun menjagokan Inter bakal menjuarai Liga Italia bersama pelatih barunya, Cristian Chivu, pada akhir musim nanti. Peluang mereka meraih scudetto (gelar juara Liga Italia) untuk ke-21 kalinya adalah 90,15 persen. Tim kedua yang dijagokan juara adalah Milan dengan peluang sebesar 8,01 persen.

Mengapa Juventus marah dan merasa dirugikan wasit seusai dikalahkan Inter?

copy title

Derbi Italia di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Minggu (15/2/2026) WIB, dimenangi Inter Milan, 3-2, atas Juventus. ”I Nerazzurri” kian kokoh dan tak terusik di puncak klasemen. Di sisi lain, Juve pulang dengan kemurkaan tentang sistem perwasitan di Liga Italia.

Pendukung Juventus dan pencinta netral Liga Italia menyoroti peran wasit Federico La Penna yang ikut memengaruhi hasil laga. La Penna mengganjar bek kanan Juve, Pierre Kalulu, kartu kuning kedua pada menit ke-42. Hal itu menyebabkan ”I Bianconeri” bermain dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama.

Pelatih Juventus Luciano Spalletti.

Situasi itu diprotes keras oleh Pelatih Juve Luciano Spalletti serta dua petinggi Juve, Giorgio Chiellini (Direktur Strategi Sepak Bola) dan Damien Comolli (CEO). Mereka mencegat La Penna di tangga lorong ruang ganti stadion pada jeda babak.

Teriakan Chiellini paling terdengar dari rekaman video insiden itu yang viral di jagat maya. Salah satu mantan bek terbaik Juve dan timnas Italia itu dikenal kalem ketika bertanding, tetapi kemarahannya pecah.

”Jelas ada kelompok wasit yang tak berkompeten memimpin pertandingan. Ini memalukan, kita harus ubah (sistem perwasitan) sekarang,” tutur Chiellini kepada Sky Sports seusai laga itu.

Spalletti menolak melakukan wawancara dengan pemilik hak siar resmi setelah pertandingan. Ia juga tidak menghadiri konferensi pers setelah pertandingan. Selain Spalletti, pemain-pemain Juve tidak ada yang berhenti dan menyambut permintaan wawancara di zona campuran sebelum meninggalkan stadion.

Luca Marelli, mantan wasit Liga Italia yang mengamati laga di DAZN, menyebut La Penna melakukan kesalahan besar. Ia pun menyebut aturan VAR yang hanya bisa berperan pada kartu merah langsung adalah absurd.

”Keputusan itu error yang serius. La Penna tertipu dengan respons Bastoni (setelah ada sentuhan dengan Kalulu),” kata Marelli.

Mengapa peran Luka Modric masih sentral untuk AC Milan?

copy title

AC Milan sebenarnya bisa saja menang tanpa drama jika menghadapi tim penghuni zona degradasi, Pisa, di Stadion Romeo Anconetan, Sabtu (14/2/2026), dengan mentalitas yang sama seperti ketika menghadapi tim peringkat lima besar. Namun, tim asuhan Massimiliano Allegri ini tampak memilih menyulitkan diri sendiri sebelum akhirnya menang 2-1.

Tim tamu memang unggul secara penguasaan bola dengan 66 persen, tetapi secara serangan kalah efektif dari Pisa. Akurasi tembakan hanya 28 persen, berbanding 33 persen milik tuan rumah. Peluang besar via titik putih pun tak mampu dikonversi menjadi gol.

Gelandang AC Milan, Luka Modric, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Pisa di Stadion Romeo Anconetan, Pisa, Sabtu (14/2/2026). Milan menang 2-1 pada laga pekan ke-25 Liga Italia tersebut.

Padahal, saat melawan pemuncak klasemen Inter Milan pada pekan ke-12, misalnya, Milan tampil lebih baik. Meski ada juga faktor gengsi derbi, paling tidak ”I Rossoneri” membawa mentalitas pemenang dengan serangan yang efektif sebesar 42 persen walau jumlah tembakan hanya 7 berbanding 20.

Masalahnya, tim-tim papan bawah, seperti Pisa, memang kerap menyulitkan Milan. Seperti ada kutukan yang membayangi Milan ketika melawan tim yang di atas kertas sebenarnya lebih lemah dari mereka.

”Para pemain lain harus belajar dari Luka (Modric). Terlepas dari kualitas tekniknya yang luar biasa, dia terus berusaha dan mencoba untuk meraih kemenangan. Itu lebih karena karakter,” ujar Allegri.

Modric, yang dinobatkan sebagai man of the match, memang muncul sebagai penyelamat ketika Milan dalam kesusahan. Setelah eksekusi penalti Niclas Fulkrug gagal pada menit ke-56, Milan justru kebobolan oleh Felipe Loyola pada menit ke-71. Skor imbang kembali membayangi tim tamu.

Modric hadir untuk menjadi pembeda. Gelandang veteran ini merangsek ke kotak penalti lewat kerja sama dengan Samuele Ricci untuk memastikan Milan kembali unggul lima menit sebelum laga usai dalam waktu normal.

Gol kemenangan Modric membawanya mencatatkan diri sebagai pemain tertua ketiga yang mencetak gol di Serie A pada usia 40 tahun 157 hari. Modric bersanding dengan Alessandro Costacurta dan Zlatan Ibrahimovic.

Seperti apa persaingan empat besar yang lebih semarak ketimbang persaingan juara di Liga Italia?

copy title

Inter Milan telah memperlebar jarak keunggulan poin mereka di puncak klasemen. Untuk sementara, persaingan scudetto sudah monoton. Pertarungan justru lebih menarik untuk perebutan tiga tim tersisa di zona empat besar.

Empat tim di peringkat kedua hingga kelima hanya berjarak tujuh poin. AC Milan di peringkat kedua dengan koleksi 53 poin dari 24 laga, Napoli ketiga 50 poin dari 25 laga, AS Roma dengan 47 poin dari 25 laga, dan Juventus dengan 46 poin dari 25 laga.

Pemain Juventus, Filip Kostic, merayakan golnya ke gawang Napoli pada laga Liga Italia di Turin, Italia, Minggu (25/1/2026) Juventus menang 3-0 pada laga itu.

Selain empat tim itu yang berpeluang mengejar peringkat empat besar, Como yang duduk di peringkat keenam juga memiliki kans. Tim milik Grup Djarum asal Indonesia itu merupakan tim ketujuh yang telah menyentuh 40 poin di Liga Italia edisi 2025-2026.

Dari perspektif Napoli, Pelatih Antonio Conte menilai masih terlalu dini untuk membahas persaingan scudetto. Ia menyebut Napoli memiliki tekad untuk menjaga pertarungan di papan atas.

”Sebuah pertanyaan yang absurd saat ini jika membahas peluang juara. Kami belum keluar dari kapal (persaingan) karena masih ada sejumlah pertandingan,” ucap Conte kepada Sky Sport Italia.

Adapun Juve mendapatkan suntikan keyakinan setelah menaklukkan Napoli, terlepas mereka kehilangan poin pada dua laga terakhir, yaitu kontra Lazio dan Inter Milan. ”Ini kemenangan penting untuk kesadaran apa yang kami lakukan dan kemampuan pemain bisa bermain di level tinggi. Laga besar adalah kesempatan pemain menunjukkan diri dan identitas mereka,” kata Pelatih Juve Luciano Spalletti seusai mengalahkan Napoli, dilansir Tuttosport.

Mengapa ”pinjam dulu” menjadi tren strategi Milan di jendela transfer musim dingin?

copy title

Memasuki menit ke-69 pada laga kontra Cagliari, Sabtu (3/1/2026) dini hari WIB, di Stadion Unipol Domus, Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri memasukkan penyerang baru, Niclas Fuellkrug, untuk menggantikan pencetak gol tunggal, Rafael Leao. Hanya kurang dari 24 jam diperkenalkan sebagai rekrutan pertama di transfer musim dingin 2025-2026, Fuellkrug mendapat kesempatan debut bersama ”I Rossoneri”.

Mengenakan nomor sembilan, Fuellkrug menjadi harapan Milan untuk menjadi sumber gol pada paruh kedua musim ini. Penyerang asal Jerman itu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan penyerang tengah murni Milan.

Penyerang West Ham', Niclas Fuellkrug, saat tampil melawan Chelsea di Liga Inggris, 22 Agustus 2025 lalu. Ia kini dipinjamkan ke klub Italia, AC Milan.

Pada musim ini, satu-satunya poacher murni Milan, yakni Santiago Gimenez, menderita cedera ankle parah sejak Oktober lalu. Gimenez diperkirakan baru bisa merumput kembali pada akhir Februari 2026.

Optimisme Milan itu seakan menutup kenyataan bahwa Fuellkrug hanya mencetak tiga gol dari 28 penampilannya bersama West Ham United selama 18 bulan berkompetisi di Liga Inggris. Angka yang sangat buruk dengan predikatnya sebagai andalam tim nasional Jerman.

Namun, bukan Liga Italia namanya jika tidak percaya pepatah ”selalu ada kesempatan kedua”. Milan meminjam Fuellkrug dari West Ham hingga akhir musim ini. Harapannya, Fuellkrug bisa segera akhir paceklik golnya sejak April 2025.

Milan mulai menunjukkan diri sebagai tim yang gemar memberikan kesempatan kedua kepada pemain hebat pada transfer musim dingin. Mereka meminjam pemain itu demi bangkit dari keterpurukan. Hal itu bisa dilihat dari peminjaman Kyle Walker dan Joao Felix pada Januari 2025. Mereka gagal membantu Milan menembus zona Eropa pada akhir musim 2024-2025.

Kondisi finansial tim-tim Italia, khususnya Milan, tidak sebagus Liga Inggris dan Liga Jerman sehingga mereka memilih untuk meminjam dulu pemain selama paruh kedua musim ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase