LEBARAN 2026

Strategi Pulang Kampung Hemat, dari Ikut Mudik Gratis sampai Berangkat Lebih Awal

Sepekan jelang Idul Fitri, sebagian warga mulai mudik dari Jakarta ke kampung halaman. Agar hemat, banyak yang memilih ikut mudik gratis atau berangkat lebih awal.

13 Mar 2026 18:01 WIB · Metropolitan

KOMPAS/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

Menjelang Lebaran 2026, masyarakat mulai mudik ke kampung halaman. Sebagian warga mengikuti mudik gratis dan ada pula yang memilih berangkat lebih awal dengan naik angkutan umum agar kantong tak bolong.

Arus mudik salah satunya terpantau di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, Jumat (13/3/2026). Siang itu, rombongan pengojek daring mulai mudik meninggalkan Jakarta dengan bus. Mereka merupakan peserta Gomudik yang merupakan program mudik gratis bagi mitra Gojek milik perusahaan teknologi GoTo.

Eko, pengojek daring dari Cilincing, Jakarta Utara, mengikuti program itu agar bisa mudik gratis ke Semarang, Jawa Tengah. ”Ini pertama ikut mudik gratis dari Gojek. Saya boyong istri dan anak. Kami sangat terbantu karena, kan, ekonomi (pendapatan) sedang turun,” tuturnya.

Sebelum pandemi Covid-19, Eko bisa mengantongi hingga Rp 500.000 dalam sehari. Namun, setelah pagebluk tersebut, pendapatannya tak menentu, berkisar Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

Pelepasan peserta mudik dari program Gomudik di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur pada Jumat (13/3/2026).

Selain kian banyak pesaing dan perang harga, Eko menyebut pendapatannya menurun, antara lain, karena adanya program hemat. Program ini membuat jarak jemputan tak sebanding dengan ongkos. ”Dua sampai tiga kilometer, tetapi hanya dibayar Rp 10.000 hingga Rp 12.000,” ujar Eko.

Pengojek daring lainnya, Dado, kebagian mudik ke Pati, Jateng. Ia senang sekaligus lega lantaran sudah tujuh tahun hanya melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman melalui panggilan video. ”Ongkos mahal, bisa sampai Rp 2 juta lebih untuk sekeluarga. Makanya kami senang banget mudik gratis,” ucapnya.

Dodo mudik bersama istri dan anak. Perjalanan ke Pati via Semarang itu sudah termasuk akomodasi serta makan dan minum selama perjalanan. Tabungannya pun aman untuk mudik kali ini.

Dodo juga menyebut pendapatannya sedang seret saat ini. Ia bahkan bekerja sambilan sebagai petugas keamanan lingkungan dengan sistem sif. ”Saya hanya narik (ojek) saat tidak jaga atau kalau ada kesempatan ngalong (ojek malam hari),” lanjutnya.

Pelepasan peserta mudik dari program Gomudik di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur pada Jumat (13/3/2026).

Mudik gratis

Direktur Utama/CEO GoTo Hans Patuwo melepas gelombang pertama keberangkatan mitra Gojek pada Jumat siang. Total ada 4.000 lebih pengojek yang akan berangkat ke Kuningan (Jawa Barat), Semarang, Surabaya (Jawa Timur), Lampung, dan Palembang (Sumatera Selatan).

”Kami berharap Gomudik bisa meringankan hambatan untuk mitra Gojek yang ingin kembali ke kampung halaman,” ujar Hans.

GoTo juga berharap Gomudik dapat mendukung pemerintah, khususnya menghadirkan arus mudik yang aman, tertib, dan terorganisasi.

Survei oleh Kementerian Perhubungan menunjukkan, jumlah pergerakan selama musim mudik tahun ini diperkirakan mencapai 143,9 juta orang. Jumlah ini berpotensi meningkat berkaca pada tren mobilitas tahun-tahun sebelumnya.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan sambutan dalam acara pelepasan Tim Mudik Gesit 2026 di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono melepas Tim Mudik Gesit 2026 di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas I Jawa Barat memeriksa kondisi bus yang melaksanakan program mudik gratis di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (12/3/2026). Program mudik gratis diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pemilik sepeda motor menunggu kendaraannya selesai diperbaiki di salah satu bengkel di Jalan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).
Montir memperbaiki sepeda motor milik pelanggan di salah satu bengkel di Jalan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

Pemerintah memperkirakan puncak arus mudik akan jatuh pada 14-15 Maret. Sementara itu, puncak mudik kedua pada 18-19 Maret.

Arus mudik diperkirakan paling banyak menuju Jateng dan Jatim, kemudian disusul Jabar, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Sebaliknya, dari sisi daerah asal perjalanan, mobilitas terbesar diperkirakan dari Jabar, disusul Jakarta dan Jatim.

Pada musim mudik kali ini, moda transportasi darat masih menjadi andalan. Sedikitnya 76 juta orang diperkirakan mudik menggunakan mobil pribadi, lalu sepeda motor sekitar 24 juta orang, dan bus 23 juta orang. Dominasi kendaraan pribadi membuat beban utama arus mudik berada pada jaringan jalan tol dan jalan nasional.

Quote

Ongkos mahal, bisa sampai Rp 2 juta lebih untuk sekeluarga. Makanya kami senang banget mudik gratis.

Warga menunggu keberangkatan bus untuk mudik di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur pada Jumat (13/3/2026).

Hemat dan selamat

Di sisi lain, sebagian warga mudik lebih awal untuk menghemat pengeluaran. Mereka juga memilih mudik dengan angkutan umum demi kenyamanan dan keselamatan.

Pilihan itu, antara lain, diambil Novia (27), suami, dan dua anaknya. Warga Cipinang, Jakarta Timur, itu akan mudik ke Pacitan, Jatim, menggunakan bus dari Terminal Pulogebang.

”Saya dan suami memang sengaja beli tiket dari awal puasa. Kami juga berangkat lebih awal mengikuti libur sekolah anak. Jadi, nanti waktu menjelang masuk sekolah sudah mulai balik lagi gitu,” tutur Novia.

Ia membeli tiket sedari jauh hari agar tak pusing berebut kursi bus. Harga tiket pun masih terjangkau meskipun naik dari Rp 280.000 sampai Rp 285.000 ke Rp 590.000 hingga Rp 620.000.

”Uang sudah disiapkan jauh-jauh hari karena memang mau mudik,” ujar Novia.

Suasana ruang keberangkatan di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur pada Jumat (13/3/2026).

Zaki (38) dan keluarga juga memilih mudik dengan bus dari Terminal Pulogebang. Warga Duren Sawit, Jakarta Timur, ini hendak pulang ke Pamekasan di Pulau Madura.

Ia, istri, dan anak kebagian tiket Rp 530.000 per orang. Pada hari biasa, harga tiket berkisar Rp 340.000 sampai Rp 350.000. ”Tahun lalu saya enggak mudik. Tahun sebelumnya bawa mobil sendiri. Sekarang naik bus karena pengen nyantai di jalan,” tutur Zaki.

Zaki dan keluarga berangkat lebih awal agar tak terjebak macet. Perjalanan dengan bus juga mengurangi letih dan risiko kecelakaan ketika membawa kendaraan pribadi.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono seusai melepas peserta Gomudik menyampaikan, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan di jalan. Apalagi, ada keluarga tercinta yang menunggu di kampung halaman.

Pemerintah, kata Agus, terus berupaya menyiapkan sarana dan prasarana yang digunakan pemudik, terutama terkait jalan. ”Paling penting jangan sampai terjadi kecelakaan di jalan,” ujarnya.

Suasana arus mudik di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur pada Jumat (13/3/2026).

Politisi Partai Demokrat itu juga mengingatkan pengemudi bus untuk menjaga keselamatan di jalan raya. Mereka disarankan berhenti di area peristirahatan dan tidak memaksakan diri karena berpotensi membahayakan seisi bus.

Pemerintah juga menyediakan pos-pos kesehatan di sepanjang perjalanan. Ini bisa dimanfaatkan untuk memastikan kondisi tubuh.

Agus menyebutkan, pemerintah menyiapkan manajemen lalu lintas untuk mencegah kemacetan ekstrem. Selain memecah perjalanan warga, diterapkan pula kebijakan bekerja dari mana saja dan mitigasi bencana.

”Apakah karena hujan ekstrem mengakibatkan banjir, banjir rob, dan lain-lain. Kami siapkan disaster relief unit yang siap sedia memperbaiki kondisi fasilitas atau infrastruktur yang rusak,” ujar Agus.

Dia menambahkan, Kementerian Perhubungan menjamin kesiapan semua moda transportasi. Tidak hanya di jalan raya, tetapi juga kereta api, kapal, dan pesawat terbang.

”Lalu puncak arus balik, 24-25 Maret dan 28-29 Maret, disiapkan sebaik-baiknya. Strategi dan kebijakan ini terbukti efektif saat penyelenggaraan mudik tahun lalu, termasuk masa Natal dan Tahun Baru,” ucap Agus.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul