Takdir Liga Spanyol Ditentukan Real Madrid

Saat Barcelona akan semakin matang bersama Flick, Real Madrid memulai evolusi di bawah rezim Alonso. Persaingan juara sudah bisa ditentukan hanya dari sisi Madrid.

14 Agt 2025 08:30 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Bagi Barcelona, nyaris hanya Real Madrid satu-satunya yang bisa mengusik dalam perburuan gelar Liga Spanyol. Berbeda dengan skuad Madrid yang punya dua penghalang sekaligus. Barca, sang juara bertahan, merupakan yang pertama. Kedua dan yang paling krusial adalah diri mereka sendiri.

Tanda tanya besar tertuju kepada Madrid jelang musim baru 2025-2026 yang akan segera berlangsung pada Sabtu (16/8/2025) WIB. Mampukah tim raksasa ibu kota Spanyol tersebut mengembalikan takhta juara yang menyeberang ke pelukan sang rival abadi di musim lalu?

Jawabannya sederhana, ”El Real” harus bisa menang melawan diri sendiri terlebih dulu. Hal itu terkesan klise, tetapi memang dibutuhkan. Musim lalu, skuad Madrid tampil jauh di bawah ekspektasi dan gagal meraih trofi mayor. Pelatih sebelumnya, Carlo Ancelotti, meninggalkan problem kompleks.

Xabi Alonso, murid Ancelotti, datang sebagai pelatih baru untuk mengembalikan marwah Madrid. Dia kembali ke Stadion Santiago Bernabeu dengan kisah sukses bersama tim Jerman, Bayern Leverkusen. Di atas kertas, tugas di Madrid seharusnya lebih mudah karena materi skuad sangat mewah.

Namun, kenyataan di lapangan tidak seindah bayangan. Alonso merupakan pelatih yang sangat mengutamakan kolektivitas tim untuk menampilkan permainan berintensitas tinggi. Dia menuntut seluruh pemain turut berperan dalam situasi ofensif maupun defensif. Tidak ada ”anak emas”.

Sebaliknya, resep sukses Ancelotti selama satu dekade terakhir di Madrid adalah dengan memberikan kebebasan berekspresi kepada pemain-pemain bintang. Baginya, jika para pemain bisa mengeluarkan potensi individu terbaik, performa tim akan terangkat dengan sendirinya.

Pelatih Real Madrid Xabi Alonso (kedua dari kanan) memeluk Kylian Mbappe saat melawan Juventus pada laga babak 16 besar Piala Dunia Antarklub, Rabu (2/7/2025) WIB, di Stadion Hard Rock, Miami, Florida. Real menang 1-0 pada laga itu.

Sialnya, resep itu tidak bekerja musim lalu seiring kedatangan penyerang megabintang Kylian Mbappe. Ternyata tidak ada solusi untuk menyatukan Mbappe dengan pemain sayap Vinicius Junior. Selain beroperasi di area yang sama, mereka juga menjadi beban tim ketika tanpa penguasaan bola.

Tantangan berlapis pun menanti Alonso. Mantan gelandang Madrid itu tidak hanya harus menghadirkan prestasi. Dia juga harus memfasilitasi Mbappe dan Vinicius, pemain paling berharga dalam tim. Padahal, sepasang megabintang itu bisa mengganggu skema permainan superagresif miliknya.

Etos pemain

Kompleksitas masalah Madrid sedikit tecermin di Piala Dunia Antarklub 2025. Tim asuhan Alonso tampak baik-baik saja nyaris sepanjang turnamen di tengah ketidakhadiran Mbappe. Penyerang asal akademi klub, Gonzalo Garcia, mengisi kekosongan dan mengantar Madrid sampai semifinal.

Saat Mbappe kembali sebagai starter untuk pertama kali di semifinal, Madrid ditaklukkan Paris Saint-Germain 0-4. PSG, juara terbaru Liga Champions, memang sedang ”panas”. Namun, permainan Madrid seharusnya tidak seburuk itu. Sistem kolektif nan intens yang diinginkan Alonso tidak terlihat.

Thibaut Courtois, kiper Madrid, mengungkapkan seusai laga, mereka kalah karena tidak mampu mengeksekusi rencana sang pelatih, terutama saat tanpa penguasaan bola. ”Kami tidak bisa menekan seperti mereka (PSG). Kami selalu terlambat dan salah penempatan posisi,” ujarnya.

Bukan tanpa alasan, Alonso sangat menyambut kemunculan Garcia yang masih minim pengalaman dengan usia 21 tahun. Selain peran Garcia dan Vinicius tidak saling bertabrakan, penyerang  murni ”nomor 9” itu selalu menunjukkan etos kerja tinggi dengan membantu bertahan.

Alonso terus mencari cara untuk menemukan formasi terbaik. Di semifinal, dia bahkan memainkan Vinicius, Mbappe, dan Garcia bersamaan sejak sepak mula. Eksperimen itu berujung gagal total. Sementara itu, sang pelatih juga terus mengubah mentalitas para pemain untuk lebih disiplin dalam bertahan.

Pemain Real Madrid Gonzalo Garcia merayakan gol ke gawang Juventus pada laga babak 16 besar Piala Dunia Antarklub, Rabu (2/7/2025) WIB, di Stadion Hard Rock, Miami, Florida. Real menang 1-0 pada laga itu.

Pelatih 43 tahun itu menyadari bahwa ia tidak bisa menggunakan ”tangan besi”. Dia kini melatih pemain ternama yang punya ego tinggi, tidak seperti di Leverkusen. Alonso pun memakai pendekatan lebih halus. Salah satunya fokus memuji kontribusi bertahan para pemain di depan media.

Alonso berkata, hanya butuh waktu untuk mengubah wajah tim. ”Kami sudah belajar banyak hal dan tahu apa yang harus kami perbaiki. Kami ingin membangun sistem bermain sebagai satu unit dengan semua pemain terlibat. Kami akan berbeda di musim depan,” ujarnya seusai Piala Dunia Antarklub.

Tidak bisa dimungkiri, takdir persaingan juara Liga Spanyol pada musim baru nanti berada dalam dekapan Madrid. Mereka dengan tambahan bek Dean Huijsen dan Trent Alexander-Arnold merupakan satu-satunya tim yang bisa menyaingi Barca dari kualitas skuad. Seperti diketahui, tim rival juga bertambah kuat.

Barca mengerjakan tugas dengan sangat baik selama jeda musim. Posisi penjaga gawang yang merupakan kelemahan di musim lalu berhasil diatasi. Mereka mendatangkan kiper Espanyol, Joan Garcia, yang digadang-gadang akan jadi sosok andalan tim nasional Spanyol di masa depan.

Penyerang andalan Barca, Raphina, juga tidak perlu lagi bermain di sayap kiri yang bukan posisi aslinya. Walaupun gagal memboyong sayap timnas Spanyol, Nico Williams, mereka sukses mendatangkan bintang timnas Inggris, Marcus Rashford, yang sedang berada dalam motivasi tertinggi.

Pemain Barcelona Lamine Yamal (kiri) menggiring bola dengan dibayangi pemain Atletico Madrid Clement Lenglet (R) pada laga kedua babak semifinal Copa del Rey Kamis (3/4/2025) dini hari WIB, di Stadion Civitas Metropolitano, Madrid. Barcelona menang dengan skor 1-0.

Bintang muda Barca, Lamine Yamal, juga akan semakin dewasa pada musim baru. Bayangkan betapa besar potensi serangan Barca dengan segala kombinasi tersebut. Adapun tim asuhan Pelatih Hansi Flick itu sudah berhasil menghasilkan 102 gol di liga pada musim sebelumnya.

Alhasil, tanda tanya terbesar akan ada di kubu Madrid. Sebelum mencoba bersaing dengan Barca, tim asuhan Alonso harus bertanya dulu kepada diri sendiri. Apakah bisa menjalankan ide besar sang pelatih untuk berjuang sebagai satu unit? Jika tidak, jangan harap bisa menyentuh Barca.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan