Peringatan tahunan penculikan 43 pelajar di Meksiko.
26 Sep 2025 10:44 WIB · Internasional
Unjuk rasa ratusan siswa dan keluarga korban hilang, Kamis (26/9/2025), di pangkalan militer di Meksiko, berubah menjadi bentrokan. Awalnya ratusan orang membawa foto-foto korban hilang sambil menyerukan keadilan bagi 43 siswa yang hilang pada tahun 2014.
Tak lama kemudian, beberapa demonstran muda dengan wajah tertutup menabrakkan truk ke salah satu pintu gerbang masuk kompleks militer. Saat truk berhenti, mereka menembakkan kembang api yang menyebabkan truk terbakar. Pihak berwenang melaporkan tidak ada korban dalam kejadian ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/e144b56c-6b9e-4236-9413-7d8d20fd402d_jpg.jpg)
Malam peringatan hilangnya para mahasiswa Ayotzinapa Rural Teachers College dijadikan simbol keterlibatan negara dalam pertumpahan darah di negara Amerika Latin tersebut. Pada tahun 2014, para pelajar berhasil menyita beberapa bus yang akan mereka kendarai ke ibu kota.
Mereka berencana mengikuti peringatan pembantaian pengunjuk rasa oleh pemerintah di tahun 1968. Dalam perjalanan, rombongan dicegat polisi dan terjadi bentrokan. Sejak saat itu 43 siswa itu hilang.
Pihak berwenang meyakini para pelajar tersebut diculik dalam perjalanan dan dibunuh oleh anggota kartel kriminal. Puluhan orang ditangkap, termasuk mantan jaksa agung, pejabat lokal, serta perwira militer dan polisi. Namun, belum ada seorang pun yang dihukum. Banyak pengunjuk rasa percaya keterlibatan negara dalam pembunuhan Ayotzinapa mungkin lebih dalam dari apa yang telah terungkap sejauh ini.
Aksi pada Kamis ini dapat menjadi sinyalemen protes yang lebih agresif yang akan digelar pada Jumat, tepat di hari peringatan 11 tahun serangan brutal tersebut. Sampai saat ini, baik motif maupun nasib para korban belum sepenuhnya diketahui.
Tiga dari mereka yang hilang telah teridentifikasi dari penemuan tubuh yang hangus terbakar. Komisi kebenaran pemerintah pada tahun 2022 menyatakan, hilangnya mahasiswa Ayotzinapa sebagai ”kejahatan negara”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/a0c97f25-6d65-4532-aeae-d48284c45d12_jpg.jpg)
Pihak berwenang meyakini semua pelajar tersebut dibunuh anggota kartel yang berkolusi dengan pasukan keamanan dan otoritas lokal, negara bagian, dan federal, termasuk personel militer. Kasus ini terus memicu kemarahan di seluruh Meksiko.
Selama bertahun-tahun, keluarga dan pengacara mereka telah menuntut angkatan bersenjata Meksiko untuk menyerahkan ratusan dokumen yang bisa menjadi kunci penyelesaian kasus ini, tetapi militer belum melakukannya. Presiden Claudia Sheinbaum telah mengganti jaksa yang menangani kasus tersebut dan menegaskan ada jalur penyelidikan baru. Namun, pihak keluarga mengatakan, mereka belum melihat kemajuan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto