Hal-hal yang bisa dipelajari dari artikel ini:
- Apa detail kesepakatan antara Indonesia dan AS?
- Bagaimana proses negosiasi hingga tarif akhirnya diturunkan?
- Apakah Pemerintah RI puas dengan hasil kesepakatan itu?
- Apa keuntungannya bagi Indonesia?
- Apa kerugiannya bagi Indonesia?
- Apakah tarif 19 persen kompetitif dibandingkan negara lain?
- Apa langkah pemerintah selanjutnya?
Setelah negosiasi selama sekitar tiga bulan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya sepakat menurunkan besaran tarif impor resiprokal atas produk-produk Indonesia yang masuk ke AS. Tarif dipangkas dari 32 persen menjadi 19 persen.
Apakah kesepakatan itu menguntungkan Indonesia? Bagaimana proses negosiasinya? Kompas merangkum poin-poin di bawah ini.
Apa detail kesepakatan antara Indonesia dan AS?
Kedua negara sepakat bahwa produk Indonesia yang masuk ke pasar AS dikenakan tarif bea masuk 19 persen, 1 persen lebih rendah dari produk asal Vietnam. Sementara, produk AS yang masuk ke Indonesia mendapat tarif nol persen alias bebas tarif.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia juga akan membeli produk energi dari AS senilai 15 miliar dollar AS, produk pertanian asal Amerika Serikat senilai 4,5 miliar dollar AS, dan 50 pesawat produk Boeing yang sebagian besar merupakan jet berbadan bongsor, yaitu Boeing 777.
Bagaimana proses negosiasi hingga tarif akhirnya diturunkan?
Indonesia-AS mencapai kesepakatan setelah negosiasi sekitar tiga bulan sejak awal April 2025. Dalam perjalanannya, Pemerintah RI mengajukan tiga paket penawaran kepada AS. Dua tawaran bersifat antarpemerintah (government to government), satu lagi bersifat antarpebisnis Indonesia dan AS (business to business).
Kesepakatan akhirnya tercapai melalui sambungan telepon kedua presiden, Trump dan Prabowo Subianto, Selasa (15/7/2025). Percakapan itu berlangsung di sela-sela perjalanan Prabowo ke Arab Saudi, Brasil, Inggris, Belarus, Belgia, dan Perancis.
Melalui sambungan telepon, perundingan berlangsung alot. Indonesia mesti berupaya memahami kepentingan AS, begitu pula sebaliknya. Prabowo juga menyebut ia harus berhadapan dengan Trump yang merupakan seorang negosiator keras.
Apakah Pemerintah RI puas dengan hasil kesepakatan itu?
Saat memberi pernyataan di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sepulang dari lawatan luar negeri, Rabu (16/7/2025), Prabowo mengakui hasil kesepakatan itu belum sepenuhnya memuaskan. Sebab, tarif belum mencapai angka nol persen, angka yang sebenarnya diinginkan Prabowo.
Meski demikian, Prabowo menilai, hasil kesepakatan itu sudah cukup mempertemukan kepentingan kedua negara. Misalnya, pembelian 50 pesawat Boeing asal AS. Ia menilai, Indonesia membutuhkannya untuk membesarkan maskapai nasional PT Garuda Indonesia.
Begitu pula bahan bakar minyak serta beberapa produk pertanian, seperti gandum dan kedelai, yang selama ini masih diimpor. Dengan demikian, tidak masalah jika produk-produk itu diimpor dari AS.
Apa keuntungannya bagi Indonesia?
Beberapa pihak memandang, impor produk AS yang menjadi bagian dari kesepakatan memang produk yang dibutuhkan oleh Indonesia, seperti sejumlah produk energi dan pertanian yang selama ini memang sudah diimpor.
”Kita membutuhkan produk-produk tersebut, hanya sumber (impornya) yang kita geser. Jadi, ini tidak akan mengganggu neraca perdagangan kita secara keseluruhan,” kata ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.
Tarif bea masuk atas produk Indonesia yang relatif lebih rendah ketimbang Vietnam dan sejumlah negara lain juga dinilai berpotensi mendongkrak ekspor, menjaga surplus neraca perdagangan, serta memberi sinyal positif bagi relokasi industri negara lain ke Indonesia.
Sementara, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, dengan terbukanya akses penuh terhadap produk AS, khususnya barang modal dan barang antara (intermediate goods), RI memiliki kesempatan untuk mengimpor teknologi maju, peralatan investasi, produk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta produk bernilai tambah tinggi lainnya dengan harga yang lebih kompetitif.
Apa kerugiannya bagi Indonesia?
Meski tarif 19 persen lebih rendah dari ancaman awal 32 persen, beberapa pihak khawatir kesepakatan itu mengorbankan pasar dan devisa Indonesia tanpa imbal balik strategis jangka panjang.
Ekonom dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai, kesepakatan tidak seimbang. AS mendapat keuntungan ganda, yakni menurunkan defisit perdagangan dan dapat memungut tarif impor 19 persen dari produk Indonesia yang masuk ke pasar AS.
Sementara, Indonesia tidak bisa mengenakan tarif atas produk impor asal AS, sesuatu yang bisa berdampak pada penerimaan negara. Sebagai bagian dari kesepakatan, akan ada pula impor dalam jumlah besar dari AS yang bisa meningkatkan tekanan pada neraca pembayaran dan neraca perdagangan Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan, pembebasan tarif bagi produk AS itu juga bisa memicu lonjakan impor pada sektor migas, produk elektronik, suku cadang pesawat, serealia, hingga produk farmasi. Barang impor yang lebih murah dan kompetitif dari AS itu dapat menambah tekanan bagi pelaku industri nasional di sejumlah sektor.
Apakah tarif 19 persen kompetitif dibandingkan negara lain?
Sekilas, pengenaan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk-produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Tarif 19 persen untuk Indonesia saat ini lebih rendah dibandingkan posisi Thailand dengan tarif 36 persen, Laos 40 persen, Malaysia 25 persen, dan Vietnam 20 persen dengan ketentuan tambahan untuk produk transshipment atau produk yang dialihkan melalui negara ketiga sebelum sampai ke tujuan akhir.
Namun, hal itu belum bisa dipastikan. Sebab, sejumlah negara pesaing saat ini masih dalam proses negosiasi dengan AS. Peta dan struktur tarif akhir pun masih bisa berubah. Belum bisa dipastikan apakah negara lain akan mendapat tarif sama, lebih tinggi, atau bahkan lebih rendah dari Indonesia.
Apa langkah pemerintah selanjutnya?
Akibat belum puas, Pemerintah RI berencana melanjutkan negosiasi untuk menurunkan tarif lebih lanjut dan mencegah defisit neraca perdagangan RI-AS. Menurut rencana, Prabowo akan bertemu lagi dengan Trump pada September-Oktober 2025.
Prabowo berkelakar, ia akan mengikuti kursus privat golf untuk mengantisipasi ajakan Trump bernegosiasi sembari main golf. ”Saya agak ngeri kalau dia ajak main golf. Golf saya jelek sekali,” ujar Prabowo.
Hal-hal yang bisa dipelajari dari artikel ini:
- Apa detail kesepakatan antara Indonesia dan AS?
- Bagaimana proses negosiasi hingga tarif akhirnya diturunkan?
- Apakah Pemerintah RI puas dengan hasil kesepakatan itu?
- Apa keuntungannya bagi Indonesia?
- Apa kerugiannya bagi Indonesia?
- Apakah tarif 19 persen kompetitif dibandingkan negara lain?
- Apa langkah pemerintah selanjutnya?
Setelah negosiasi selama sekitar tiga bulan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya sepakat menurunkan besaran tarif impor resiprokal atas produk-produk Indonesia yang masuk ke AS. Tarif dipangkas dari 32 persen menjadi 19 persen.
Apakah kesepakatan itu menguntungkan Indonesia? Bagaimana proses negosiasinya? Kompas merangkum poin-poin di bawah ini.
Apa detail kesepakatan antara Indonesia dan AS?
Kedua negara sepakat bahwa produk Indonesia yang masuk ke pasar AS dikenakan tarif bea masuk 19 persen, 1 persen lebih rendah dari produk asal Vietnam. Sementara, produk AS yang masuk ke Indonesia mendapat tarif nol persen alias bebas tarif.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia juga akan membeli produk energi dari AS senilai 15 miliar dollar AS, produk pertanian asal Amerika Serikat senilai 4,5 miliar dollar AS, dan 50 pesawat produk Boeing yang sebagian besar merupakan jet berbadan bongsor, yaitu Boeing 777.
Bagaimana proses negosiasi hingga tarif akhirnya diturunkan?
Indonesia-AS mencapai kesepakatan setelah negosiasi sekitar tiga bulan sejak awal April 2025. Dalam perjalanannya, Pemerintah RI mengajukan tiga paket penawaran kepada AS. Dua tawaran bersifat antarpemerintah (government to government), satu lagi bersifat antarpebisnis Indonesia dan AS (business to business).
Kesepakatan akhirnya tercapai melalui sambungan telepon kedua presiden, Trump dan Prabowo Subianto, Selasa (15/7/2025). Percakapan itu berlangsung di sela-sela perjalanan Prabowo ke Arab Saudi, Brasil, Inggris, Belarus, Belgia, dan Perancis.
Melalui sambungan telepon, perundingan berlangsung alot. Indonesia mesti berupaya memahami kepentingan AS, begitu pula sebaliknya. Prabowo juga menyebut ia harus berhadapan dengan Trump yang merupakan seorang negosiator keras.
Apakah Pemerintah RI puas dengan hasil kesepakatan itu?
Saat memberi pernyataan di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sepulang dari lawatan luar negeri, Rabu (16/7/2025), Prabowo mengakui hasil kesepakatan itu belum sepenuhnya memuaskan. Sebab, tarif belum mencapai angka nol persen, angka yang sebenarnya diinginkan Prabowo.
Meski demikian, Prabowo menilai, hasil kesepakatan itu sudah cukup mempertemukan kepentingan kedua negara. Misalnya, pembelian 50 pesawat Boeing asal AS. Ia menilai, Indonesia membutuhkannya untuk membesarkan maskapai nasional PT Garuda Indonesia.
Begitu pula bahan bakar minyak serta beberapa produk pertanian, seperti gandum dan kedelai, yang selama ini masih diimpor. Dengan demikian, tidak masalah jika produk-produk itu diimpor dari AS.
Apa keuntungannya bagi Indonesia?
Beberapa pihak memandang, impor produk AS yang menjadi bagian dari kesepakatan memang produk yang dibutuhkan oleh Indonesia, seperti sejumlah produk energi dan pertanian yang selama ini memang sudah diimpor.
”Kita membutuhkan produk-produk tersebut, hanya sumber (impornya) yang kita geser. Jadi, ini tidak akan mengganggu neraca perdagangan kita secara keseluruhan,” kata ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.
Tarif bea masuk atas produk Indonesia yang relatif lebih rendah ketimbang Vietnam dan sejumlah negara lain juga dinilai berpotensi mendongkrak ekspor, menjaga surplus neraca perdagangan, serta memberi sinyal positif bagi relokasi industri negara lain ke Indonesia.
Sementara, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, dengan terbukanya akses penuh terhadap produk AS, khususnya barang modal dan barang antara (intermediate goods), RI memiliki kesempatan untuk mengimpor teknologi maju, peralatan investasi, produk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta produk bernilai tambah tinggi lainnya dengan harga yang lebih kompetitif.
Apa kerugiannya bagi Indonesia?
Meski tarif 19 persen lebih rendah dari ancaman awal 32 persen, beberapa pihak khawatir kesepakatan itu mengorbankan pasar dan devisa Indonesia tanpa imbal balik strategis jangka panjang.
Ekonom dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai, kesepakatan tidak seimbang. AS mendapat keuntungan ganda, yakni menurunkan defisit perdagangan dan dapat memungut tarif impor 19 persen dari produk Indonesia yang masuk ke pasar AS.
Sementara, Indonesia tidak bisa mengenakan tarif atas produk impor asal AS, sesuatu yang bisa berdampak pada penerimaan negara. Sebagai bagian dari kesepakatan, akan ada pula impor dalam jumlah besar dari AS yang bisa meningkatkan tekanan pada neraca pembayaran dan neraca perdagangan Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan, pembebasan tarif bagi produk AS itu juga bisa memicu lonjakan impor pada sektor migas, produk elektronik, suku cadang pesawat, serealia, hingga produk farmasi. Barang impor yang lebih murah dan kompetitif dari AS itu dapat menambah tekanan bagi pelaku industri nasional di sejumlah sektor.
Apakah tarif 19 persen kompetitif dibandingkan negara lain?
Sekilas, pengenaan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk-produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Tarif 19 persen untuk Indonesia saat ini lebih rendah dibandingkan posisi Thailand dengan tarif 36 persen, Laos 40 persen, Malaysia 25 persen, dan Vietnam 20 persen dengan ketentuan tambahan untuk produk transshipment atau produk yang dialihkan melalui negara ketiga sebelum sampai ke tujuan akhir.
Namun, hal itu belum bisa dipastikan. Sebab, sejumlah negara pesaing saat ini masih dalam proses negosiasi dengan AS. Peta dan struktur tarif akhir pun masih bisa berubah. Belum bisa dipastikan apakah negara lain akan mendapat tarif sama, lebih tinggi, atau bahkan lebih rendah dari Indonesia.
Apa langkah pemerintah selanjutnya?
Akibat belum puas, Pemerintah RI berencana melanjutkan negosiasi untuk menurunkan tarif lebih lanjut dan mencegah defisit neraca perdagangan RI-AS. Menurut rencana, Prabowo akan bertemu lagi dengan Trump pada September-Oktober 2025.
Prabowo berkelakar, ia akan mengikuti kursus privat golf untuk mengantisipasi ajakan Trump bernegosiasi sembari main golf. ”Saya agak ngeri kalau dia ajak main golf. Golf saya jelek sekali,” ujar Prabowo.