Denmark dan sekutu NATO berniat meningkatkan kehadiran militer di Greenland menyikapi rencana pengambilalihan wilayah Greenland oleh Amerika Serikat.
16 Jan 2026 10:32 WIB · Internasional
AFP / ALESSANDRO RAMPAZZO
NUUK, JUMAT — Tentara dari sejumlah negara di Eropa mulai berdatangan ke Greenland, Kamis (15/1/2026). Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan Eropa bagi Denmark dan Greenland yang tengah berjuang mempertahankan wilayah di Kutub Utara itu dari ambisi akuisisi Presiden AS Donald Trump.
Kehadiran tentara negara-negara Eropa bersama tentara Denmark di Greenland dimaksudkan juga untuk memperkuat jejak aliansi di Arktika demi keamanan Eropa dan Trans-Atlantik. Apalagi, saat ini perundingan Denmark-Greenland dengan Amerika Serikat belum mencapai kesepakatan.
Rencana pengambilalihan Greenland oleh Amerika Serikat meningkat sejak awal Januari. Trump beralasan AS butuh Greenland untuk tujuan keamanan nasional. Lokasi Arktika strategis bagi sistem pertahanan rudal Golden Dome yang ingin dibangun Trump.
Greenland yang selama ini merupakan bagian wilayah Kerajaan Denmark menolak keinginan pengambilalihan wilayah oleh Trump. Trump sempat menyebut akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Denmark dan Greenland melakukan berbagai upaya untuk menampik keinginan Trump itu.
Salah satunya lewat perundingan dengan tim dari AS pada Rabu (14/1/2026). Hanya saja perundingan belum juga mencapai kata sepakat.
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen, didampingi Menlu Greenland Vivian Motzfeldt, seusai pertemuan mengatakan, ”ketidaksepakatan mendasar” mengenai Greenland tetap ada setelah mereka bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di Gedung Putih.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/09/b750787a-4576-432e-b040-4cb911dcb2f4_jpg.jpg)
Ketidaksepakatan itu terlihat dari perbedaan pandangan terkait hasil pembicaraan soal Greenland. Gedung Putih pada Kamis (15/1/2026) menyatakan akan ada pembicaraan lebih lanjut dengan pejabat Denmark dan Greenland seusai pertemuan. Gedung Putih menggambarkan pembicaraan lebih lanjut itu sebagai ”pembicaraan teknis tentang perjanjian akuisisi” bagi AS untuk mengambil alih Greenland.
Sementara Rasmussen menggambarkan pembicaraan lebih lanjut itu sebagai kelompok kerja yang akan membahas cara untuk mengatasi perbedaan antara AS dan Denmark-Greenland.
”Kelompok tersebut, menurut pandangan kami, harus fokus pada bagaimana mengatasi kekhawatiran keamanan Amerika, sambil tetap menghormati garis merah Kerajaan Denmark,” kata Rasmussen pada Rabu setelah pertemuan tersebut.
Penduduk Greenland dan Denmark bereaksi dengan cemas setelah pertemuan perwakilan Denmark-Greenland dengan perwakilan AS menemui jalan buntu. Akan tetapi, mereka sedikit lega karena negosiasi dengan AS akan berlanjut dan dukungan Eropa mulai terlihat.
Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Rabu mengumumkan, ”Unsur-unsur militer Perancis pertama sudah dalam perjalanan dan yang lain akan menyusul.” Otoritas Perancis mengatakan sekitar 15 tentara dari unit infanteri gunung sudah berada di Nuuk untuk latihan militer.
Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan akan mengerahkan tim pengintai yang terdiri dari 13 personel ke Greenland pada hari Kamis ini. Sementara mitra Denmark lainnya, seperti Inggris, Norwegia, Swedia, dan Belanda, berjanji akan mengirimkan pasukan ke Greenland dalam beberapa hari mendatang.
Pergerakan pasukan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan persatuan di antara negara-negara Eropa. Kehadiran tentara di Greenland juga untuk mengirimkan sinyal kepada Trump bahwa pengambilalihan Greenland oleh Amerika tidak diperlukan. Disebutkan, NATO secara bersama-sama dapat menjaga keamanan kawasan Arktika di tengah meningkatnya minat Rusia dan China.
Hanya saja, kehadiran pasukan Eropa tidak banyak berpengaruh untuk membujuk Trump. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pada Kamis bahwa peningkatan kehadiran militer di Greenland tidak berdampak pada pengambilan keputusan atau tujuan Presiden AS untuk mengakuisisi Greenland.
”Presiden telah memperjelas prioritasnya bahwa ia ingin Amerika Serikat mengakuisisi Greenland. Ia berpikir bahwa hal itu demi keamanan nasional kita yang terbaik,” katanya.
Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen secara terpisah pada Kamis mengomentari hasil pertemuan perwakilan kedua pihak. Ia mengatakan, kelompok kerja tersebut lebih baik daripada tidak ada kelompok kerja sama sekali.
Ditambahkannya, kelompok kerja merupakan langkah ke arah yang benar. Akan tetapi, berdialog dengan AS tidak lantas berarti ”bahaya telah berlalu”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/16/af8f4585-aaa2-4e08-bd70-7e844ef0c799_jpg.jpg)
Menyikapi rencana Trump, sebelum pertemuan di Gedung Putih berlangsung, Denmark dengan didukung negara-negara mitra di Eropa akan meningkatkan kehadiran militernya di Greenland.
Lembaga penyiaran Denmark, DR, mengutip Poulsen, melaporkan, tujuan langkah itu adalah untuk membangun kehadiran militer yang lebih permanen dengan kontribusi Denmark yang lebih besar.
Poulsen juga mengatakan tentara dari beberapa negara NATO akan berada di Greenland dengan sistem rotasi.
Pada Rabu, Poulsen mengumumkan, peningkatan kehadiran militer di Arktika sebagai kerja sama erat Denmark dan negara-negara sekutunya. Hal itu menjadi suatu keharusan dalam lingkungan keamanan ketika situasi ketidakpastian semakin tinggi.
”Ini berarti bahwa mulai hari ini dan di masa mendatang akan ada peningkatan kehadiran militer di Greenland dan sekitarnya berupa pesawat, kapal, dan tentara, termasuk dari sekutu NATO lainnya,” kata Poulsen.
Denmark memberi tahu NATO bahwa mereka akan melakukan latihan di Greenland. ”Komandan Tertinggi NATO Alexus Grynkewich sudah berbicara dengan Kepala Pertahanan Denmark Kolonel Martin O’Donnell pada hari Kamis,” kata juru bicara Grynkewich kepada AP.
Juru bicara Grynkewich menambahkan, ”Kita semua sepakat bahwa Arktika, termasuk Greenland, penting untuk keamanan Trans-Atlantik.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/3def68aa-c534-4dc4-8f3c-af9564ab19ec_jpg.jpg)
Warga Greenland memandang keputusan Denmark untuk mengirim lebih banyak pasukan dan janji dukungan dari sekutu NATO, sebagai perlindungan terhadap kemungkinan aksi militer AS. Akan tetapi, para pejabat militer Eropa belum menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk mencegah tindakan AS terhadap pulau tersebut.
Maya Martinsen (21) mengatakan, ”Sangat melegakan mengetahui bahwa negara-negara Nordik mengirimkan bala bantuan karena Greenland adalah bagian dari Denmark dan NATO.”
Perselisihan itu, katanya, bukan tentang keamanan nasional. ”Namun, (perselisihan) lebih tentang minyak dan mineral yang kita miliki yang belum tersentuh,” kata Martinsen.
Juno Berthelsen, anggota Parlemen Greenland dari partai oposisi pro-kemerdekaan Naleraq, kepada AP mengatakan, hal terpenting bagi warga Greenland adalah mereka diwakili secara langsung dalam pertemuan di Gedung Putih. ”Bahwa dialog diplomatik telah dimulai sekarang,” kata Juno.
Juno menambahkan, hubungan dengan AS bermanfaat bagi warga Greenland dan Amerika. ”Hubungan ini sangat penting bagi keamanan dan stabilitas Arktika dan Aliansi Barat,” kata Berthelsen.
Untuk itu, Juno menyarankan AS lebih terlibat dalam pembentukan penjaga pantai untuk Greenland, menyediakan pendanaan, serta menciptakan lapangan kerja bagi penduduk setempat yang dapat membantu berpatroli di Arktika.
Sementara di Washington, Rasmussen dan Motzfeldt juga bertemu dengan kelompok senator bipartisan di Gedung Capitol AS.
”Kami sangat menghargai bahwa kami memiliki teman dekat di Senat dan DPR,” kata Rasmussen kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa Denmark akan berupaya untuk mengakomodasi setiap permintaan AS yang wajar atas Greenland.
Di antara anggota parlemen dari kedua partai politik di AS juga terdapat kekhawatiran yang signifikan bahwa Trump dapat mengacaukan aliansi NATO dengan berkeras menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland. Anggota parlemen Republikan kunci telah menolak rencana tersebut dan menyarankan agar pemerintahan Trump bekerja sama dengan Denmark untuk meningkatkan keamanan bersama di Arktika.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/16/a1aed9bd-776b-4792-a449-1cb21618b162_jpg.jpg)
Kedutaan Besar Rusia di Brussels pada Kamis mengecam rencana peningkatan militer di Greenland. Dikatakan, rencana itu merupakan rencana agresif Barat sebagai tanggapan terhadap ancaman fiktif yang mereka ciptakan sendiri.
Disebutkan pula, aksi militer yang direncanakan adalah bagian dari ”agenda anti-Rusia dan anti-Tiongkok” oleh NATO.
”Rusia secara konsisten mempertahankan bahwa Arktika harus tetap menjadi wilayah perdamaian, dialog, dan kerja sama yang setara,” kata Kedutaan Besar Rusia. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra